Jamaah Menurut Al-Qur'an

Mashadi – Rabu, 5 Jumadil Akhir 1431 H / 19 Mei 2010 10:23 WIB

Masalah:

Semangat remaja mengkaji Islam sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memecah belah umat. Dengan memperalat kata “jamaah” banyak remaja yang berani menuduh kafir kepada kedua orang tuanya sendiri karena tidak bergabung dengan kelompok mereka kendatipun kedua orang tuanya rajin shalat dan biasa melakukan ibadah lainnya. Siapa sebenarnya yang hidup berjamaah? Dan siapa sebenarnya orang yang mengaku berjamaah itu?

Pembahasan:

Hidup berjamaa’ah menurut pandangan Islam merupakan syarat utama terpeliharanya aqidah, tegaknya syari’ah dan tersebarnya da’wah Islamiyah.

Islam sebagai aqidah tauhid senantiasa menghadapi banyak tantangan dari berbagai ajaran yang berihak kepada kekufuran dan kemusyrikan. Al Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada berhala dan dari tunduk kepada selain Allah.

Karena itu, tokoh-tokoh musyrikin yang menjadikan manusia sebagai hambanya tidak pernah merasa tenang mendengar tersebarnya ajaran tauhid terutama bila mereka berdekatan dengan kaum Muslimin. Sebab Islam menyadarkan ummat untuk tidak tunduk kepada manusia dan mengajak mereka untuk tunduk hanya kepada Allah. Sayid Quthub mengatakan:

لإسلام إعلان عام لتحرير الإنسان من عبودية العباد للعباد إلى عبودية الواحد الأحد

Islam adalah proklamasi kemerdekaan secara umum ntuk membebaskan manusia dari penyembahan hamba kepada hamba menuju penyembahan kepada Zat Mahasatu dan Maha Esa. Orang-orang yang senantiasa menyebarkan ajaran sesat tidak pernah tentang melihat orang yang membawa ajaran yang haq. Orang-orang yang memusuhi Islam berusaha untuk bersatu merusak aqidah Islamiyah meski ideologi mereka bebeda-berbeda.

Sekiranya umat Islam berjama’ah maka aqidah mereka akan terancam. Orang musyrikin dalam merusak aqidah Islamiyah menggunakan berbagai cara. Banyak sekali cara-cara yang mereka gunakan dan telah mencapai sebagaian sasaran, sementara umat Islam sendiri banyak yang tidak mmenyadarinya. Ketidak sadaran tersebut terjadi akibat tidak ada yang mengingatkan, sebab dia hidup menyendiri, atau tidak beramal jama’i.

Apa yang mesti dilakukan untuk memelihara aqidah ini? Tiada aturan untuk dijadikan pegangan yang lebih tepat dari pada aturan yang ada dalam al Qur’an. Untuk itu mari kita hayati firman Allah dari surat yang sangat pendek namun mengandung aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia, yaitu surat al ‘Ashr.

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ
ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia sungguh (tenggelam)) dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan (mereka semua) beramal shaleh, dan (mereka semua) saling menasihati dengan haq dan (mereka semua) saling menasihati dengan shabar.

Surat yang pendek ini mengandung banyak petunjuk yang mesti kita jadikan pegangan, diantaranya:

1. والعصر (demi masa) Mengingatkan tentang harga waktu. Sungguh banyak menusia yang terjebak dengan waktu, sehingga mereka lalai mereka tidak memanfaatkannya dengan hal yang bernilai ibadah, padahal mereka menyadari bahwa waktu yang telah dilalui itu tidak akan terulang lagi, dan kesempatan hidup semakin berkurang. Bagi orang yang menyadari akan harga waktu, tentu tiada satu kesempatan kecuali akan diisi dengan hal yang bermanfaat bagi kehidupan masa depan yang abadi.

2. إن الإنسان لفي خسر (sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian). Waktu adalah amanat, dan sedikit sekali manusia yang menyadarinya, karena itu kebanyakan manusia terancam dengan kerugian. Orang-orang yang kiehidupannya dipenuh dengan berbagai kesibukan namun tidak sempat dinikmanti hasilnya keculai hanya dengan angan-angan, mereka adalah termasuk oarng yang menderita letih dan penat menjadi pelayan bagi hawa nafsunya. Dan orang yang pemalas dan pengangguran adalah orang khiyanat kepada waktu dan mereka menderita dengan penganggurannya. Kedua golongan ini adalah orang yang merugi didunia dan terancam siksa di akhirat.

3. إلا الذين آمنوا (kecuali orang-orang yang beriman). Yang dimaksud dengan memanfaatkan waktu bukan berarti harus banyak bekerja untuk meraih keuntungan materi, sebab tanpa diingatkan oleh al Qur’an banyak sekali manusia yang sibuk kehidupannya dengan berbagai aktivitas untuk meraih keuntungan tersebut. Bahkan lebih dari sekedar meraih keuntungan materi, mereka juga sibuk dengan bekerja untuk mengurus orang lain.

Namun demikian, kegiatan mereka tidaklah akan dapat menyelamatkan dirinya apalagi menyelamatkan orang lain kecuali disertai dengan keikhlasan. Ikhlas sering diartikan dengan makna ridla tanpa pamrih, meski harus melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturan Allah. Sungguh pemahaman seperti ini sangat jauh dari hakikat ikhlas yang sebenarnya. Ikhlas tidak akan tercapai tanpa dilandaskan kepada keimanan. Iman, tiada tuhan selain Allah. Iaman, tiada yang dituju selain Allah. Iman, tiada yang diharapkan selain ridha-Nya.

Iman, tiada aturan yang benar secara mutlak selain aturan-Nya. Iman, tiada yang dapat menyelamatkan dirinya selain Allah, dan seterusnya. Ketika seseorang beramal baik, dan dia yakin bahwa Allah memerintahkan semua hamba untuk berbuat baik, namun dia lakukan perbuatan tersebut untuk mendapat nilai dari manusia, baik yang ada hubungannya dengan jabatan ataupun tidak, maka keimanannya tidaklah berfungsi bagi amalnya, karena ternodai dengan adanya harapan kepada selain-Nya, meski secara lahir perbuatannya sangat terpuji. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ
قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ
قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ
فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ
تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ
تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ
وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ
بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ
وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ
فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ
فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا
إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ
لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Dari Abi Hurairah RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: (a) Sesungguhny orang yang pertama divonis pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia dihadirkan kemudian diperlihatkan kepadanya berbagai keni’matan yang diterimanya, dan dia mengakuinya. (Allah) berfiman: apa yang kamu kerjakan dengan keni’matan ini? dia berkata: aku berperang karen Engkau hingga aku mati syahid.

Dia berfirman: kamu berbohong. Sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan sebagai pahlawan, dan terbukti sudah dikatakan. Maka ditariklah dari wajahnya hingga dilemparkan kedalam neraka. (b) orang yang mencari ilmu dan mengajarkannya. Dia membaca al Qur’an. Dia dihadirkan dan diperlihatkan kepadannya berbagai keni’matan yang diterimanya, dan dia pun mengakuinya. Allah berfirman: apa yang kamu kerjakan dalam keni’matan ini? dia berkata: aku mencari ilmu dan mengajarkannya, dan aku juga membaca al Qur’an karena Engkau.

Dia berfirman: kamu berbohong. Sungguh kamu mencari ilmu agar dikatakan sebagai alim dan kamu membaca al Qur’an agar mendapat gelar sebagai qari. Dan kamu telah disebut (alim dan qari). Kemudian turunlah perintah Ilahi, maka wajahnya ditarik hingga dilemparkan kedaalam neraka. (c) dan ada pula orang yang telah mendapat keluasan harta dari Allah, dia mendapat berbagai maca kekayaan. Maka dia dipanggil dan diperlihatkan kepadanya keni’matannya, dia pun mengakuinya.

Allah berfirman: apa yang kamu lakukan dengan kekayaan ini? ia berkata: tiada kesempatan infaq yang Engkau perintahkan kecuali ku infakkan hartaku karena Engkau. Allah berfiman: telah berdusta kamu, sungguh kamu lakukan hal itu karen kamu ingin disebut sebagai dermawan, dan kamu sudah dikatakan sebagai dermawan. Kemudian turun perintah dan ditariklah wajahnya hingga dilemparkan kedalam neraka .

وعملوا الصالحات dan mereka beramal shaleh. Keimanan sangat mudah untuk diungkapkan, namun perlu disadari bahwa ungkapan lisan tidaklah punya arti tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan sehari-hari. Beramal dapat dikatakan shaleh kalau disertai niat yang ikhlash. Sebab kesatuan lahir dengan batin dalam pelaksaan ibadah sangat menentukan hasil. Tidak sedikit orang yang sibuk dengan perbuatan yang baik menurut pandangan manusia namun perbuatan tersebut tidak dilakukan atas dasar perintah Allah, maka mereka tidak mendapat keuntungan selain keuntungan sejenak.

Dan ada juga orang yang qalbunya berisi keyakinan bahwa segala perbuatan mesti dilaksakan karena Allah namun dia sendiri tidak banyak berbuat, maka dia tidak akan mendapat apapun dari yang dia yakini. Kata الصالحات bentuk jamak yang menunjukkan banyaknya amal. Disamping iman dan semangat beramal, keshalehan amal juga sangat memerlukan ilmu. Agar semua amal tidak keluar dari amal shaleh maka sangat diperluakan ilmu yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang agama Islam. Atau yang disebut fiqih.

Fiqih Islaml tidak terbatas kepada fiqih hukum. Akan tetapi sesuai dengan sifat Islam yang sangat luas maka fiqihnya pun sangat luas, meliputi semua aspek kehidupan sehar-hari yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat luas. Karena luasnya ajaran Islam, tidak mungkin dapat difahami hanya dengan membaca buku atau mengkaji literature yang ada meski dari berbagai sumber dengan berbagai bahasa, tanpa melakukan pelatihan dalam praktek kehidupan nyata, akan tetapi harus pergi untuk tafaqquh fiddin.

Amal ‘ibadah dalam Islam meliputi semua aspek kehidupan. Yaitu meliputi kehiduupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Orang yang rajin melaksanakan ibadah ritual, namunn tidak pernah berjuang membina keluarga yang merupakan tempat bertolak untuk membina ummat, maka dia tidak termasuk ahli ‘ibadah. Pembinaan keluarga sangat memerlukan bantuan orang diluar keluarga, apalagi membina masyarakat luas, tidak mungkin dapat berlangsung dengan berkesinambungan dan meliputi berbagai aspek kehidupan bila tidak dilkukakn bersama-sama dengan orang lain.

Fakta telah berbicara, bahwa seseorang yang sibuk membina umat dan lupa terhadap keluarganya, maka hasil perjalanannya ternodai oleh kelakuan keluarganya sendiri. Dan untuk membina keluarga sangat diperlukan kedalaman ilmu kelauasan waktu. Apabila pembinaan keluarga hanya berlandaskan kepada pengetahuan sendiri yang sangat terbatas ini, maka tidak dapat diharpakan akan mencapai sasaran. Karena bagaimanapun luasnya wawasan seseorang masih sangat jauh untuk memenhui tuntutan yang dihadapinya dari keluarga apalagi bila dibandingkan dengan tuntutan mansyarakat luas.

6 . وتواصوا بالحق dan mereka saling memberi nasihat dengan haq. Orang yang beriman selalu menyadari akan kelemahan dirinya. Sehingga dia selalu merasa perlu bantuan orang lain. Keparluan tersebut tidak terbatas kepada urusan yang terlihat, akan tetapi juga meliputi hal-hal lain yang tidak terlihat. Bahkan boleh jadi, dalam mengatur urusan yang tidak terlihat sangat diperlukan bantuan orang lian, melebihi dari pada urusan yang terlihat.

Sebab banyak sekali kekurangan diri kita yang tidak kita ketahui, justru orang lainlah yang dapat mengetahuinya. Sehingga tanpa bantuan orang lain kita terkadang merasa tenang meski menghadapi bahaya. Artinya kita sangat memerlukan orang lain untuk mengetahui kesalahan kita dihadappan Allah. Tanpa adanya kesadaran akan pentingnya nasihat orang lain, boleh jadi seseorang akan menolak untuk dinasihati. Hal ini terjadi karena tidak terbiasa saling menasihati antara satu dengan lainnya.

Dan saling menasihati tidak akan berlangsung tanpa hidup berjama’ah. Nasihat tidak akan mencapai sasaran berupa keselamatan dari ancaman rugi tanpa diasarkan kepada haq. Menurut ulama tafsir, seperti yang dikutip Aththabari , yang dimaksud dengan haq disini adalah al Qur’an:

وتواصوا بالحق يقول وأوصى بعضهم بعضا بلزوم العمل بما أنزل الله في
كتابه من أمره واجتناب ما نهى عنه فيه وعن قتادة وتواصوا بالحق والحق
كتاب الله وعن الحسن وتواصوا بالحق قال الحق كتاب الله

Saling menasihati dengan haq artinaya masing-masing memberi nasihat kepada yang sesamanya dengan menegaskan kewajiban beramal berdasar apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya, dan menjauhi apa yang dilarrang-Nya. Qotadah dan al Hasan berkata: al haq adalah kitabullah.

Al Qur’an sebagai wahyu Allah tidak akan dapat dipahami tanpa bantuan para ahli. Dan keahlian seseorang dalam berbagai disiiplin ilmu betapapun luas dan mendalamnya menurut pandangan manusia adalah sangat sempit dan dangkal bila dibandingkan dengan ilmu yang diperlukan untuk memahami kitabullah. Karena itu agar keahlian masing-masing dapat dipadukan maka sangat diperlukan kerja sama dalam memahami dan mengamalkan kitabullah.

Dan hal ini tidak akan terlaksana kecuali dalam hidup berjama’ah. Jadi, hidup berjamaah tidak akan berarti tanpa AlQuran dan AlQuran tidak akan dapat dipahami dengan luas dan mendalam dan diamalkan semua petunjuknya tanpa hidup berjamaah.

7. وتواصوا بالصبر saling menasihati dengan kesabaran. Sungguh banyak orang yang memiliki semangat beramal yang disertai dengan ilmu dan keyakinan namun gagal tidak mencapi tujuan akibat terputus ditengah jalan. Kegagalan tersebut sering terjadi akibat tidak mampu bertahan mengahadapi tantangan, baik tantangan internal ataupun eksternal.

Dan tantangan dari dalam lebih sering membuat orang gagal dalam perjuangan, baik tantangan yang manis ataupun yang pahit. Tawashau bishshabr merupakan langkah yang paling tepat yang mesti ditempuh untuk terpeliharanya amal dan kesinambungannya kerja.

Perintah shabar sering ditujukan kepada orang yang sedang menderita sakit atau terkena mushibah yang tidak diharapkan terjadi, dan hal itu sangat penting, namun lebih penting lagi shabar tersebut bagi orang sehat atau sedang sibuk dengan berbgai aktifitas, agar dia dapat memanfaatkan kesehatannya sesuai fungsinya dan tidak menyipang dalam bergerak akibat terjebak oleh dorongan hawa nafsu dan rayuan setan.

Artinya, shabar sangat diperlukan dalam segala kondisi dan setiap saat, dan penitngnya sahabar ini sering terlupakan kcuali sewaktu menderita sakit atau sejenisnya yang merupakan kejadian yang pahit dan tidak diinginkan. Sehubungan dengan ayat diatas Ibnu Katsir mengatakan: Mereka saling memberi nasihat dengan shabar atas berbagai mushibah dan ketetapan Ilahi serta tabah dalam menghadapi tantangan yang datang dari orang-orang yang diperintah berbuat baik dan dilarang berbuat jahat.

Dari beberapa kalimat diatas, dapat dipahami, bahwa semua manusia akan menderita kerugian kecuali yang penuh perhatian kepada harga waktu, menyadari akan sangat terbatasnya kesempatan dan penuh perhatian kepada usia hidup yang tidak lam lagi akan berakhir. Kendatipun mereka selalu mengisi kehidupan dengan berbagai kegiatan yang dipandang bermanfaat, mereka tetap akan terancam dengan menderita kerugian bila tidak diisi qalbunya dengan keimanan.

Keimanan tidak dapat diakui tanpa disertai dengan amal. Sebanyak apapun amal seseoranng tidak akan dapat menyelamatkan hidupnya bila amal tersebut tidak berbentuk amal shaleh. Amal shaleh yang dilakukannya tidak terbatas kepada ‘ibadah ritual akan tetapi meliputi semua amal. Kendatipun seseorang mencurahkan segala usahanya agar semua amalnya tidak keluar dari amal shaleh, dia tetap mesti sadar bahwa kemampuan untuk menilai dirinya sangat terbatas.

Boleh jadi, menurut pandangan kita, kita sedang berada dalam jalur yang telah ditetapkan Allah, karena sedang beramal kebaikan. Padahal menurut pandangan orang lain, disamping kita sedang melaksanakan suatu amal yang baik namun, tanpa disadari, kitapun sedang melanggar beberapa aturan-Nya. Atau kita sedang berusaha menghindar dari bahaya, tanpa disadari kita sedang mendekati bahaya lain. Hal ini akan sering terjadi bila kita hidup sendirian, sehingga tidak ada yang mengingatkan, dimana sebenarnya kita berada.

Maka saling menasihati dalam haq selalu diperlukan setiap saat oleh semua insan. Perjalanan seorang muslim senantiasa mengahadapi tantangan dari berbagai pihak dengan menggunakan berbagai cara. Bila hal ini kurang diwaspadai, dia akan terperosok kejurang kehancuran tanpa dia sadari.

Bahkan boleh jadi dia menganggap dirinya sedang beruntung padahal sedang berada dalam ujung tombak atau dalam pintu kehancuran yang abadi. Sekiranya tidak segera diingatkan saudaranya dia tidak akan dapat selamat dari ancaman itu. Dan nasihat akan sulit disampaikan kecuali kepada orang yang sudah terbiasa saling menasihati atara satu dengan lainya. Wallahu’alam,

Pemikiran Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus