Miss Muslimah World, Mengaburkan Indentitas Muslimah Sejati

Redaksi – Minggu, 8 September 2013 13:00 WIB

muslimah worldDitengah ramainya penolakan ajang Miss World 2013 yang di adakan di Indonesia, terselenggara pula kontes kecantikan yang berbalut ‘kemuslimahan’. Kontestan ajang ini harus menyandang predikat 3S yaitu smart, solehah, dan stylish.  Miss Muslimah World baru digelar pertama kali pada tahun 2011. Persyaratan utamanya adalah tentu saja harus berjilbab, punya kemampuan membaca Al-qur’an dengan baik, dan berumur 18-27 tahun, dan memiliki prestasi (mirajnews.com, 2013). Malam pemilihan sendiri akan digelar pada 18 September 2013, 10 hari sebelum perhelatan Miss World 2013.

Pendiri Muslimah Beauty Foundation, Rofi Eka Shanty menyatakan tujuan dari acara tersebut adalah untuk menangkap potensi wanita muslimah dunia dan bagaimana mereka berlaku di segala aspek. Selain itu juga untuk mengapresiasi eksistensi wanita muslimah di seluruh dunia (berita99.com, 2012). Kontes inipun didukung oleh Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementrian Luar Negri, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (rtc.ui.ac.id, 2012).

Sejatinya kontes kecantikan tersebut hanya meletakkan perempuan sebagai objek. Secara cover memang terlihat berbeda dengan Miss Word, yang satu mengenakan pakaian yang sangat terbuka, dan yang satu dengan pakaian tertutup. Namun, terdapat kesamaan antara Miss World dengan Miss Muslimah World, sama-sama mengeksploitasi perempuan. Walaupun dibungkus dengan image muslimah.

Posisi kaum perempuan dalam era kapitalis ini memang diperlakukan tak lebih dari faktor produksi maupun sebagai objek pasar bagi sebuah produk.  Kontes ini pada dasarnya tidak lebih dari ajang pencarian perempuan tercantik fisiknya untuk dieksploitasi demi mendongkrak pendapatan industri. Selain itu kontes Miss Muslimah Word ini, justru bertentangan dengan Islam dan mengaburkan identitas/cermin seorang muslimah di tengah masyarakat.

Islam mewajibkan kaum perempuan menggunakan pakaian yang menutup semua aurat mereka, yakni jilbab dan kerudung (khimar); melarang bertabarruj; menjaga pandangan mereka; dan melarang mereka ber-khalwat. Ajang ini kental dengan nilai-nilai yang dilarang dalam Islam semisal bertabarruj.

Ibnu Qatadah mengatakan, tabarruj adalah seorang perempuan yang jalannya dibuat-buat dengan genit. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud dengan tabarruj adalah seorang perempuan yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan laki-laki, dengan maksud memamerkan tubuh dan perhiasannya. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menukil pendapat Qatadah yang menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan tabarruj adalah saat muslimah keluar rumah mereka, lalu mereka berjalan, berlenggak lenggok (hingga lelaki memperhatikannya dan menggoda).

Tabarruj bisa dengan dandanan wajah, bisa pula dengan parfum, atau mengenakan pakaian yang bercorak mentereng, bertingkah genit dan menggoda lelaki dengan ucapan ataupun gaya jalan, atau dengan menggunakan hijab yang tidak sempurna, semisal ketat, transparan, atau menyingkap sebagian aurat yang harusnya ditutup (yuk,berhijab, 2013).

Dari Abu Hurairah ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda : “Ada dua golongan di antara penghuni neraka yang belum pernah aku lihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang; dan perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang berjalan dengan berlenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga. Dan sesungguhnya aroma surga itu bisa tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.”

Sudah sepatutnya seorang muslimah harus berlaku sebagai seorang muslim, yaitu dengan memperhatikan rambu-rambu yang ada, apakah sesuai dengan tuntunan Islam atau tidak. Eksistensi seorang muslimah ditengah masyarakat justru seharusnya ditunjukkan dengan bagaimana perannya dalam membangkitkan umat yang kini tengah terpuruk. Membawa umat kembali kepada jalan yang benar, kepada Islam yang sesungguhnya, dan melaksanakan perannya secara maksimal sebagai ibu generasi.

Sebagaimana prinsip yang diusung oleh Miss Muslimah World yaitu 3S (Smart, Shalehah, dan Stylist), seharusnya muslimah sejati itu menggunakan kecerdasannya untuk  mendidik generasi yang berkualitas, pintar menjaga diri, kehormatan, dan rumah tangganya bukan menjadi icon industri kapitalis atau rela kecantikannya dibagi-bagi oleh publik. Muslimah yang shalehah  tentu ia akan sangat memperhatikan dirinya dimata Allah, bukan dirinya dimata manusia. Ia pasti akan lebih mengedepankan hukum Allah, dibandingkan pandangan manusia, jadi shalehah itu bukan hanya sebatas pandai membaca Al-Quran. Dalam berpenapilanpun ia akan sangat berhati-hati, modis dimata manusia tapi rendah dimata Allah, untuk apa? Bukankah tujuan seorang muslim di dunia itu untuk beribadah/ bertakwa kepada Allah? Islam justru menilai seorang perempuan bukan dari kecantikkan tapi seberapa jauh kepatuhan dan keoptimalan dalam menjalankan peran-peran yang Allah berikan kepada mereka.

 

Nama             : Yasyirah
Email             : [email protected]
Aktivitas       : Mahasiswi Departemen Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor.

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus