Apa di Zaman Majapahit Komunitas Islam Sudah Ada Di Nusantara?

Redaksi – Kamis, 17 Ramadhan 1434 H / 25 Juli 2013 13:33 WIB

majapahitSaya mau tanya nih apa bener islam sudah berkembang di nusantara sejak zaman Rasulullah berarti pada zaman majapahit sudah ada komunitas muslim dong, karena menurut kakek saya dia orang asli tuban, bahwa pada waktu pemberontakan (ansich) ronggolawe didalam laskarnya ada kira-kira 10 orang muslim asli tuban yang terbantai oleh prajurit majapahit disungai bersama ronggolawe walupun ronggolawe itu orang hindu, mengingat tuban adalah bandar internasional waktu itu jadi gak menutup kemungkinan dijajaran prajurit majapahit juga ada yang muslimkah? kakek saya cerita dulu ada lembar lontarnya tapi rusak pada waktu ada penjarahan jepang di desanya mohon penjelasanya pak, terima kasih sebelumnya. Jazakallah

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 M yang berarti saat Rasulullah SAW masih hidup di Jazirah Arab. Buktinya adalah sebuah kota kecil di pesisir Barat Sumatera Utara, Barat daya Medan, bernama Barus. Sampai sekarang, sejarah mencatat jika Barus adalah kota tertua di Nusantara. Barus adalah kota internasional yang sejak zaman sebelum masehi, sebelum Nabi Isa a.s. lahir, diketahui telah mengekspor kapur wangi (kapur Barus) ke Mesir untuk digunakan sebagai bahan pembalseman mumi para raja dan pangeran Mesir (Firaun).

Sedangkan Majapahit baru berdiri di akhir abad ke-13 M, dengan meruntuhkan Kerajaan Singosari, yang berarti enam abad setelah Islam menyinari Nusantara.

Walau Islam telah menyinari Barus diabad ke-7 M, namun catatan Islam tertua di Tanah Jawa sampai hari ini masih merujuk pada batu nisan Fatimah Binti Maimun yang ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur, pada 1082. Sejumlah petilasan di pusat kerajaan Majapahit, Trowulan, juga telah ditulis dalam bahasa Arab (SQ. Fatini: Islam Comes to Malaysia; Singapore, MSRI, 1963). Ini berarti sebelum Majapahit berdiri di Trowulan, sudah ada penduduk beragama Islam di sana.

Sedangkan menurut catatan indonesianis asal Monash University- Australia, MC. Ricklefs dalam “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” (h.30-31) disebutkan jika batu nisan Trowulan terdapat angka pahatan 1368. ”Batu nisan ini berhias ayat-ayat Qur’an… Batu-batu Jawa Timur itu mengesankan bahwa beberapa elit Jawa telah memeluk Islam pada saat kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Budha itu sedang jaya-jayanya.” Ricklefs juga menulis, “…sudah ada bangsawan-bangsawan yang beragama Islam di istana Majapahit pada abad XIV” (h.37). Kerajaan Majapahit berdiri pada tanggal 10 November 1293 saat Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan nama resmi Prabu Kertarajasa Jayawardhana.

Ronggolawe sendiri adalah orang yang sangat berjasa di dalam berdirinya Majapahit. Namun oleh pembesar Majapahit, akibat fitnah yang dilancarkan Mahapatih Halayudha, Ronggolawe yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan—sebab itu dia menolak pengangkatan Nambi yang dianggapnya tidak lebih berjasa ketimbang beberapa rekannya sebagai salah satu pembesar kerajaan, dianggap sebagai pemberontak dan diperangi.

Tuban sejak sebelum Majapahit berdiri merupakan kota pelabuhan di mana semua pedagang dari berbagai negara dan agama bertemu. Islam telah bersinar di Tuban sejak lama. Sebab itu jika dikatakan adakah orang-orang Islam yang menjadi pengikut Ronggolawe, maka hal itu bukan kemustahilan. Apalagi di masyarakat Tuban telah lama tertanam adanya kisah tentang Brandal Lokajaya yang kemudian menjadi Sunan Kalijaga, salah seorang penyebar Islam di Tanah Jawa.

Dan adakah orang-orang Islam yang menjadi anggota pasukan kerajaan Majapahit? Ini juga bukan kemustahilan mengingat sejarawan Ricklefs berkeyakinan jika sebagian pembesar dan bangsawan Majapahit telah memeluk Islam ketika Majapahit masih berdiri.

Sejarah Islam di negeri ini memang sangat besar dan gemilang. Sayangnya, arus reformasi sepertinya tidak perduli dengan semua ini. Menjadi tugas kita semualah untuk mengungkap dan meluruskan sejarah ini agar anak cucu kita bisa bangga menjadi Muslim Indonesia. Wallahu alam bishawab.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Di Balik Konspirasi Terbaru

blog comments powered by Disqus