Sebuah Kultum Tentang Puasa

Mira Kania Dewi – Jumat, 19 Agustus 2011 08:08 WIB

Selama bulan Ramadhan, suami punya kebiasaan baru di kantor. Setiap siang yang biasanya sholat dzuhur di mushola kantor, kini suami sempatkan untuk berjalan kaki ke mesjid terdekat. Tak hanya mengejar sholat berjamaah, jam istirahat yg cukup panjang suami sempatkan untuk mendengarkan kultum (kuliah tujuh menit) di mesjid tersebut.

Suatu kali sepulang kantor, suami berbagi cerita kepadaku tentang kultum yang didengarnya tadi siang. Kali ini ia bercerita tentang salah satu manfaat puasa. Kebetulan pembicara/ustadz yang menyampaikan kultum saat itu adalah seorang dokter yang tentunya ahli di bidang kesehatan.

Bicara tentang sehat, pasti semua orang ingin hidup sehat, panjang umur dan barokah. Dikisahkan ada seorang peneliti asal Rusia yang merasa penasaran dan hatinya tergelitik heran dengan kebiasaan puasa yang dilakukan oleh orang-orang Islam. Begitulah kurang lebih kalimat pembuka dari suamiku. Rasa penasaran ini mendorong peneliti Rusia itu untuk melakukan sebuah percobaan. Maka dilakukanlah percobaan terhadap tiga ekor tikus.

Tikus A diberi makan seperti biasa (tidak pernah berpuasa). Tikus B berpuasa seminggu dua kali (Senin dan Kamis). Tikus C satu hari makan biasa, satu hari berpuasa (selang-seling seperti puasa Nabi Daud).

Aku sangat penasaran dengan kelanjutan cerita suamiku. Kutatap suamiku lekat-lekat, kupasang telingaku lebar-lebar tak sabar mendengar kelanjutannya. Akhir dari penelitian yang dilakukan seorang Rusia terhadap tikus-tikus tadi menunjukkan hasil sebagai berikut :

Tikus A mati dua tahun kemudian. Hal ini menyimpulkan pula bahwa usia hidup rata-rata seekor tikus adalah 2 tahun. Lalu bagaimana dengan tikus B dan C? Berapa lamakah usianya? Anda tentu tak kalah penasarannya dengan saya. Ternyata saudaraku, usia tikus B dan C adalah empat tahun!

Subhanalloh! Ternyata usia tikus yang berpuasa jauh lebih panjang bahkan dua kali lipat dibandingkan tikus yang tidak pernah berpuasa sama sekali. Ternyata, puasa dapat meningkatkan kesehatan dan memperpanjang usia. Bersyukurlah para hamba Alloh yang taat menjalankan ibadah puasa. Alloh yang menciptakan kita, pasti Alloh jugalah yang mengetahui apa yang terbaik bagi para hamba-Nya.

Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim: ”Berpuasalah maka kamu akan sehat.”

Dan juga, seperti yang tertulis dalam kalam-NYA: “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui’. (QS Al-Baqarah [2] : 184)

Itulah sebabnya dalam setahun ada satu bulan khusus yang teramat istimewa. Bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan bukan pilihan untuk boleh atau jangan, mau atau tidak, tetapi suatu perintah bagi orang-orang yang beriman. Perintah yang merupakan kewajiban. Harus. Titik. Tentu saja dengan syarat-syarat yang sesuai syariah.

Jika bukan karena wajib hukumnya, maka tentu banyak manusia yang enggan berpuasa dan memilih untuk meninggalkannya. Padahal kita tidak tahu, dibalik itu semua sungguh banyak limpahan hikmah yang kita dapati dari berpuasa. Ya, tak hanya limpahan pahala yang berlipat-lipat ganda diperoleh di bulan nan mulia ini tetapi dengan berpuasa berarti tanpa sadar kita telah menjaga kesehatan diri sendiri, lahir dan batin sekaligus memperpanjang usia kita, inshaAlloh.

Banyak ahli kesehatan menyebutkan bahwa lambung kita beristirahat saat berpuasa dan seyogyanya terjadi peristiwa detoksifikasi atau bahasa awamnya terjadi peristiwa pembuangan racun-racun dalam tubuh. Allohu Akbar! Tak ada agama yang begitu lengkap kecuali Islam.

Selain penelitian tentang tikus yang berpuasa, suami juga menuturkan tips-tips yang diberikan pak ustadz untuk mengurangi rasa haus saat berpuasa, apalagi Jakarta yang selalu penuh sesak dan padat. Kata gerah dan panas menjadi teman setia setiap saat.

Beliau berujar agar kita dapat menahan rasa haus selama berpuasa, maka saat kita makan sahur usahakan untuk mengurangi makanan yang digoreng-goreng. Makanan yang mengandung minyak akan banyak menyerap air sehingga kita menjadi mudah kehausan.

Sebaliknya, perbanyaklah makan sayur-sayuran dan buah-buahan terutama buah apel. Buah apel ternyata berkhasiat dapat mengikat kandungan air yang ada dalam tubuh kita sehingga dapat mengurangi rasa haus saat kita berpuasa. Begitu pula dengan sayuran yang kaya serat. Sangat baik menjaga stamina tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.

Satu lagi buah khas yang selalu ada saat bulan Ramadhan, yaitu buah kurma. Selain sunah jika memakannya, kurma juga dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan sangat baik bagi kesehatan. Rasa manis pada kurma tidak berbahaya bagi tubuh karena kandungan gulanya bersifat alami dan mudah dicerna. Oleh sebab itu saat berbuka dianjurkan untuk minum air putih dan makan kurma. Setelah itu, boleh dilanjutkan dengan minuman/makanan manis lainnya seperti kolak dan sirup.

Sudah beberapa hari ini aku mencoba menerapkan ilmu yang baru kudapat. Aku menjadi rajin membeli apel di pasar dan memakannya saat sahur. Alhasil, alhamdulillah rasa haus berkurang dan tetap semangat beraktivitas walaupun berpuasa.

Terima kasih suamiku atas sharing kultumnya. Semoga aku terpacu untuk semakin rajin berpuasa sunah. Aku pun berharap, semoga ‘panas’nya Jakarta bukan lagi menjadi halangan untuk beribadah karena inshaAlloh dapat dicairkan dan diubah menjadi ‘dingin’ nya Jakarta dengan rajin berpuasa. Lahir dan batin. InshaAlloh

Wallohu’alam bishshowaab

Mkd/bintaro/18.08.2011

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus