Ketika Syahwat Tidak Lagi Menjadi Raja

Muhammad Nuh – Selasa, 7 Ramadhan 1431 H / 17 Agustus 2010 12:00 WIB

Ramadhan merupakan bulan yang Allah anugerahkan sebagai sarana tarbiyah Rabbaniyah untuk umat Islam. Dari program tarbiyah atau pendidikan langsung dari Allah ini, diharapkan umat Islam mampu memperoleh derajat orang-orang bertakwa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. 2: 183)

Salah satu aspek yang dominan menjadi target tarbiyah dalam diri manusia pada program Ramadhan adalah pada pengendalian syahwat atau hawa nafsu. Berbagai cakupan dari tarikan syahwat pada diri manusia adalah seperti yang Allah sampaikan dalam Alquran.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. 3: 14)

Imam Ghazali dalam berbagai kitabnya, mengumpamakan sosok syahwat seperti anak kecil yang manja. Dia akan terus merengek-rengek untuk dipenuhi kebutuhan dan tuntutannya. Kalau dipenuhi, syahwat akan terus menuntut pemenuhan tuntutan yang lain. Hingga, syahwat menjadi pengendali sikap dan perilaku seorang manusia. Pada saatnya, syahwat menjadi raja yang berhak memaksa untuk dipenuhi tuntutannya.

Sebagai ekses dari tidak terkendalinya syahwat, dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, tidak sedikit manusia, bahkan seorang muslim yang melakukan pelanggaran besar hanya karena persoalan sepele. Di antaranya, seorang anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri lantaran tidak diberikan uang saku. Ada juga seorang suami yang membunuh isterinya karena cemburu. Dan lain-lain.

Dalam kenyataan yang lain, syahwat tidak hanya mampu mengendalikan perilaku orang-orang awam saja, melainkan juga mereka yang tergolong disebut sebagai tokoh umat. Kasus yang mencuat beragam. Di antaranya, mereka yang ditangkap karena kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri, dan seterusnya.

Khazanah sejarah Islam pun mencatat bahwa tumbangnya kekhalifahan Islam pasca Khulafaurrasyidin adalah lebih karena persoalan harta, tahta, dan wanita. Bukan karena kehebatan persenjataan musuh-musuh Islam, tapi karena terlena dalam gemerlap harta dan kemewahan.

Ada pelajaran menarik yang Allah sampaikan tentang persiapan sebuah pasukan yang dipimpin seorang pejuang dari Bani Israil, Thalut. Bagaimana persiapan utama yang harus dilakukan seorang Thalut terhadap pasukannya, Allah menyebutkannya dalam Surah Al-Baqarah ayat 249.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُواْ مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ قَالُواْ لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو اللّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: ""Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."

Ujian utama yang diperintahkan Allah kepada Thalut terhadap pasukannya adalah ujian pengendalian syahwat. Inilah yang akhirnya menentukan suksestidaknya sebuah strategi perjuangan melawan kezhaliman pasukan Jalut yang unggul dalam jumlah dan sarana.

Hasil dari ujian pengendalian syahwat yang dilakukan oleh Thalut adalah deklarasi pasukannya yang mengatakan, “Betapa banyak pasukan yang sedikit, mampu mengalahkan pasukan yang banyak karena izin Allah.”

Orang-orang yang lulus dalam ujian kendali syahwat adalah dominannya kekuatan iman dalam diri mereka. Sehingga mereka yakin bahwa Allah Yang Maha Kuat akan senantiasa bersama dan membela perjuangan mereka. Inilah bahasa keimanan yang mampu meruntuhkan kekuatan apa pun di dunia ini.

Logika yang terbangun dari buah keimanan yang tinggi dan kokoh sangat berbeda dengan logika orang-orang yang sudah terkungkung dalam jeratan syahwat. Logika syahwat selalu menggiring pada sebuah kesimpulan dangkal: kesuksesan perjuangan baik individu maupun umat sangat berbanding lurus dengan jumlah pasukan, dengan modal sarana harta yang memadai, dengan kekuasaan dan popularitas yang memadai. Itulah logika syahwat yang terus mengkerdilkan nilai suci yang tidak lagi menjadi dominan, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Segalanya, bahwa Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar dan istiqomah.

Penguasa mana waktu itu yang pernah menduga kalau pasukan Rasulullah saw. yang sedikit dalam jumlah dan sarana mampu menguasai sepertiga dunia. Para sahabat Rasul mana yang sempat membayangkan kalau mereka, dalam hanya hitungan tahun, mampu menaklukkan sepertiga bumi ini. Subhanallah!

Inilah program tarbiyah Rabbaniyah berupa paket ibadah di bulan Ramadhan yang sarat dengan pendidikan syahwat umat Islam. Respon dan penyikapan Umat Islam sendirilah yang akhirnya menentukan apakah hasil dari program Ramadhan ini hanya sekadar ‘permainan’. Atau, akan menjadi momentum perbaikan diri dan umat demi mencapai kesuksesan perjuangan bersama. mnh

Pernik Ramadhan Terbaru

blog comments powered by Disqus