Mendidik Anak yang Hyperaktif

Hasyim Asari – Sabtu, 15 Rabiul Akhir 1430 H / 11 April 2009 10:32 WIB

Anak saya sangat hyperaktif sekali sehingga seringkali saya secara spontan memarahinya, memukulnya karena anak saya ini seringkali jahil sama adiknya, menggoda adiknya, seringkali loncat-loncat, jatuh-jatuhan padahal dia tidak jatuh, disuruh diam tidak mau diam, bila sekolah di kelas sering ngomong sendiri, kadang gemas sama temannya sampai-sampai tangan temannya mau digigit, kalau dipanggil pura-pura tidak mendengarkan dll, mohon solusi dari bapak, mohon maaf dan terima kasih.

Wa’alaikum salam.

Ibu Ari yang saya hormati, secara kasat mata anak aktif dan hiperaktif memiliki kesamaan perilaku, padahal kalau ditilik lebih lanjut ada perbedaannya, Namun ada baiknya sebelum itu coba ibu perhatikan apakah anak bapak adalah anak hiperaktif atau anak yang aktif.?

Secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Ada juga penyebab lainnya, yakni: temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak serta epilepsi. Bisa juga kondisi gangguan di kepala, seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.

Sedangkan anak yang hanya sekadar aktif, pada otaknya tidak terdapat gangguan. Hanya saja energi yang terkumpul berlimpah dan si kecil berkeinginan untuk selalu bergerak sehingga ia mempunyai mobilitas yang cukup tinggi dibandingkan anak lain.

Diagnosa pasti apakah seorang anak termasuk hiperaktif atau tidak, harus melalui pemeriksaan ahli seperti dokter atau psikolog. Namun, orang tua bisa melakukan prediksi melalui observasi sendiri.

Ciri-ciri gangguan hiperaktivitas baru terdeteksi jelas saat anak berusia empat tahun atau di usia-usia awal sekolah. Namun, tak masalah bila orang tua sudah melakukan observasi sejak usia batita.

Jika Ibu memiliki kecurigaan si kecil mengalami gangguan hiperaktivitas, ada baiknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Sebaiknya amati terus perkembangannya dan bandingkan dengan anak sebayanya. Di samping itu sangat baik bila kita berkonsultasi pada psikolog anak karena kalau dibiarkan, anak dengan gangguan hiperaktivitas bisa tumbuh menjadi pribadi yang cepat bosan, jenuh, pencemas, tidak pernah menyelesaikan tugas, antisosial, dan sebagainya.

Saya memaklumi akan kerisauan ibu menghadapi perilaku anak ibu, namun ada baiknya ibu berpikir positif bahwa itulah hanya perilaku naka-anak yang memang sangat gemar bermain-main. dengan berpikir positif, hidup Anda tidak akan mudah terkena stres dan dapat lebih sabar untuk menanganinya.

Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)

Mentor Kehidupan

Konsultasi Motivasi Terbaru

blog comments powered by Disqus