Fase Sperma dan Ovum

Muhammad Nuh – Rabu, 25 Zulhijjah 1429 H / 24 Desember 2008 14:12 WIB

Manajemen Informasi:

3. FASE SPERMA & OVUM

Mari kita fokuskan pemikiran kita pada penciptaan manusia selain Adam, Hawa dan Isa. Dengan kata lain, pada Fase Sperma dan Ovum ini, kita akan memfokuskan pikiran dan renungan kita pada diri kita masing-masing. Sungguh banyak pertanyaan yang akan menggelayuti pikiran kita tentang penciptaan diri kita. Di antaranya : Siapa yang menciptakan sperma yang merupakan saripati tanah dan air itu? Kenapa sperma? Kenapa harus melalui pembuahan? Kenapa dari 300 juta sperma hanya satu sperma yang diberi kesempatan untuk membuahi ovum? Kenapa sperma dan ovum hanya bisa hidup dan berkembang sampai sempurna hanya dalam rahim ibu kita? Kenapa tidak bisa berkembang dalam tabung atau tempat tertentu dengan pengaturan suhu tertentu, kemudian dibiarkan selama sembilan bulan seperti yang terjadi dalam perut ibu? Apa yang akan terjadi?

Mari kita ajukan beberapa pertanyaan lebih kritis lagi. Di antaranya: Kenapa ilmu pengetahuan moderen sampai hari ini belum mampu mengadakan eksperimen tentang pembuatan sperma manusia? Caranya, kumpulkan semua makanan dan minuman yang mengandung zat kimia yang sama dengan yang dikonsumsi ayah dan ibu kita, atau seperti yang terkandung dalam sperma dan ovum. Kemudian digiling, diaduk, diberi bahan tertentu dan dimasukkan ke dalam tabung atau pipa tertentu. Setelah itu, biarkan adonan bahan makanan dan minuman itu selama beberapa waktu, satu bulankah, dua bulankah atau sembilan bulan dan seterusnya. Pertanyaannya adalah: Apakah sperma dan ovum akan tercipta seperti yang terbentuk dari dalam diri ayah dan ibu kita? Jika terbentuk, apakah antara sperma dan ovum akan terbentuk dengan sendiri secara terpisah, padahal dari bahan baku yang sama?

Kita akan kembali menyerah dan tidak berdaya jika pertanyaan-pertanyaan tersebut kita jawab dengan mengandalkan pikiran dan ilmu kita yang amat terbatas ini. Namun, bila kita cari jawabannya melalu informasi yang tertuang dalam Guide Book yang diturunkan Tuhan Pencipta dan lisan Rasul terakhir-Nya, Muhammad Saw. pasti kita menemukan jawabannya dengan mudah dan ilmiah. Semuanya menunjukkan betapa Maha Dahsyatnya Kekuasaan dan betapa Luasnya Ilmu Allah; Tuhan Pencipta. Mari kita renungkan beberapa firman Allah berikut ini :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan (asal) manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (12) Kemudian Kami jadikan ia (dari tanah itu) satu sperma (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh. (13) (Q.S. Al-Mu’minun (23) :12 – 13)

فَلْيَنْظُرِ الإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? (5) Dia diciptakan dari air yang terpancar. (6) yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (7) (Q.S. At-Thoriq (86) : 5 – 7)

ألمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (Q.S. Al-Murshalat (77) : 20)

ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (6) الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ (7) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (8)
Yang demikian itu ialah Tuhan Yang Maha Mmengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, (6) Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah (7) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (sperma) (8). (Q.S. As-Sajdah (32) : 6 – 8)

II. PERIODE KEHIDUPAN PERTAMA

۞ كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (28) (سورة البقرة )
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu sebelumnya mati (tidak ada), lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, dan kemudian Dia menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.
(Q.S. Al-Baqarah (2) : 28)

Sungguh Perjalanan Wisata Manusia semakin menarik untuk ditelusuri dan direnungkan. Kita telah menelurusi Periode Kematian Pertama yang terdiri dari tiga fase yang mengagumkan, yakni Fase Zero, Fase Raw Material dan Fase Sperma. Sekarang kita sudah berada pada Periode Kehidupan Pertama dari Perjalanan Wisata Abadi kita. Dalam periode ini, kita akan melewati tiga fase yang lebih seru lagi dari fase-fase sebelumnya :

1. FASE PEMBUAHAN,
2. FASE DALAM RAHIM, dan
3. FASE SETELAH LAHIR KE DUNIA.

Fase-fase tersebut merupakan inti dari Perjalanan Wisata Abadi Manusia, khususnya FASE SETELAH LAHIR. Pada fase itulah kita diberi kesempatan untuk memilih jalan hidup yang baik atau jalan hidup yang buruk. Hasil dari pilihan tersebut pula yang akan menentukan kesuksesan atau kegagalan kita dalam meneruskan tiga periode wisata berikutnya, yakni Perriode Kematian Kedua, Periode Kehidupan Kedua dan Periode Kembali Kepada Allah.

1. FASE PEMBUAHAN
Pembuahan ialah, pertemuan satu dari 300 juta sperma dari sang ayah dengan ovum (telur) dari sang ibu di Tuba Fallopi. Pada fase inilah ditentukan jenis kelamin seseorang, yakni, jika sperma yang membuahi ovum adalah jenis “X”, maka janinnya akan menjadi laki-laki, dan jika sperma yang berhasil membuahi ovum dengan kode “Y”, maka janin akan menjadi wanita.

Sungguh sangat luar biasa sistem penciptaan manusia yang dirumuskan Tuhan Pencipta. Betapa tidak? Proses seleksi yang sangat ketat telah diterapkan sejak fase pertama dari kehidupan manusia, yakni Fase Raw Material (Saripati Tanah dan Air). Kemudian diteruskan seleksian yang amat ketat lagi pada Fase Pembuahan. Coba Anda bayangkan! Dari 300 juta sel sperma, hanya terdapat sekitar 1.000 sel sperma yang berhasil mencapai sel telur (ovum). Dari 1.000 sel sperma tersebut satu sel saja yang memenangkan pertandingan ini dan berhasil membuahi sel telur (ovum). . Sperma yang berhasil lolos membuahi ovumlah yang berhak untuk meneruskan Wisata Abadi berikutnya. Sungguh sangat luar biasa. Subhanallah (Maha Suci Allah)…

Pertanyaan-pertanyaan kritis yang selalu menggoda pikiran kita terkait dengan Fase Pembuahan ini di antaranya ialah : Mengapa wisata kehidupan manusia harus melalui pembuahan? Kenapa masa pembuahan diberi waktu hanya 24 jam? Kenapa pembuahan itu menghasilkan makhluk yang bersel satu? Kenapa desain sperma begitu rumit dan canggih sekali? Mengapa pembuahan itu terjadi antara sperma dan ovum? Mengapa manusia tidak diciptakan dari sperma saja atau ovum saja secara tunggal? Mengapa dari 300 juta sperma hanya satu sperma yang mendapat kesempatan menerobos ke dalam ovum saat proses terjadinya pembuahan? Kenapa setelah terjadi pembuahan, sperma dan ovum itu berubah menjadi makhluk bersel satu? Kemudian zigot dan embrio? Mengapa jenis kelamin manusia ditentukan dari sperma ayah dan bukan dari ovum ibu? Mengapa masa subur wanita sekali dalam satu bulan? Kenapa umur ovum yang diproduksi dalam ovarium ibu hanya 24 jam saja? Jika tidak dibuahi sperma yang datang dari ayah kita, ovum akan mati dengan sendirinya. Kenapa sistem penciptaan manusia ini memerlukan waktu dan tahapan? Bukankah Allah Maha Kuasa dan mampu menciptakan manusia melalui kata Kun, Fayakuun… (Jadilah, Maka jadilah ia).
Masih banyak lagi pertanyaan yang menggelayuti pikiran kita. Itulah sistem dan mekanisme penciptaan manusia yang telah ditetapkan Tuhan Pencipta kita. Mari kita baca, renungkan dan hayati firman Allah berikiut ini :

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لا يَعْلَمُونَ (36)
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Q.S. Yasin (36) : 36)

إِنَّا خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ ….(2)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari satu sel sperma yang bercampur (dengan ovum) ….(Q.S. Al-Insan (76) : 2)

أَوَلَمْ يَرَ الإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ (77)
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari satu sperma (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata, (Q.S. Yasin (36) : 77)

أَيَحْسَبُ الإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36) أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37)
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? (36) Bukankah dia dahulu satu sperma yang ditumpahkan (ke dalam rahim)? (37) (Q.S. Al-Qiyamah (75) : 36-37)

قُتِلَ الإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (17) مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19)
Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? (17) Dari apakah Allah menciptakannya? (18) Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya (fase-fase penciptaan dan termasuk rezeki dan ajalnya) (19). (Q.S. Abasa (80) : 17 -19)

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (20) فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (21) إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (22) فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (23)
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (20) Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), (21) sampai waktu yang ditentukan (22) lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan (23)
(Q.S. Al-Murshalat (77) : 20 – 23)

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (45)
Dan Allah telah menciptakan semua jenis makhluk yang berada di bumi (termasuk hewan dan manusia) dari air (sperma), maka sebagian dari mereka itu ada yang berjalan di atas perutnya (seperti ular) dan sebagian berjalan dengan dua kaki,(seperti burung dan manusia) sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki(seperti kambing dan sapi). Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. An-Nur (24) : 45)

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ (58) أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ (59)
Maka terangkanlah kepadaku tentang Sperma yang kamu pancarkan (58) Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? (59)
(Q.S. Al-Waqi’ah (56) :58 – 59)

Life Management Terbaru

blog comments powered by Disqus