Dapur, Masa Depan Wanita

Robbi – Senin, 1 Rabiul Awwal 1431 H / 15 Februari 2010 11:12 WIB

Assalamualaikum,

Saya mau tanya tentang posisi wanita dalam Islam. Seprtinya tidak enak jadi wanita sudah susah payah belajar sampai smu bahkan hingga kuliah, tapi ujung-ujungnya kembali ke dapur. Tolong penjelasannya, trima kasih.

Wassalammualaikum.

Wa’alaikum salam wr. wb.

Saudaraku yang dicintai Allah swt, posisi wanita dalam Islam adalah sangat mulia. Allah menempatkan wanita sebagai ibunya generasi (ummu jail) yang berperan untuk mencetak pribadi-pribadi tangguh di setiap generasi. Di telapak kaki wanita (ibu) terletak surga, sehingga sulit bagi setiap orang untuk masuk surga tanpa ridho ibunya. Ibunya menempati posisi tiga kali lebih penting daripada bapaknya. Beruntunglah para wanita (Islam) karena begitu dimuliakan oleh Allah swt.

Sebelum Islam datang, wanita menempati posisi yang rendah. Menjadi budak bagi kaum lelaki dan tidak menempati posisi istimewa dalam struktur masyarakat. Islam datang untuk melindungi kaum wanita dan menempatkannnya sejajar dengan kaum pria. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. 9 : 71).

Namun sayangnya, akibat ghozwul fikri (propaganda) dari musuh-musuh Islam seringkali Islam dicitrakan sebagai agama yang merendahkan kaum wanita. Sebaliknya, ideologi liberalism (demokrasi) dipandang sebagai ideologi yang mengangkat derajat kaum wanita. Padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya. Justru saat ini ketika ideologi liberalisme berkuasa, maka wanita kembali direndahkan. Banyak wanita saat ini keluar dari fitrahnya sebagai ummu jail (ibunya generasi) karena tidak lagi memprioritaskan diri sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Mereka sibuk bekerja dan bergaul di luar rumah, lalu mengabaikan pendidikan anak karena diserahkan kepada pembantu atau kakek/neneknya. Ideologi liberalisme juga mengajarkan wanita untuk membuka aurat dan memamndang jilbab sebagai pakaian kolot yang mengekang kebebasan wanita. Padahal dengan wanita pamer aurat maka laki-laki akan memandang wanita sekedar seonggok daging yang berjalan. Laki-laki mengutamakan wanita dari bentuk fisiknya (outer beauty) bukan dari sisi kepribadiannya (inner beauty). Lalu wanita terobsesi untuk tampil cantik dan seksi di mata pria, sampai-sampai mereka rela menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk tampil memukau di hadapan pria (publik). Bayangkan jika waktu, tenaga, dan biaya yang mereka keluarkan untuk kecantikan dialihkan untuk amal sholih dan infaq pasti sangat besar pahala yang didapatkan oleh para wanita. Wajarlah jika Rasulullah saw pernah menyindir para wanita sebagai calon penghuni neraka terbanyak karena kurang ibadahnya dan keluar dari fitrah penciptaannya.

Oleh karena itu, jika Anda para wanita (termasuk saudara penanya) ingin menjadi wanita yang terhormat, maka terapkanlah ajaran Islam di dalam diri Anda. Islam tidak pernah memandang rendah pekerjaan di dalam rumah (dapur). Justru itulah pekerjaan mulia yang pahalanya mengalir dengan deras. Wanita menurut Islam juga tidak dilarang keluar rumah (untuk bekerja) selama tidak menelantarkan pekerjaan utamanya sebagai ummu jail. Tugas bekerja dalam rangka mencari nafkah sebenarnya bukan tugas utama wanita, tapi tugas lelaki. Kaum lelaki itu menjadi pemimpin bagi kaum wanita karena nafkahnya. Oleh karena itu laki-laki sejati adalah lelaki yang bersedia dan mampu memberikan nafkah untuk isteri dan anak-anaknya. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. 4 : 34).

Jadi saudaraku, janganlah Anda memandang rendah pekerjaan di dapur (di dalam rumah). Itulah semulia-mulianya pekerjaan bagi wanita, yang pahalanya mengalir dengan deras dan merupakan tiket utama untuk masuk ke dalam surga Allah. Propaganda dari musuh-musuh Islam yang membuat citra wanita (ibu rumah tangga) menjadi rendah. Pendidikan yang tinggi bagi wanita juga tidak akan mubazir jika ia menjadi ibu rumah tangga karena ia bisa menerapkannya kepada anak-anaknya atau bisa bekerja dari rumah (home office). Akan tetapi jika ia memilih bekerja di luar rumah juga tidak mengapa selama tidak mengabaikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga kita selalu memiliki pandangan yang jernih tentang Islam dan hubungannya dengan kehidupan di masa kini.

Salam Berkah !

(Satria Hadi Lubis)

Konsultasi Motivasi Terbaru

blog comments powered by Disqus