Ciri Utama Seorang Ahlusunnah Wal Jamaah

Yudhi Pamungkas – Minggu, 28 Oktober 2007 18:13 WIB

Assalamu ‘alaikumwr wb,

Pak Ustad yang kagumi ilmunya.

Saya hendak bertanya, apakah ciri-ciri utama seorang ahlusunnah wal jamaah? Karena belakangan banyak orang/ kelompok yang masing-masing mengklaim sebagai ahlusunnah wal jamaah yang sahdan sejati

Saya sebagai orang yang awam ingin tahu yang mana sih ciri-ciri utama kaumyang ber-ahlusunnah wal jamaah, agar saya tahu & ingin mengikuti ciri-ciri tersebut.

Terima kasih.

Wassalam.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menurut hemat kami, Istilah ahli sunnah wal jamaah lebih tepat kalau digunakan dalam bingkai masalah aqidah. Di mana aqidah yang diterima dan dibenarkan Allah SWT adalah aqidah yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan juga para shahabatnya. Dan aqidah yang dimaksud kemudian disebut dengan istilah aqidah ahli sunnah wal jamaah.

Dengan demikian, berlaku sebaliknya. Aqidah yang bukan ahli sunnah wal jamaah adalah aqidah yang menyimpang atau bertentangan dengan aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat beliau.

Sebagai contoh kongkrit dari aqidah yang menyimpang adalahaqidah yang mengakui ada nabi setelah Muhammad SAW. Aqidah model begini jelas-jelas telah keluar dari apa yang diajarkan oleh beliau SAW dan bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para shahabat beliau. Dalam pandangan aqidah ahlu sunnah wal jamaah, Muhammad SAW adalah nabi terakhir, tidak ada nabi sesudah beliau. Otomatis juga tidak ada lagi wahyu yang turun dari langit setelah beliau wafat.

Kalau hari ini ada segelintir orang yang mengaku menjadi nabi, atau mengaku mendapat wahyu dari langit, hanya karena bertapa di gunung Bunder 40 hari 40 malam, jelas sekali inilah contoh kongkrit dari aqidah yang menyimpang dari aqidah ahlu sunnah wal jamaah.

Contoh lain dari aqidah yang menyimpang adalahaqidah yang mengajarkan bahwa dalam taraf tertentu, manusia bisa mencapai derajat yang tinggi bahkan bisa langsung berhubungan dengan tuhan, untuk kemudian menyatu dengan tuhan. Ajaran seperti ini sering disebut dengan wihdatul wujud, sedangkan orang Jawa sering menyebut dengan istilah manunggaling kawulo gusti.

Contoh lainnya bila seseorang mengatakan bahwa malaikat JIbril salah menurunkan wahyu, seharusnya kepada Imam Ali bin Abi Thalib bukan kepada nabi Muhammad SAW. Atau mengatakan bahwa mushaf yang benar adalah mushaf lain yang disusun oleh Ali bin Abi Thalib. Atau mengatakan bahwa akan ada imam mahdi yang ma’shum tanpa dosa dan menerima wahyu dari Allah SWT layaknya seorang nabi.

Termasuk contoh aqidah yang sesat adalah yang mengatakan bahwa semua agama sama. Semua umat Islam, Kristen, Hindu, Budha atau Konghuchu akan masuk surga, semua kembali kepada niatnya. Aqidah seperti selain sesat juga menyesatkan.

Termasuk contoh aqidah sesat adalah keingkaran kepada keberadaan sunnah atau hadits Rasulullah SAW. Lalu akibatnya, kitab suci Al-Quran mereka nodai dengan pemelintiran makna ayat dan penyelewangan takwil sesat. Persis seperti kelakuan para yahudi di masa lalu yang menyelewengkan ayat-ayatTaurat.

Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang bisa kita lihat, yang intinya penyimpangan itu membuat orang-orang yang mengikuti ajaran itu menjadi sesat.

Kesesatan aqidah model begini bukan hanya ulama yang mengatakannya, bahkan tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa aqidah ini jelas sekali kesesatannya.

6 Rukun Iman

Kalau kita mau sederhanakan, pada intinya keahlisunnahan kita bisa diindikasikan dengan cara sederhana.Yaitumasalah kelurusan dalam konsep keyakinan kita kepada rukun iman yang enam perkara itu.

Dalam tataran konsep, cara pandang kita kepada Allah, para malaikat, kitab suci, para nabi, hari akhir dan konsep qadha dan qadar dari Allah SWT harus benar. Dalam arti bukan sekedar mengakuinya, namun memiliki konsep yang lurus dan benar sebagaimana dahulu Rasulullah SAW mengajarkan dan sebagaimana yang konsep yang diimani oleh para shahabat beliau.

Ukuran keahli-sunnahan seseorang tidak diukur dari panjangnya jenggot yang dipelihara, juga bukan dari seberapa tinggi ujung kainnyadi atasmata kaki. Juga tidak diukur dari seberapa banyak dalam sehari mencaci maki para ulama. Juga bukan dari seberapa banyak vonis bid’ah dantahdzir yangkeluar dari mulutnya. Juga bukan dari seberapa banyak dia mengutip pendapat-pendapat pribadi Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Albani, Bin Baz, Utsaimin, Muqbil atau yang selini dengan mereka.

Demikian juga, ukuran keahlisunnahan seseorang tidak diukur dari apakah dia melakukan doa qunut saat shalat shubuh, tarawih 23 rakaat, shalat ‘Idul Fithri di dalam masjid (bukan di lapangan), suka tahlilan, ngaji di kuburan, ziarah ke makam wali songo atau mengirim tawassul lewat diri nabi SAW.

Demikian juga, ukuran keahli-sunnahan seseorang tidak didasarkan kepada goyangan jari telunjuk pada saat tasyahhud dalam shalat, bukan dari posisi tangan yang bersedekap di atas dada, bukan dari lebarnya kaki dan menempelnya mata kaki dengan mata kaki, juga bukan dari lebarnya posisi sujud.

Demikian juga, ukuran keahli-sunnahan seseorang tidak didasarkan atas kecintaan kepada keluarga nabi (ahlul bait), bukan dari warna hijau sorbannya, atau dari minyak wangi khas arabnya, bukan dari kayu siwak yang dibawa ke mana-mana, bukan dari tasbih yang diputar di sela jari-jarinya, bukan dari seberapa besar berkat yang ditentengnya pulang dari mauludan.

Semua hal di atas bukan ukuran dari apakah seseorang itu dikatakan ahli sunnah atau bukan. Semua itu hanyalah fenomena pisik semata yang hukumnya sampai hari ini masih pada posisi khilaf di kalangan para ulama. Antara yang mengharuskan dengan yang mengharamkan, antaranya menyunnahkan dengan yang memakruhkan. Sama sekali bukan ukuran kelurusan aqidah seseorang.

Ahlu Sunnah Dalam Sejarah

Kalau secara sejarah, ada nama-nama kelompok yang disepakati oleh para ulama sebagai aqidah yang keluar dari ahli sunnah wal jamaah. Misalnya, kelompok jahmiyah, qadariyah, jabariyah, murjiah, sebagian dari syiah yang sesat, khawarij dan seterusnya.

Di masanya, kelompok-kelompok itu memang benar-benar secara tegas dan terang-terangan melakukan penyimpangan. Tapi nampaknya hari ini kita tidak menemukan lagi sempalan-sempalan itu kecuali hanya dalam bentuk pemikiran yang berceceran.

Adapun imam dan para tokohnya boleh dibilang telah musnah tergilas roda zaman di masa kini. Karena konsep aqidah mereka memang sesat, makanya tidak ada yang mendukungnya. Mayoritas muslimin di seluruh dunia menolak aqidah sesat semacam itu.

Kalau pun masih ada di zaman sekarang, hanya berbentuk kelompok-kelompok kecil yang secara sembunyi-sembunyi masih bertahan. Kerja mereka memang hanya bisa mengintai atau mengendap-ngendap sambil cari-cari kesempatan untuk bisa terus hidup menyebarkan virus kesesatan. Manakala umat Islam lengah, atau lemah dari sisi aqidah, kadang sempat muncul sebentar untuk kemudian mati lagi.

Biasanya para musuh Islam, baik orientalis atau liberalis, seringkali menggali-gali bangkai aqidah-aqidah sesat dari kuburannya untuk dipoles-ulang dan ditawarkan kepada kalangan awam. Sesekali ada juga elemen umat yang tertipu mentah-mentah. Tetapi tidak pernah bisa membesar dan kuat.

Karena imunitas umat Islam boleh dibilang sudah cukup baik, hari ini boleh dibilang sudah tidak ada negara atau penguasa muslim yang aqidahnya sesat secara ilmu tauhid. Tidak seperti di masa lalu di mana khilafah pernah dikuasai oleh mereka dari kalangan khawarij. Sehingga Imam Ahmad rahimahullah disiksa dan dipenjara, karena penyimpangan aqidah para penguasa.

Problem Zaman Sekarang

Kalau kita cermati, nampak kesesatan para pemimpin umat Islam di abad ini bukan dari sisi aqidah sebagaimana di masa lalu. Namun yang bermasalah adalah dari sisi kelemahan mental mereka di hadapan kekuatan yahudi international.

Realitasnya memang sebagian besar para penguasa di negeri muslim telah bertekuk lutut di depan durjana yahudi laknatullah ‘alaihim. Para pemimpin dunia Islam saat ini bisa dikatakan sedang mengalami degradasi semangat jihad, takut melihat lawan, karena merasa tidak punya kekuatan.

Masalah yang melanda mereka bukan karena mereka beraqidah sesat atau keluar dari aqidah ahlu sunnah wal jamaah. Raja Saudi Arabia itu muslim shalih dan pasti beraqidah ahlussunnah wal jamaah. Tetapi kita harus akui bahwa posisi beliau terlalu lemah di hadapan Bush durjana.

Husni Mubarok Presiden Mesir pun seorang ahlussunnah sejati, tetapi lagi-lagi beliau tidak bisa mengatakan tidak ketika dipaksa bilang iya olehyahudi.

Kalau ada pemimpin negeri Islam berani mengatakan tidak kepada penguasa jahannam yahudi, maka nasibnya seperti Saddam Hussein. Mati digantung di negerinya sendiri dan negaranya habis dikoyak.

Pemimpin Lemah Lahir dari Umat yang Lemah

Dan munculnya pemimpin negeri Islam yanglemah di depan lawansebenarnya bermuara dari mental umat Islam yang lemah juga. Di mana secara umumumat ini sedang dihinggapi penyakit wahan. Wahan adalah cinta dunia dan takut mati, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW.

Sikap seorang pemimpin itu tergantung dari mana dia muncul. Kalau muncul dari umat yang lemah, maka pemimpinnya pun lemah. Dan pemimpin yang tegar akan lahir dari umat yang juga tegar.

Jadi dari pada kita hanya bisa menyalahkan para pemimpin, mungkin tidak ada salahnya kita menyalahkan diri sendiri. Setidaknya, kita bicara bagaimana melahirkan umat yang kuat, tegar, pintar, berani mati syahid dan berani hidup mulia sekalian.

Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,



Ahmad Sarwat, Lc

Negara Terbaru

blog comments powered by Disqus