Rezeki Allah Teramat Luas

Muhammad Rizqon – Rabu, 6 Rajab 1432 H / 8 Juni 2011 07:14 WIB

Bara adalah julukan perusahaan lokal yang bergerak di bidang penambangan batubara. Bara dibeli oleh perusahaan PMA (penanaman modal asing) yang secara hukum tidak diperkenankan memiliki izin kuasa penambangan. Akte pendirian si Bara diperbaharui ketika diakuisisi. Jabatan komisaris dan direksi diberikan kepada mereka yang tidak memiliki otoritas apa-apa. Mereka sekedar nama yang disematkan. Mereka adalah pekerja lokal perusahaan PMA itu, baik level manajer, staff atau bahkan office boy. Kini dengan tangan si Bara, perusahaan PMA itu memenuhi syarat yuridis memiliki izin kuasa penambangan batubara.

Perusahaan induk si Bara memiliki modal yang sangat besar. Jika modalnya tidak cukup, ia masih memiliki investor yang dengan senang hati bermitra dengannya. Dengan modal/dana besar yang dimilikinya itu, maka eksekusi penambangan bisa dilakukan dengan mudah.

Setelah sekian tahun berada pada tahap pengembangan, kini si Bara sudah memulai tahap produksi. Setiap hari bisa mengambil batubara sekitar 100.000 ton. Dengan asumsi harga per ton adalah US 127,5, maka produksi hariannya berkisar Rp 114,75 milyar (Asumsi 1 USD=Rp 9.000). Masa konsesi yang masih dimiliki si Bara adalah 16 Tahun. Jadi sampai dengan akhir masa konsesi diperkirakan si Bara bisa mengambil batubara senilai Rp 660,96 trilyun (Rp 41,3 trilyun per tahun).

Berdasarkan hasil kajian saat ini, diperkirakan potensi batubara masih bisa dieksploitasi selama 100 tahun ke depan. Jika ditemukan cadangan baru, bisa jadi masa eksploitasi akan lebih panjang lagi. Artinya potensi batubara masih tersimpan demikian besarnya. Wajarlah jika banyak perusahaan yang berduyun-duyun terjun di bidang penambangan batubara, hingga mencapai jumlah ribuan.

Berapakah kira-kira batubara yang bisa dikeruk dari bumi pertiwi? Jika ada 100 perusahaan saja dengan kemampuan produksi harian rata-rata 100.000 ton , maka setiap hari tergali 10.000.000 ton senilai Rp 11,47 trilyun. Setahun senilai Rp 4.131 trilyun.

Gambaran maraknya penambangan batubara bisa kita bayangkan dari penuturan masyarakat setempat yang menggambarkan bagaimana sibuknya lalu lintas tongkang-tongkang batubara yang berkonvoy menyusuri sungai setiap hari dari subuh hingga senja di wilayah konsesi. Setiap tongkang, diperkirakan mengangkut 6.000-8.000 ton. Dalam waktu 30 menit, sekitar 10 tongkang lewat menyusuri perairan. Artinya satu jam bisa terangkut 12.000-16.000, satu hari (asumsi 12 jam) terangkut 144.000-192.000 ton. Ini baru dari satu titik pengamatan dan satu trayek tongkang. Trayek lain belum teramati karena wilayah konsesi penambangan sangatlah luas. Kemana larinya batubara itu? Sebagian besar batubara ini diekspor keluar Indonesia.

Ada pesan dibalik fenomena tersebut. Pesan pertama bernada ironi. Satu sisi menunjukkan bahwa kekayaan Allah SWT itu begitu amat luas dilimpahkan untuk umat di bumi pertiwi ini. Betapa tidak. Itu baru kekayaan batubara, belum sumber daya alam lainnya seperti minyak, gas, timah, emas, hasil laut, hasil perkebunan, hasil hutan, dll. Pada sisi lain fenomena itu menunjukkan bahwa komunitas yang hidup di wilayah penambangan khususnya dan rakyat indonesia pada umumnya, tidak sepenuhnya menikmati kekayaan alam yang melimpah ruah tersebut.

Pesan kedua bernada inspiratif dan motivatif. Allah SWT membuktikan rezeki-Nya yang teramat luas dan tidak terbatas. Allah SWT menguji manusia apakah dia mau menjemputnya dengan jalan hak ataukah batil. Apakah mengutamakan kemaslahatan orang banyak atau segelintir orang saja. Biasanya jalan batil ditempuh manusia karena merasa bahwa itulah kesempatan emas yang harus digunakan. Jika tidak, maka dia tidak akan mendapatkannya di kemudiaan hari. Padahal rezeki Allah itu luas meliputi saat ini dan esok. Jadi tidak alasan untuk tidak mendapatkan rezeki di kemudian hari.

Kekayaan Allah SWT akan rezeki hendaknya memacu kita untuk semangat bekerja. Yakinlah bahwa dengan semangat bekerja maka Allah SWT akan menurunkan rezeki-Nya. Ironisnya, mungkin kebanyakan kita adalah malas dalam bekerja. Jika giat dalam bekerja pun sayangnya untuk sebuah konspirasi dan kejahatan. Maka kondisi yang awalnya ironi, melahirkan ironi dan ironi.

Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada kita untuk giat bekerja yang disertai dengan visi ibadahn memakmurkan dan mensejahterakan bumi kita.

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS 9:105)

Waallahua’lam.

muhammadrizqon.multiply.com

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus