Bekal sebelum Berqurban

Al Furqan – Jumat, 20 November 2009 08:50 WIB

Hari Raya Idul Adha ada di hadapan. Saat ini pasar kambing dadakan mulai bertebaran. Jurkam (juragan kambing) insidental muncul dimana-mana. Semua ingin berebut rezeki tahunan yang selalu menjanjikan. Takmir Masjid pun tak kalah sibuknya, panitia qurban sudah resmi disusun. Banyak pula yang sudah bergerak mencari hewan qurban. Dari mulai survei harga ke pelosok kampung dan daerah pinggiran, hingga menebar proposal ke area perumahan dan perkantoran. Lebaran qurban memang selalu menawarkan suasana yang unik dan berkesan.

Nah, giliran kita sekarang untuk ikut berpartisipasi. Sekiranya ada limpahan rezeki yang tersisa, atau tabungan masa depan yang bisa sedikit dikurangi, maka mengapa ragu untuk ikut berqurban kembali tahun ini ? Jika Anda termasuk yang dimudahkan untuk berqurban tahun ini, ada serangkaian bekal yang perlu diperhatikan. Agar ibadah qurban lebih berkah, hatipun lebih tenang karena sesuai syariat. Berikut rangkaian bekal sebelum berqurban :

Pertama : Menghidupkan Sunnah dengan tidak memotong kuku dan mencukur rambut dari awal dzulhijjah hingga hari penyembelihan

عن أم سلمة أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قال: " إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره ". وروى مسلم

Dari Ummu salamah ra, Nabi SAW bersabda : “ Jika engkau melihat hilal dzulhijjah, dan seorang dari kalian akan berqurban, maka hendaklah menahan dari (mencukur) rambutnya dan (memotong) kukunya “ (HR Muslim)

Barangkali ini salah satu sunnah yang hampir punah karena tidak populer, meski ‘sekedar’ menahan diri dari memotong kuku dan rambut. Selain akan mendapat pahala sunnah, tentu kita bisa mengambil hikmah dari amalan ini, yaitu betapa kita yang tidak berhaji tetap dituntut untuk merasakan apa yang dijalani oleh saudaranya yang sedang berhaji. Bukankah mereka yang ihrom / berhaji juga dilarang untuk melakukan hal-hal tersebut, hingga selepas tahallul nantinya ? Benar-benar sebuah syariat indah yang menyatukan ukhuwah setiap muslim.

Kedua : Senantiasa menjaga keikhlasan dan berqurban

Ibadah qurban dilihat dari lafadznya tentu dimaksudkan untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT, namun sejatinya bagi mereka yang akan berqurban akan banyak menghadapi godaan dalam proses pelaksanannya.Sudah bukan rahasia umum, ibadah yang satu ini mirip ibadah haji dimana banyak orang akan mengetahui. Daftar nama-nama yang akan berqurban biasanya jauh-jauh hari sudah terpampang kokoh di papan pengumuman masjid.

Bukan itu saja, bahkan hingga hari H pelaksanaan qurban pun, bisa kita dapatkan nama-nama mudhohhy (orang yang berqurban) tertera begitu jelas dikalungkan di leher-leher kambing yang siap disembelih. Atas alasan itu semua, sungguh ujian keikhlasan begitu berat di hadapan. Jangan sampai berqurban karena riya dan kesombongan, jangan pula karena merasa terpaksa dan takut dicela. Biasanya yang kedua ini lebih menggurita. Banyak yang merasa ‘harus’ berqurban karena pandangan tetangga dan sanak saudara, padahal hati belum begitu kokoh dalam menjaga keikhlasannya. Naudzubillah.

Dalam masalah ini sebuah ayat perlu kita renungkan dalam-dalam , Allah SWT berfirman dalam surat Al Hajj ayat 37 :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”. ( QS Al Hajj 37)

Ketiga : Memilih Hewan Qurban yang Terbaik sesuai kemampuan

Ada kalanya niatan berqurban sudah terpatri dalam hati, tetapi godaan syetan tetap saja datang menyapa. Kali ini mereka mungkin ‘sekedar’ menggembosi, agar tidak terlampau berlebihan dalam berqurban. Yang penting berqurban, meski asal-asalan. Karenanya, bagi para mudhohhy, hendaknya sejak lama menyiapkan diri untuk memilih hewan qurban terbaik yang mampu ia beli. Abaikan saja logika syetan yang membisiki bak pahlawan kesiangan, karena syariat kita menginginkan sebaliknya : berquran dengan yang terbaik yang kita mampu.

Bahkan secara umum Al-Quran telah mengisyaratkan tentang derajat kebajikan , Allah SWT berfirman :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya” ( QS Ali Imron 92)

Begitu pula dalam sebuah riwayat dari Hasan As-Sabt, ia mengatakan : “Rasulullah SAW memerintahkan kami dalam dua hari raya ( Iedul Fitri dan iedul Adha) untuk memakai pakaian terbaik, wangi-wangian terbaik, dan berqurab dengan hewan yang termahal yang kami mampu “ (HR Hakim, di dalam riwayatnya ada nama Ishaq bin Barzah yang dilemahkan oleh Al-Azdawi tapi dikuatkan oleh Ibnu Hibban)

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita dalam memilih hewan qurban untuk mencari yang terbaik dan yang kita mampu. Tidak ada celah untuk segala cacat dan cela yang mungkin akan mengurangi keberkahan pahala kita. Memang ada syarat minimal yang standar dan pas-pasan, tapi bolehlah kalau ada rejeki yang melimpah bagi Anda untuk mencari yang : Gemuk, dagingnya banyak, bentuk fisiknya sempurna atau bagus.

Keempat : Berusaha untuk menyembelih sendiri atau minimal menyaksikan penyembelihan

Ibadah qurban tidak boleh diidentikkan sebagai ibadah harta saja, sehingga seorang merasa cukup menyetor sejumlah uang kepada panitia, lalu tinggal menunggu datangnya jatah daging di hari sembelihan. Tidak sesederhana itu ibadah ini disyariatkan. Disunnahkan bagi mereka yang berqurban untuk menyembelih sendiri hewan qurbannya, jika ia mampu untuk itu. Bila tidak, tetap dianjurkan untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri prosesi agung itu, seraya berdoa :

" إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لا شريك له، وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين ".

Inilah bukti bahwa qurban bukan sekedar keluarnya harta, tetapi juga merasakan keagungan dan hikmahnya. Untuk mengingat perjuangan dan kesabaran sepasang anak dan bapak yang sedang di uji : Nabi Ibrahim alaihissalam dan Ismail alaihissalam. Begitu pula untuk melihat darah yang mengucur dan terlepasnya nyawa dari jasad binatang sembelihan, mengingatkan kita akan ‘kiamat kecil’ yang pasti dialami setiap manusia.

Dengan mengambil hikmahnya, seorang yang berqurban mendapat peluang untuk menambah keimanannya setingkat lebih baik dari hari sebelumnya. Akhirnya, selamat berqurban dan selamat Hari Raya Idul Adha.

Taqobbalallahu minna wa minkum.

Hatta Syamsuddin, Lc – penulis adalah alumni Fakultas Syariah Universitas Internasional di Khartoum, Sudan. Saat ini mengajar di Mahad Abu Bakar Universitas Muhammadiyah Surakarta, sambil meneruskan kuliah di S2 Ushul Fikih di Program Pascasarjana UMS. Buku yang sudah diterbitkannya antara lain : Muhammad SAW The Inspiring Romance (Indiva Media Press, 2007). Untuk saran dan kritik : [email protected] , kunjungi pula : http://hattasyamsuddin.blogspot.com

Pemuda & Mahasiswa Terbaru

blog comments powered by Disqus