Teori Konspirasi dan Intelijen

Holiq – Sabtu, 1 Ramadhan 1430 H / 22 Agustus 2009 08:10 WIB

Assalamu’alaikum…..

Bung Rizky yg selalu dirahmati Allah swt….

Sy belum paham benar teori konspirasi ? dan seluk beluk dunia intelijen? penjelasannya detailnya…?

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarahatuh,

Saudara Holiq yang juga selalu dirahmati Allah Swt, jika Saudara mengaku belum paham benar teori konspirasi dan juga tidak paham juga dunia intelijen, maka jawaban saya sama. Saya juga tidak paham sekali dengan teori konspirasi dan juga dunia intelijen. Mungkin pemahaman tentang kedua hal itu Saudara lebih baik ketimbang saya.

Saya yakin, tidak ada orang di dunia ini yang sungguh-sungguh faqih tentang kedua hal itu, karena ada kalimat jika “Konspirasi yang baik adalah yang tidak ketahuan”. Konspirasi adalah sesuatu yang bisa kita rasakan, namun untuk membuktikannya teramat sulit. Nah, jika ada konspirasi yang “ketahuan” atau bisa ditelusuri, maka itu pastilah konspirasi yang tidak baik dan tidak sempurna.

Salah satu kasus konspirasi yang sangat buruk yang masih diingat kuat oleh jutaan orang di dunia adalah kasus rubuhnya menara kembar WTC di New York, 11 September 2001. Apa yang dikatakan Bush Cabal ke seluruh dunia, sebagai legitimasi invasi AS ke Afghanistan dan Irak dan juga merekonstruksi ulang pengaruhnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bahwa Usamah bin Laden dengan Al-Qaidahnya yang mendalangi serangan pesawat itu sungguh-sungguh menggelikan karena terdapat ribuan bukti ilmiah—sekali lagi, ribuan bukti ilmiah—yang membantah hal tersebut. Seluruh bukti-bukti ilmiah menunjukkan jika tragedi WTC atau 9-11 tersebut adalah pekerjaan orang dalam (Inside Job).

Namun ada pula konspirasi yang awalnya ditutup-tutupi dengan rapat namun setelah berjalan sekian puluh tahun dibuka selubungnya oleh si pelaku konspirasi tersebut, sehingga peristiwa yang sebenarnya bisa diketahui umum. Dinas inteligen Amerika Serikat, CIA, merupakan salah satu lembaga negara yang memiliki prosedur standar seperti itu.

Salah satu peristiwa konspiratif yang akhirnya dibuka sendiri faktanya oleh CIA adalah peristiwa di negeri ini sejak tahun 1950-an sampai mencapai klimaksnya di tahun 1965-1966. Dalam berbagai dokumen yang telah dibukukan dan dijual bebas, walau sempat ditarik kembali peredarannya, CIA mengaku telah beberapa kali mencoba membunuh Presiden Soekarno, disebabkan orang ini tidak mau tunduk dan tidak mau melayani kepentingan AS. Namun usaha ini selalu gagal.

Akhirnya tahun 1956, CIA merekrut sejumlah elit Indonesia untuk dididik di AS yang kemudian dikenal sebagai Mafia Berkeley secara diam-diam, juga merekrut sekelompok perwira Angkatan Darat untuk dijadikan Our Local Army-Friend. Lewat silent-operation, Soekarno akhirnya berhasil dikudeta di tahun 1965 dan naiklah Jenderal Harto sebagai penggantinya. Berbeda sekali dengan Soekarno, Harto ini membuka pintu lebar-lebar, bahkan sampai merubuhkan semua penghalang, agar Imperialisme AS bisa masuk dan memperkosa seluruh kekayaan alam negeri ini. Indonesia kembali dijajah secara de-jure dan de-facto sejak Nopember 1967 sampai detik ini. Sebab itu, saya tegaskan jika kemerdekaan kita sekarang ini sebatas mengibarkan bendera dan lomba makan kerupuk saja, selebihnya semua bidang masih dijajah asing.

Dunia intelijen dengan teori konspirasi bagai dua sisi berbeda dalam sekeping mata uang yang sama. Berbagai operasi yang dikerjakan atau digarap kalangan intelijen—apakah itu intel asing atau intel lokal—bukanlah konsumsi publik. Hanya user atau segelintir orang yang tahu operasi tersebut. Senjata utama intelijen untuk merahasiakan operasinya adalah apa yang dinamakan The Mind Control. Kontrol terhadap opini publik. Sebab itu, intelijen selalu punya kekuasaan atas kantor berita atau media massa besar, baik cetak maupun elektronik. Penyesatan dan dusta merupakan hal yang sangat lumrah bagi kalangan intelijen untuk keberhasilan misi mereka.

Salah satu yang mencurigakan saya, dan juga banyak orang Indonesia, adalah operasi penumpasan teroris Malaysia, “Pak Ci” Noordin Moh Top dan jaringannya. Saya yakin Noordin dan kelompoknya yang suka ngebom di Indonesia itu memang teroris, bukan mujahid (kalau ngebom tentara Zionis di Palestina, Irak, atau Afghanistan, itu baru mujahid). Namun operasi penyergapan yang dipertunjukkan pasukan elit kepolisian Densus-88 di Temanggung sebulan lalu sungguh-sungguh menggelikan. Saya yakin ada skenario tertentu di balik itu.

Saya dan banyak orang tahu, Densus 88 merupakan kesatuan elit Polri yang dibina mantan CIA, NSA, dan Secret Service, dilengkapi dengan berbagai persenjataan canggih, dan anggotanya diambil dari orang-orang terbaik Polri, dari fisik, kecerdasan intelektuil, juga dalam segi kejiwaan. Tiap personel Densus 88 telah melewat pelatihan yang berat dan lama, menghabiskan 30.000 butir peluru dan lulus berbagai tes dalam berbagai bidang.

Namun operasi penyergapan di Temanggung sebulan lalu yang sampai mengerahkan 400-600an anggota Densus 88, memuntahkan puluhan ribu butir peluru, meledakkan delapan bom kejut, dan mengepung sebuah rumah kecil dan sederhana selama 18 jam, yang disiarkan secara live berbagai stasiun teve, sungguh-sungguh tidak memperlihatkan kualitas sebenarnya dari unit elit Densus 88. Padahal sasaran bersembunyi di Soft-target yang tidak banyak resiko seperti halnya jika dia bersembunyi di tengah pemukiman padat. Sandera pun tidak ada.

Seorang teman saya, pensiunan salah satu kesatuan elit TNI, mengatakan, “Satpol PP saja jika dilatih mengunakan senjata api bisa melakukan hal yang sama seperti yang terjadi di Temanggung, keroyokan seperti itu jelas bukan operasi kesatuan elit.”

Dalam pikiran saya, seharusnya Densus 88 bisa menangkap hidup-hidup orang yang disangka Nordin Moh Top. Jika alasan yang dikemukakan bahwa Noordin sudah melengkapi dirinya dengan rompi bom bunuh diri, maka itu sebenarnya bukan halangan. Bukan sesuatu yang sulit untuk memasukkan sepuluh saja tabung gas airmata ke dalam rumah sekecil itu, lewat jendela, genteng yang jebol, atau lubang angin. Jika itu dilakukan, saya jamin, pasti orang yang ada di dalam rumah akan tidak betah lama-lama di dalam rumah. Polisi bisa meringkusnya dalam keadaan hidup-hidup dan bisa mengorek banyak keterangan dari si teroris agar bisa memberangus seluruh jaringan teroris Pak Cik Noordin.

Atau kerahkan saja sniper Densus 88 yang sudah dilengkapi Armalite AR-10T dengan teropong Bushnell, seperti yang dimiliki sniper Gegana Polri, dengan dengan peluru bius .308/7,62 mm sudah bisa melumpuhkan target dengan mudah. Ada banyak celah di rumah itu yang bisa dibidik oleh seorang sniper berpengalaman yang tentunya dimiliki Densus 88. Atau jika target bersembunyi terus di sudut rumah misalkan, target bisa digiring ke suatu tempat dengan tembakan-tembakan pendukung. Seorang sniper hanya perlu melihat korban sekilas dan menembak dengan cepat dan tepat ke titik-titik tertentu.

Namun sayang seribu sayang, semua ini tidak dilakukan Densus 88 sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, dan juga kecurigaan. Hal ini dua dugaan. Pertama, dugaan jika sebenarnya polisi punya kepentingan lain dalam penyergapan yang dilakukan di Temanggung itu. Entah apa kepentingan itu. Dan yang kedua, jika benar apa yang dikatakan polisi bahwa penyerangan di Temangung itu sudah sesuai dengan SOP Densus 88, maka hal ini bisa-bisa menjadi bahan tertawaan pasukan khusus TNI. Dalam membebaskan ratusan sandera dalam pembajak pesawat Woyla saja misalnya, dimana para pembajak juga membekali diri dengan senjata api dan bom, Kopassus hanya perlu mengerahkan 20-an prajuritnya dan berhasil menuntaskan misi dalam hitungan menit, bukan 18 jam seperti yang dilakukan polisi. Lalu dalam pembebasan sandera Kely Kwalik di Mapenduma, Irian, Kopassus hanya perlu menerjunkan satu tim kecil yang langsung dipimpin Prabowo. Prestasi spektakuler ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan yang terjadi di Temanggung.

Saya yakin, di balik penyerangan penuh teka-teki yang terjadi di Temanggung itu nantinya akan terbuka juga kebenarannya. Saya yakin, Densus 88 memiliki kualifikasi yang jauh lebih tinggi ketimbang apa yang mereka lakukan di Temanggung itu.

Terkait dengan Teori Konspirasi, paradgma yang dibangun pemerintah kita selama ini terhadap kelompok teroris “Pak Cik” Noordin Moh Top adalah salah. Seharusnya SBY menegaskan jika bangsa ini sebenarnya sedang diserang teroris Malaysia. Indonesia Under Attack!!!

Dengan paradigma seperti itu, seluruh komponen bangsa ini akan bersatu di belakang pemerintah untuk melawan Teroris Malaysia. Apalagi sekarang Malaysia kembali buat ulah dengan mengklaim Tari Pendet sebagai budayanya. Jangan-jangan nanti Monas pun akan diklaim sebagai bangunan milik Malaysia. A Truly Maling of Asia.

Namun sayang, SBY terlalu takut untuk bersikap seperti itu. Apakah ini terkait kenyataan jika SBY sebenarnya merupakan jenderal dari jalur staff, bukan seorang jenderal dari garis komando atau kombatan? Wallahu’alam. Kita patut sesalkan, enam jam setelah bom meledak, SBY malah curhat dan—maaf—terkesan cengeng dengan menunjukkan foto wajahnya yang bolong di pipi kanannya ditembak teroris.

Padahal, Bung Karno saja yang pernah ditembaki dengan pesawat terbang (Maukar), pernah beberapa kali digranat sehingga sejumlah pengawalnya terbunuh, tidak pernah curhat dan cengeng seperti itu. Indonesia memerlukan pemimpin yang tegar dan kuat, bukan seorang pemimpin melankolis yang di saat rakyatnya kelaparan malah meluncurkan album nyanyian.

Mungkin ini dulu tanggapan dari saya. Percayalah, tidak ada seorang pun yang mumpuni untuk sanggup menerangkan apa itu dunia intelijen dan apa itu teori konspirasi. Wallahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Di Balik Konspirasi Terbaru

blog comments powered by Disqus