Takdir dan Keadilan Allah

Halim Sonny Pratomo – Senin, 2 Jumadil Awwal 1430 H / 27 April 2009 11:34 WIB

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz,  ada bagian yang tdk saya mengerti dari surat Al-Hajj ayat 5. di situ disebutkan bahwa ketika berada didalam rahim, Allah telah menjelaskan dan memberikan ketetapan kepada manusia sampai dengan waktu yang telah ditentukan. masalahnya begini Ustadz, kalau yang dimaksud dengan ketetapan adalah yg berkaitan dengan kehidupan manusia itu nantinya, berarti orang yang bahagia di dunia ini adalah orang telah ditetapkan untuk bahagia sejak berada didalam rahim ibunya. bagaimana dengan orang yg tidak diberi ketetapan untuk bahagia ? adilkah itu ? tolong bantuan pemahamannya untuk hal tersebut. Semoga Pak Ustadz selalu dilimpahi rahmat dan kasih sayang-NYA. Amin Ya Robbal Alamin.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Saudara Ilham yang dimuliakan Allah swt

Makna “Kami tetapkan didalam rahim”

Firman Allah swt :

لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

Artinya : “Agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” (QS. Al Hajj : 22)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna dari “agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” adalah janin itu kadang kokoh berada didalam rahim tidak keluar atau jatuh, sebagaimana perkataan Mujahid terhadap firman-Nya : “yang sempurna dan yang tidak sempurna.” (QS. Al Hajj : 5) bahwa yang jatuh (keluar) adalah makhluk yang tidak sempurna.

Dan apabila telah berlalu 40 hari dalam keadaan segumpal daging maka Allah mengirimkan kepadanya malaikat, meniupkan ruh didalamnya dan menyempurnakannya sebagaimana kehendak Allah swt, cantik atau buruk, laki-laki atau perempuan, serta menuliskan rezeki, ajal, sengsara atau bahagianya sebagaimana terdapat didalam ash shahihain dari hadits al A’masy dari Zaid bin Wahab dari Ibnu Mas’ud berkata,”Rasulullah saw telah bercerita kepada kami—Beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan—,’Sesungguhnya setiap kalian diciptakan dan dikumpulkan di perut ibunya selama 40 malam kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat dan memerintahkannya dengan empat kalimat : menuliskan tentang amal, ajal, rezeki, sengsara atau bahagianya, kemudian ditiupkan didalamnya ruh.”

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari hadits Abu Abu Daud dari Abi Hindun dari asy Sya’bi dari Alqomah dari Abdullah berkata,”Pada saat dia berupa segumpal darah yang kokoh didalam rahim kemudian diambil oleh malaikat dengan tangannya dan berkata,”Wahai Allah disempurnakan atau tidak disempurnakan? Jika dijawab,’Tidak disempurnakan.’ Maka ia tidaklah menjadi makhluk hidup dan dikeluarkan oleh rahim berupa darah. Dan jika dikatakan,’sempurnakan.’

Maka malaikat itu bertanya,’Laki-laki atau perempuan? sengsara atau senang? kapan ajalnya? apa peninggalannya? di bumi mana dia mati? Dia berkata,’dan segumpal darah itu ditanya,’siapa Tuhanmu?’ dia menjawab,’Allah.’ Dan ditanya lagi,’siapa Yang Memberikan rezekimu?’ dia menjawab,’Allah.’ Dan ditanya lagi,’pergilah ke catatan, maka engkau akan mendapati didalamnya kisah segumpal darah ini. Dia berkata,’maka dia pun diciptakan dan hidup hingga ajal yang ditentukan, dia memakan rezekinya, menapaki bekas-bekasnya hingga jika telah datang ajalnya maka ia pun mati, dikuburkan di tempat itu kemudian Amir asy Sya’bi membaca ayat ;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ

Arttinya : “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.” (QS. Al Hajj : 5) – (Tafsir Ibnu Katsir juz V hal 395)

Bahagia, Sengsara dan Keadilan Allah

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan tentang penciptaan manusia dan setelah dituliskan atasnya amal, ajal, rezeki dan sengsara atau bahagianya kemudian ditiupkan ruh didalamnya. Maka demi Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka. Ada juga diantara kalian yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga maka ia pun masuk surga.”

Berbagai perkara yang telah ditetapkan didalam hadits Ibnu Mas’ud diatas itu baik berupa amal, ajal, rezeki, sengsara atau bahagia seseorang tidaklah lepas dari sebab-sebab yang telah dikehendaki Allah swt, sebagaimana halnya ketentuan-ketentuan-Nya di alam semesta ini. Dan seluruh sebab-sebab terjadinya sesuatu itu telah diketahui, dituliskan, ditetapkan dan ditentukan oleh Allah swt.

Penulisan dan ketetapan itu semua tidaklah menjadikan seseorang bergantung hanya kepadanya untuk kemudian meninggalkan amal perbuatan yang diwajibkan atasnya. Dan jika ini terjadi didalam diri seseorang maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang sengsara.

Jika ada yang mengatakan bahwa “orang yang bahagia tidaklah sengsara dan orang yang sengsara tidaklah bahagia.” Maka menurut Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah itu adalah perkataan yang benar, yaitu barangsiapa yang telah Allah takdirkan dia bahagia maka dia akan bahagia akan tetapi dengan amal-amal yang yang menjadikannya bahagia dan orang yang ditakdirkan sengsara tidak akan sengsara kecuali dengan amal-amal yang menjadikannya sengsara, termasuk hanya bergantung kepada takdir dan meninggalkan amal-amal yang diwajibkan atas dirinya.

Selanjutnya Syeikhul Islam mengatakan apabila ada yang mengatakan bahwa yang terdahulu adalah kebahagiaan dan kesengsaraan (dzatnya) itu sendiri maka sesungguhnya orang itu telah berdusta. Sesungguhnya kebahagiaan terjadi setelah adanya seseorang yang merasa bahagia, demikian pula kesengsaraan tidaklah terjadi kecuali setelah keberadaan orang yang sengsara, sebagaimana amal dan rezeki tidaklah terjadi kecuali setelah keberadan orang yang beramal dan tidaklah terjadi rezeki kecuali setelah keberadaan orang yang mendapatkan rezeki.” (Majmu’ al Fatawa juz VIII hal 282 – 284)

Dengan demikian dikarenakan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa ketetapan Allah atas dirinya, apakah dirinya akan sengsara atau bahagia? maka diwajibkan atasnya untuk melakukan amal-amal perbuatan yang menjadi sebab baginya mendapatkan kebahagiaan dan meminta kepadanya untuk tidak hanya bergantung kepada ketetapan atau takdir Allah atasnya—padahal dia sendiri tidak mengetahuinya—sehingga meninggalkan berbagai amal perbuatan yang diwajibkan yang pada akhirnya menjadikannya mendapat kesengsaraan.

Dan diantara keadilan Allah swt adalah diberikannya setiap manusia kemampuan untuk berikhtiyar dan diberikan kebebasan untuk berikhtiyar. Setiap mereka diberikan akal sebagai sarana untuk memilah dan memilih berbagai sebab yang ada dihadapannya. Setiap manusia mengetahui bahwa minuman keras dapat mejadikannya mabuk akan tetapi tidak setiap manusia mampu menentukan pilihan untuk tidak meminum minuman itu.

Setiap muslim mengetahui bahwa melakukan hal-hal yang mengandung kemusyrikan akan menyengsarakannya di akherat akan tetapi tidak setiap muslim mampu meninggalkannya. Semua itu dilakukan atas pilihan mereka sendiri tanpa adanya paksaan atas perbuatan yang dilakukan atau paksaan ketika meninggalkannya.

Diantara bukti kebebasan ikhtiar ini adalah perasaan ingin bebas melaksanakan shalat atau meninggalkannya, membayar zakat atau tidak. Firman Allah swt :


فَأَمَّا مَن طَغَى ﴿٣٧﴾
وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿٣٨﴾
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٣٩﴾
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ﴿٤٠﴾
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٤١﴾

Artinya, "Ada pun yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan orang-orang yang takut dengan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi’at: 37-41)

Dan semua itu berada dibawah ilmu, ketetapan dan ketentuan Allah swt, sebagaimana firman-Nya ;

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)

Artinya : “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan : 30)

Dan segala sesuatu yang telah dituliskan, ditetapkan dan ditentukan itu tidaklah ada yang keluar dari keadilan-Nya. Allah swt tidak mungkin menyesatkan orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk-Nya atau sebaliknya memberikan petunjuk orang-orang yang berhak mendapatkan kesesatan. Allah swt tidak mungkin menyengsarakan orang-orang yang berhak mendapatkan kebahagiaan dan membahagiakan orang-orang yang berhak mendapatkan kesengsaraan, sebagimana firman-Nya :

Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushilat : 46)

Wallahu A’lam

Ustadz Menjawab Terbaru

blog comments powered by Disqus