Target Hidup

Adityanugroho – Kamis, 23 Ramadhan 1431 H / 2 September 2010 09:58 WIB

Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung.

Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, ia rugi.

Barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka.

Sesungguhnya setiap manusia merugi kecuali orang-orang yang memanfatkan
waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Orang merugi bisa dilihat dari
bagaimana perilakunya ketika ia naik kedudukan duniawinya. Di dalam ajaran
Islam, yang penting itu percepatan, bukan kecepatan. Bedanya, kecepatan
itu konstan, percepatan itu perubahan kecepatan per satuan waktu. Seperti
balap mobil. Satu mobil tetap dalam kecepatan sekian, sedangkan yang
lainnya bertahap kecepatan hingga meninggi. Mobil kedua ini tentunya yang
akan menang.

Kita banyak sekali melakukan kelalaian yang haru kita taubati. Taubatnya
kita dibuktikan dengan mengisi sisa waktu kita dengan yang bermanfaat
sebaik-baiknya, dan mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan ini.

Waktu itu amat menghakimi diri kita. Bila waktu kita isi sia-sia, maka
kita akan menjadi orang sia-sia. Apabila kita isi dengan perbuatan buruk,
maka kita harus siap menanggung perbuatan buruk kita, kecuali dihapus
dengan bertaubat.

Waktu itu sama bagi siapa pun, di mana pun, sehari semalam sebanyak 24
jam. Akan tapi mengapa dalam sehari orang ada yang bisa mengurus
perusahaan besar, misalnya, tapi ada juga orang yang tidak bisa mengurus
dirinya pun. Tidak boleh menyalahkan waktu, pasti kita tidak serius
mengaturnya. Pasti tidak serius menggunakan waktu seefektif dan
seefisiennya, sehingga Rasulullah Saw pun mengingatkan bahwa ada dua
nikmat yang kebanyakan manusia terlena, yakni nikmat kesehatan dan waktu
luang.

Sesungguhnya Allah SWT sudah menyiapkan waktu kepada kita umat manusia
sama jumlahnya. Bagaimana rahasianya manusia bisa menjalankan percepatan?
Segala sesuatu jalannya sering ditentukan pada target yang hendak dicapai.
Misalnya, orang yang tidak memiliki target hapalan juz’amma, maka tidak
akan tercapai-capai sampai kapan pun hapal juz 30-nya. Kalau tidak bisa
menargetkan yang demikian tinggi, kita harus bisa mengukur kemampuan diri
atau memakai sistem pentahapan. Misal lain, target terpenting dalam hidup
ini menjadi orang yang bertakwa (ahli takwa). Jangan sampai mati kecuali
dalam keadaan beriman. Dengan target seperti itu ia akan memanfaatkan
waktu seoptimalnya. Perintah dan larangan Allah Swt demikian dijaga. Dan
dilakukan pentargetan tahapan, seperti ibadah harian yang ditentukan
percepatannya, sehingga makin bertambah amal-amalnya.

Orang-orang yang menjadikan kematian sebagai salah satu target, maka ia
akan meningkat percepatannya. Percepatan yang sangat penting adalah apakah
dalam waktu yang sama menambah hebatnya amal, walaupun tidak dipungkiri
tiap kita berbeda-beda kemampuannya.

Perlu kita mencontoh bagaimana manfaat sinar matahari. Supaya rumah ini
terang, kita harus mempunyai keinginan membuka jendela dan garden-garden.
Allah sangat luas memberikan hidayah dan karunianya, hanya kitanya sendiri
yang tidak membuka diri. Tidak ada ketenangan kecuali dengan hati yang
bersih. Tidak ada amal yang diterima kecuali dengan hati yang bersih.
Makanan ada tapi mangkok kotor, apakah yang dipikirkan, makanan atau
mangkok? Yang paling penting dari percepatan itu apa pun adalah kebersihan
hati.

Kebersihan bisa dikeruk dan jangan sampai ditahan. Kalau sudah makin
bersih akan banyak yang ditampakkan dari rahasia kehidupan ini, seperti
lalu lintas rejeki, kesalahan-kesalahan diri, dan sebagainya. Tidak ada
yang menghalangi pertolongan Allah, kecuali oleh dosa-dosa kita. Di antara
ibadah yang efektif pula dapat membersihkan hati adalah dengan sholat.

Ibarat dengan orang yang memiliki penyakit menular, maka kita pun akan
takut tertular. Seperti itulah kalau kita bergaul dengan orang yang bisa
menularkan sikap buruk. Dan tiada satu pun perbuatan yang menimpa kecuali
dari perbuatan kita sendiri.

Tausyiah Terbaru

blog comments powered by Disqus