Sekufu Dalam Islam

Lusi – Senin, 4 Jumadil Awwal 1428 H / 21 Mei 2007 11:14 WIB

Assalamualaikum wr. Wb

Ibu Anita yang saya hormati, saat ini saya sedang bingung mengenai masalah sekufu dalam pernikahan. Sejauh mana Islam memandang masalah sekufu ini.

Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang usianya terpaut cukup jauh di bawah saya. Dia lelaki yang baik dan Insya Allah soleh. Tapi dari segi pendidikan dan wawasan seringkali terdapat ‘gap’ yang cukup lebar atau yang sering dibilang orang dengan istilah ‘nggak nyambung’.

Saya memiliki latar pendidikan yang cukup tinggi dan akrab dengan hal-hal yang berbau ilmiah dan teknologi tinggi, dan tamatan luar negeri. Sementara yang laki-laki meskipun sarjana, tetapi karena bidang keahlian yang berbeda, seringkali tidak mampu menangkap ide-ide saya.

Saya khawatir ketika menikah nanti hal-hal seperti ini akan menjadi kerikil yang mengganggu keharmonisan rumah tangga. Saya tahu saya juga banyak kekurangan. Tapi bagaimanakah seharusnya saya menyikapi perbedaan ini. Tolong beri saya pencerahan Bu. Terima kasih banyak sebelumnya.

Wassalaamu’alaikum wr, wb.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudari Lis yang dirahmati Allah

Agama Islam memandang masalah kufu’ dalam pernikahan yaitu sebagai kesepadanan, sederajat atau sebanding, yaitu: laki-laki sebanding dengan calon isterinya. Segolongan ulama berpendapat yang menjadi ukuran kufu’ ialah sikap hidup yang lurus atau ketakwaannya, bukan dengan ukuran keturunan, pendidikan, pekerjaan, kekayaan dan lain sebagainya.

Seperti halnya yang tengah anda alami saat ini, latar belakang pendidikan serta wawasan anda dan calon suami terdapat “gap” yang cukup lebar. Dalam artian anda merasa tidak se-kufu’ dengan calon suami. Di mana pendidikan dan kecerdasan anda bisa dikatakan lebih tinggi, karena anda sarjana lulusan luar negeri.

Sedangkan calon suami “hanya” sarjana lokal, yang sering “tidak nyambung” saat berkomunikasi. Ditambah lagi usia anda terpaut cukup jauh diatasnya. Saya memahami bila hal tersebut cukup membuat anda khawatir tentang masa depan anda bila menikah dengannya.

Memang, rasanya kita sering gemas bila lawan bicara kita sering tidak dapat menangkap ide dan gagasan kita alias ‘tidak nyambung’ tadi. Apalagi lawan bicara itu adalah pasangan kita, yang kita harapkan dapat menjadi teman diskusi dan berbagi dalam segala hal, termasuk masalah pekerjaan. Pastilah ada perasaan kurang nyaman karena tidak ‘asyik’ dijadikan teman ‘curhat’.

Apalagi sekarang belum terlalu lazim bila isteri lebih tinggi pendidikannya daripada suami, karenanya kekhawatiran anda mengenai perbedaan ini memang cukup beralasan kok. Kerikil-kerikil akibat perbedaan ini apabila tidak disikapi dengan bijaksana akan membawa rasa frustasi bagi anda, karena menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan anda.

Misalnya saja dampak dari adanya komentar, atau sikap dan pertanyaan sumbang yang akan terlontar. Seperti, “mestinya kamu bisa mendapat yang lebih dong”. Kalau komentar seperti ini sering terdengar, ini dapat jadi sumber frustasi yang mengurangi kebahagian perkawinan.

Ditambah lagi, pendidikan tinggi juga membuka peluang untuk mendapatkan karier yang lebih tinggi serta penghasilan yang lebih besar. Sehingga ada isteri yang kariernya melejit dibandingkan karier sang suami. Ini juga dapat membuat tekanan darah tinggi, cepat marah, dan sebagainya yang dapat menyuburkan stress dan frustasi. Belum lagi bila para teman professional isteri berkunjung dan berbincang-bincang dengan berbagai jagon ilmiahnya yang berbau teknologi tinggi, suami biasanya akan minder dan tersingkir.

Menyikapi perbedaan ini memang memerlukan pemahaman yang mendalam tentang pribadi masing-masing. Diskusikanlah secara terbuka mengenai masalah ini serta berlatihlah untuk bersikap positif. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin akan timbul akibat perbedaan ini. Mengingat disiplin ilmu yang berbeda, sebenarnya justru bisa dijadikan sarana bertukar informasi mengenai wawasan yang masing-masing anda dan pasangan anda miliki.

Pada akhirnya, kebahagiaan hakiki sebuah perkawinan adalah di mana suami bisa dijadikan imam dan qowwam (pengayom) yang baik. Apalagi menurut anda, Insya Allah calon suami adalah laki-laki yang sholeh. Jadi rasanya anda tidak perlu terlalu khawatir akan perbedaan ini.. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjawab kebimbangan anda.

Wallahu’alam bishawab

Wassalamualaikum wr. wb.

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus