Dana Revolusi

Willy GP – Minggu, 12 Juli 2009 09:33 WIB

Assalamu’alaikum,

Bung Rizky yg dimuliakan Allah SWT

Saya ingin menanyakan apa sebenarnya dana revolusi itu? Ada yang bilang itu adalah emas-emas kerajaan-kerajaan terdahulu yang "dipinjam" (dirampok) oleh para Imperialis/Kolonialis dengan jaminan semacam surat hutang/surat berharga. Dan katanya jika saat ini "surat hutang" itu dicairkan bersama-sama akan membuat USA dan kroni-kroninya bangkrut. Benarkah demikian?

Saya teringat dengan buku anda yang berjudul  Knights Templar Knights of Christ. Disitu dikupas mengenai perampokan emas besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat kepada rakyatnya sendiri pada masa The Great Depression. Apakah metode yang sama diterapkan dalam dana revolusi?

Saya sangat mengharapkan jawaban dari Bung Rizky

Terima kasih

Wassalamu’alaikum

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Bung Willy GP yang dirahmati Allah Swt, salah satu kontroversi paling hot dan juga paling misterius di republik ini memang soal Dana Revolusi. Banyak yang percaya jika dana itu sungguh-sungguh ada, namun banyak pula yang tidak percaya dan menganggap hal tersebut merupakan semacam ‘penyakit jiwa sosial’ yang ingin melihat bangsa Indonesia cepat makmur dan sejahtera dengan konsep ‘Ratu Adil’.

Saya disini tentu tidak akan memaparkan apa saja kontroversi soal dana revolusi tersebut yang memang ceritanya sangat panjang, berliku, dimana jalinan fakta dengan mitos berkelindan dengan cukup rumit sehingga sulit untuk menilai mana kebenaran dan mana yang isapan jempol.

Hanya saja, di sini saya ingin pastikan jika memang banyak harta karun, berupa banyak perhiasan emas permata milik para raja Nusantara yang menghiasi mahkota kerajaan dan benda pusaka misalnya, yang diboyong ke Belanda dan negara Eropa lainnya seperti Portugis, Spanyol, dan sebagainya. Belum lagi kitab-kitab kuno yang jumlahnya sangat banyak dan bernilai sangat tinggi, yang dicuri dari istana-istana kerajaan Nusantara dan disimpan di perpustakaan Belanda, di Perpustakaan Leiden misalnya. Belum lagi batangan-batangan emas yang saya sangat yakin juga diboyong ke Eropa. Ini emas dalam bentuk yang sebenarnya, belum lagi segala kekayaan alam Nusantara yang dirampok habis-habisan oleh para penjajah.

Soal Dana Revolusi, saya pernah mendengar langsung dari salah seorang karib Soebandrio di tahun 1980-an jika hal itu memang benar ada, jumlahnya sangat besar, tersimpan di berbagai bank Eropa (juga Jepang), dan salah satu syarat untuk bisa cair adalah dengan tanda tangan Soebandrio sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia.

Nah, disinilah repotnya. Sejak tragedi 1965, Soebandrio yang salah satu tokoh PKI dipenjarakan oleh rezim Jenderal Soeharto. Otomatis, segala jabatan dan pengaruhnya juga dilucuti. Rezim Soeharto bukan tidak tergiur oleh Dana Revolusi tersebut. Mereka berusaha keras agar bisa mencairkannya, namun berkali-kali gagal menembus sistem perbankan Swiss dan yang lainnya yang memang sangat zakelijk. Sangat Saklek, kata orang Jawa. Dalam perjanjian dengan pemerintah Soekarno disebutkan jika salah satu syarat pencairan dana tersebut adalah tanda tangan Soebandrio sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia, ini satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Nah jika Soebandrio tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri RI maka dana tersebut tidak akan bisa cair. Soeharto tentu serba salah.

Hal ini bukan isapan jempol, karena pada tangal 27 April 1982, Soebandrio pernah ditugaskan untuk menghubugi Union Bank of Switzerland, Bank Swiss, guna mengusahakan pencairan Dana Revolusi. Tapi jawaban yang disampaikan Bank Swiss ini sungguh mengecewakan rezim penguasa. Jawabannya adalah: Kuasa terhadap Soebandrio sudah dihapus secara otomatis sejak tahun 1966. Ini berarti Soebandrio memang pernah punya kuasa atas rekening di bank tersebut, Dana Revolusi itu benar ada, namun sudah lagi tidak bisa dicairkan karena Soebandrio statusnya sudah bukan lagi Perdana Menteri RI.

Saya tidak tahu pasti berapa jumlah nominal Dana Revolusi. Namun yang pasti memang amatlah besar. Yang tersimpan di Bank Jepang dikabarkan sudah habis dipakai Kedutaan RI di Tokyo.

Saya memandang jika Dana Revolusi sudah sangat sulit untuk ditracking. Bisa jadi dana itu sudah cair dan digelapkan oleh elit penguasa sejak zaman Seharto, namun bisa jadi pula dana itu masih tersimpan aman dan dalam status-quo. Wallahu’alam bishawab. Yang harus rakyat ini perjuangkan sebenarnya adalah MENGHENTIKAN perampokan besar-besaran negara-negara asing terhadap seluruh kekayaan alam Indonesia di mana detik ini masih berlangsung dengan sangat buas. Gunung emas di Freeport sekarang sudah hilang menjadi lembah yang dalam, namun masih banyak mengandung emas. Ini cuma satu dari ribuan kekayaan alam negeri ini yang harus diselamatkan, belum lagi sektor Migas, tambang lainnya, kekayaan di perairan, udara, dan sebagainya. Semua ini, penjajahan ekonomi Indonesia oleh asing ini, diawali oleh Jenderal Soeharto dengan Tim Mafia Berkeley-nya dalam pertemuan di Swiss, Nopember 1967. Penjajahan atau perampokan besar-besaran segenap kekayaan alam Indonesia yang dilakukan oleh asing (Amerika dan sekutu imperialis lainnya) ini sampai detik ini masih berlangsung dan secara ironis dilindungi oleh pengkhianat-pengkhianat bangsa ini yang tergabung dalam penerus Mafia Berkeley, sekarang disebut sebagai Kaum NeoLib atau Libertarian.

Sayang sungguh sayang, orang-orang NeoLib dan para Libertarian ini menang dalam Pilpres 2009 kemarin. Banyak rakyat Indonesia yang tertipu oleh bujuk manis kelompok ini sehingga tertipu mentah-mentah, bahkan banyak pula yang sebenarnya tertipu namun merasa bersyukur. Inilah bangsa kita, walau ditipu dan ditindas, namun masih saja bersyukur dan melanjutkan kondisi yang seharusnya didobrak ini. Dengan segala kerendahan hati agaknya kita harus mengakui jika masih teramat banyak rakyat kita, saudara-saudara kita, yang bodoh dan jahiliyah, walau mungkin mereka menyandang gelar kesarjanaan, bahkan doktor sekali pun.

Perjuangan membebaskan negeri ini dari penjajahan, menghentikan penghisapan dan perampokan besar-besaran kekayaan alam negeri ini yang dilakukan asing dibantu oleh para kompradornya (baik para komprador yang sekuler maupun yang berlindung di balik dalih dakwah), harus terus dilakukan. Jika Bung Tomo dahulu berteriak: “Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung!”; pemimpin gerilyawan pembebasan Kuba, Che Guevara mengatakan, “Hasta La Victoria Siempre!”, dan jutaan syuhada kita dahulu mengumandangkan sikap “Mati Syahid atau Menang!” maka jalan itulah yang harus kita tempuh sekarang.

Dengan kemenangan kaum NeoLib sekarang, perjuangan membebaskan negeri ini dari penjajahan memang terasa akan agak berat. Namun Allah Swt akan senantiasa berada di sisi pejuang kebenaran, sebab itu kita harus yakin jika kemenangan besar akan berada di pihak kita. Amien Ya Rabb al’amien.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaakatuh.                   

Di Balik Konspirasi Terbaru

blog comments powered by Disqus