Etika Terhadap Masjid

Sigit Indriyono – Sabtu, 14 Zulhijjah 1429 H / 13 Desember 2008 09:24 WIB

Setelah memarkir kendaraan di tempat parkir, aku menuju bangunan bangunan utama Masjid Baiturrahman. Suatu Masjid yang terletak dalam kompleks perusahaan, namun terbuka untuk masyarakat luas. Terdengar adzan Isya’ baru saja selesai dikumandangkan oleh Muadzin. Aku berhenti sejenak, kulantunkan do’a sehabis adzan untuk Rasulullah SAW. Aku teringat pesan Rasulullah SAW dalam salah satu hadis, agar tidak usah tergesa-gesa bila mendatangi Masjid, namun dengan langkah yang tenang. Seandainyapun iqamat sudah dikumandangkan, tidak perlu terburu-buru.

Ketenangan adalah hal yang penting agar bisa tercapai sholat yang khusyu’. Bisa dibayangkan jika kita berlari-lari memasuki Masjid. Jama’ah lain akan merasa terganggu mendengar derap lari kita. Di samping itu nafas kita akan memburu, sehingga sulit mencapai ketenangan dan konsentrasi dalam sholat.

Dari tempat parkir kulihat timer yang tertempel di atas dinding masjid bagian luar. Ada waktu untuk sholat sunnah selama 7 menit. Timer ini otomatis akan menyala dengan waktu setting selama 7 menit, selesai adzan dikumandangkan. Timer akan bergerak menuju angka 0 menit 00 detik. Bila tercapai angka tersebut, barulah iqamat dikumandangkan.

Ada dua buah timer yang terpasang di Masjid Baiturrahman. Satu buah lagi terpasang di dinding masjid dekat mimbar. Dengan melihat posisi angka yang terbaca pada timer, jama’ah sholat saat memasuki Masjid bisa mengetahui waktu untuk sholat sunnah sebelum sholat fardlu berjama’ah dilaksanakan. Pemasangan timer di Masjid Baiturrahman dilakukan awal tahun ini berbarengan dengan penataan ulang sound system.

Satu hal lagi yang diperlukan untuk mendukung kekhusyu’an sholat adalah pakaian yang dikenakan saat sholat. “ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A’raaf [7] : 31).

Allah SWT memerintahkan kita untuk berpakaian yang indah saat memasuki Masjid. Dalam konteks ini, perintah berpakaian indah berlaku di mana saja kita sholat. Sering kita menyepelekan pakaian saat sholat, dengan berpakaian ala kadarnya. Saat sholat, sejatinya kita menghadap kepada Allah SWT yang harus diagungkan. Tidak pantas kita berpakaian seenaknya.

Kebanyakan dari kita sering mengenakan baju yang bagus untuk acara tertentu misalnya untuk menghadiri acara pernikahan. Dipilih baju yang paling bagus. Diselaraskan warna dan model dengan celana panjang yang dikenakannya. Sebaliknya, kalau sholat, bajunya tidak sebagus baju yang dipakai waktu acara di atas.

Pernah kulihat seorang pekerja yang sedang melakukan pekerjaan perbaikan lantai di teras lantai dasar Masjid Baiturrahman, langsung menghentikan pekerjaannya begitu mendengar adzan Dhuhur. Dia langsung menuju kamar mandi Masjid dengan memanggul ransel. Saat keluar, sudah memakai baju koko yang indah dan bersih serta mengenakan peci. Ayat di atas telah diamalkannya. Panggilan Allah SWT melalui adzan dipenuhinya, dengan meninggalkan kesibukan pekerjaan.

Disadari atau tidak, terkadang kita kurang beretika dengan baik saat di Masjid. Masih ada yang bersuara keras dan tertawa keras ataupun merokok di sekitar area Masjid, dan berlari-lari di dalam Masjid, mengejar sholat jama’ah yang sudah dimulai. Demikian juga orang-orang yang seenaknya tidur bergeletak di dalam Masjid. Hal ni akan mengganggu kekhusyu’an orang yang sedang sholat atau dzikir. Sering kita lihat di dalam Masjid, saat adzan dikumandangkan, orang yang berada di dalam Masjid tetap saja asyik mengobrol. Seharusnya adzan didengarkan dengan khusyu’, sehingga terasa getaran-getaran di hati.

Pengelola Masjid terkadang memasang tulisan peringatan, seperti :” Dilarang Tidur di Masjid ” , " Dilarang Merokok di Area Masjid ”, ” Matikan HP, Utamakan Komunikasi dengan Allah.”  Kita wajib mematuhinya.

Aku punya pengalaman saat membaca Al Qur’an dengan suara agak keras di dalam Masjidil Haram. Seorang petugas Masjid menegurku dengan bahasa isyarat. Aku diminta membaca dengan lirih saja, karena jika bersuara keras akan mengganggu konsentrasi orang yang sedang sholat.

Marilah kita pelajari etika di dalam Masjid dan diterapkan secara konsisten, sehingga suasana Masjid yang kondusif untuk ibadah dapat terjaga dengan baik.

Bontang, Dzulhijjah 1429 H

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus