Masih Adakah Kesempatan?

Simvi – Kamis, 28 Syawwal 1431 H / 7 Oktober 2010 13:48 WIB

Assalamualaikum Ustadz.

Ustadz, saya mau tanya, apakah manusia masih diberikan maaf dan kesempatan memperbaiki diri/bertobat jika ia telah sering berulang kali melakukan kesalahan/perbuatan dosa yang sama? Hingga terkadang terlintas di fikiran saya mungkin Allah SWT sudah bosan dengan permohonan ampun atas dosa yang saya perbuat. Sayapun terkadang merasa adalah makhluk-Nya yang paling amat berdosa dan mungkin tak pantas memohon ampun karena seringnya melakukan perbuatan dosa itu. Masih adakah kesempatan untuk saya bertobat, ustadz?

Satu lagi, bagaimana cara menghilangkan suatu perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan? terima kasih.

wassalamualaikum wr. wb.

Waalaikumussalam Wr Wb

Diantara kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya adalah memberikan kesempatan kepada mereka yang berdosa untuk bertaubat kepada-Nya. Bahkan selain dari menghapuskan dan mengampuni dosanya, bisa jadi Allah juga akan memasukkannya kedalam surga jika taubat yang dilakukannya itu taubat nasuha.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Tahrim [66] : 8)

Didalam ayat tersebut tidak disyaratkan bahwa seorang yang bertaubat tidak melakukan kembali dosa-dosanya itu. Didalam ayat itu hanya mensyaratkan bahwa seorang yang bertaubat ketika dia bertaubat haruslah betul-betul menyesali perbuatan dosanya, memohon ampunan dari-Nya dengan penuh ketulusan hatinya dan bertekad saat itu untuk tidak mengulanginya lagi di masa-masa yang akan datang (taubat nasuha). Hanya taubat yang seperti inilah yang diterima Allah swt bukan taubat lisannya saja namun tidak di hatinya.

Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui apa yang ada didalam hati setiap orang yang bertaubat ketika dia bertaubat. Apakah taubatnya itu betul-betul atau hanya main-main?! Apakah air mata yang dikucurkannya itu betul air mata penyesalan ataukah hanya air mata buaya dusta? Allah hanya menerima taubat oang yang sungguh-sungguh bukan yang main-main dan penuh dusta.

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : “Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Imran [3] : 29)

Dan jika pun seorang yang telah bertaubat dengan taubat nasuha kembali melakukan perbuatan dosanya itu di masa selanjutnya dikarenakan kelemahan imannya saat itu lalu dia kembali lagi kepada Allah dengan bertaubat taubat nasuha memohon ampunan kepada-Nya sebagaimana dilakukan sebelumnya maka Allah pun akan menerima pertaubatannya itu.

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya : “Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. At Taubah : 104)

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Artinya : “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. As Syura : 25)

Sesungguhnya Allah swt tidaklah pernah bosan untuk memberikan ampunan-Nya kepada setiap orang yang bertaubat hingga waktu yang ditentukan untuk bertaubat bagi seseorang berkahir, yaitu tatkala ruh sudah berada di tenggorokan atau matahari terbit dari sebelah barat.

Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan."

Lalu bagaimana mengilangkan perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan ?

Sesungguhnya perbuatan buruk yang kerap kali dilakukan itu terjadi dikarenakan kelemahan iman didalam dirinya sehingga tidak ada lagi syu’ur (perasaan) berdosa terhadapnya atau tidak merasa berat melakukannya hingga berulang-ulang.

Oleh karena itu yang perlu anda lakukan untuk menghentikan kebiasaan itu, diantaranya :

1. Menyadari bahwa perbuatan buruk itu adalah dosa di sisi Allah swt yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di pegadilan Allah swt. Pengadilan yang tidak memungkinkan seseorang lari dari-Nya, berbohong dihadapan-Nya karena seluruh anggota tubuh manusia akan memberikan kesaksian dengan sejujur-jujurnya atas apa yang pernah dilakukannya selama di dunia.

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَ

Artinya : “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al Haqoh : 18)

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An Nuur : 24)

2. Merasakan bahwa dirinya terus menerus berada dalam pengawasan Allah swt dan tidak akan pernah luput dari-Nya kapan dan dimana pun.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِي

Artinya : “Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid : 4)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Mujadalah : 7)

3. Memperbanyak mengingat Allah swt baik dengan lisan maupun hati. Seseorang yang senantiasa mengingat Allah swt maka ia akan selalu diingat oleh-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Artinya : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah : 152)

Diantara urgensi dzikir sebagaimana disebutkan Ibnul Qoyyim adalah bahwa ia adalah makanan hati seseorang yang setiap kali dia meninggalkannya maka tubuhnya akan seperti kuburan. Ia adalah pemakmur rumahnya yang ketika dia mengabaikannnya maka rumahnya itu akan binasa. Ia adalah senjata yang dengannya dia melawan para pembegal di jalan (ketaatan). Ia adalah air baginya untuk memadamkan kobaran api di jalan (ketaatan)..” (Madarijus Salikin juz II hal 423)

4. Mengisi waktu-waktu luang dengan amal-amal yang bermanfaat bagi dirinya atau orang lain. Tidak jarang perbuatan maksiat dilakukan dikarenakan ia tidak pandai memanfaatkan waktu luang, seolah-olah bahwa dirinya tidak lagi memiliki kewajiban disaat-saat seperti ini. Padahal betapa banyak kewajiban dan tugas-tugasnya yang belum dilakukannya, seperti : kewajiban-kewajibannya terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, keluarganya, saudaranya sesama muslim, akalnya, hatinya dan lainnya. Namun setan dengan segala upayanya berhasil mengelabuinya sehingga mengabaikan kewajiban itu semua dan terperangkap didalam tipu dayanya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang."

Wallahu A’lam.

Ustadz Menjawab Terbaru

blog comments powered by Disqus