Tribulasi (Ujian) di Jalan Dakwah (3)

Muhammad Nuh – Senin, 6 Rajab 1430 H / 29 Juni 2009 13:24 WIB

Sekilas, banyak orang menyangka bahwa ujian dalam bentuk penyiksaan, penindasan, penekanan dan bencana bisa mengancam dakwah dan merintanginya bahkan boleh jadi membunuhnya. Sangkaan yang demikian itu semakin kuat ketika ujian itu berlanjut dalam waktu yang sangat lama dan tidak tampak tanda-tanda mereda atau hapus sama sekali dengan tidak memperolehi faedah yang nyata dibidang dakwah.

Mereka pun berkata, “Kemanakah perginya orang-orang yang telah melalui jalan dakwah? Di mana lambang-lambang dan simbol yang biasa muncul di setiap tempat? Di mana pejabat-pejabat, rumah-rumah dan institusi yang dahulunya telah memainkan peranan di dalam masyarakat seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, persatuan-persatuan, perkumpulan olahraga, dan kumpulan-kumpulan rekreasi dan berbagai kegiatan lain?"

Fenomena ini seolah menunjukkan bahwa dengan terhapusnya berbagai kegiatan tersebut merupakan kerugian besar dan menjadi bahaya besar yang menimpa para pendukung dakwah dan dakwah mereka. Ini benar menurut ukuran kebendaan. Tapi, pada hakikatnya, dalam kacamata dakwah justru sebaliknya. Terutama dalam sudut pandang akidah dan dalam ukuran Rabbani, ukuran ketuhanan.

Akan saya terangkan lebih lanjut sampai manakah bahaya yang menimpa dakwah dan para pendukungnya dalam ujian ini. Saya akan menerangkan segala kebaikan dan faedah yang terkandung di dalamnya, di antaranya:

1. Sebenarnya, berapa banyak pendukung dakwah yang telah syahid di tangan musuh-musuh dakwah? Apakah yang syahid semasa disiksa atau di tiang gantung. Mereka adalah orang-orang terpilih dan pemimpin, pemimpin dakwah yang tinggi kedudukan dan nilainya di bidang dakwah.

Pada zahirnya, ini merupakan kerugian besar bagi dakwah lantaran hilangnya mereka dari bidang dakwah dan kosongnya lahan dakwah dari usaha dan jihad mereka. Tetapi, pada hakikatnya, syahidnya seseorang di jalan dakwah menunjukkan tingginya dakwah ini dan mulianya tujuan dakwah. la melambangkan pengorbanan dalam jalan dakwah.

Sesungguhnya, syahidnya seseorang memberi kesan dan pengaruhnya yang besar di dalam jiwa. Bahkan, lebih bermakna dari nasihat seratus penasihat. Sesungguhnya ini merupakan bekalan dan obor yang akan menyalakan iman dan semangat generasi kini dan akan datang.

Demikianlah sekarang ini, apabila kita membaca kisah syahidnya Yasir, Sumayyah r.a. kita merasakan dorongan iman dan bekalan yang perlu kita gunakan di jalan dakwah walaupun mereka telah syahid empat belas abad yang lalu di zaman Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya keuntungan yang diperoleh oleh jamaah Islam di bidang dakwah dengan syahidnya mereka adalah keuntungan yang sangat besar.

Syahidnya mereka telah melahirkan jiwa-jiwa yang kuat yang membawa kebangkitan Islam di zaman ini yang menjelma di dalam generasi baru di kalangan putera-puteri Islam di seluruh dunia terutamanya di seluruh dunia Islam. Mereka memperolehi ilmu, pengalaman dan contoh teladan yang baik yang ditinggalkan oleh para syuhada itu.

Para syuhada itu pula telah berjaya mencapai peringkat syahid dan keridhaan Allah. Di atas dasar inilah maka syahidnya para syuhada itu adalah kebaikan umum bagi dakwah dan kebaikan khusus bagi syuhada. la bukanlah bahaya sebagaimana kelihatan pada zahirnya.

2. Di antara bentuk ujian yang pada zahirnya kelihatan berbahaya ialah berpalingnya begitu banyak manusia dari kerja dakwah. Mereka yang sebelumnya melibatkan diri dengan dakwah dan berjalan di atas jalannya, kemudian mereka terus berpaling. Pada zahirnya barisan dakwah telah berkurang, dakwah kehilangan banyak pendukungnya, lantaran itu usaha-usaha dakwah juga berkurang.

Namun, pada hakikatnya barisan dakwah semakin kuat dan semakin berpadu dan telah bersih dari titik-titik kelemahan. Lebih dari itu, Allah menggantikan yang hilang dengan begitu banyak orang lain yang lebih mulia dari mereka dan itulah sunnah Allah.

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)." (Ali Imran:179)

Dan di dalam ayat yang lain:

"Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak seperti kamu (ini)." (Muhammad: 38)

Demikianlah, saat ini kita melihat bagaimana putera-puteri kita, generasi muda Islam yang berjiwa Islam dan iman yang benar, terus berjalan di atas jalan dakwah dengan segala kefahaman dan keazaman, giat berusaha dan bekerja untuk Islam setelah mereka mengetahui dan mendengar apa yang terjadi kepada generasi Islam yang telah mendahului mereka.

3. Di antara bentuk ujian yang dianggap bahaya pada zahirnya ialah penindasan ke atas dakwah dan menyekatnya dari berkembang, perjalanannya dihalang dengan cara melarang para pendukung dakwah untuk berdakwah, merampas kitab-kitab, majalah-majalah dan surat-surat kabar mereka. Walaupun produktivitas secara langsung di dalam dakwah berkurang karena ujian itu, tetapi pada hakikatnya dakwah meraih keuntungan langsung daripadanya dengan pengertian bahwa orang-orang yang mendapat ujian itu bertambah pengalaman dan semakin berpegang teguh dengan dakwah mereka.

Lebih dari itu, mereka lebih berusaha untuk membulatkan diri dan tujuan kepada dakwah, bertahan di dalam dakwah dan siap berkorban. Kepercayaan kepada saudara-saudara mereka bertambah kuat, ikatan persaudaraan dan soliditas mereka bertambah erat. Semuanya itu membawa faedah yang banyak kepada dakwah, bahkan lebih besar dari sebelum mereka menerima ujian itu.

Lebih dari itu, kita dapati para pendukung dakwah yang terpaksa bertebaran di bumi Allah karena kuatnya penindasan, tekanan dan gangguan di negeri mereka. Tetapi dengan demikian, mereka dapat menyampaikan dakwah mereka di mana saja mereka berada. Itulah yang telah terjadi di zaman Rasulullah, di zaman permulaan dakwah Islam di mana Islam dan dakwahnya berkembang dan berpijak di Madinah melalui para sahabat Muhajirin yang diusir dari Mekah.

Itulah juga yang terjadi di zaman ini, di zaman kita melihat perkembangan Islam dan dakwahnya di seluruh dunia terutam di Eropa, Amerika dan Australia melalui para pendukung dakwah yang telah ditindas di tanah air mereka.

"Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka dan Allah tetap akan menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci." (As-Shaff: 8)

4. Di antara bentuk bahaya yang menimpa dakwah dan para duat dalam ujian itu, yang pada zahirnya membahayakan dakwah dan para pendukungnya ialah banyaknya dari mereka yang ditangkap, dipenjarakan dan mengalami penyiksaan dan penderitaan yang mengerikan bertahun-tahun lamanya. Hal ini merupakan bahaya pada zahirnya, tetapi pada hakikatnya menjadi kebaikan.

Sekiranya para syuhada menjadi lambang pengorbanan dan tebusan, maka kesabaran orang-orang yang meringkuk di dalam penjara dengan segala penyiksaan dan penderitaan yang menimpa mereka selama bertahun-tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dan ada yang sampai lebih dua puluh tahun, merupakan lambang ketahanan bersama kebenaran tanpa meninggalkan usaha dan kegiatan dakwah mereka. Ini merupakan bekalan dan obor yang menyalakan iman di kalangan generasi baru zaman ini dan di masa yang akan datang. Insya Allah.

Jelaslah bahwa saudara-saudara kita yang Muslim yang telah mengalami gangguan fisik, gangguan kebendaan dan moral yang berterusan selama dua puluh tahun tanpa menggoyahkan pendirian mereka padahal mereka ini mampu mengelakkan bencana dan ujian itu sekiranya mereka menyetujui sikap taghut yang berkuasa dan zalim itu dan meninggalkan dakwah mereka. Tidak syak lagi bahwa sikap mereka itu adalah sifat yang mulia karena mereka bertahan bersama kebenaran. Sifat mulia, ketegasan dan ketangkasan mereka disanjung tinggi dan dibanggakan oleh
orang-orang mukmin sepanjang masa.

Itulah kurnia Allah yang telah dikurniakan kepada orang-orang yang dikehendaki. Maka sekiranya hari itu silih berganti. Membawa nikmat dan derita tidak terperi. Peristiwa-peristiwa sedemikian tidak mungkin melemahkan pendirian kami. Perbuatan yang tidak menyenangkan itu tidak mungkin menghina kami.

Cobalah kita bayangkan bagaimana jika semuanya telah meninggalkan tugas dakwah dan membuang benderanya karena mengutamakan keselamatan diri dari menghadapi panas teriknya ujian-ujian. Sudah tentu, ini menimbulkan reaksi dan akibat yang sangat buruk kepada dakwah dan menghalangi dakwah Islam di kalangan para pemuda dan generasi yang sedang dan akan muncul.

Demikianlah, kita lihat pada zahirnya ia merupakan bahaya tetapi pada hakikatnya menjadi kebaikan umum bagi dakwah dan kebaikan khusus bagi orang-orang yang mengalami penyiksaan. Allah telah memberi kesabaran dan ketahanan kepada mereka di atas kebenaran. Insya Allah mereka akan mendapat kurnia dan pahala dari Allah karena kesabaran dan ketahanan mereka.

5. Dari bentuk-bentuk yang pada zahirnya merupakan bahaya yang menimpa dakwah dan para pendukungnya ialah berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dilemparkan kepada para da’i dan dakwah mereka untuk membusukkan nama baik mereka, untuk menghina mereka, untuk mengelabui mata orang lain supaya mereka lari dari dakwah Allah, supaya mereka menjauh dari seruan Allah. Ini bukanlah hal baru di atas dakwah yang benar. Dari dulu, angkatan taghut, angkatan jahiliah telah melemparkan berbagai tuduhan palsu kepada Rasulullah s.a.w.

Mereka telah menuduh Rasulullah s.a.w. sebagai tukang sihir, orang gila, pembohong, pemecah belah masyarakat, memisahkan antara bapa dengan anak dan keluarga dan memperbodohkan tuhan-tuhan mereka dan berbagai tuduhan palsu yang jahat yang ditujukan kepada Rasulullah s.a.w dan kepada Islam.

Tetapi akhirnya, segala kepalsuan itu tidak dapat bertahan lama apabila berhadapan dengan kebenaran. Tameng-tameng kebobrokan mereka terungkap. Nyatalah kebenaran Rasulullah s.a.w., nyatalah kejayaan agamaNya dan apa yang dibawa itulah yang benar dan itulah yang menang.

Sejarah telah berulang kembali, di mana angkatan jahiliah dan taghut zaman ini melemparkan tuduhan palsu kepada para pendukung dakwah dengan berbagai tuduhan palsu dan jahat, mengganggu ketenteraman umum, ikhwanushayatin (kawan-kawan setan) boneka penjajah, mereka hendak menghancurkan segala pembangunan serta membunuh orang-orang yang tidak berdosa untuk merebut kekuasaan.

Mereka mabuk kuasa, bertopengkan agama dan berbagai tuduhan liar dan palsu dan propaganda yang palsu dan liar untuk memburuk-burukkan dan membusukkan dakwah dan para pendukungnya supaya para pemuda, generasi muda dan para pekerja untuk Islam lari dan menjauhkan diri dari dakwah dan pendukungnya.

6. Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui telah melahirkan hakikat yang sebenarnya, lalu terbukalah kedok mereka yang zalim dan taghut itu. Kezaliman mereka telah diketahui umum, dikenali oleh dunia, segala tindakan kejam mereka, segala tuduhan palsu mereka, segala propaganda liar mereka telah dicatat di dalam sejarah. Lebih dari itu, generasi baru Islam di seluruh dunia Islam telah bangkit dan bangun mendukung dakwah Islam dengan sepenuh jiwa, dengan iman yang benar dan dengan hati yang ikhlas.

Di antaranya lagi ialah rumah Ikhwan, yayasan mereka, sekolah-sekolah mereka, rumah sakit mereka, institusi bisnis mereka telah dirampas oleh taghut dan berbagai kegiatan Ikhwanul muslimin telah dibekukan dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas risalahnya yang penting itu. Dari sudut kebendaan, ini merupakan kerugian yang besar, akan tetapi kerugian kebendaan itu adalah kerugian yang kecil karena terlebih dahulu daripada itu angkatan Muslimin yang pertama dan utama itu di zaman permulaan dakwah di zaman Rasulullah s.a.w telah meninggalkan tanah air mereka, meninggalkan rumah-rumah mereka dan harta benda mereka karena mengutamakan dakwah mereka dan segala kepentingan kebendaan mereka tatkala mereka berhijrah dari Mekah ke Madinah. Tetapi Allah telah menggantikan segala kerugian mereka dengan kemenangan yang gemilang hingga mereka berjaya membangun daulah Islam di Madinah, di Mekah, di seluruh Semenanjung Tanah Arab. Mereka berhasil mengalahkan raksaksa Barat (Romawi) dan raksaksa Timur Parsi (Iran) yang merupakan penguasa dunia dan peradaban pada zaman itu.

Rasulullah s.a.w bersabda, "Menanglah Suhaib, menanglah Suhaib".

Kita juga tidak lupa tentang pendirian Ansar terhadap saudara-saudara mereka para Muhajirin, bagaiman mulianya sikap mereka mengutamakan saudara-saudara mereka lebih dari diri mereka sendiri, kemurahan dan kemuliaan mereka dilukiskan di dalam al-Quranul Karim yang menjadi teladan yang baik sepanjang masa. Ini memberi pengajaran kepada kita bahwa segala kebendaan yang menimpa para pendukung dakwah, supaya mereka tidak disibukkan oleh benda, tidak dimabuki oleh harta dan tidak dikuasai oleh dunia. Di samping itu ia menyuburkan pengertian tolong menolong, tanggungjawab dan ingat mengingati di kalangan para du’at di dalam bidang
dakwah.

Dengan terhentinya perkhidmatan ikhwan yang berdasarkan Islam dan menurut cara Islam yang selama ini dilakukan oleh yayasan-yayasan ikhwan yang tadinya membawa kebaikan yang banyak kepada masyarakat, masyarakat menjadi kosong dari faedah-faedah perkhidmatan menurut cara Islam dan adab-adab Islam. Walaupun begitu para pendukung dakwah akan berusaha terus membangun kembali yayasan-yayasan dan perkhidmatan itu apabila peluang terbuka untuk berbuat demikian.

Demikianlah kita melihat bahwa ujian dan bencana yang menimpa-, dakwah dan para penganutnya sebagai sunnah Allah, undang-undang Allah yang telah berlaku selagi ada dakwah dan para pendukungnya. Ujian-ujian itu pada zahirnya berupa bencana, tetapi di baliknya, terkandung kebaikan. Jadi nikmat dan kurnia dalam rupa bencana. Tidak ada yang dikehendaki Allah kepada dakwahNya dan para pendukungnya kecuali kebaikan saja.

Jadi bencana-bencana itu bukanlah merupakan saat-saat kematian atau pukulan maut, tetapi merupakan masa-masa yang menghidupkan kekuatan, yang mendorong untuk berjalan di atas jalan dakwah dengan penuh kekuatan dan ketahanan.

Thariqud Dakwah Terbaru

blog comments powered by Disqus