Ketika Allah Menghendaki Kebaikan bagi Hamba-Nya

Redaksi – Jumat, 28 Juni 2013 10:01 WIB

alamSalah satu nikmat terindah dalam hidup ini adalah nikmat beramal soleh. Sebagaimana Allah mengilhamkan kepada salah seorang hamba-Nya untuk beristighfar adalah tidak lain karena Allah hendak mengampuni dosa hamba tersebut. Begitu pula ketika Allah mengilhamkan kita untuk berniat melakukan amal shalih apalagi sampai memberikan kita kesempatan untuk benar-benar melaksanakan amal shalih tersebut. Itu adalah suatu karunia yang teramat besar. Rasanya sungguh nikmat seakan-akan Allah ridha dan memang meridhai kita menjadi orang (yang berusaha) shalih.

Terlalu banyak kesempatan amal shalih yang dikaruniakan Allah kepadaku sampai-sampai aku ingin menangis dibuatnya. Salah satunya adalah nikmat amal shalih yang kurasakan pagi ini. Yaitu nikmatnya mampu melaksanakan shalat jenazah.

Kabar duka itu kuterima malam harinya saat baru segelintir orang disekitarku yang tahu. Seorang kawan yang memang merupakan mahasiswa beliau di kampus mengabarkan via posting di grup IM (instant messaging). Aku pun belum mengenal beliau sebetulnya, hanya pernah mendengar namanya saja disebut-sebut dalam beberapa forum keislaman. Bapak Musyafa’ Hidayat Isnaini. Staff pengajar di jurusan sastra Arab UGM. Beliau tidak lain adalah adik daripada Bapak Hidayat Nur Wahid, mantan ketua MPR RI periode 2004-2009. Malam itu juga aku sebarkan ke grup-grup lain yang belum mendengar berita duka itu dan menanyakan kapan jenazah akan dishalatkan. “Besok pagi,” jawab salah seorang kawan. Akupun tidur malam itu dengan niat akan menyalati jenazah almarhum besok pagi. In shaa Allah, batinku.

Paginya aku segera mencari informasi lebih lanjut tentang lokasi dan kapan beliau akan dimakamkan serta tidak lupa mengajak perindu surga lainnya yang memungkinkan untuk ikut. Alhamdulillah, Allah memudahkan kami mencapai tempat tujuan dan ketika kami datang begitu mudah bagi kami menemui rumahnya. Kami bisa langsung memberi ucapan takziah kepada keluarga beliau dan juga bisa langsung menyalati jenazah beliau diimami seorang bapak-bapak sesama pelayat. Air mata kami pun tumpah tak tertahankan kendati kami bahkan belum pernah bertemu beliau saat hidupnya. Mungkin inilah berkah orang shalih. Kami dimudahkan untuk beramal shalih menyalati jenazah beliau dan beliau Allah mudahkan untuk dishalati kami.

Balasan bagi orang yang melaksanakan shalat jenazah adalah ia akan mendapatkan pahala sebesar satu qirath di hari kiamat kelak, yakni sebesar gunung Uhud1 dan bagi yang dishalati, jika yang menyalati beliau mencapai 40 orang yang tiada mempersekutukan Allah dengan apapun maka akan diperkenankan doa-doa mereka untuk almarhum2, di hadits yang lain disebutkan 100 orang3 dan hadits lainnya lagi jika mencapai 3 shaff akan diampuni dosa-dosanya4. Kurang motivasi seperti apa lagi untuk kami rela menempuh perjalanan jogja-prambanan disela-sela jam kerja ‘hanya’ untuk menshalati jenazah beliau dan memberikan ucapan takziah untuk keluarga beliau yang bahkan tidak sampai 15 menit. Ditambah sebetulnya diantara kami tidak ada satupun yang sudah betul-betul mengenal almarhum. Kami tahu betapa butuhnya beliau dishalati banyak orang. Allahumaghfirlahu, Ya Allah ampuni dosa-dosanya. Warhamhu, berikanlah rahmat kepadanya. Wa’afihi, maafkanlah ia. Wa’fu’anhu, ampunilah kesalahan-kesalahannya. Tidak ada yang dibutuhkan beliau saat ini selain diperkenankannya doa tersebut bagi beliau. Disamping mengharapkan pahala yang besarnya sebesar gunung Uhud, sesunguhnya kami pun ingin dishalati banyak orang ketika kami meninggal dunia nanti. Betapa indahnya jika saudara-saudara kami yang masih hidup sangat berikhtiar untuk bisa menyalati jenazah kami kelak. Karena kami tahu, itu akan sangat teramat kami butuhkan ketika itu.­­­­

Sebelumnya sudah 2 kali aku gagal melaksanakan shalat jenazah. Yang pertama saat ayah adik kelas di kampus meninggal dunia. Jenazah dishalatkan dan dimakamkan di Klaten, sekitar 1 jam saja dari Jogja. 30 menit dari tempat almarhum Bapak Musyafa’. Setelah jadwal co ass yang saat itu tengah berlangsung di Jogja, aku pun meluncur dan sesampainya di Klaten mampir ke RS Klaten untuk menjemput teman sesama co ass yang hendak menyalati jenazah beliau juga. Kami kesasar cukup jauh karena misinterpretasi ancer-ancer. Ada pertigaan kecil yang menurut ancer-ancer tidak dianggap sebagai pertigaan. Ya sudah, apa daya. Akhirnya begitu kami sampai lokasi ternyata jenazah sudah berangkat untuk dimakamkan. Kami hanya bisa memberikan ucapan takziah kepada keluarga yang masih ada di lokasi.  Semoga Allah mencacatnya sebagai pahala, aamiin.

Yang kedua lagi-lagi berkaitan dengan Klaten, hanya saja kali ini sedikit berbeda. Yang meninggal adalah ibu senior akhwat dari fakultas yang berbeda. Meninggal dan dishalatkannya di Jogja tapi dimakamkannya di Purworejo. Saat itu aku sedang stase anestesi di RS Klaten. Kabar duka tersebut baru aku baca ba’da maghrib dan aku langsung menanyakan kapan dan dimana jenazah akan dishalatkan. Berharap dalam hati, semoga besok. Namun ternyata harapanku tinggal harapan. Jenazah dishalatkan malam itu juga dan setelah itu diberangkatkan ke Purworejo untuk dimakamkan disana. Aku memutuskan untuk tidak memaksakan diri berangkat ke Jogja malam itu. Yang pertama, karena malam itu aku masih harus pre-operasi, memeriksa pasien-pasien yang akan dioperasi besok paginya yang mungkin jumlahnya sekitar belasan sampai dua puluhan pasien. Keliling dari satu bangsal ke bangsal yang lain. Bisa diperkirakan baru akan selesai sekitar pukul sembilan. Yang kedua, alasan keamanan. Rasanya sangat tidak aman (dan tidak pantas) bukan seorang akhwat sendirian pulang-pergi Jogja-Klaten malam-malam? Ya sudah, niat shalat jenazah tidak terlaksana (lagi).

Namun entah faktor apa yang menyebabkan begitu mudah bagi kami menyalati Almarhum Bapak Musyafa’. Bahkan tersasar satu meter pun tidak. Faktor keshalihah almarhum, bisa jadi. Yang jelas tentunya ini wujud kemurahan hati Allah bagi hamba-hambaNya sehingga kami diberikan nikmat beramal shalih dan almarhum bisa dishalati kami.

Satu lagi pelajaran dari kematian Almarhum Bapak Musyafa’, Ia meninggal tidak kurang dari dua minggu sebelum bulan Ramadhan. Ternyata doa untuk disampaikan Allah kepada bulan Ramadhan nyata kita butuhkan. Begitu dekat bulan Ramadhan hendak menyapa, namun tidak semua orang sampai pada bulan berkah tersebut.

Semoga Allah menghendaki kita agar sampai pada bulan Ramadhan dan tidak hanya sampai namun mampu beramal shalih sebanyak-banyaknya di bulan perlipatan pahala tersebut. Semoga Allah juga memang berkehendak mengampuni dosa-dosa almarhum sehingga mengilhami kami untuk berniat menyalati jenazah almarhum dan memudahkan kami untuk benar-benar melaksanakan niat tersebut. Semoga, saat kita meninggal kelak, saudara-saudara kita yang masih hidup pun Allah ilhamkan untuk betul-betul berikhitar menyalati jenazah kita hingga diperkenankannya doa-doa mereka untuk kita. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

Widya Kumala sari <[email protected]>

1 [HR. Muslim juz 2, hlm. 653, no. 54]

2 [HR. Muslim juz 2, hlm 655]

3 [HR. Muslim juz 2, hlm 654]

4 [HR Abu Dawud juz 3, hlm. 202]

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus