Perbudakan Buruh Ala-Kapitalis

Redaksi – Senin, 3 Rajab 1434 H / 13 Mei 2013 15:57 WIB

perbudakanKapitalisme memang tak akan pernah berpihak pada buruh. Justru malah menjadikan buruh sebagai budak untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Perlakuan tidak manusiawipun sering mereka dapatkan. Pada awal bulan Mei lalu terbongkar kasus perbudakan buruh panci di Tanggerang. Yang mengesalkan adalah terdapat aparat yang membekingi pelaku perbudakan buruh ini, bukannya menolong para buruh yang disekap dan disiksa oleh majikan tapi malah bekerja sama. Tidak hanya itu para buruh sudah berbulan-bulan tidak digaji dan mereka hidup benar-benar jauh dari kata layak. Kalau ada buruh yang sakit, mereka akan dipisahkan ke ruangan berbeda lalu disiram dengan cairan aluminium foil. Mereka juga hanya diberi waktu istirahat sangat sedikit dan yang lebih parahnya lagi tidak diperbolehkan untuk shalat. Motifnya lagi-lagi karena ingin untung besar dengan biaya yang sedikit. Tidak menutup kemungkinan bisa saja masih banyak lagi kasus-kasus perbudakan seperti ini yang belum terungkap. Terlihat jelas bagaimana keserakahan dan kerakusan para pengusaha kapitalis.

Masalah perbudakan di kalangan buruh ini akan selalu ada selama hubungan yang terjalin antara buruh dan majikan dibangun berdasarkan asas kapitalisme. Sehingga kesejahteraan itu mustahil didapatkan, dan negarapun tidak memberikan jaminan adanya kesejahteraan itu, hal ini memaksa mereka mau tidak mau diperbudak demi mendapatkan biaya hidup dan merekapun tidak bisa berbuat banyak. Tidak hanya hubungan tersebut peraturan dan Undang-undang saat inipun bernafaskan kapitalisme. Selama kapitalisme ini bercokol kalangan buruh akan tetap diperbudak sebagai alat pencetak uang. Jadi permasalahan buruh ini tidak hanya berbicara tentang buruh dan majikan saja tetapi juga negara.

Teringat seseorang yang berkata kepada saya bahwa negri ini sudah terlanjur kacau sudah susah untuk dibenahi penuh dengan lubang. Kesejahteraan itu mustahil didapatkan bagi mereka yang miskin. Tidak dipungkiri memang banyak diantara kita yang pesimis. Satu-satunya solusi hanya kembali kepada Islam. Tidak ada cara lainnya. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah, betapa sejahteranya ketika Islam itu ada sebagai sebuah aturan hidup. Justru penderitaan itu dimulai ketika Islam itu tidak diterapkan sebagai sebuah sistem. Mungkin kalau digambarkan kita saat ini berada pada masa terburuk sepanjang sejarah Islam

Di dalam Islam semua layak mendapatkan kesejahteraan. Negara wajib memberikan jaminan kesejahteraan bagi tiap individu yaitu tersedianya sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Jadi tidak hanya kesejahteraan yang hanya diukur dari materi saja. Islam juga memberikan aturan dan sistem yang menjamin negara bisa melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya terhadap rakyat. Jadi tidak seperti kapitais yang abai terhadap rakyat. Posisi para pekerja di dalam Islampun, dipandang bukan sebagai faktor produksi tetapi sebagai manusia selayaknya. Bahkan sampai kontrak kerjapun diperhatikan. Dalam Islampun besaranya upah itu dipatok sesuai dengan nilai manfaat yang diberikan oleh pekerja, bukan berpatokan pada kebutuhan hidup minimum seperti dalam kapitalisme.

Yasyirah

HP           : 0852 1785 0430

e-mail      : [email protected]

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus