Hamparan Hakikat Cinta

Zahrul Bawady M. Daud – Rabu, 14 Jumadil Awwal 1431 H / 28 April 2010 13:09 WIB

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. 3:14)

Para pujangga sepakat, cinta ada di hati. Kedahsyatan cinta melahirkan jutaan inspirasi. Ia tak nampak kasat mata, namun indikasinya sangat mempengaruhi pikiran, plus mengendalikan tindakan.

Dulu, saat masa SMA, saya punya teman yang sedang dilanda kasmaran. Hari-harinya cerah-ceria, kehidupannya penuh tawa. Apa yang dia lakukan terasa ringan, apalagi jika berkaitan dengan si "dia." Pernah, ketika orang yang dicintainya sedang ulang tahun, ia harus meminjam uang kepada temannya. Padahal hal tersebut hampir tidak pernah dilakukannya sama sekali, pun dia hidup dalam keluarga berada.

Darimana datangnya keberanian meminjam uang itu? Cinta. Benar, padahal untuk sekelas dia, meminjam uang adalah hal yang dapat kita katakan tabu. tapi semuanya sirna ketika berhadapan dengan lima huruf saja. Cinta. Meminjam kata sang sufi "CINTA", Jalaluddin Rumi namanya, "Cinta mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan kematian menjadi kehidupan, cinta pula yang membuat budak menjadi seorang pemimpin. Inilah kekuatan cinta."

Gagal atau sukses dalam cinta, telah melahirkan banyak sebab dan akibat. Simak saja HAMKA yang menulis Di Bawah Lindungan Ka’bah, karya monumental yang Menceritakan perasaan cinta mendalam dari batin orang sekaliber HAMKA. Simak pula bagaimana kisah Laila Majnun yang bermula dari cinta. Bukan mustahil, Kang Abik yang sedang kesohor itu pun pernah dilanda "penyakit cinta." Tapi jangan lupa, cinta juga pernah membuat malapetaka. Bahkan pembunuhan pertama di bumi ini pun berawal karena ulah cinta. Kisah Napoleon si singa Eropa pun tak luput dari konflik cinta. Ah, nyatanya, sejarah banyak mencatat ragam kisah cinta. Itu berarti, cinta menjadi bagian penting kehidupan manusia.

Saya tertarik dengan fenomena beberapa sahabat. Mereka rajin menjaga ‘iffah, sering ikut pengajian, gemar berbuat kebaikan. Tak ketinggalan, prestasi akademisnya pun terbilang menonjol. Tapi, jangan pikir dia tidak pernah diterpa cinta. Katanya suatu kali, "cintaku itu karena Allah. Toh, selama ini aku tidak pernah jalan bareng, apalagi berboncengan mesra, layaknya muda-mudi zaman edan sekarang ini.

Tapi apa yang dialami ketika orang yang dicinta ditimpa suatu musibah, ia akan ikut resah, tak sekedar resah atas nama sifat kemanusian. Ketika ada noktah hitam di tengah hubungan langgeng, maka mereka akan saling bersitegang, tidak bertegur sapa atau mencurahkan tangisan nestapa di bawah bendera cinta. Cinta yang mereka justifikasi (akui) atas nama Allah.Allah memberi manusia satu hati, tempat ia menautkan cintanya. Jika hati telah terpenuhi oleh satu cinta, maka tak ada kekosongan untuk diisi oleh cinta yang lain. Demikian juga manusia yang mengaku cinta kepada Allah, tidak mungkin bisa menempatkan cintanya kepada manusia dalam satu hati, terkecuali di bawah ikatan suci sebuah pernikahan, ketika cinta sudah dipandang sebagai sebuah ibadah.

Orang mengaku cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, tetapi bagaimana mungkin di saat bersamaan, mereka melakukan hal yang Allah larang. Apalah artinya cinta tanpa sebuah pengorbanan, walaupun harus meninggalkan hasrat cinta terhadap lawan jenis.

Pun kemudian, tak jarang orang yang telah dianugerahi sebuah ikatan suci sebuah cinta, kemudian lalai memanfaatkan cintanya di jalan Allah. Hatinya terpaut dari jalan kebenaran. Cinta kepada Allah menjadi perkara remeh, bukan tujuan daripada cintanya kepada manusia. Padahal mereka rela mendaki gunung yang tinggi di puncak musim dingin untuk menggapai cinta pada manusia, tetapi untuk membuktikan cinta kepada Allah, hitungan menit saja terasa berat.

Di saat Allah menguji sebuah cinta, memisahkan manusia dari orang yang dicintainya, sering manusia berteriak sombong, hendak melawan sebuah takdir. Tak jarang mereka jatuh sakit, kalut dan tak memiliki gairah hidup. Gugurlah cinta kepada Allah, yang ada keheningan atas hilangnya cinta kepada manusia. Itu semua ada dalam defenisi cinta palsu, cinta semu dari seorang makhluk terhadap Pencipta. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara dan enggan menolong orang yang papa. Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oledunia yang fana ini.

Cintailah "CINTA". Cinta dalam defenisi seorang Jalaluddin Rumi. Layaknya cinta Rabi’ah al-Adawiyah sang konseptor mahabbah. Cinta yang tak mengharap imbalan, cinta yang hanya butuh balasan keridhaan. Cinta yang tak mencari syurga, tetapi hanya butuh kasih sayang, walaupun harus di neraka. Tetap puas asal itu kehendak Allah, satu-satunya yang dicinta.

Hakikat cinta yang membuat budak bisa menjadi pemimpin. Bagaimana nasib seorang budak hitam yang memperoleh kedudukan mulia, hanya bermodal cintanya kepada Allah. Tak peduli tubuhnya harus dihimpit di atas batu, di tengah teriknya matahari yang menyengat, di atas sahara yang memamerkan keangkuhannya. Tetapi nilai cinta membuat siksaan itu menjadi ringan. Rintangan berubah menjadi jalan menuju sebuah cinta yang hakiki.

Cinta pada manusia yang melebihi cinta kepada Allah, merupakan salah satu penyebab doa tak terjawab dan awal sebuah malapetaka. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika mentari muncul, ia melakukan maksiat. Bagaimana mungkin doa seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga. Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah, pendidikan anak terabaikan dan kasih sayang tak tercurahkan.

Mustahil keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan pribadi belum bisa menjadi contoh teladan. Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku, kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman. Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah kepada ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Tetapi malah kita murka, murka yang membuat Allah menampik usaha dan cinta kita.

Cinta pada Allah tak akan membuat hati menjadi buta. Tetapi ia tak bisa disandingkan dengan cinta pada makhluk. Justeru keseluruhan cinta bermuara dari cinta pada Allah. Jika kecintaan pada Allah sudah mendominasi seluruh hati dan elemennya, maka pikiran dan anggota badanlah yang akan melakukan pengorbanan untuk membuktikan rasa cinta itu. Cinta yang berkobar untuk mewujudkan sebuah mimpi, dapat melihat Wajah-Nya kelak di akhirat. Sebuah ganjaran tiada tara, ganjaran yang membuat para salaf tak pernah berhenti menangis di malam hari. Akankah kita menikmatinya? Semoga…

Jika di sana, ada Dzat yang lebih pantas untuk dicinta. Buat apa kita membakarnya dalam nafsu angkara murka. Jika di sana ada pemilik cinta, buat apa kita menjajakannya kepada yang binasa. Renungilah.

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus