Hikmah Empat Musim Menurut Ibnu Qoyyim

Redaksi – Minggu, 26 Januari 2014 07:38 WIB

Pernahkah kita berfikir mengapa Allah tidak menciptakan hanya satu musim saja? Pernahkah kita menyadari bagaimana jika Allah dengan kuasaNya menahan suatu musim menjadi lebih panjang?

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَونَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِّن الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-A’raaf : 130)

Salah seorang ulama yang pernah membahas fungsi dari pergantian empat musim adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziah. Mari kita simak pernyatan Ibnu Qoyyim berikut ini agar dapat menjadi bahan perenungan bagi kita bahwa betapa besar kekuasaan Allah Ta’ala:

Perhatikanlah keadaan matahari saat terbit dan tenggelam, sehingga mengakibatkan terjadinya perputaran waktu dan musim, yang di dalamnya terdapat berbagai maslahat dan hikmah-hikmah.

Andaikan seluruh waktu hanya diisi dengan satu musim saja, niscaya tidak akan terjadi kelebihan yang dipunyai musim-musim lainnya. Seandainya hanya ada musim panas, tentunya keindahan dan kelebihan musim dingin tidak akan terjadi. Apabila hanya ada musim dingin, niscaya keutamaan musim panas tidak terasakan. Demikian pula apabila hanya ada musim gugur atau musim semi saja.

Pada musim dingin, hawa panas terpendam dalam gua-gua, perut bumi dan gunung, hingga menyebabkan tumbuhnya biji-bijian dan lainnya, sementara di luar dalam keadaan dingin. Udara menjadi terbuka hingga terbentuklah awan, hujan, salju dan embun, yang merupakan faktor kehidupan dunia dan penghuninya. Tubuh hewan-hewan menjadi kokoh dan kuat, alam bertambah tegar, dan panas yang menimpa tubuh selama musim panas diganti dengan hawa dingin.

Pada musim semi, kehidupan mulai menggeliat. Biji-bijian yang merekah pada musim dingin mulai bersemi dan tampak sebagai tumbuhan. Pepohonan mulai dihiasi dengan bunga-bunga sementara hewan-hewan mulai membuahkan keturunannya.

Pada musim panas, udara memuai dan terasa sangat panas, buah-buahan menjadi rusak. Otot tubuh yang selam musim dingin menggumpal kini mulai mekar. Hawa dingin terpendam dalam lorong-lorong. Karenanya kita rasakan mata air dan sumur terasa dingin.

Pada musim panas, lambung tidak bisa mencerna makanan keras (ghaliz) yang biasa dimakan pada musim dingin, karena pada musim dingin pencernaan dibantu oleh panas yang terpendam dalam tubuh. Apabila musim panas tiba, panas dalam tubuh keluar dan digantikan oleh hawa dingin.

Selanjutnya, apabila musim gugur tiba, keadaan mulai berubah. Udara mulai berubah menjadi dingin. Suasana panas sedikit demi sedikit mulai hilang, dan Allah telah menjadikannya sesuai dengan hikmah-Nya sebagai fase pemisah antara musim panas dan dingin, sehingga hewan-hewan tidak mati karena perubahan cuaca secara mendadak dari udara panas kepada udara dingin sekali, yang tentunya sangat menyakitkannya dan besar bahaya baginya.

Namun apabila berubah dengan sedikit demi sedikit dan teratur, maka perubahan kondisi tersebut tidak akan meyulitkan bagi hewan-hewan.

Pada fase perubahan itu anggota tubuh hewan bersiap-siap untuk menghadapi yang lebih dingin pada fase berikutnya, hingga sampai pada fase hawa yang terdingin, hewan-hewan telah bersiap menghadapinya. Sungguh ini merupakan hikmah yang luar biasa dan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang nyata.

Demikian pula musim semi, merupakan fase peralihan dari musim dingin kepada musim panas, hewan-hewan mulai bersiap dari musim dingin menuju musim panas dengan teratur. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam dan sebaik-baik pencipta. (joko/ tabloid bekam)

Sumber: Ibnu Qoyyim Berbicara Tentang Manusia dan Semesta

Bahasan ini terkait dengan pengaturan musim yang terdapat di edisi 16 (Menjinakkan Kolesterol Tanpa Dikontrol).

Bagi Yang memeiliki edisi ini, kunjungi advertorial kami di situs ini.

Thibbun Nabawi Terbaru

blog comments powered by Disqus