Apakah Imunisasi Termasuk Agenda barat?

Bebens – Senin, 8 Rabiul Akhir 1432 H / 14 Maret 2011 12:16 WIB

Assalamu’alaykum bung.

Bung. benarkah imunisasi termasuk agenda barat. bisa anada jelaskan hal tersebut? Seberapa bahayakah agenda itu.

Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Saudara Hamba Allah yang dicintai oleh Allah.

Dari definisi umum, imunisasi selama ini dikenal sebagai suatu tindakan memberikan kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin sehingga bila kelak dia terpapar hanya akan sakit ringan. Vaksin adalah bibit penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Maka imunisasi juga dikenal dengan sebutan vaksinasi.

Pertanyaannya kemudian adalah betulkah defiinisi vaksinasi atau imunisasi selama ini seperti yang sudah diceritakan bahwa ia mampu memberikan kekebalan terhadap tubuh? Atau mungkin imunisasi hanya mitos dari Barat untuk menyehatkan masyarakat dunia?

Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Vaksinasi, pernah mengatakan bahwa vaksin atau imunisasi bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.

Dalam kasus pholio misalnya, Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962, mendelegasikan bahwa kasus polio menjadi meningkat secara cepat sejak program vaksin dijalankan. Terjadi peningkatan sebesar 50% pada tahun 1957-1958 dan peningkatan menjadi 80% pada tahun selanjutnya.

Baru-baru ini, bahkan ada sebuah buku bagus yang ditulis oleh Ummu Salamah SH. Buku tersebut berjudul Imunisasi Dampak Konspirasi dan Solusi Sehat ala Rasulullah SAW. Buku ini disusun oleh sang penulis dalam rangka membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi mengenai dampak imunisasi serta konspirasi apa saja yang terjadi.

Selanjutnya, karya keluaran tahun 2009 ini bercerita tentang kasus vaksin menengitis yang mengakibatkan kecelakaan fatal yang menimpa penulis sendiri. Ia mengalami kelumpuhan seteah divaksin mengitis pada tahun 2007.

Menariknya, Ummu Salamah tidak sendiri, salah seorang ibu ternyata juga mengalami hal serupa. Ibu Suistina, nama korban itu, mengalami kelumpuhan pada tubuh bagian sebelah kanan juga setelah divaksin menengitis. Ibu Suistinah tidak bisa bicara normal (pelo) jadi linglung. Dalam kesehariannya, ia bisa berjalan perlahan-perlahan dan mesti dibantu kursi roda. Ternyata dari hasil penelusuran ada data yang lebih mencengangkan lagi, di Inggris, dari 16.000 penerima vaksin menengitis, 12 diantaranya langsung meninggal. Naudzubillah min dzalik.

Berkaca dari serentetan kasus tersebut, Ummu Salamah bersama seorang dokter lantas mengecek dan mengklarifikasi kasus ini terhadap pihak terkait. Kecurigaan mengemuka ketika mereka mendapat sebuah kalimat mencurigakan di vaksin menengitis tersebut, yang tertulis "5.3. PRECLINICAL SAFETY DATA, NOT APPLICABLE”.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang dimaksud dari kalimat yang kemudian menimbulkan kegoncangan besar tersebut? Sebuah jawaban mengejutkan justru datang dari hasil penelusuran dan investigasi yang menyatakan bahwa vaksinasi tersebut adalah seuah metode pencegahan penyakit yang masih berada pda fase trial dan error. Bahkan para peneliti vaksin tersebut masih hati-hati menerapkannya pada binatang sekalipun. Nah, jikalau vaksin meningitis masih dalam taraf ujicoba, kenapa kemudian dipaksakan untuk dilakukan bagi calon jamaah haji?

Dengan begini kita akan menyambung pada pertanyaan anda selanjutnya tentang apakah imunisasi sendiri berasal dari Barat? Saya ingin menambahkan bahkan kegiatan penciptaan imunisasi yang disokong oleh WHO, berasal dari Rockefeller, sebuah dinasti luhur dalam tradisi Zionisme. Hal ini diperkuat oleh Dr. Leonard Horowitz yang menyatakan:

The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).

Rockefeller memang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Ia mencakup berbagai lini bisnis apa saja yang bisa dimanfaatkan oleh Yahudi. System ini kemudian yang disebut oleh Ahmad Thompson dalam bukunya Sistem Dajjal (Dajjal The Antichrist dalam edisi aselinya) sebagai sebuah system yang tak lebih menerapkan kebijakan produsen konsumen dimana sebuah praktek kesehatan sebagai ajang untuk mengeruk keungtungan.

Makanya itu kemudian program imunisasi menjadi bagian dan agenda penting WHO dari tahun ke tahun. Penyelenggaraan program imunisasi mengacu pada kesepakatan-kesepakatan internasional untuk pencegahan dan pemberantasan penyakit.

Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas sesuai dengan anjuran WHO sebagai upaya global dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang konon dapat dicegah dengan imunisasi yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2003, penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia telah mengacu kepada kesepakatan The Millennium Development Goals (MDGs), sebuah hasil Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000.

Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mudah percaya atas program-program yang diancang-ancang oleh WHO dan telah terbukti tidak mampu menyehatkan masyrakat, dan justru membuat sakit. Wallahua’lam.

Di Balik Konspirasi Terbaru

blog comments powered by Disqus