Eramuslim » Suara Pembaca http://www3.eramuslim.com Media Islam Rujukan Sat, 19 Apr 2014 10:43:53 +0000 id-ID hourly 1 http://www3.eramuslim.com/ Menghadapi Bahaya Syiah http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/menghadapi-bahaya-syiah.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/menghadapi-bahaya-syiah.htm#comments Sat, 19 Apr 2014 10:25:02 +0000 http://www3.eramuslim.com/?p=75456 syiah syiahOleh Hartono Ahmad Jaiz (Menyongsong Deklarasi Anti Syiah di Bandung, Ahad, 20 Jumadil Akhir 1435H/ 20 April 2014 M)

Para orang tua di kampung tidak tahu, anak-anak gadisnya yang kuliah di kota ternyata jadi pezina tapi atas nama agama syiah yaitu nikah mut’ah. Itu bukan sekadar berita orang lewat, tetapi sudah berupa hasil investigasi yang bahkan telah dituangkan jadi skripsi di sebuah perguruan tinggi di Makassar. Laporan LPPI Makassar itu dapat dibaca artikel berjudulKeluarga di Kampung Tidak Tahu Kalau Anaknya Mut’ah di Kota .

Itu baru satu persoalan, yakni tentang rusaknya para gadis yang menjadi dambaan para orang tua untuk meneruskan generasi, ternyata telah rusak. Nikah mut’ah yang telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari qiyamat itu bahkan di antara yang meriwayatkannya adalah Ali bin Abi Thalib yang diklaim oleh syiah sebagai imam tertinggi mereka. Namun periwayatan dari Ali tidak digubris oleh syiah, karena dalam hal nikah mut’ah alias zina tapi diklaim sebagai atas nama agama oeh syiah Iran itu sejatinya hanyalah kelanjutan ajaran bejat dari nabi palsu Majusi bernama Mazdak (died c. 524 or 528).

Mazdakiyah/ mazdakisme itu dinisbatkan kepada Mazdak yang lahir tahun 487 M di Niyabur (Parsi). Yaitu aliran yang mempropagandakan ibahiyah (serba boleh, permissive) yang menghancurkan nilai-nilai dan menggiring kekacauan berlandaskan syahwat dan tidak memperdulikan hubungan-hubungan keluarga dan ukuran-ukuran akhlaq, lepas dari semua keyakinan dan agama. Bahkan aliran itu adalah asal mula komunisme dan biang teori Karl Marx (Marxisme) Propaganda Mazdakisme ini telah mengumumkan bahwa manusia itu dilahirkan sama, maka seyogyanya untuk hidup sama-sama, tidak ada bedanya antara mereka. Dan yang terpenting apa yang diharuskan dalam kebersamaan itu adalah harta dan wanita menjadi milik bersama menurut pelaku-pelaku propaganda ini.

As-Syahros-tani (penulis kitab terkenal, al-milal wan nihal/ agama-agama dan aliran-aliran) berkata: Mazdak menghalalkan wanita-wanita dan harta-harta, dan menjadikan manusia bersekutu di dalam memiliki wanita dan harta itu seperti dalam hal air, api, dan rumput (untuk hewan) dalam hal menjadi milik bersama. (As-Syahros-tani, al-milal wan nihal, halaman 86). Walaupun sekitar seratus tahun setelah itu kemudian orang-orang Parsi (kini Iran) masuk Islam, namun apa yang terjadi? Mereka tetap mempertahankan keburukan yang telah terlanjur merajalela tadi, hanya dimodifikasi sedikit.

Kalau zaman Mazdak yang nabi palsu Majusi, maka yang terngiang di hawa nafsu mereka adalah: Untuk meningkatkan keimanan maka perlu menzinai (isteri) orang. Kemudian setelah mereka masuk Islam, maka yang terngiang di hawa nafsu mereka adalah: Untuk meningkatkan keimanan maka perlu menzinai orang dengan nama nikah mut’ah atau kawin kontrak. Padahal nikah mut’ah jelas sudah dilarang oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya dalam hadits-hadits ini:

عَنْ عَلِيِّ : أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلأَهْلِيَّةِ. (رواه البخارى ومسلم ومالك وغيرهم)

Dari Ali (bin Abi Thalib): Sesungguhnya Nabi صلّى الله عليه و سلّم, telah melarang nikah mut’ah pada hari (peperangan) Khaibar dan beliau pun (melarang) memakan daging keledai-keledai kampung/peliharaan. Hadits Shahih Riwayat: Bukhari (5/78 dan 6/129); Fathu al-Bari, 9/166-167; Muslim, 4/134-135; Syarah Muslim juz 9/189-190; Malik dan Tanwiru al-Hawalik Syarah Muwatha’:  2/74; Tirmidzi (2/295); Nasai’i (6/125 dan 126); Ahmad (1/142); Darimi (2/140). Hadits dalam shahih riwayat Muslim:

3496 – وَحَدَّثَنِى سَلَمَةَ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنِ ابْنِ أَبِى عَبْلَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِىُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ وَقَالَ « أَلاَ إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَانَ أَعْطَى شَيْئًا فَلاَ يَأْخُذْهُ ». صحيح مسلم – (ج 4 / ص 134)

Dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani, ia berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: Ada selimut seperti selimut._ Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi SAW sedang berpidato di antara pintu Ka’bah dan Hijir Ismail. Beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, Aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang mempunyai istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya janganlah kalian ambil lagi. Karena ALLAH AZZA WA JALLA TELAH MENGHARAMKAN NIKAH MUT’AH SAMPAI HARI KIAMAT.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim (II/ 1024), Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud (II/ 226, 2072), Imam Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah (I/ 631), Imam al-Nasa’i dalam kitabnya _Sunan al-Nasa’i (VI/ 1303), Imam al- Darimi dalam kitabnya _Sunan al-Darimi (II/ 140) dan Imam Ibnu Syahin dalam kitabnya _al- Nasikh wa al- Mansukh min al-Hadits hal 215).

Betapa miripnya. Lakon nenek moyang majusi sudah seribu limaratusan tahun yang lalu, ternyata masih diterus-teruskan. Padahal itu adalah warisan nabi palsu Majusi. Syiah merobohkan Islam secara keseluruhan Islam yang pedomannya Al-Qur’an dan As-Sunnah, Al-Qurannya dianggap palsu, tidak murni lagi. Fakta dari kitab Syi’ah sendiri, bahwa menurut kitab Syi’ah: Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).( nahimunkar.com/syiah-menuduh-al-quran-telah-diubah ) Para sahabat yang sangat berjasa mengumpulkan Al-Qur’an jadi mushaf (bentuk buku) dituduh murtad, dan mengubah-ubah Al-Qur’an.

LPPI Makassar menulis sebagai berikut: Jalaluddin Rakhmat (JR) dan Emilia Renita Banyak tulisan, editan dan ceramahnya yang sangat menjelek-jelekkan sahabat dan tabiinbahkan melaknat dan mengkafirkan mereka, berdasarkan dalil (kutipan) yang lemah atau berdasarkan dalil yang dipahami secara salah atau data yang dimanipulasi, contoh: Para sahabat merobah-robah agama. (Jalaluddin Rakhmat. Artikel dalam Buletin al Tanwir Yayasan Muthahhari Edisi Khusus No. 298. 10 Muharram 1431 H.  hal. 3). Para sahabat murtad.( Ibid. hal. 4). Dendam Majusi terhadap Islam lah yang diwarisi Syiah, sehingga bukan hanya meneruskan penghalalan zina dari nabi palsu Majusi bernama Mazdak, namun sampai orang majusi yang membunuh Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu justru kuburan majusi pembunuh itu kini dikeramatkan di Iran. Bahkan ada tuntunan doanya untuk dikumpulkan di akherat bersama Abu Lu’lu’ah (si majusi pembunuh Umar bin Khatthab).

Pembunuh Khalifah Umar Yang Diagungkan.

Masih adakah yang mengatakan syi’ah bagian dari Islam?! Makam Pembunuh Khalifah Umar Yang Diagungkan Inilah kuburan Fairuz atau yang dikenal sebagai ”abu lu’luah almajusiy” pembunuh (Khalifah Umar bin Khottob Rodhiallah ‘anhu) yang senantiasa diagung agungkan oleh kaum Syiah.. Na’udzubillah min dzalik,. Ya Allah, Hancurkanlah dan binasakanlah musuh-musuhMU. Aamiin (Ghirah Islam)

Iran resmi melarang didirikannya masjid Ahlussunnah

Itulah dendam majusi terhadap Islam. Lebih dari itu Ketika Umat Islam Ahlussunnah di Iran mau mendirikan masjid saja ternyata ada larangan resmi dari penguasa negeri syiah Iran. Lihat Video Republik Iran Resmi Melarang Pendirian MasjidSunni di Teheran

Dapat disimpulkan, saat ini dendam majusi syiah lebih tampak nyata dibanding kafir-kafir lain. Apalagi di Iran yang mengaku republic Islam tapi melarang didirikannya masjid Islam (ahlussunnah atau sunni) itu ternyata di Iran terdapat banyak gereja dan bahkan ada 36 sinagoge tempat ibadah Yahudi. Lihat Daftar 36 Tempat Ibadah Yahudi di Iran Negeri Syiah

Dendam majusi syiah terhadap Umat Islam yang tidak dapat ditutup-tutupi itu telah berlanjut dengan pembantaian terhadap Umat Islam. Sekarang Umat Islam di Suriah sedang dibantai oleh rezim Bashar Assad. Pembantaian terhaap Umat Islam itu dengan mengerahkan pula musuh-musuh Islam dari luar Suriah yaitu syiah Iran, Syiah Irak, Syiah Libanon, kafir Rusia dan Kafir Cina. Bersekongkol dengan orang-orang kafir memang sudah dilakukan syiah dalam membantai umat Islam di Baghdad masa lalu. Orang yang mengerti sejarah Islam akan berpendapat para pengaku Syiah ternyata adalah musuh yang paling berbahaya yang menyerang negara Islam, karena mereka itu secara lahiriyah adalah muslimin akan tetapi dibathinnya menyimpan kekufuran dan permusuhan yang besar sekali terhadap Islam, sehingga Syaekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Sesungguhnya asal setiap fitnah dan bencana adalah Syiah dan orang yang mengikuti mereka dan kebanyakan pedang yang menumpahkan darah kaum muslimin adalah dari mereka dan pada mereka bersembunyi para zindiq [Minhajus sunnah 3/243) .

Dan karena mereka menganggap kaum muslimin lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani sehingga mereka bersama mereka bahu membahu dalam menghancurkan umat Islam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Sungguh kami dan kaum muslimin telah melihat apabila kaum muslimin diserang musuh kafir maka Syiah bersama mereka menghadapi kaum muslimin” [Ibid 4/110.] Lihatlah kisah masuknya Hulaghu Khan (raja Tartar Mongol) ke negeri Syam tahun 658H dimana kaum Syiah menjadi penolong dan pembantu mereka yang paling besar dalam menghancurkan negara Islam dan menegakkan negara mereka, dan ini telah diketahui dengan jelas dalam buku-buku sejarah khususnya di Iraq dimana menteri khalifah waktu itu yang bernama Ibnul Alqaamiy dan kaum Syiah menjadi pembantu Hulaghu Khan dalam menaklukkan Iraq dan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak terhitung jumlahnya. (Bahaya Syi’ah Sebuah Realita Disarikan Oleh Abu Asma Kholid bin Syamhudi dari kitab Ushul Madzhab Syiah Its-na Asyariyah karya Dr. Nashir bin Abdillah Al Qifaariy dengan penambahan dari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang lainnya/ dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun V/1422H/2001M)

Sangat membahayakan kehidupan masyarakat Ketika dendam majusi syiah telah merusak Islam seakar-akarnya, merusak tatanan kehidupan keluarga yang telah diatur Islam, bahkan membantai umat Islam dari masa ke masa, ditambah pelarangan mendirikan masjid Islam alias berarti melarang ibadah, maka negeri yang sadar bahwa syiah itu sangat mengancam, ternyata melarang syiah. Ambil contoh Malaysia, bukan hanya ulamanya yang aktif mengharamkan syiah, namun pemerintahannya juga melarang praktek syiah-Iran, sedang pihak keamanan pun bergerak untuk menangkapi kegiatan syiah. Di Malaysia praktik Syiah-Iran dilarang, dan di Brunei diharamkan. Ulama di sana secara dini sudah mengantisipasi, tulis islampos. Dari kedubes Malaysia, Raja Nizam menjelaskan mengenai pelarangan ajaran Syiah di Malaysia, Nizam menegaskan bahwa hal itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya bentrokan dan terciptanya kehidupan umat beragama yang harmonis. “Saya melihat (pelarangan Syiah, red) itu sebagai suatu pegangan, bagaimana pemerintah bersikap atas masalah ini (Islam dan Syiah).

Dan dalam konteks di Malaysia, kita ingin menghindari terjadinya ketidakharmonisan, sebagaimana disebutkan oleh Duta Besar tadi, dia katakan, kita punya matlamat utama, konsep wasatiyyah ini untuk menjadikan masyarakat yang harmoni,” tegas Nizam. Konflik antara umat Islam dengan Syiah telah menjadi sorotan dunia, sebagaimana terjadi di Suriah, Irak, Bahrain, Yaman dan juga di Indonesia. Paham Syiah yang merupakan sempalan dari Islam, menafikan dan menyesatkan ajaran Islam. Bahkan para penganut Syiah mengkafirkan orang yang berada di luar ajarannya. “Jadi bila dalam konteks yang sudah ada, jika ada keyakinan yang melampaui sehingga menafikan keyakinan orang lain, sehingga meniadakan akidah orang lain, itu adalah suatu hal yang bisa mengganggu keamanan, sehingga harus dilarang,” pungkasnya kepada kiblatnet. Dengan kenyataan ancaman syiah yang sangat membahayakan itu bila syiah dibiarkan, maka tanggung jawab dan dosa terbesar sudah dapat ditudingkan kepada pihak yang membiarkan serta kaum munafik yang tidak mengaku syiah tapi membiarkannya bahkan membelanya dengan aneka cara.

Dengan indikasi banyaknya orang munafik, maka Umat Islam harus siap-siap, dalam menghadapi syiah ini. Telah ada kejadian nyata. Jangan sampai umat Islam nasibnya seperti petani yang tanamannya dihancurkan oleh gajah, petaninya diinjak-injak gajah yang mengamuk, hingga jadi korban bahkan mati. Betapa mengenaskannya nasib petani yang seperti itu. Namun, kalau para petani yang masih hidup sampai membunuh gajah maka dianggap melanggar, karena gajah termasuk binatang yang dilindungi. Seolah Umat Islam dihadapkan pada problem mirip petani korban amukan gajah itu. Bahkan lebih dahsyat lagi, karena bukan hanya tanaman dan nyawa yang diancam, namun aqidah keimanan, satu-satunya milik orang Islam yang paling berharga. Masih ditambah lagi perusakan dahsyat yaitu diporak-porandakannya tata kehidupan rumah tangga diubah menjadi cara binatang. Oleh karena itu, mari kita rujuk, bagaimana sebenarnya petunjuk Allah Ta’ala yang Maha Benar dalam menghadapi masalah seperti ini. Allah memberi petunjuk, umat Islam tidak boleh bersikap lunak terhadap orang kafir dan munafik. Harus bersikap keras terhadap orang munafik

{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ} [التحريم: 9]

9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS At-Tahriim/66: 9). Memerangi orang munafiq adalah dengan lisan/ hujjah argumentasi, dan dengan sikap keras dalam pembicaraan, dengan mengemukakan ancaman siksa (di akherat), tidak boleh bersikap lunak terhadap mereka, menurut Al-Jazairi dalam Aisarut Tafaasiir.

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/menghadapi-bahaya-syiah.htm/feed 0
Khilafah, Teokrasi, dan Teo-Demokrasi http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/khilafah-teokrasi-dan-teo-demokrasi.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/khilafah-teokrasi-dan-teo-demokrasi.htm#comments Fri, 18 Apr 2014 06:12:51 +0000 http://www3.eramuslim.com/?p=75409 khalifah1Oleh: Yan S. Prasetiadi

 

Masalah kepemimpinan politik dan sistem ketatanegaraan dalam Islam sebenarnya secara konseptual tidak pernah mengalami perdebatan hebat seperti masa kini, kecuali semenjak Ali Abdur Raziq muncul dan melontarkan pendapat nyelenehnya tentang Khilafah Islamiyah, dimana pendapatnya tentang sekularisasi agama yakni pemisahan antara agama dan negara dikutip mentah-mentah oleh sebagian kaum muslim.

Para ulama sebelum Khilafah runtuh pada tahun 1924 M, senantiasa menyatakan secara konsisten bahwa sistem pemerintahan Islam adalah Khilafah. Memang ada yang menyebut dengan Khilafah ada pula dengan kata-kata sinonim yang semakna dengan Khilafah, seperti Imamah, atau Imamah al-Uzhma’ dan lain sebagainya. Demikian pula tentang wajibnya umat Islam mempergunakan sistem pemerintahan Islam tersebut. (lihat: Dr. Sulaiman ad-Dumaiji, al-Imâmah al-‘Uzhmâ’ ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, Riyadh – Dar at-Thayyibah, 1408 H, hal. 27-35).

Ulama besar sekaliber al-Mawardi (w. 1058 M) berpendapat bahwa, mengangkat Imamah (khilafah) di tengah-tengah Umat adalah wajib berdasarkan ijma sahabat. (Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hal. 5).

Demikian pula, Ibnu Khaldun (w. 1406 M) menyatakan bahwa, mengangkat seorang Imam (khalifah) adalah wajib, kewajibannya dalam syariat diketahui berdasarkan ijma’ shahabat dan tabi’in. Beliau beralasan, tatkala Rasulullah saw wafat, para shahabat segera membai’at Abu Bakar ra dan menyerahkan pertimbangan berbagai macam urusan mereka kepadanya, demikian pula yang dilakukan kaum Muslim pada setiap masa. Lalu beliau simpulkan, kenyataan semacam ini merupakan ijma’ yang menunjukkan adanya kewajiban mengangkat seorang Imam (khalifah). (Muqaddimah Ibn Khaldun, hal. 191).

Tak ketinggalan dari kalangan mazhab syafi’i ada imam an-Nawawi (w. 1278 M) mengutarakan para sahabat berkonsensus bahwa kaum muslim wajib mengangkat Khalifah. (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, 12/205). Pernyataan an-Nawawi tersebut di-amini bahkan oleh para ulama pakar hadits dan syarah, semisal Ibnu Hajar (Fath al-Bâri, Syarh Shahih Bukhari, 13/208), Badrudin al-Aini (Umdah al-Qâri, Sarh Shahih Bukhari, 24/279), Imam Abadi penulis kitab ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abu Dawud (8/112), termasuk imam al-Mubarakfuri penulis kitab Tuhfah al-Ahwâdz Syarh Jami’ at-Tirmidzi (6/397).

 

Definisi Khilafah    

Karena itu tidak benar jika ada opini bahwa Khilafah tidak wajib dan bahwa Islam tidak punya konsep yang jelas tentang sistem pemerintahan, buktinya, dari berbagai pendapat ulama dan pengkajian secara serius berbagai dalil yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan dan ketatanegaraan dalam Islam, Dr. Abdul Majid al-Khalidi, akhirnya mampu mendefinisikan Khilafah, yang bermakna: Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke segenap penjuru dunia. (Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm: hal. 229-230). Dari definisi Khilafah ini, dapat dipahami tiga poin penting:

Pertama, bahwa Khilafah itu adalah suatu kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia. Jadi Khilafah bukan kepemimpinan khusus, seperti kepemimpinan seorang gubernur di suatu propinsi. Dapat dipahami juga Khilafah adalah institusi politik pemersatu umat Islam, sebab kepemimpinan Khilafah bersifat umum bagi umat Islam seluruh dunia, tanpa melihat lagi batas-batas negara-bangsa (nation state) yang ada sekarang ini.

Kedua, fungsi pertama Khilafah adalah menerapkan Syariah Islam dalam segala aspek kehidupan, baik itu politik (pemerintahan), ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik luar negeri, dan sebagainya. Penerapan syariah ini adalah politik dalam negeri negara Khilafah.

Ketiga, fungsi kedua Khilafah adalah mengemban (menyebarkan) dakwah Islam ke seluruh dunia. Metode untuk mengemban dakwah ini adalah dengan menjalankan jihad fi sabilillah ke negara-negara lain. Mengemban dakwah dengan jalan jihad fi sabilillah inilah yang menjadi dasar politik luar negeri negara Khilafah. Jihad disini dilakukan jika dakwah secara hikmah dihalangi dengan kekuatan senjata oleh rezim yang berkuasa di negeri tersebut.

Maka dari itu dengan keberadaan Khilafah, akan dapat terwujud paling tidak 3 (tiga) hal sebagai berikut: (1) persatuan umat dalam satu negara, yang telah diwajibkan Islam (QS. Ali ‘Imrân [3]: 103); (2) penerapan syariah Islam secara menyeluruh, yang telah diwajibkan Islam (QS. Al-Baqarah: 208); (3) penyebarluasan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia dan seluruh alam, yang menjadi karakter agama Islam (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107).

 

Teokrasi Bukan Khilafah

Istilah teokrasi asalnya dikaitkan dengan pemerintahan atau negara yang diperintah Tuhan, baik secara langsung maupun melalui kelas kependetaan. Dalam teokrasi Barat ini, kedaulatan Tuhan mempunyai arti bahwa yang memiliki kekuasaan tertinggi atau kedaulatan adalah Tuhan. Lalu Tuhan mewakilkan kekuasaan-Nya kepada Raja atau Paus. Karena mewakili Tuhan, maka segala perilaku Raja atau Paus selalu terjaga dari kesalahan atau suci. Konsep ini memang serupa dengan konsep Imamah Syiah.

Pemerintahan teokrasi (yang menjalankan teori kedaulatan Tuhan) merupakan negara yang dipimpin gerejawan atau raja yang menganggap segala perilaku mereka terjaga dari kesalahan dan suci. Sehingga, “apa yang mereka halalkan di bumi, tentu halal pula di langit. Apa yang mereka haramkan di dunia, tentu diharamkan pula di langit.” Dari uraian ini, teori kedaulatan Tuhan sungguh tidak dapat dilepaskan dari konsep teokrasi yang bertentangan dengan Islam. Setidaknya ada tiga poin krusial yang menunjukkan kontradiksi teori kedaulatan Tuhan (teokrasi) dengan Islam:

Pertama, dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi, sedangkan dalam Islam, seorang kepala negara (khalifah) adalah wakil umat dalam urusan kekuasaan dan penerapan syariat Islam. (Abdul Qadim Zallum, Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, 2002: 49).

Kedua, dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa bersifat ma‘shûm (suci), sedangkan dalam Islam, seorang kepala negara bukan orang ma‘shûm; bisa saja dia berbuat dosa dan kesalahan. Karena itulah, amar makruf nahi munkar disyariatkan. (Abdul Qadim Zallum, Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, 2002: 122).

Ketiga, dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa atau gerejawan membuat undang-undang atau hukum yang berasal dari dirinya sendiri tanpa suatu acuan dan pedoman yang jelas dari wahyu Tuhan, sedangkan dalam Islam, penguasa mengadopsi hukum-hukum syariat berdasarkan ijtihad yang sahih dengan acuan dan pedoman yang jelas, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. (Abdul Qadim Zallum, Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, 2002: 105-108).

 

Bagaimana Dengan Teo-demokrasi?

Secara esensial, konsep Teo-demokrasi bermakna bahwa Islam memberikan kekuasaan kepada rakyat, tetapi kekuasaan itu dibatasi norma-norma yang datangnya dari Tuhan. Dengan kata lain, teo-demokrasi adalah sebuah kedaulatan rakyat yang terbatas di bawah pengawasan Tuhan. Seolah-olah manusia boleh membuat hukum, namun hukum itu dibatasi Tuhan (manusia 50 % dan Tuhan 50 %). Konsep ini pun memiliki kekeliruan dari dua aspek:

Pertama, aspek istilah, teo-demokrasi adalah campuran dari teokrasi dan demokrasi. Teokrasi berdasarkan penjelasan sebelumnya tidak sesuai dengan konsep sistem pemerintahan Islam, begitupun dengan demokrasi, karena demokrasi secara hakiki adalah meletakan kedaulatan (otoritas membuat hukum) ditangan manusia dan ini pula yang menjadi ciri dominan demokrasi, sedang Islam kedaulatan ada di tangan syariah. Jadi kedua konsep tersebut bertentangan dengan Islam, maka penggabungan kedua istilah inipun tidak bermakna sama sekali.

Kedua, teo-demokrasi tidak jelas membedakan antara kedaulatan dan kekuasaan, padahal dalam Islam, kedaulatan (as-siyâdah) atau kewenangan membuat hukum (legislasi) ada di tangan syariat. Sedangkan kekuasaan (as-sulthân) yang berwenang menerapkan hukum itu di tangan rakyat. Artinya Rakyat tidak berhak membuat hukum, sebab yang menjadi pembuat hukum (al-musyarri’) hanyalah Allah swt. (QS. Al-An‘am [6]: 57). Adapun kekuasaan (as-sulthân) ada di tangan umat (as-sulthân li al-ummah), sebab umatlah yang berhak membaiat siapa saja yang dikehendakinya untuk menjadi khalifah. Dengan pembedaan tegas antara konsep kedaulatan dan kekuasaan ini, kerancuan berpikir tidak akan terjadi. Ini tentu berbeda dengan teo-demokrasi yang menggabungkan konsep kedaulatan dan kekuasaan jadi satu sehingga berpeluang merancukan dan menggelincirkan pemahaman. (M. Shiddiq al-Jawi, Mengkritisi Konsep Teo-demokrasi, 2011).

 

Kesimpulan

Dengan demikian menjadi jelas bahwa Khilafah bukan Teokrasi dan juga bukan Teo-demokrasi, Khilafah adalah sistem pemerintahan yang spesifik, berbeda dengan sistem pemerintahan yang ada di dunia ini. Karena itu penulis sepakat dengan rumusan An-Nabhani, bahwa sistem pemerintahan Islam ditegakkan diatas empat kaidah: (1) Kedaulatan adalah milik syara’ bukan milik rakyat; (2) Kekuasaan berada di tangan umat; (3) Pengangkatan seorang Khalifah adalah fardhu atas seluruh kaum Muslim; (4) Khalifah mempunyai hak untuk mengadopsi hukum-hukum syara’ dan menyusun undang-undang dasar dan perundang-undangan. (Muqaddimah ad-Dustur, 2009: I/109-113). Hilang saja salah satunya maka seketika itu juga sistem pemerintahan menjadi bukan sistem pemerintahan Islam.

Karena itu mengkaji dan memahami Khilafah harus melalui pendekatan normatif dan objektif, dan sangat keliru jika mau memahami Khilafah tapi dalam benak pengkaji sudah ada justifikasi terlebih dahulu dengan cara mencari cari kemiripan-kemiripan dengan sistem yang ada pada Teokrasi dan Teo-demokrasi. Wallahu a’lam.

 

*) Dosen Studi Islam STAI Darul Ulum Purwakarta

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/khilafah-teokrasi-dan-teo-demokrasi.htm/feed 0
Golput Pemilu 2014 Kekuatan Politik Laten http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/golput-pemilu-2014-kekuatan-politik-laten.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/golput-pemilu-2014-kekuatan-politik-laten.htm#comments Mon, 14 Apr 2014 02:25:29 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=75155 golputOleh : Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia)

Angka golongan putih (Golput) atau warga yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2014 diduga lebih tinggi ketimbang pemilu-pemilu sebelumnya. “Kami memprediksi angka golput kali ini mencapai 34,02 persen,” kata Rully Akbar, peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Rabu, 9 April 2014. Rully mencatat, angka golput pada pemilu 1999 hanya 10,21 persen. Pada pileg 2004 angkanya naik menjadi 23,34 persen dan pada pemilu legislatif 2009 naik lagi menjadi 29,01 persen. Kali ini, berdasarkan perhitungan cepat LSI, angka Golput 34 persen.

Analisis Rully, disertai dengan penjelasan sejumlah faktor penyebab tingginya angka golput. Pertama, persoalan administratif yang mana seseorang tidak terdaftar dalam suatu TPS. Kedua, alasan teknis seperti tidak ada waktu untuk mencoblos karena kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ketiga, “Atau alasan politis yakni kepribadian seseorang yang tidak percaya lagi pada institusi pemilu, dan merasa tidak ada keterkaitan mereka dengan calon-calon atau partai,” kata dia.

Sedang CSIS dan lembaga survei Cyrus Network dengan perhitungan agak berbeda akhirnya menetapkan persentase pemilih yang enggan menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum legislatif 2014. Dari hasil kalkulasi mereka melalui metode penghitungan cepat, tingkat ‘golongan putih’ pemilu tahun ini hampir menyentuh angka 25 persen. “Tingkat partisipasi pemilih 75,2 persen. Sementara yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 24,8 persen,” tulis peneliti CSIS Philips J. Vermonte, melalui keterangan pers, Rabu (9/4).

 

Sementara itu sebelumnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) pada Pemilu 2014. Jumlah tersebut merupakan rekap perbaikan DPT yang dilakukan pada November-Februari 2014 yaitu sebanyak 185.822.507 pemilih. “Kita sudah menetapkan jumlah DPT 185,8 juta itu sudah fix. Sudah tidak mengalami perubahan,” kata Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah di Gedung KPU, Selasa (25/3/2014). Ini artinya jumlah golput versi perhitungan cepat CSIS dan Lembaga Servei Cyrus Network sejumlah 25 % dari 185.800.000 orang yakni sejumlah 46.450.000 orang. Jika mengikuti versi LSI yang diprediksikan sejumlah 34 %  maka identik dengan sejumlah 63.172.000 orang.

 

Berdasarkan perhitungan Quick Qount Cyrus dan CSIS sebaran prosentase perolehan parpol yang dikombinasi dengan prediksi golput versi LSI sejumlah 34 % (63.172.000) dengan jumlah pemilih : 122.628.000 orang dari DPT (Daftar Pemilih Tetap) : 185.800.000 orang adalah sebagai berikut :

 

No

Parpol

Prosentase (%)

Jumlah

1

Nasdem

6,90

8.461.332

 

2

PKB

9,20

11.281.776

3

PKS

6,90

8.461.332

4

PDI-P

18,90

23.176.692

5

Golkar

14,30

17.535.804

6

Gerindra

11,80

14.470.104

7

Demokrat

9,70

11.894.916

8

PAN

7,50

9.197.100

9

PPP

6,70

8.216.076

10

Hanura

5,40

6.621.912

11

PBB

1,60

1.962.048

12

PKP

1,10

1.348.908

Sumber : CSIS dan Cyrus Network. Last Updated, 10 April 2014 18:39.

                                                                                                                                                      

Golput adalah kekuatan politik laten yang suatu saat bisa menjelma menjadi kekuatan politik manifes. Dalam berbagai teori gerakan sosial politik menyebut bahwa lahirnya gerakan sosial politik pada awalnya berangkat dari antipati terhadap kesenjangan atau ketidakharmonisan antara harapan dan kenyataan. Namun pada proses berikutnya bisa jadi akan menggumpal menjadi perubahan yang didorong oleh kesatuan nilai-nilai bersama. Dan Indonesia pernah mengalami masa dimana “reformasi” menjadi “keyword” nilai-nilai perubahan sosial politik atau sence of collective yang mendorong terjadinya pergantian rezim. Dari rezim Orde Baru menjadi rezim Orde Reformasi. Yang ditandai dengan kolaborasi antara orang-orang yang pernah berada di jaman Orde Baru dengan orang-orang muda yang lahir dari proses kesejarahan reformasi.

 

Fenomena meningginya golput pada Pemilu 2014 dengan kecenderungan terus meningkatnya prosentase golput sejak Pemilu 1999 adalah sebuah indikator kekuatan politik laten. Dimana indikator tersebut bukan saja bisa disetarakan secara vis a vis dengan salah satu kekuatan parpol yang menjadi pemenang Pemilu 9 April 2014. Namun bukan tidak mungkin golput akan menjadi kekuatan politik yang setara bahkan melebihi kekuatan politik semua parpol kontestan pemilu. Sampai pada masanya dimana kekuatan ekstra parlemen mampu mendorong paksa dinamika proses politik intra parlemen. Dan bukan mustahil tensi reformasi pada 1998 yang berhasil merealisasikan pergantian rezim akan meningkatkan eskalasi politik menjadi tensi revolusi yang menuntut pergantian rezim sekaligus pergantian sistem di masa yang akan datang. Salah satu indikatornya adalah dengan melihat trend kecenderungan meningginya golput dan berubahnya golput dari kelompok yang pada mulanya lebih didorong oleh pragmatism menjadi ideologism. Kecenderungan ini bisa dilihat dari indikator lainnya, misalnya bahwa the Jokowi Effect pada pantauan perhitungan the Quick Qount beberapa lembaga survey ternyata tidak berhasil membawa implikasi signifikan terkatrolnya perolehan suara PDIP-P. Paling tidak menembus ambang batas the Presidential Threshold sejumlah 20 persen. Dan tidak mampu mengeleminasi kecenderungan meningginya golput dari waktu ke waktu.

 

Dengan melihat sebaran prosentase perolehan suara Pemilu 9 April 2014 kita bisa memprediksikan bagaimana profil pilpres dan kabinet yang lahir dari Pemilu 2014. Paling tidak terdeskripsikan secara global antara lain :

 

Pertama, capres dan cawapres yang berpeluang diusung dan didukung oleh mesin parpol adalah kolaborasi antara PDI-P dan Golkar. PDI-P yang sejak awal mengusung Jokowi dalam beberapa kesempatan survey mendapatkan tingkat elektabilitas yang tinggi, nampaknya tetap ngotot mengusungnya sebagai calon RI-1. Apalagi optimisme bertambah saat Jokowi bersedia secara langsung mengkomandani tim sukses pemenangan pilpres Juli mendatang. Sedang Golkar harus legowo untuk ditempatkan pada posisi calon RI-2. Kemungkinan besar pasangan rivalitasnya adalah Prabowo yang diusung oleh Gerindra sebagai pemenang urutan ke 3 pemilu 9 April 2014.

 

Kedua, jika terjadi kondisi sebagaimana pada point pertama maka profil kabinet mendatang pada prinsipnya masih sama dengan profil kabinet hasil pemilu 2009. Yakni kabinet Koalisi dibawah komando Jokowi. Cuma bedanya yang sebelumnya bersama Demokrat, Golkar memimpin Koalisi. Tahun ini bersama dengan PDI-P. Dan PDI-P yang sebelumnya terkesan berseberangan dengan Partai Pemerintah. Sekarang diprediksikan menjadi Partai Pemerintah bersama Golkar. Profil kebijakan Koalisi ala Jokowi alias PDI-P tentu tidak berbeda jauh dengan saat Kepemimpinan Megawati sebelumnya. Pertanyaannya adalah apakah statement yang disampaikan oleh Busyro Muqoddas di depan 126 delegasi berbagai perguruan tinggi akan terulang bahwa korupsi sistemik adalah hasil dari kabinet Koalisi SBY. Substansi korupsinya sama tetapi bedanya ke depan akan banyak korupsi yang dilegalisasi dan dilegitimasi oleh undang-undang. Produk legislasi akan dipergunakan sebagai alat legitimasi penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan untuk mengeruk keuntungan individu dan golongan.

 

Ketiga, profil dewan, dengan sistem pemilu proporsional terbuka dan multipartai pada pemilu kemarin membuka ruang terbuka bagi caleg dari berbagai latar belakang parpol yang incumbent lebih memiliki kans untuk mengisi panggung dewan dibanding dengan caleg pendatang baru. Caleg incumbent lebih memiliki amunisi kampanye dan pengalaman. Dengan profil dewan yang dominan dipenuhi oleh barisan incumbent ini maka proses politik maupun keputusan politik dalam bentuk produk legislasi badan legislatif tidak akan mengalami perubahan secara signifikan. Berarti masih seperti yang dulu. Meski pergeseran sedikit terjadi pada komposisi kuantitas anggota dewan pada masing-masing parpol seperti PKB mengalami sedikit penambahan sebaliknya Demokrat mengalami banyak pengurangan. Dan Nasdem pengisi anggota dewan yang baru, meski sebenarnya anggota dewan Nasdem adalah lahir dari proses mutasi beberapa anggota parpol yang lain sebelumnya.

 

Proses pileg dan pilpres Pemilu 2014 pada akhirnya bisa dipahami ke depan tidak akan banyak diharapkan menciptakan banyak perubahan performa keputusan politik yang mendatangkan perubahan mendasar dan sistemik atas berbagai persoalan sistemik yang dihadapi negeri ini. Berjalan seiring semakin mengakumulasinya ketidakpuasan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi poilitik yang berimplikasi terhadap institusi pemerintah/negara. Mewujud dalam bentuk semakin rendahnya tingkat partisipasi politik pemilih dalam Pemilu alias Golput. Semakin mengkristal semakin menguat. Sepi senyap menunggu momentum meledak menjadi revolusi sosial politik. Berubah dari bermotif pragmatis menjadi bermotif ideologis. Berubah dari kekuatan politik laten menjadi kekuatan politik yang manifest. Pertanyaan akhirnya adalah seberapa jauh political will para pengambil kebijakan negeri ini mencermati kondisi ini dan mau benar-benar serius merubah dan melakukan perbaikan negeri ini dengan mengacu pada ideologi keyakinan mayoritas bangsa ini. Ideologi yang datang dari Tuhan yang menciptakan aturan kehidupan manusia. Ingatlah Firman Alloh Subhanahu Wa Taalla : “Katakanlah: Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada barang siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari barang siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.” (QS Ali Imron : 26). Wallahu a’lam bis showab.

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/golput-pemilu-2014-kekuatan-politik-laten.htm/feed 0
Surat Terbuka Untuk Petinggi Partai Islam http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/surat-terbuka-untuk-petinggi-partai-islam.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/surat-terbuka-untuk-petinggi-partai-islam.htm#comments Sun, 13 Apr 2014 01:37:39 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=75098 partai islamTelah kita ketahui walaupun belum pasti hasil dari pemilu kali ini tahun 2014 Gabungan suara partai Islam dapat mencapai 30% lebih, melewati syarat pencalonan presiden, artinya saat ini Allah memberikan kesempatan kepada kalian untuk meninggikan kalimatullah, meninggikan harkat martabat  Islam seperti yang kalian selalu “jual” agar kami memilih kalian sebagai wakil wakil kami di pemerintahan.
Saya tidak habis pikir begitu gampang nya kalian bercerai berai sesama partai Islam padahal Allah dan Rasul nya menyeru kepada kalian untuk bersatu, disaat kalian tidak mempunyai suara yang cukup kalian mengemis ngemis suara kepada umat sebagai amunisi perjuangan, dan ketika suara suara tersebut sudah ditangan kalian, sudah cukup buat kalian jika bersatu, malah kalian menghianati kami berwacana untuk berkoalisi dengan partai non Islam.
Mau menunggu apa ? menunggu menjadi Mayoritas? kapan itu ? bukankah Rasulullah melakukan perperangan yang pertama dengan jumlah pasukan yang sedikit tapi cukup menggentarkan, dan bukankah saat pasukan Rasulullah dalam jumlah yang lebih banyak malah mereka menganggap remeh dan tidak tunduk lagi kepada Allah dan Rasul nya ? masa itukah yang akan kalian tunggu ? yaitu dimana kalian menjadi mayoritas pemenang pemilu.
Kami yang memilih kalian bukan ingin melihat kalian menang dan bergelimang kekuasaan dengan cara menghalalkan koalisi dengan partai mana pun walaupun partai tersebut sarang koruptor, penzinah dan pengusaha kaya yang menunggu hutang nya dilunasi oleh Negara, kami yang memilih kalian ingin melihat kalian berjuang dan berkeyakinan penuh terhadap janji Allah dan Rasul nya, tidak bergeming karena keinginan kepada kekuasaan tapi tetap tegar berdiri pada nilai nilai Islam yang akan kalian perjuangkan.
Kami menunggu lama agar harkat martabat Islam di Indonesia bisa kalian angkat tinggi tinggi wahai pemimpin pemimpin kami, takutlah kepada Allah. Jika kalian tidak bisa bersatu sungguh telah jelaslah pada pandangan pandangan kami bahwa kalianlah yang telah menjual agamai ini (Islam) dengan harga murah, tujuan kalian bukan untuk Islam karena jika tujuan kalian Islam maka Allah pasti akan mempersatukan hati hati kalian,takutlah kepada Allah.
Keinginan mengusung ideologi (Islam) dengan mendukung partai politik berideologi (Islam) ternyata hanya harapan umat saja, sedangkan para elit lebih mementingkan berpolitik praktis dengan tujuan kekuasaan semata. menjadi bukti bahwa ideologi apapun di indonesia tidak punya tempat kecuali hanya di angan angan rakyat saja, dan para elit apapun dengan ideologi partainya pasti akan melakukan kolaborasi meskipun dengan partai paling korup sekalipun demi mendapatkan kekuasaan.
ini menjadi bukti kegagalan demokrasi menciptakan kekuasaan yang bersih dan di ridhoi Allah,.

Wallahualam

A.Anshori
]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/surat-terbuka-untuk-petinggi-partai-islam.htm/feed 0
Awas, Nonton The Raid 2 Bisa Berandal http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/awas-nonton-the-raid-2-bisa-berandal.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/awas-nonton-the-raid-2-bisa-berandal.htm#comments Sat, 12 Apr 2014 00:33:20 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=75070 raidOleh Anastasia - Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung

 

Langkah pemerintah Malaysia untuk memboikot film The Raid 2 memang diakui selakang jauh lebih cepat ketimbang Indonesia yang malah meloloskan film The Raid beredar di Bioskop. Sekuel film kejam ini disutradarai  Gareth Evans, Gareth merupakan sutradara khusus bergengre sadistik, konten The Raid penuh dengan adegan kekerasaan pembuatan filmnya menghabiskan waktu yang cukup lama dengan biaya fantasitis sekitar 3 juta US, alasan klasik mengapa film ini ngotot ditayangkan semata-mata untuk kepentingan  hiburan dan seni bela diri walaupun para pemain berkilah ada pesan moral yang bisa diambil dari film tersebut namun tetap saja film The Raid lebih mengarah pada sajian kekajaman, hanya ada satu  adegan yang disensor Gareth mengakui bahwa memotong satu atau lebih adegan merupakan hal yang sangat sulit baginya. “Ketika saya menyunting film, tiap adegan terasa seperti momen yang berharga. Seringkali saya berkata, ‘No fucking way I can cut this,’” terangnya.. Seolah ingin menaikan pamor pemutaran The Raid 2 mereka mengkalin bahwa filmnya mendapatkan sambutan  hangat dari publik Amerika serikat dengan pemutaran perdana di beberapa kota di Amerika Serikat

Belajar pada kasus kematian Ade Sara

Masih ingat kejadian kekerasaan yang di alami Sara, pribadi Hafid menjadi sorotan tajam dalam perkara ini, kebiasaan Ahmad Imam Al Hafid menonton video kekerasan diduga menjadi salah satu latar belakang Hafid membunuh Sara, adanya keterkaitan antara tontonan kekerasan menimbulkan kecenderung berprilaku kejam, hal senanada pun diungkapkan oleh Dosen Hukum Unisba Arinto Nurcahyono bahwa sikap dan tindak kekerasan sudah merupakan gejala mondial dalam bentuk peristiwa, berita, karya sastra, dan film,  berbagai media komunikasi massa makin didominasi oleh tema-tema kekerasan. Karena itu kecenderungan berlangsung secara terus menerus dan setiap saat maka manusia menjadi tidak peka bahkan menjadi mati rasa terhadap gejala kekerasan. menganggap kekerasan sebagai kewajaran.  Di sisi lain konsultan komunikasi Syafiq Basri Assegaf melihat adanya peran media massa terhadap kekerasan  khususnya televisi (TV) dan film kekerasaan memungkinkan  penonton TV secara sadar atau tidak sadar meniru adegan yang ditontonnya di layar kaca. Jenuh rasanya  setiap hari melihat berita krimnal dan kekerasaan dan sekarang bangsa Indonesia dihadapkan dengan berbagai sajian kekerasaan yang ditampilkan secara legal dan “elegant” dalam bentuk film yang mana badan sensor negara meloloskan tayangan The Raid 2 dikonsumsi oleh publik, mau seperti apa generasi bangsa kita jadinya?

Jeratan hiburan ala kapitalisme

Hiburan yang disampaikan lewat film tidaklah bebas nilai, semua mempunyai arahan dan tujuan, pertanyaannya akan dibawa kemana akhirnya penonton menangkap setiap pesan yang disampaikan melalui film tersebut. Sutradara The Raid mengklaim bahwa tujuan dari pemutaran film ini semata-mata memberikan hiburan melalui atraksi bela diri tapi mengapa penyajiannya harus dalam bentuk cerita sadis bahkan dikemas supaya lebih menjual produk, tentu saja para koprador kapitalis mempunyai tujuan lebih dalam hal ini terlebih mereka menggelontorkan dana yang cukup besar dalam proyek The Raid 2, untuk apa mereka bersusah payah kalau tidak mendapatakan untung besar dan ratting tinggi inilah jeratan hiburan kapitalisme yang menguntungkan sebagian pihak saja tanpa melihat efek negatif yang akan ditimbulkan dari film tersebut, celakanya lagi ketika hiburan dikuasai oleh para kapitalis masyarakat secara tidak sadar digiring menjadi masyarakat konsumtif, seperti tajamnya animo penonton terhadap film The Raid 2. Besar konten kekerasan dalam bentuk berita ataupun film memberikan distribusi terhadap banyaknya tindak krimal yang terjadi di Indonesia, perlahan masyarakat Indonesia secara tidak sadar akan cenderung berprilaku sadistik, cukuplah kasus keberandalan Hafid terhadap kematian Ade Sara menjadi pelajaran besar. Begitu besarnya efek negatif yang ditimbulkan  dari sebuah film kekerasan, namun apa daya inilah kenyataan pahit ketika kapitalisme menguasai hiburan dan  peradaban dunia. Walluhu’ Alam

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/awas-nonton-the-raid-2-bisa-berandal.htm/feed 0
Intensifikasi Pembodohan, Penyesatan, dan Pemurtadan di Indonesia http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/intensifikasi-pembodohan-penyesatan-dan-pemurtadan-di-indonesia.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/intensifikasi-pembodohan-penyesatan-dan-pemurtadan-di-indonesia.htm#comments Wed, 09 Apr 2014 06:52:38 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=74935 islam1Oleh Mbah Hartono Ahmad Jaiz 

Kebodohan dan Kesesatan Sepertinya Dipelihara

Orang yang punya ilmu dan akan ittiba’ sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihiwa sallam terkadang di dunia ini terdepak-depak. Apa lagi kalau dia itu hanya keturunan  orang kecil, tidak punya harta alias melarat. Seakan-akan malah  jadi klilip mata, ke sana sini tidak begitu disenangi orang.
Sampai ada  di masjid-masjid yang sejatinya bukan tempat untuk membenci orang saja nasib saudara yang sejatinya mengerti ilmu agama dan perilakunya lurus ini justru banyak orang yang membencinya. Padahal dia tidak pernah ngomong. Kalau sampai dia berani umbal/ bicara atau lebih lagi berani membantah, mesti akan dikeroyok ramai-ramai.

Apa sebab?

Sebab, mereka yang sama membencinya itu adalah orang-orang bodoh.  Orang yang aktif adzan kemudian melantunkan pujian (ini tidak ada tuntunannya tapi justru disuarakan dengan lantang  golak-galok memakai speaker) dan semacamnya di masjid-masjid itu biasanya orang bodoh, tidak mengerti duduk soal bab Islam dengan tertib. Tapi dia rajin ke mesjid lagi pula ahli ibadah, dapat juga sebab diangkat jadi marbot masjid. terus jamaah di masjid itu ya banyak yang tidak faham bab agama, jadi yang penting sudah biasa dijalankan orang di masjid ya itu yang dianggap benar. Lha imam masjidnya, biasanya dia faham bab Islam, malah  dapat membaca Alquran, bahkan kitab gundul segala. Tapi  imam masjid itu belum tentu mau memberi tahu jamaahnya, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. yang penting sudah sejak dahulu ada yang melaksanakan ya diteruskan saja.
Orang yang mengerti agama di mesjid itu yang ternyata anak orang kecil lagi pula melarat itu sampai tidak pernah shalat ada  di belakang imam, harus ada di pinggir. karena dia kalau di belakang imam, maka sedang khusyu’-khusyu’nya dzikir sesudah shalat, tahu-tahu tersingkir malah  dapat keterjang barisan mutar-mutar bersalaman. Mesti saja kalau tidak ikut salam-salaman maka dipelototi orang banyak, malah  boleh jadi diomeli tidak keruan. Padahal  bersalaman mutar-mutar sesudah shalat berjamaah itu ya tidak ada tuntunannya.Tapi  kalau sampai anak yang mengerti agama, anaknya orang kecil lagi melarat ini berani umbal/ bicara, mungkin malah  tidak dibolehkan lagi datang ke mesjid itu.

Kenapa Kok seperti itu?

Ya Itu sebab mereka orang-orang bodoh, antara jamaah masjid dan marbot, plus imam yang mungkin mengerti tapi  malah  bercerminkan pada orang bodoh-bodoh. Akibatnya, orang yang mengerti agama, kepengin tegak ittiba’ dhawuh/ perintah Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam malah  kesingkang-singkang/ terdepak-depak, apa lagi hanya anaknya orang kecil lagi pula melarat.
Seperti  itu terjadi dari desa pelosok sampai kota besar malahan sampai ibukota sekalian.  Untungnya, tidak sampai Masjidil Haram Makkah dan Madinah.

Sepertinya kebodhohan ini malah  dipelihara, dihidup-hidupkan. Tidak hanya di masjid-masjid, tapi  ada  ormas besar yang memang menjaga tetap hidup suasana yang sebenarnya  tidak begitu cocok dengan Islam tapi  dijalankan orang Islam, terus dilestarikan. Dipakai untuk apa? Mengakunya ya dipakai untuk kebaikan.Lha kebaikan kok rujukannya lakon orang, bukan Islam. ya itu sejatinya sudah terbalik. Makanya terkadang yang diwajibkan oleh  Islam atau dipentingkan, malah  tidak begitu dijalankan dengan bersungguh-sungguh. Sebaliknya, yang tidak diperintahkan malah  sangat dipentingkan. Contohnya shalat berjamaah itu penting di  Islam, tapi  belum tentu mereka pentingkan.Tapi  kalau tahlilan selamatan orang mati (padahal itu tidak ada tuntunannya di  Islam) malah  kompak seakan-akan yang nama berjamaah itu ya ini. Lha jadinya ya seperti ini, orang-orang bodoh malah  dipelihara biar tetep tidak mengerti mana yang sejatinya harus dipentingkan.Lha yang pintar tapi  keblinger malah memelihara suasana yang seperti ini. Tidak Mau merubah biar jadi benar, tapi  malah  menjaga agar tetap hidup dan membesarkan (keadaan yang terbalik itu). apa tidak kojur/ celaka kalau seperti ini.
Padahal ketika zaman Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saja orang bodoh yang ahli ibadah itu sudah sangat menjengkelkan. terus orang pintar tapi keblinger itu ya sudah menjengkelkan pula. sampai Ali menyebut kalau itu menjadikan boyoknya (pinggangnya) semplok. bilangnya Ali,

قال علي رضي اللّه عنه : قصم ظهري رجلان : عالم متهتك وجاهل متنسك.

Menjadikan patah punggungku dua orang (ini): Orang alim yang menyimpang dan orang bodoh yang ahli ibadah. (Ibnu Qudamah Al-Maqisi w 689H, Mukhtashar Minhajul Qashidin halaman 23).

Bayangkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu itu kan khalifah, pemimpin agama dan Negara, dan dia itu alim agama karena shahabat Nabi shallalahu‘alaihi wasallam, itu saja dia merasa jengkel menghadapi menungsa dua itu: orang alim yang nyimpang dan orang bodoh yang ahli ibadah. Padahal orang bodoh belum banyak dan tidak dipelihara supaya tetap bodoh. Dan orang pintar yang keblinger ya belum banyak, dan tidak dipelihara oleh pemerintahan Islam. Berbeda dengan yang tidak mau memakai pernatan Islam, sepertinya malah dua jenis menungsa (bodho tapi ahli ibadah, dan pintar tapi keblinger)  yang menjengkelkan pemimpin Islam sejati itu malah  dipelihara, dan bersama-sama dengan ormas yang mengaku Islam. Kojur sungguh (celaka betul)!

Lebih kojur lagi, tidak hanya memelihara orang pintar yang keblinger, tapi malah  menyiapkan bibit-bibit supaya jadi orang pintar keblinger. Sampai puluhan tahun nyekolahkan dosen-dosen IAIN, UIN, STAIN dan sebagainya adalah perguruan tinggi Islam se negara ini supaya belajar agama Islam ke negeri-negeri kafir barat. Lha itu kan seperti  orang sekolah biar dapat faham tatacara nyembelih sapi supaya hasilnya halal, tapi  sekolahnya ke perusahaan daging babi. Lha nanti kalau pulang kan ya paling kurang menganggap tidak apa-apa daging sapi dicampur babi. atau malah  semua itu entah sapi apa babi semua halal. Ya hasilnya, jadi orang-orang aneh,pendapatnya sampai menganggap dari agama apa saja ya akan masuk surga.(menganggap semua orang akan masuk surga) itu lebih jelek ketimbang menghalalkan semua daging entah sapi entah babi. karena yang dibatalkan hanya bab haram. Lha kalau menganggap semua orang akan masuk surga itu membatalkan semua isi Qur’an dan semua isi Hadits. Dibatalkan semua. apa tidak kurang ajar sungguh itu.
Makanya kalau akan mengerti mana saja berkeliarannya orang-orang keblinger, ya tinggal melihat ke perguruan-perguruan tinggi Islam. Mblader pokoke, jika hanya cari orang pintar keblinger. Lha orang tidak hanya dipelihara tapi  dipersiapkan bersungguh-sungguh. makanya sampai ada buku ditulis oleh  Hartono Ahmad Jaiz, berjudul Ada Pemurtadan di IAIN.

Terus, memelihara orang-orang keblinger itu dipakai untuk apa?

Ya Dipakai untuk memurtadkan orang Islam ini, biar tidak iman lagi. biar meyakini kalau menungsa ini semua akan masuk surga, biarpun jadi penyeru ajaran syetan. Ya Itulah puncak ajaran syetan, yang nama pluralism agama,inklusifisme, liberaisme, dan multikulturalisme yang digembar-gemborkan oleh para antek syetan. Itu yang dicetak di tingkat akademis. Lha yang di kampong-kampung sudah ada yang “bertugas” supaya membengkokkan Islam ini agar merata (bengkoknya) di masyarakat. Supaya Islam ini tidak dapat tegak. Kalau Islam ini tegak di masyarakat, nanti dikhawatirkan, antek-antek syetan tidak dapat makan.
Bayangkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu itu kan khalifah, pemimpin agama dan negara lagi pula dia itu alim agama karena dia adalah shahabat Nabi shallalahu‘alaihi wasallam, itu saja dia merasa jengkel menghadapi menungsa dua itu: orang alim yang nyimpang dan orang bodoh yang ahli ibadah.
Lha bagaimana lagi zaman sekarang yang seperti dialami anak yang mengerti agama tapi dia itu anaknya orang kecil lagi melarat itu tadi. Apa tidak ngenes/ menyedihkan? Padahal  zaman sekarang orang bodoh itu lebih banyak, lagi pula orang pintar yang keblinger itu ya lebih banyak. Lha bagaimana, orang yang pintar-pintar ada  di organisasi tertentu malah  mereka rapat terus memutuskan hukum, bahwa lokalisasi perlontean/ pelacuran itu boleh sebab ada dasarnya, sebab legal, jadi akitivitasnya (zina) para lonte di tempat perlontean itu tidak boleh diganggu gugat sebab resmi. Terus orang alim lainnya yang gede juga malah  sama mengadakan upacara natalan Kristen, terus partai PKB malah  mengadakan upacara perayaan tahun baru Cina yang agamanya kemusyrikan Kong Hu Chu, malah penyelenggaraan perayaan oleh partainya orang NU itu ada  di kantor pusat PKB. Jadi Perayaan agama kemusyrikan, tapi diselenggarakan oleh partainya orang NU yakni PKB lagi pula ada  di kantor pusat PKB. Itu tidak cocok babar blas (sama sekali) dengan ayat-ayat Allah Ta’ala.

Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman kepadanya:

] قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ[

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (al-Mumtahanah: 4)

Orang-orang pintar lainnya sampai titelnya professor doctor bahkan jadi guru besar di perguruan tinggi Islam malah  merusak agama dengan menyebarkan keyakinan batil. Mereka menganggap orang-orang agama selain Islam alias kafir itu ya akan masuk surga. Padahal  Allah sudah berfirman:

 {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } [البينة: 6]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al-Bayyinah/ 98 : 6).

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِاَلَّذِي أُرْسِلْت بِهِ إلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ }

“Demi Dzat yang jiwaku ada  di tanganNya, tidak ada seorangpun dari umat manusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa melainkan ia pasti termasuk penduduk Neraka.”  (HR Muslim).

Itu tuntunan Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah jelas,  selain orang Islam itu mesti akan jadi penghuni neraka selama-lamanya, tidak hanya masuk neraka, tapi  penduduk tetap neraka sak jeg jumbleg/ selama-lamanya. Lha kok berani-beraninya orang mengaku Islam dan bahkan titelnya professor doktor lagi pula mengajar Di Perguruan Tinggi Islam malah menyebarkan faham kemusyrikan baru yang sering disebut orang dengan Sepilis (sekulerisme, pluralisme agama dan liberalisme) ditambahi lagi inklusivisme dan multikulturalisme. Semua itu sejatinya hanya ajaran kemusyrikan baru yang dicekokkan kepada orang Islam. Makanya harus berhati-hati, Jangan sampai terseret kepada kemusyrikan baru dengan nama-nama atau istilah-istilah lain, sehingga orang Islam tidak mengerti kalau itu sejatinya kemusyrikan baru.

Masih ditambah lagi, dalam keadaan pemurtadan dan penyesatan seperti itu, datanglah agama syiah yang bermuatan dendam kepada Islam sampai ke ubun-ubun. Hingga negeri syiah di Iran resmi melarang adanya masjid-masjid ahlussunnah atau sunni. Lihat Video Republik Iran Resmi Melarang Pendirian Masjid Sunni di Teheran http://www.nahimunkar.com/video-republik-iran-resmi-melarang-pendirian-masjid-sunni-di-teheran/

Karena penggalangan dan intensifikasi kader-kader pemurtadan dan penyesatan di Indonesia telah matang, maka masuknya syiah pembenci Islam itu disambut baik oleh para antek kafirin itu, baik yang duduk di ormas-ormas Islam, perguruan tinggi Islam maupun di sembarang tempat, baik resmi maupun  tidak. Bahkan di MUI yang merupakan wadah kumpulan ulama pun mereka duduk atau masuk. Apalagi di partai-partai lebih-lebih yang sekuler. Pada pemilu 2014, caleg yang non Muslim dikabarkan 871 orang, terbanyak di PDIP. Partai beratribut warna merah berlogo kepala banteng ini calegnya yang Islam dikabarkan adalah kebanyakan dari sepilis (sekuler, pluralis agama, dan liberal alias kemusyrikan baru itu tadi) dan syiah. 183 caleg PDIP non muslim, caleg muslim banyak dari JIL dan syiah, tulis voaislam.com.

Lha sekarang kalau seperti anaknya orang kecil lagi melarat tadi ketika di desanya atau kampungnya sudah dipepetkan oleh orang bodoh-bodoh di masjid-masjid dan lingkungannya, terus kalau kuliah  di perguruan tinggi Islam ya dicekoki faham kemusyrikan baru oleh guru-guru/dosen atau bahkan guru besarnya, terus apa tidak semplok/ sakit sungguh boyoknya.
Ya seperti begitu itu kira-kira jaman yang sudah mulai ada tanda tanda kalau memegangi agama dengan teguh itu seperti menggenggam bara api.
Kalau sampai orang yang seperti anak ini tadi malah akhirnya ikut-ikutan orang banyak dan ikut guru besar yang keblinger tadi, maka jadilah sama bodohnya. Makanya harus menyadari, pancen/ memang kebodohan dan kesesatan itu sangat berbahaya. Kalau itu disandang orang, adalah sudah ada contohnya. Pintar tapi  keblinger adalah Yahudi, bodoh lagi sesat adalah Nasrani. Makanya tiap shalat diwajibkan berdo’a supaya dihindarkan dari jalan orang Yahudi dan Nasrani, yaitu mesti membaca al-fatihah yang ujung ayatnya:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

[صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah: 6-7).

Dalam kitab Tafsir Jalalain yang biasa diajarkan di pesanren-pesantren NU, lafal maghdub itu adalah orang-orang Yahudi, dan dhaalliin itu orang-orang Nasrani. Ini teksnya:

“غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهِمْ” وَهُمْ الْيَهُود “وَلَا” وَغَيْر “الضَّالِّينَ” وَهُمْ النَّصَارَى

bukan (jalan) mereka yang dimurkai – yaitu orang-orang Yahudi– dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat—yaitu orang-orang Nasrani.  (Tafsir Jalalain QS Al-Fatihah: 7).

Al-Quran sudah menuntun seperti itu.Tapi   sekarang gejala yang banyak justru mereka bercermin pada jalannya Yahudi dan Nasrani, seperti yang sudah dibahas ini tadi. Yakni pintar tapi  keblinger dan bodoh lagi sesat. Makanya marilah kita sama berhati-hati, belajar sungguh, dan memohon kepada AllahTa’ala Yang Maha Memberi Kanugrahan Hidayah dan Taufiq, supaya selamat dari sembarang kebodohan dan kesesatan. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

Jakarta, Kamis 14 Rabi’ul akhir 1435H/ 13 Februari 2014.

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/intensifikasi-pembodohan-penyesatan-dan-pemurtadan-di-indonesia.htm/feed 0
Sing Waras Ngalah? http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/sing-waras-ngalah.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/sing-waras-ngalah.htm#comments Tue, 08 Apr 2014 04:19:57 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=74887 demokrasi99Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Di zaman yang manusianya banyak kurang waras, pertama kali yang merasa terkena resiko adalah orang yang masih waras.

Ungkapan “sing waras ngalah” artinya siapa yang pikirannya normal agar mengalah, menahan diri, tidak meneruskan percekcokan, pertengkaran dan sebagainya. Biarkan orang yang kurang normal pikirannya tetap beraksi dan meneruskan kemauannya.

Ungkapan itu bisa dimaknakan sindiran kepada orang yang sedang bertikai, agar yang merasa dirinya masih berpikiran normal mau mengalah, menahan diri, tidak ngotot. Sehingga yang masih ngotot

berarti kurang waras, kurang normal.

Itu ketika keadaannya normal. Perkataan “sing waras ngalah” dapat dimaknakan seperti itu. Tetapi ketika keadaan berbalik, yakni manusia-manusianya sudah banyak yang tidak normal, maka sing waras ngalah itu menjadi keniscayaan, kemestian; siapa yang waras harus mengalah. Dan siapa yang kurang waras sajalah yang akan menguasai lapangan percaturan kehidupan (yang sudah tidak normal itu).

Sebagaimana tata aturan hidup yang normal, yang namanya orang normal itu berbeda dengan orang gendheng alias gila.  Tetapi di zaman gendheng (gila), maka tidak ada bedanya antara orang waras (normal) dengan orang kurang waras. Sama saja. Orang waras berjumlah seribu orang ya sama nilainya dengan seribu orang kurang waras. Orang shaleh seribu ya nilainya sama dengan seribu bajingan.

Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan:

{قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [المائدة: 100]

100. Katakanlah: “tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”  (QS Al-Maaidah: 100).

{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ} [الزمر: 9]

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS –Zumar/39: 9).

Jelaslah, ayat-ayat telah memberi petunjuk, orang yang baik itu tidak sama dengan orang yang buruk; orang yang berilmu itu tidak sama dengan orang tidak berilmu. Tetapi manusia kini tidak menggubrisnya bahkan membuat aturan yang berbalikan.  Orang shalih seribu ya sama dengan bajingan seribu. Sepuluh orang alim lagi baik ya sama nilainya dengan orang bodoh lagi bejat sepuluh orang. Na’udzubillahi min dzalik!

Ketika manusianya sudah membuat aturan tidak waras seperti itu, maka orang waras pun mau tidak mau harus mengalah. Tidak berkutik lagi. Sementara itu orang-orang yang tidak waras justru mengambil kesempatan.

Kesempatan apa ?

Kesempatan untuk membuat, mengkader sebanyak-banyaknya orang yang tidak waras.

Untuk apa ?

Untuk menambah suara dalam pemilihan ini dan itu, dari pilkada bahkan pilihan RT sampai pilihan caleg, bahkan penguasa tertinggi di suatu negeri.

Pengkaderan sebanyak-banyaknya agar jadi orang yang tidak waras ? Aneh.

Di dunia ini, ketika norma yang dibangun sudah berlandaskan menyamakan orang waras dengan orang tidak waras itu sendiri sudah aneh. Sehingga yang ditempuh selanjutnya pasti tidak waras pula.

Disamping itu, pengkaderan orang agar tidak waras itu jauh lebih murah dan mudah. Siapa saja bisa dikader untuk jadi orang yang tidak waras, tidak mau memikir, tidak menggubris aturan agama, tidak menggubris akhlaq mulia,  tidak menggubris lagi halal atukah haram. Yang penting hidup. Itu jauh lebih mudah dan murah. Daripada mengkader manusia untuk menjadi orang shalih, mentaati agama, mencegah kemunkaran, kemaksiatan, kemunafikan, kemusyrikan dan mencegah aneka kejahatan, mengkritisi aneka kebobrokan, penyimpangan, kecurangan dan sebagainya. Itu susah dan tidak murah.

Hasilnya, dapat dipastikan, pengkaderan orang-orang tidak waras jauh lebih sukses. Saking suksesnya, hampir-hampir tidak pernah mempersoalkan, ketika orang waras disamakan nilainya dengan orang tidak waras. Seribu orang waras disamakan nilainya denga seribu oang yang kurang waras. Mereka diam saja.

Ketika jumlah kader tidak waras telah jauh lebih banyak dibanding yang waras, lalu mereka bertanding untuk memilih pemimpin, maka pertimbangan dari manusia-manusia yang tidak waras itulah yang akan dominan, karena bukan berdasarkan bagusnya berfikir tetapi hanya berdasar jumlah pemilih. Orang-orang tidak waras seribu misalnya, pasti mengalahkan orang waras yang hanya seratus. Semakin sedikit orang yang waras, semakin kalah pula pilihan orang waras itu.

Dalam keadaan seperti itu, orang waras terpaksa tidak bisa berkutik. Bukan lagi ungakapannya “sing waras ngalah”, tetapi “sing waras terpaksa harus mengelus dada”.

Kenapa jadi begini ya?

Ketika manusia ini membuat-buat aturan yang tidak sesuai dengan aturan dari Allah Ta’ala Yang Maha Mengatur, maka manusia-manusia itu sendiri yang akan merugi. Tentu saja yang merasakan kerugian itu pertama-tama hanyalah orang yang waras. Itulah resiko jadi orang waras di zaman yang manusia-manusianya kurang  waras.

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan hamba-hambanya yang masih berpikiran waras lagi menjunjung serta mentaati aturan-aturan-Nya. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/sing-waras-ngalah.htm/feed 0
Pemimpin Hasil Demokrasi Hanya Pecundang! http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/pemimpin-hasil-demokrasi-hanya-pecundang.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/pemimpin-hasil-demokrasi-hanya-pecundang.htm#comments Sun, 06 Apr 2014 01:35:53 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=74771 pemimpin(Catatan Kritis Jelang 9 April 2014)

Oleh Lidus Yardi, Guru PAI dan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kuantan Singingi, Riau

            DALAM sistem demokrasi, menjadi pemimpin pemerintahan berarti merebut suara rakyat. Suara rakyat sangat menentukan terpilihnya seorang kandidat untuk duduk di singasana jabatan. Demokrasi mengajarkan bahwa, harga suara rakyat dalam pemilihan umum (Pemilu) nilainya sama dan menentukan. Sebab itu sistem demokrasi mengenal ungkapan vox populi vox dei, suara rakyat berarti suara Tuhan.

Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika merumuskan demokrasi dengan ungkapan yang populer; a government from the people, by the people, and for the people, pemerintahan berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Benarkah demikian?

Pesta Demokrasi…

Realita di setiap pesta demokrasi dunia terlebih lagi di Indonesia, baik di tingkat regional yaitu kabupaten atau provinsi (Pemilukada) dan di tingkat nasional dalam pemilihan kepala negara (Pilpres) bahwa suara rakyat tidak lagi berarti suara Tuhan. Vox populi bukan vox dei. Karena suara rakyat sudah dapat dibeli dan dipengaruhi melalui pesta demokrasi dengan menelan biaya yang cukup tinggi.

Suara rakyat adalah suara politik pencitraan atas penguasaan media dan plus survei abal-abal pesanan. Dalam sistem demokrasi kekinian, suara  “Tuhan” berarti suara partai dan kandidat yang memiliki lumbung kekayaan.

Melalui pesta demokrasi, yang terbentuk hanyalah ajang tebar pesona dan janji program berpihak pada rakyat bila terpilih. Saat kampanye, seluruh kandidat pasangan yang bertarung bagaikan Tuhan yang siap menyejahterakan dan mengatur kehidupan hambanya. Bila rakyat ragu, maka diyakinkan melalui baliho dan media informasi lain seperti televisi, koran, dan radio. Masih juga ragu, maka rakyat diberi baju kaus, uang, dan suguhan artis dangdut murahan.

Rakyat memilih pemimpin bukan karena kualitas sosok pribadi berupa keahlian dan kompetensi yang dimiliki, tetapi cenderung diukur dari banyaknya pasokan yang diberi. Kandidat yang banyak menebar uang berselimut bantuan, baik kepada kelompok tertentu atau langsung ke pribadi, jelas yang menerimanya termakan budi. Maka, ia harus memilih yang memberi meskipun bertentangan dengan nurani. Membela yang bayar meskipun jelas tidak benar. Inilah jalur pembodohan berdemokrasi itu. Tidak heran muncul ungkapan orang Batak, hepeng do namangatur negara on, uang yang mengatur negara ini.

Kasus suap untuk memenangkan pasangan tertentu dalam Pemilukada, yang melibatkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar adalah fakta yang tak terbantah, bahwa uang yang berkuasa. Yang bayar yang menang. Jargon “membela yang bayar bukan yang benar” adalah sebuah realita. Maka tidak heran beberapa pejabat di daerah ditengarai bukanlah pejabat pilihan rakyat, tetapi pejabat (maaf) penjahat hasil permainan kotor politik uang. Jika benar, ini merupakan pengkhianatan besar atas demokrasi pilihan rakyat.

Dua Karakter…

Sistem pesta demokrasi dengan biaya yang cukup tinggi dalam rangka mencari simpati rakyat telah membentuk dua karakter. Pertama, karakter pemilih (masyarakat) yang bergantung kepada patron. Patron yang dimaksud di sini adalah kandidat pasangan  yang memiliki lumbung kekayaan. Masyarakat memilih pemimpin karena ada imbalan bukan pertimbangan kompetensi kepemimpinan sosok yang dipilih.

Survei menunjukkan, hampir 70 persen masyarakat bersedia menerima uang dari calon legislator pada Pemilu 2014. Angka ini melonjak dibandingkan 40 persen berdasarkan hasil survei lima tahun lalu menjelang Pemilu 2009 (Tajuk Koran Republika, 1/4/2014). Jika dahulu masyarakat khawatir adanya ‘serangan fajar’ menjelang Pemilukada dan Pilpres, tetapi sekarang masyarakatlah yang berharap dan menunggu adanya ‘serangan fajar’ tersebut.

Kedua, lahirnya pemimpin bermental klien. Pemimpin bermental klien selalu ingin dilayani bukan melayani, mentalnya menerima bukan memberi, korup dan seterusnya. Tidak heran kemudian sistem demokrasi Indonesia lebih cenderung melahirkan–meminjam istilah budayawan Riau, UU Hamidy–pemimpin Belalang  meskipun kita hidup di Negara Garuda. Seorang pemimpin negara dan wakil rakyat sejati, tentu pantang berbicara apalagi mengeluh tentang gaji!

Demokrasi Kebablasan…

Selama ini demokrasi selalu didukung dengan alasan superioritas nilai-nilai demokrasi itu berupa liberalisme, pluralisme dan kesetaraan. Fakta yang terjadi, makna kebebasan, perbedaan, dan kesetaraan dihakimi oleh pelaksanaan demokrasi itu sendiri. Atas nama demokrasi nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, perbedaan, dan kesetaraan didefenisikan sebagai kebenaran sepihak menurut kepentingan komunitas tertentu.

Suatu partai koalisi terbentuk misalnya, dimaknai bahwa anggota partai tidak boleh berbeda. Kalau berbeda dianggap menentang kesepakatan koalisi, meskipun bersepakat untuk ketidakbenaran. Kritis terhadap kasus penodaan dan penistaan suatu agama misalnya, malah dianggap tidak menghargai perbedaan dan melanggar HAM. Inilah demokrasi kebablasan!

Sebuah peringatan bahwa: “Negara Indonesia tidak akan pernah beranjak menjadi negara demokratis karena kultur politik yang dibangun para elitenya semata-mata melanjutkan tradisi politik feodal yang diwarisi dari masa lalu berupa monarki, atau kerajaan” (Harry J Benda, 1964).

Feodalisme adalah sistem politik atau sosial yang memberikan kekuasaan kepada golongan bangsawan dengan memuja jabatan bukan prestasi kerja (lihat KBBI). Tidak heran misalnya, bila bapak mewarisi tahta jabatan kepada anaknya. Jabatan suami berakhir digantikan oleh sang istri. Istri kepada menantu, dan seterusnya. Gejala ini populer belakangan disebut dengan istilah dinasti kekuasaan. Penulis menyebut gejala ini dengan nasab kekuasaan. Kekuasaan dan jabatan diperoleh karena adanya “Perda”, alias pertalian darah dan dana.

Digugat…

Sistem demokrasi, di mana pun ia dipraktikkan di bumi ini belum pernah mencatat sejarah sebuah negara menjadi gagah dan berjaya, banyak melahirkan pemimpin adi luhung dan mencerahkan kehidupan masyarakatnya. Tidak heran kemudian, taji demokrasi sejak lama dipertanyakan. Banyak ragu bahkan sudah menggugat demokrasi.

Plato, filsuf yang berasal dari Yunani, sebuah negara yang dianggap kiblatnya demokrasi dunia (sekarang negara bangkrut!), bahkan menganggap demokrasi hanya melahirkan pemimpin pandir (pecundang). Berkuasa dan mengatur negara karena dukungan banyak dan sembarangan orang (suara pelacur misalnya sama nilainya dengan suara seorang ulama). Karena banyak dan sembarang orang itulah, maka banyak kepentingan. Banyak kepentingan yang harus dipertimbangkan pada akhirnya membuat pemimpin hasil demokrasi sekuler tidak bebas membuat kebijakan. Kebijakan untuk menunda polisi wanita (Polwan) Muslimah untuk tidak berjilbab misalnya,  satu contoh bau aroma kepentingan.

Pada tahun 2007 dalam seminar yang diselenggarakan oleh American Academy of Art and Sciences, Robert Kaplan, seorang wartawan dan penulis buku, dalam makalahnya yang berjudul The New Evil of The 21 Century menyimpulkan, bahwa demokrasi dapat menjadi kejahatan politik. Kaplan menegaskan, tidak ada negara dibentuk berdasarkan demokrasi. Negara adalah perjuangan panjang melalui pemukiman penduduk, migrasi, atau perang.

Inilah demokrasi yang dicontohkan oleh negara Amerika, Prancis, Inggris, dan Australia. Negara ini sering berkoalisi menginvasi negara lemah atas nama demokrasi. Invasi ke Irak atau Libya merupakan contoh nyata. Demokrasi tidak lebih merupakan sumber kejahatan politik Amerika dan negara kroninya. Mantan Presiden AS, George W Bush pernah berkata: “Jika kita ingin melindungi Negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi (Koran Kompas, 6/11/2004). Sebuah ironi. Memang.

Mahathir Mohammad (2003) dalam pidato terakhirnya sebagai Perdana Menteri Malaysia dan Ketua Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) di parlemen mengatakan; “Obsesi kebebasan demokratis dapat berkembang ke arah anarki. Keyakinan jika demokrasi diimplementasikan maka segala sesuatunya akan beres sama sekali tidak berdasar, terutama jika demokrasi langsung diterapkan”.

Pilihan…

Demokrasi sekuler yang mengagungkan kemampuan manusia dan mengabaikan kekuasaan Tuhan dalam mengatur kehidupan bernegara bukan sebuah jawaban bin bukan sebuah pilihan. Demokrasi, kalau memang terpaksa harus demikian, saat ini dan di sini (baca: Indonesia) maka harus berazaskan teokrasi. Di mana kekuasaan rakyat sebagai kumpulan manusia beridentitas khalifah harus tunduk kepada hukum (syariat) Allah Subhaana wa Ta’ala sebagai pencipta sekaligus pengatur kehidupan manusia.

Untuk itu, Indonesia saat ini butuh pemimpin yang mencintai syariat yang memiliki karakter negarawan sekaligus agamawan. Nasionalis sekaligus Islamis. Mengapa Islamis bukan yang lain? Karena sejarah telah pernah mencatat, dunia telah mengakui, bahwa di bawah kepemimpinan pemimpin-pemimpin (khalifah) Islam yang di dada mereka terhujam iman dan takwa, serta memuliakan syariat agama terbukti mampu memberi keadilan dan kedamaian di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk (pluralitas).

Will Durant dalam The Story of Civilization, Vol .XIII hal.151 menulis: “Para khalifah (Islam-pen.) telah memberi keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukannya dan memberi kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, di mana fenomena itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka” (dikutip dari Media Ummat, Edisi 124, 19 Jumadil Awal – 3 Jumadil Akhir 1435 H/ 21 Maret – 3 April 2014)

Bacalah satu kisah sejarah kepemimpinan islami dari cicit khalifah Umar bin Khattab RA, yakni Umar bin Abdul Aziz yang semasa kepemimpinannya dikisahkan, Domba dan Srigala bisa hidup rukun dan damai. Biji Gandum sebesar biji Bawang (riwayat Imam Ahmad). Artinya, pemimpin yang adil, beriman dan betakwa, menegakkan nilai-nilai syariat agama; jangankan manusia, binatang pun merasakan pengaruhnya!

Sebaliknya, pemimpin yang alergi bahkan menolak syariat agama, dan dzalim! adalah sumber munculnya kemaksiatan dan musibah di mana-mana. Di negeri ini, jangan-jangan hanya satu di dunia, di mana pelacur umur 60 tahun harganya Rp1.000 sampai Rp2.000 dan pelanggannya anak SD dan SMP (Lihat wawancara Najwa Shihab dengan Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya di acara Mata Najwa MetroTV beberapa waktu lalu).

Pernyataan Risma di dukung fakta yang memuat kita miris dengan terungkapnya bisnis video porno online oleh kepolisian di Bandung (Senin, 23/2/2014). Di mana ditemukan 120.000 file video porno yang siap jual, rata-rata aktor utamanya adalah anak-anak ingusan yang berumur belasan tahun yang diperkirakan masih duduk di SMP. Di Bogor bahkan seorang tokoh agama disebut ulama beredar video mesumnya dengan wanita yang bukan haknya. Artinya, zina tak saja berkembang dilingkungan artis, pejabat, orang dewasa, anak-anak, bahkan fitnah itu juga terjadi pada tokoh agama. Na’udzubillah.  Negara demokrasi dengan mayoritas Muslim macam apa ini!?

Oleh sebab itu, sistem demokrasi sekuler an sich jelas sebuah kesombongan. Bukan jawaban. Tidak memilih pemimpin yang mencintai syariat Islam, bahkan bersimpati dengan pemimpin kafir, jelas sebuah kemunkaran. Tugas bersama yang pasti saat ini, untuk membeli masa depan dengan harga hari ini, adalah pendidikan (tarbiyah) ummat harus terus berlangsung sehingga memunculkan generasi-generasi Rabbani dan Qur’ani untuk sebuah cita-cita membangun peradaban dan masyarakat madani (civil society). Sebuah peradaban yang diberkahi berdasarkan janji Allah Ta’ala (lihat QS Al-A’raf: 96) dengan dasar iman dan takwa! []

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/pemimpin-hasil-demokrasi-hanya-pecundang.htm/feed 0
Tumbal Tumbal Pemilu http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/tumbal-tumbal-pemilu.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/tumbal-tumbal-pemilu.htm#comments Fri, 04 Apr 2014 00:00:28 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=74671 demokrasi1Oleh: Muhammad Dahrum, M. Pd

Sebentar lagi perhelatan pemilu akan berlangsung yang diadakan secara serentak seluruh Indonesia. Tujuannya adalah memilih wakil rakyat yang duduk di daerah  (kabupaten/ kota dan provinsi), serta tingkat pusat di senayan Jakarta. Pesta itu sudah menjadi agenda rutin lima tahunan untuk mengganti anggota legislatif yang masa kerjanya akan berakhir.

Pemilu kali ini lebih banyak competitor yang terlibat, mereka mengadu peruntungan dikursi panas kekuasaan. Diantara jumlah tersebut, tentu sebagian kecilnya yang terpilih menjadi wakil rakyat, sedangkan selebihnya kembali menjadi rakyat biasa.

Suksesi makin menggila

Persaingan dalam memperebutkan jumlah kursi terkadang sudah tak wajar, bertentangan dengan akal sehat dan naluri kemanusian. Walaupun setiap saat ada ikrar pemilu damai yang dideklarasikan secara bersama, tetap saja berbeda antara kata dan perbuatan. Itulah ‘tumbal’ (imbalan) yang tiap saat harus dibayar. Hampir tidak ada pemilu yang tidak menimbulkan kerusuhan, termasuk di bumi Serambi Mekah. Persoalan tersebut terus terjadi bahkan menjelang hari pencoblosan.

Hal lain dalam proses suksesi, para caleg harus bekerja keras dengan kucuran dana yang jor-joran. Sebagaimana prediksi banyak pihak bahwa pemilu kali ini bakal semakin sengit, karena ramainya jumlah caleg dan ‘harga’ kursi juga diperkirakan semakin mahal. Baik harga financial maupun jumlah suara yang harus diperoleh untuk bisa terpilih.

Namun ternyata, harga yang harus dibayar bukan sekedar kucuran dana, tetapi meminta sejumlah tumbal lain. Banyak caleg yang tidak terpilih jadi gila dan yang sudah terpilih malah gila harta. Banyak juga caleg yang bunuh diri dengan berbagai motifnya dan yang sudah terpilih malah ‘membunuh’ rakyat lewat kebijakannya. Terbukti dari berbagai produk peraturan yang justru mendhalimi rakyat.

Pemilu pada lima tahun yang lalu tidak sedikit menimbulkan duka terkait gangguan kejiwaan dengan kadar beragam. Sebagian para caleg yang tidak terpilih akhirnya menjadi pesakitan dengan berbagai ekspresi yang terjadi. Banyak yang gila karena tidak terpilih sebagai wakil rakyat dan kita berharap semoga saja tahun ini tidak banyak yang gila.

Melihat pengalaman pemilu pada 2009 lalu, sepertinya tahun 2014 ini jumlah caleg yang gila bakal mengalami peningkatan. Menurut data dari Kemenkes, pada pemilu 2009, ada 7.736 caleg yang mengalami gangguan jiwa berat alias gila. Sebanyak 49 orang caleg DPR, 496 orang caleg DPD dan 6.827 orang caleg DPRD II. Hal senada juga diperkirakan oleh Prof. Dadang Hawari “Pada 2014 ini saya pikir akan lebih banyak lagi caleg yang gila dibanding 2009.” (Media Umat, edisi 122).

Pemerintahpun sepertinya sudah mengetahui apa yang akan menimpa para caleg yang tidak terpilih pada april mendatang. Banyak daerah yang mulai siap siaga untuk menampung caleg-caleg gila tersebut. Di Aceh misalnya, Rumah sakit jiwa (RSJ) diberitakan telah menambah atau memperluas kamar penampungan, karena diperkirakan jumlah orang gila akan bertambah setelah pemilu berlangsung.

Selain mengalami ganguan jiwa, beberapa diantaranya yang tidak tahan menanggung malu karena gagal menjadi wakil rakyat, memilih jalan lain menyelesaikan persoalan dengan cara bunuh diri. Termasuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu lagi untuk membayar hutang yang menumpuk. Padahal bunuh diri dalam pandangan Islam sangat terlarang.

Setelah Terpilih

Biaya yang dikeluarkan untuk menjadi anggota legislatif tidaklah kecil. Modal kecil seringkali tidak bisa meningkatkan popularitas ketokohan, apalagi jika sumbangannya untuk kegiatan masyarakat kurang sudah pasti tidak dikenal. Cara jitu adalah memperbesar jiwa sosial melalui kebijakan bagi yang sedang berkuasa, namun yang belum punya tahta harus rela merogoh kocek lebih dalam.

Dana yang telah dikeluarkan tidak gratis begitu saja, meskipun tidak diucapkan secara nyata. Pengembalian modal adalah langkah selanjutnya saat kekuasaan sudah didapatkan. Berharap dari gaji  dan penghasilan tentu sangat minim adanya, karena di setiap bulan bahkan setiap hari harus pandai-pandai menjaga hati konstituen. Dana akhirnya habis tak bersisa dan terkadang tidak mencukupi untuk diberikan pada konstituen.

Langkah praktis akhirnya menggarong harta Negara dengan maksud memperkaya diri dan mempersiapkan konstituen untuk mencalonkan kembali. Praktik korupsi semakin marak yang merambah berbagai instansi pemerintah. Mulai lembaga legislatif yang memproduksi peraturan (legislasi), sampai lembaga pendidikan yang mencetak generasi.

Lembaga legislatif menduduki posisi puncak dalam hal korupsi. Riset PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi) pada semester II tahun 2012 dengan fokus utama terkait korupsi dan pencucian uang oleh anggota legislatif, menyebutkan sebanyak 69,7% anggota legislatif terindikasi tindak pidana korupsi. Detiknews.com (3/5/2013).

Legislator yang terjerat korupsi berasal dari  partai koalisi setgab (Sekretariat Gabungan). Semua parpol yang tergabung di dalamnya terlibat. Inilah sebabnya Ketua DPR Marzuki Ali mengatakan korupsi semacam arisan. Semua melakukan dan semua di seret ke pengadilan. Tingginya tingkat korupsi yang dilakukan elit parpol dan pemerintahan, menyebabkan rapuhnya pemerintahan akibat digerogoti korupsi.

Rakyat selain menjadi korban saat proses pemilu dimulai, juga setelah pemilu itu usai. Saat proses pemilu rakyat menjadi korban keganasan orang-orang yang sangat rakus dengan jabatan. Sikut kesana kemari, menjilat kemana-mana demi mendapatkan kekuasaan yang menurut sebagian orang menggiurkan.

Menggiurkan dari segi pendapatan gaji yang diperoleh dan kebijakannya setiap saat bisa menghasilkan jumlah uang yang besar. Anggota legislatif setelah terplih memiliki hak legislasi terhadap berbagai peraturan yang dibuat eksekutif. Perancangan undang-undang yang terjadi selama ini lebih banyak merugikan rakyat dan menguntungkan para pajabat. Pejabat memperoleh keuntungan karena kerjasama yang saling menguntungkan dengan pengusaha hitam.

Politik Mulia

Sebenarnya tujuan politik itu mulia. Dalam Islam aktivitas politik adalah kegiatan mengatur seluruh kepentingan rakyat. Kebutuhan rakyat terpenuhi dengan baik, tanpa ada yang dirugikan secara adil dan merata. Kesejahteraan rakyat merupakan yang utama, mengalahkan keseahteraan penguasa. Begitu seharusnya.

Teladan kita adalah khulafaur Rasyidin yang diberi kemulian di dunia dan juga di akhirat sebagai manusia istimewa. Simaklah pernyataan Khalifah Umar bin Khatab yang rela kelaparan asal rakyatnya kenyang. “Jika rakyatku lapar maka akulah yang lebih dahulu merasakan kelaparan, tetapi bila rakyatku kenyang maka akulah yang terakhir merasakannya”. Sungguh pribadi yang luar biasa yang tidak kita temukan di alam demokrasi saat ini.

Demokrasi telah mengajarkan persaingan yang tajam diantara kelompok masyarakat. persaingan itu begitu keras hingga harta dan nyawa saudaranya tiada berharga. Haruskah atas nama kekuasaan yang tidak pernah mengantarkan pada terujudnya aturan Islam itu, anak-anak menjadi yatim dan para ibu menjadi janda? Harta benda mereka dirusak dengan semana-mena, padahal mereka saudara seiman. Sungguh peristiwa yang memilukan.

Begitulah, demokrasi tidak pernah memberikan kebahagian bagi pengusungnya. Bila kebahagian diukur dari melimpahnya uang dan sederet jabatan mungkin sudah tepat. Memiliki segala kemewahan dan sejuta sanjungan. Tetapi bila kebahagiaan yang dimaksud adalah terujudnya ketentraman, kedamaian dan tegaknya aturan Islam, tentu tidak. Demokrasi hanya berhasil mengganti menteri dan angota DPR atau mungkin menjadi presiden. Sedangkan perubahan yang signifikan untuk mengganti sistem mahal kapitalis, menjadi sistem Islam yang beradab tidak pernah terjadi. Bila demikian adanya, lantas apa yang dicari?.Wallahu’alam.

PNS Pemkab. Aceh Barat daya

Email: dahrumdahrum@yahoo.co.id

]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/tumbal-tumbal-pemilu.htm/feed 0
Titik Temu Demokrasi dan Islam, Mungkinkah? http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/titik-temu-demokrasi-dan-islam-mungkinkah.htm http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/titik-temu-demokrasi-dan-islam-mungkinkah.htm#comments Thu, 03 Apr 2014 00:05:29 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=74603

islam demokrasiSering kita temukan beberapa tokoh politisi muslim, baik yang berlatar belakang parpol berbasis massa Islam maupun bukan, selalu mengulang-ngulang retorika bahwa Islam berkorelasi dengan demokrasi; demokrasi sesuai dengan Islam; Islam memperbolehkan demokrasi; demokrasi tidak bertentangan dengan Islam; bahkan ada politisi yang nekat menciptakan genre baru yaitu demokrasi Islam atau Islam demokrasi yang konon sebagai lawan demokrasi liberal, dan tentunya berbagai retorika lainnya sebagai rayuan agar umat Islam tidak meninggalkan demokrasi.

Pertanyaannya, betulkah retorika-retorika yang disampaikan tersebut? Apakah benar Islam berkorelasi dengan demokrasi? Hal ini tentunya mesti dijawab, agar umat bijak dalam bersikap dan tidak terombang-ambing berbagai wacana yang ada dalam hiruk pikuk pesta demokrasi kini.

 

Menilai Sebuah Istilah

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, sebagai seorang muslim kita dituntut objektif dalam menilai suatu konsep, ide atau gagasan. Artinya, jika sebuah istilah (berasal dari luar Islam) sudah terpengaruh dan lahir dari sebuah pandangan hidup tertentu, maka makna istilah tersebut mesti didefinisikan sesuai dengan deskripsi umat atau penggagas istilah tersebut, dan sifat gagasan atau ide dari istilah tersebut menjadi tidak universal dan tidak bisa digunakan oleh umat yang lain. Sedangkan jika sebuah istilah (berasal dari luar Islam) tidak terpengaruh oleh pandangan hidup tertentu, maka istilah tersebut menjadi universal, sehingga bersifat netral dan bisa digunakan oleh umat lainnya.

Contohnya, kata Negara atau State yang dalam bahasa Arab diterjemahkan menjadi Daulah. Kata tersebut hanya menggambarkan kondisi atau fakta sebuah wilayah yang memiliki: pemimpin, aturan, aparat penegak hukum/militer, masyarakat, dan teritorial tertentu. Maka makna kata Negara atau State/Daulah masih netral universal. Sedangkan beda halnya dengan istilah Negara Demokrasi atau Negara Islam, keduanya tidak netral dan universal, masing-masing sudah terpengaruh dan dibangun berdasarkan pandangan hidup tertentu. Sehingga secara prinsip keduanya memiliki perbedaan.

Beberapa Aspek Perbedaan

Selain alasan diatas, Islam dan demokrasi sejatinya memang tidak memiliki korelasi, dan juga tidak ada titik temu, hal tersebut berdasarkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Dari sisi historis, demokrasi muncul secara mapan semenjak abad ke-18 M, meskipun secara primitif nilai-nilainya sudah ada di Yunani semenjak 500 SM. Sedangkan Islam turun ke dunia bukan di Yunani maupun Eropa, ia muncul di jazirah Arab pada abad ke-7 M; Demokrasi digagas dan diramu oleh Montesque, JJ Rousseau, dan John Locke. Sedangkan Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, beliau yang membawa risalah Islam ini.
  2. Asas yang melahirkan demokrasi adalah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), yang dilatarbelakangi konflik antara kalangan pro gereja dan para filosof/cendekiawan, akhirnya munculah prinsip jalan tengah, agama diakui namun dikebiri. Sedangkan Islam asasnya adalah akidah Islam; Islam muncul tidak dilatarbelakangi kepentingan apapun, namun muncul berdasarkan wahyu dari sang Khaliq yang maha mengetahui solusi terbaik problem manusia, kini dan yang akan datang.
  3. Dalam demokrasi, negara adakalanya berbentuk kesatuan dengan otonomi daerah atau berbentuk federal. Dalam Islam negara berbentuk kesatuan tanpa otonomi daerah, dimana sistem politiknya bersifat sentralisasi, adapun sistem administrasi berbentuk desentralisasi.
  4. Pemerintahan demokrasi berbentuk republik, sedangkan Islam berbentuk Khilafah atau Imamah, hal ini sesuai penjelasan para fukaha.
  5. Bentuk kepemimpinan dalam demokrasi bersifat kolektif atau sharing of power, yang terbagi menjadi eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dalam Islam kepemimpinan bersifat tunggal di tangan Khalifah, dan tidak dibagi secara kolektif.
  6. Dalam demokrasi, kepala negara adakalanya disebut presiden, perdana menteri, atau bahkan raja (jika berbentuk demokrasi monarki). Namun dalam Islam, seorang kepada negara disebut dengan istilah yang sama sekali berbeda dari sistem politik manapun yang ada di dunia, kepala negara dalam Islam disebut Khalifah, Imam al-A’zham, atau Amirul Mukminin.
  7. Kepala negara dalam demokrasi memiliki syarat yang berbeda-beda antar satu negara dengan negara lainnya, hal tersebut disesuaikan rumusan hukum yang disepakati lembaga legislatif. Sedangkan dalam Islam, ada dua syarat menjadi kepala negara: pertama, syarat in’iqad (legal) seperti, muslim, berakal, baligh, laki-laki, merdeka, adil, dan mampu; kedua, syarat afdhaliyyah (keutamaan) seperti, Quraisy, ahlul ijtihad, ahlus siyasah perang, pemberani dll.
  8. Ketentuan panji negara dalam demokrasi diserahkan masing-masing bangsa dan negara. Dalam Islam, sebagaimana ditemukan dalam hadis dan sirah, panji negara dalam Islam memiliki nama, warna dan desain spesifik, yakni: al-Liwa’ (bendera berlatar putih, tulisan syahadat berwarna hitam) dan ar-Rayah (panji berlatar hitam dengan tulisan syahadat berwarna putih).
  9. Wilayah atau teritorial dalam negara demokrasi selalu tetap dan final, hal tersebut biasanya berdasarkan pengakuan PBB, bahkan bisa saja terjadi pemisahan wilayah sehingga luas wilayah negara semakin kecil jika referendum menghendaki demikian. Sedangkan Islam memandang dunia ini milik Allah dan semua manusia berhak mendapat dakwah Islam, sehingga konsekuensinya wilayah negara Islam tidak bersifat tetap, namun selalu bertambah dan terus meluas, hal ini karena setiap negeri yang penduduknya memeluk Islam, secara otomatis akan bergabung dengan Khilafah Islam.
  10. Ikatan yang mempersatukan warga negara dalam demokrasi adalah nasionalisme, ikatan ini agar tetap eksis memerlukan common enemy (musuh bersama), namun ketika musuh bersama hilang maka ikatan retak dan goyah, jadi ikatan nasionalisme bersifat temporer. Adapun dalam Islam, ikatan yang mempersatukan warga negara adalah ukhuwah Islamiyah yang lahir dari akidah Islam, ikatan ini bersifat ideologis, kuat dan tetap, baik terdapat musuh bersama maupun dalam kondisi damai.
  11. Dalam demokrasi, kedaulatan (otoritas membuat hukum) dan kekuasaan (otoritas mengangkat kepala negara) berada di tangan rakyat. Dalam Islam, kedaulatan (otoritas membuat hukum) di tangan syara’, sedang kekuasaan (otoritas mengangkat kepala negara) di tangan umat melalui baiat semata.
  12. Dalam demokrasi, standar kebenaran ditentukan suara terbanyak manusia, tanpa memperhatikan sumber suara tersebut. Dalam Islam standar kebenaran hanya diukur berdasarkan hukum syara’. Artinya dalam demokrasi sumber hukum adalah akal manusia, sementara Islam menyatakan sumber hukum adalah wahyu semata.
  13. Dalam demokrasi, warga negaranya memiliki kebebasan beragama (berpindah-pindah agama), bebas berpendapat meski menghina Islam, bebas bertingkah laku asal tidak menggangu selainnya, dan bebas untuk memiliki (mengeksploitasi) apapun juga selama memiliki modal. Dalam Islam warga negaranya tidak memiliki kebebasan seperti dalam demokrasi, namun seluruh warga negara wajib terikat syariah Islam, mereka tidak boleh bertindak, berpendapat, kecuali setelah mengetahui hukum syara’nya. Adapun bagi warga negara non muslim, mereka dibiarkan menjalankan hukum sesuai agama masing-masing dalam bidang akidah, nikah dan ibadahnya, termasuk makanan, minuman dan pakaian, diperlakukan sesuai dengan agama mereka, sebatas apa yang diperbolehkan hukum-hukum syara’. Namun jika menyangkut hukum muamalah dan uqubat (hukum-hukum publik) mereka terikat sebagaimana warga negara muslim.
  14. Wakil rakyat dalam demokrasi (MPR/DPR) berfungsi melegislasi hukum, menetapkan APBN, memberi pendapat, dan menerima aspirasi masyarakat. Sedangkan wakil rakyat dalam Islam (majelis umat) berfungsi untuk mengoreksi kebijakan penguasa jika tidak sesuai syariah Islam, mengajukan pendapat, dan membatasi jumlah calon Khalifah.
  15. Proses penetapan UU dalam demokrasi melalui mekanisme sidang DPR/MPR, sedangkan dalam Islam penetapan UU melalui tabanni Khalifah, sesuai dengan ijtihad yang shahih.
  16. Dalam demokrasi, hukum berfungsi sekedar membuat jera pelaku, meski dalam pelaksanaan tidak berjalan optimal, karena tidak dibarengi ketakwaan aparat, hakim, atau jaksa, masih tersandung banyak skandal, seperti suap dan gratifikasi. Dalam Islam, hukum itu berfungsi sebagai penimbul efek jera, sekaligus sebagai kaffarah atau penebus dosa, sehingga bagi seorang muslim ketika dia dihukum hakikatnya membersihkan dosa, sehingga di akhirat dosanya diampuni.
  17. Bentuk peradilan dalam demokrasi adalah bertingkat, ada peradilan banding dan kasasi, sedang dalam Islam tidak bertingkat, ketika sudah divonis maka keputusan mengikat dan dijalankan seketika itu juga, tanpa banding dan kasasi, sehingga sangat efektif dan efisien. Ditambah dengan sistem pembuktian yang ketat. Dalam demokrasi, perubahan keputusan hukum bisa disiasati dengan pengajuan banding, pemberian grasi dll. Sedangkan dalam Islam, vonis bisa berubah atau bahkan dibatalkan jika hanya terbukti menyalahi syariah atau menyalahi fakta pembuktian.
  18. Peradilan dalam demokrasi dklasifikasikan menjadi: peradilan umum, militer, peradilan agama, pajak, dan tata usaha negara. Sedangkan dalam Islam, peradilan dibagi tiga: peradilan umum (al-khushumat), peradilan hisbah (al-muhtasib), dan peradilan mazhalim. Tidak ada dikotomi peradilan sipil dan agama, karena semua berdasarkan syariah.
  19. Dalam demokrasi terdapat privilege (hak istimewa kebal hukum) terhadap person-person tertentu: seperti presiden dan wakilnya. Dalam Islam tidak ada yang seperti itu, dimata hukum semua sama. Jika bersalah dan terbukti maka wajib dihukum.
  20. Demokrasi menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, sedangkan Islam menerapkan sistem ekonomi Islam. Dalam demokrasi mata uang diserahkan kepada negara masing-masing, dengan basis uang kertas, sedangkan dalam Islam mata uang adalah Dinar dan Dirham yang berbasis emas dan perak, sesuai hukum syara’. Yang tak kalah penting, demokrasi memperbolehkan riba sebagai basis transaksinya, sedangkan Islam mengharamkan riba, dan mendorong ekonomi riil.
  21. Dalam sistem ekonomi kapitalisme demokrasi, privatisasi Sumber Daya Alam (SDA) dibolehkan, sedangkan dalam Islam diharamkan; SDA adalah kepemilikan umum yang mesti dikelola negara yang hasilnya dikembalikan kepada rakyat.
  22. Dalam politik luar negeri, demokrasi sejati menerapkan kebijakan kolonialisme & imperialisme; Islam menerapkan kebijakan dakwah dan jihad (jika dakwah dihalangi oleh kekuatan bersenjata negeri lain); Asas politik luar negeri demokrasi adalah manfaat semata. Namun dalam Islam asas politik luar negeri adalah kemashlahatan dalam negeri Khilafah dan kepentingan dakwah. Serta daulah Islam diharamkan membina hubungan diplomatik dengan kafir harbi muhariban fi’lan, karena mereka memusuhi Islam.

 

Berdasarkan analisis terhadap beberapa hal diatas, maka bisa tarik kesimpulan bahwa demokrasi tidak memiliki korelasi dengan Islam, masing-masing tidak bisa dipertemukan, karena banyaknya prinsip yang sangat jauh berbeda, karena itu wacana Islamisasi demokrasi yang kini digagas sebagian kaum muslim, nampaknya akan menemukan jalan buntu.

Islam sejatinya memiliki paradigma tersendiri dalam membangun peradabannya yang mulia, jadi tidak perlu meminjam paradigma kehidupan peradaban lain. Islam pun sudah memiliki konsep solusi kehidupan yang paripurna. Untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi manusia, Islam memiliki metode spesifik yakni ijtihad berdasarkan metode yang shahih, inilah yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita semua.

Terakhir, penulis teringat sepenggal kisah tatkala Umar bin Khattab ra dilarang Nabi saw, agar tidak mengambil paradigma kehidupan selain Islam. Dalam sebuah riwayat, Rasul saw sempat geram kepada Umar hanya lantaran membawa secarik lembaran Taurat (sebagai representasi peradaban non Islam kala itu), lalu memerintahkan agar hanya mengambil Islam saja sebagai paradigma kehidupan (Al-Quran) dan membuang paradigma kehidupan selain Islam. Beliau saw bersabda:

أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةً وَلَوْ أَدْرَكَنِي أَخِي مُوْسَى لَمَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

Tidakkah aku datang dengan membawa kertas putih bersih (Al-Quran), seandainya saudaraku Musa melihatku, tentu Ia tidak akan berbuat apa-apa selain mengikutiku. (An-Nabhani, Kitab Mafahim; Hadis semakna diriwayatkan pula Imam Ahmad, Ibnu Syaibah dan al-Bazzaar).

 

Maka, jika Taurat Nabi Musa as saja dilarang diambil, apalagi demokrasi? Wallahu a’lam.

 

Oleh: Yan S. Prasetiadi, M.Ag (Dosen Studi Islam, STAI Darul Ulum Purwakarta)

 

Referensi:

  1. M. Husain Abdullah. 1996. Mafâhîm Islâmiyyah. Juz. II, Beirut: Dar al-Bayariq.
  2. Dr. Samih Athif Az-Zain. 1989. Nizhâm al-Islâm: al-Hukm, al-Iqtishâd, al-Ijtimâ’. Beirut: Dar al-Kitab Lubnan, cet. I.
  3. Dr. Samih Athif Az-Zain. 2009. Al-Mu’âmalât, al-Bayyinât, al-‘Uqubât. Beirut.
  4. Prof. Robert A Dahl. 2011. Democracy. Chicago: Encyclopædia Britannica.
  5. Syaikh Abdul Qadim Zallum. 2002. Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm. Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, cet. VI.
]]>
http://www3.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/titik-temu-demokrasi-dan-islam-mungkinkah.htm/feed 0