Pengertian Menyembah kepada Allah

Fajli Mustafa – Senin, 4 Sya'ban 1430 H / 27 Juli 2009 12:51 WIB

Assalammu’alaikum W W

Ustadz yang di rahmati Allah

beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar sebuah tausiyah dari seorang ustadz, beliau menerangkan mengenai ayat dalam surat al Fatihah yaitu "Hanya kepada Engkaulah kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" dan beliau menjelaskan (lebih kurang yang saya pahami) bahwa yang dimaksud dalam penyembahan disini bukan hanya ritual tetapi juga jika seseorang mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada Allah maka ia telah menyembah sesuatu itu ataupun jika ia mentaati sesuatu lebih dari mentaati Allah maka ia telah menyembah sesuatu itu. Pertanyaan saya jadi apakah menyembah itu artinya mencintai atau mentaati?

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Fajli yang dirahmati Allah swt

Firman Allah swt :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah : 5)

Menyembah menurut bahasa berarti ketundukan, disebutkan thariqun mu’abbad wa bighoiri mu’abbad (jalan yang ditundukan atau sering dilalui dan tidak sering dilalui, pen). Sedangkan menurut syariat berarti ungkapan yang mencakup kesempurnaan cinta, tunduk dan rasa takut.

Dan didahulukannya maf’ul (obyek), yaitu إياك (hanya kepada-Mu) dan juga pengulangan kata tersebut adalah untuk memberikan perhatian serta pembatasan, yang berarti kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Mu, kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu, inilah kesempurnaan taat. Dan seluruh ajaran agama kembali kepada dua makna tersebut, hal ini seperti penuturan sebagian ulama salaf,”Al Fatihah adalah rahasia al Qur’an dan rahasia itu ada pada kalimat إياك نعبد وإياك نستعين “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah : 5), kalimat pertama adalah berlepas diri dari kesyirikan sedangkan kalimat yang kedua adalah berlepas diri dari daya dan upaya serta menyerahkannya kepada Allah swt.

Makna yang seperti ini banyak terdapat di beberapa ayat didalam al Qur’an, seperti firman-Nya :

وَلِلّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud : 123)

Artinya : “Katakanlah: "Dia-lah Allah yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal.” (QS. Al Mulk : 29)

Artinya : “(Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah dia sebagai Pelindung.” (QS. Al Muzammil : 29) – (Tafsirul Qur’anil Azhim juz I hal 135 – 136)

Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa kalimat إياك نعبد tegak diatas empat landasan demi mendapatkan kecintaan dan keredhoan Allah dan Rasul-Nya, seperti dua perkataan yaitu lisan dan hati serta perbuatan hati dan anggota tubuh. Ibadah merupakan nama yang menyatukan seluruh tingkatan yang empat itu dan orang-orang yang hanya menyembah Engkau (Allah) dengan sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki keempat hal tersebut.

Perkataan hati adalah keyakinan terhadap apa yang diberitakan Allah swt tentang diri-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, para malaikat-Nya dan pertemuan dengan-Nya melalui lisan para rasul-Nya.

Perkataan dengan lisan adalah memberitakan tentang-Nya dan menyeru kepada-Nya, membela-Nya menjelaskan kebatilan berbagai perkara bid’ah yang bertentangan dengan-Nya, mengingat-Nya serta menyampaikan perintah-perintah-Nya.

Perbuatan hati seperti mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, kembali kepada-Nya, takut dengan-Nya, berharap kepada-Nya, menyucikan keagamaannya untuk-Nya, bersabar dalam menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai kemampuannya, rela terhadap-Nya, berwala (loyal) dengan-nya, bermusuhan karena-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan lainnya yang termasuk didalam perbuatan-perbuatan hati baik yang wajibnya yang ini lebih wajib daripada perbuatan-perbuatan anggota tubuh maupun yang mustahab (dicintai) nya yang lebih dicintai Allah daripada amal-amal anggota tubuh yang mustahab. Karena amal-amal anggota tubuh yang mustahab tanpa keberadaan amal-amal hati maka ia akan menjadi tidak bermanfaat atau sedikit manfaatnya.

Adapun perbuatan-perbuatan anggota tubuh, seperti shalat, jihad atau langkah-langkah kaki untuk shalat jum’at, shalat berjama’ah, membantu orang tua, atau berbuat baik kepada orang lain.
Maka إياك نعبد mengikat keempat hal tersebut dan إياك نستعين merupakan tuntutan permintaan tolong kepada-Nya..

Dan sesunguhnya seluruh Rasul menyeru kepada إياك نعبد وإياك نستعين artinya bahwa seluruh mereka menyeru kepada peng-esa-an Allah dan keikhlasan didalam penyembahan kepada-Nya dari mulai Rasul yang pertama hingga yang terakhir. (Madarijus Salikin juz I hal
Dari dua pengertian ibadah yang diutarakan oleh Ibnu Katsir dan Ibnul Qoyyim diatas jelas bahwa termasuk makna ibadah adalah kecintaan dan ketaatan. Sehingga seorang yang memberikan cinta dan ketaatan-Nya kepada selain Allah swt melebihi daripada kecintaan dan ketaatannya kepada Allah swt maka ia telah melakukan sebuah kemusyrikan, sebagaimana firman-Nya :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ

Artinya : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah..” (QS. Al Baqoroh : 165)

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya : “Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah : 24)

Wallahu A’lam

Ustadz Menjawab Terbaru

blog comments powered by Disqus