Cara Mengajarkan Sex Edu Kepada Balita

Wini – Senin, 6 Rabiul Akhir 1431 H / 22 Maret 2010 07:07 WIB

Assalamu alaikum Wr. Wb. Mam Fifi,

Begini, saya memiliki 2 orang putri yang masih berusia 4 tahun dan 2,5 tahun. Alhamdulillah mereka termasuk anak-anak yang kritis dan perhatian terhadap segala sesuatu disekeliling mereka. Dan akhir-akhir ini saya agak kewalahan menjawab pertanyaan2 mereka tentang masalah sex. Jujur saja, pengetahuan saya dibidang ini agak kurang, belum lagi saya takut jika pola cara penyampaian saya salah sehingga terdengar vulgar maupun menimbulkan persepsi yang lain bagi anak-anak saya.

Salah satu contoh dari pertanyaan yang mereka ajukan adalah saat mereka bertanya tentang – bra/bh, mereka bertanya apa fungsinya dan mengapa mereka tidak dipakaikan juga, lalu ada juga pertanyaan mengenai nama dan bentuk alat kelamin laki-laki yang pernah mereka lihat dari "milik" temannya yang sedang buang air kecil sembarangan. Lalu tentang asal mula kehamilan dan proses selama hamil, mengapa laki-laki boleh bertelanjang dada sementara mereka tidak boleh, perbedaan bentuk kelamin wanita dewasa, sampai dengan menstruasi dan pembalut (anak-anak saya menyebutnya pempers untuk orang dewasa) dsb..dan jika dibuat list nya masih banyak lagi, mam..akhirnya tinggalan saya yang sekarang masih bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada mereka. Mungkin anak jaman sekarang beda dengan jaman saya dulu, ya mam..karena rasanya waktu saya kecil, saya tidak pernah sedetail itu memperhatikan hal-hal yang saya sebutkan tadi. Atas arahan dan pencerahannya saya ucapkan terima kasih.

Wass. Wr. Wb

Bunda Nanda

Jawaban :

Assalammu’alaikum Wr. Wb.,

Bunda Nanda yang diridhoi ALLOH, iya bu, anak ibu lucu-lucu dan kritis. Cuma kritisnya itu hanya soal sex education atau yang lainjuga misalnya, pertanyaan-pertanyaan : kenapa lampu harus dimatikan kalau siang,atau kenapa kadang-kadang ada pelangi kadang tidak atau,kenapa buat teh harus pakai air panas, kenapa begini kenapa begitu,maka bila ya, maka ibu jawab saja semuanya dan anak ibu memang kritis betulan dan harus diasah.

Tapi, bila ternyata hanya masalah sex education yang dia tanya, ibu harus bertanya kembali, soal ini tahu darimana, soal bh/bra tahu darimana lihat dimana. Selain itu bila yang ditanya soal itu saja setiap hari, ibu harus menutup akses perlahan-lahan agar tidak terlalu berlebihan, misalnya tayangan TV yang tidak pas buat anak kita apalagi masih balita, dan juga pergaulan dengan anak tetangga. Sibukkan anak-anak kita dengan cerita-cerita, games dan juga sekolah fullday school, kalau buat ibu sekolah fullday school dan ikut les-les memakan biaya banyak, maka ibunya yang harus aktif mengajarkan mereka dan membuat sibuk mereka. Berikan lego dan buku cerita yang banyak, alihkan mereka pada activity yang bermanfaat dan sesuai dengan umur mereka.

Hal lain mengenai pertanyaan anak-anak, harus dijawab dengan utuh dengan metode bercerita, misalnya : mengenai bh, karena kalian belum berusia 12 tahun, belum akil baligh dan belum ada perkembangan pada dada kalian, jadi tidak usah pakai bh, dan agak repot kalau anak-anak pakai beha juga, nah sebagai gantinya pakai kaus dalam saja ya. Cari kaus dalam yang tanpa lengan untuk dalaman baju anak-anak.

Soal pampers juga begitu, katakan bahwa sebulan sekali, ketika sudah usia 12 tahun anak perempuan dalam perutnya diberikan sel telur untuk punya anak, namun bila belum ada suaminya maka, sel telur akan terbuang dan jadi darah, karena itu harus pakai pampers biar darahnya gak jatuh jatuh, dan kalian tidak boleh dekat dengan lelaki karena baru boleh punya suami ketika usia 21 tahun ke atas, kalau tidak maka kalian akan hamil dari sel telur itu. Seperti anak ayam, mau punya anak bayi? Kalau mereka tanya kenapa harus usia 21 tahun baru boleh bersuami, katakan, ini peraturan dari bunda, selesai. Setiap rumah punya peraturan, kalau peraturan dari bunda harus usia 21 tahun kalian boleh didekati lelaki, itupun harus lelaki yang dikenal baik oleh bunda dan ayah. Kalau tidak ,maka tidak boleh. Karena lelaki atau suami itu yang akan gantikan bunda dan ayah, dan harus baik, kalau tidak nanti kalian tidak ada yang urus. Jadi bunda dan ayah harus tahu siapa lelaki yang dekati kalian, kalau dari sekarang ada yang dekati katakan kalian tidak mau ya, dan segera lapor bunda. oke, buat perjanjian dan tandatangan, pasti seru.

Konsultasi Pendidikan & Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus