Istri Pergi Dari Rumah Tinggalkan Anak Dan Saya

Tjandra Tresnadi – Jumat, 10 Desember 2010 14:06 WIB

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Saya ingin menyampaikan permasalahan yang sedang saya alami. Saat ini rumah tangga saya sedang mengalami masalah, usia pernikahan kami sudah 9 tahun kami dikaruniai seorang anak laki-laki berumur 7,5 tahun.

Dua tahun belakangan ini hubungan saya dan istri saya tidak harmonis hal ini dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, karena saya memiliki penghasilan yang masih kecil dan belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga, saya sangat menyadari betul akan hal itu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, tapi memang belum ada rejekinya. Tapi walaupun demikian saya selalu memberi nafkah kepada keluarga walaupun sedikit. Saya sangat menyayangi istri dan anak saya.

Nah akhir-akhir ini istri sering keluar rumah tanpa seijin dari saya sebagai suaminya, dengan alasan untuk mencari tambahan nafkah, dia suka pergi mengantar teman-temannya belanja dan lain-lain. Saya sudah berusaha mengingatkannya secara baik-baik untuk tidak keluar rumah tanpa seijin saya tapi dia tetap saja pergi. Semenjak itu kami sering bertengkar dengan persoalan yang sama dan setiap kali bertengkar dia selalu minta cerai. Dan sudah sebulan ini istri saya pergi dari rumah meninggalkan saya dan anak saya, dan dia bersikeras untuk cerai dari saya, dengan alasan saya terlalu mengekang, padahal saya sebagai suami hanya ingin dia menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk saya dan anak saya.

Sebelum dia pergi dari rumah, kami bertengkar hebat dan diketahui oleh saudara-saudara istri saya dan ibunya, dia sudah dinasihati oleh saudara-saudaranya dan oleh ibunya, tapi dia tetap merasa tidak bersalah atas sikapnya itu, dia malah membantah, dalam keadaan terpaksa dan emosi saya akhirnya mengeluarkan kata-kata talaq kepada istri saya. Saya sangat menyesal telah mengucapkan kata talaq, karena saya sebenarnya tidak ingin bercerai dengan istri saya, saya sangat mencintai istri saya, saya ingin tetap mempertahankan rumah tangga saya sampai akhir hayat saya.

Pertanyaan saya, bagaimanakah menurut Islam tentang permasalahan rumah tangga saya ini dan apakah kata-kata talak yang saya ucapkan dalam keadaan emosi dan terpaksa tersebut syah menurut Islam? mohon penjelasannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Bapak Tjandra yang dirahmati Allah, sungguh saya turut prihatin dengan kondisi rumah tangga Anda yang sedang diuji Allah. Di balik ujian ini pastilah ada hikmahnya, oleh karena itu jangan lupakan syukur karena segala syukur hanya layak kita haturkan di hadapan Allah yang Maha Pemberi Nikmat tanpa berbatas. Yakinlah, Ia lah yang membagi rezeki untuk hamba-Nya dengan seadil-adilnya dan dengan penuh kasih sayang. Tak mungkin ada hamba-Nya yang terdzolimi dengan keputusan-Nya.

Istri Anda nampaknya juga tengah mendapat ujian keimanan, mestinya apapun yang diusahakan oleh suami dengan susah payah haruslah tetap dihargai. Itu sebabnya pak Tjandra, apapun keadaan anda dan rezeki yang anda terima, seyogyanya anda dan istri tak sedetik untuk tak bersyukur dengan-Nya. Jangan pula pernah mengkufuri nikmat-Nya karena kekufuran itu mendatangkan murka dan bencana.

Problem yang anda sedang hadapi ini, Sesungguhnya adalah ujian yang akan melihat bapak sebagai imam keluarga untuk bijaksana menghadapi perilaku anggota keluarga bapak, terutama istri. Ada baiknya kejadian ini juga dijadikan perenungan karena sebuah problem, sebenarnya tak pernah berasal dari satu pihak saja namun dapat berasal dari interaksi antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Lewat cerita bapak yang terbatas, mungkin saja ada masalah pada pola interaksi dan komunikasi yang bapak bangun. Apakah ketika nafkah yang Bapak berikan tidak mencukupi, bapak menjelaskan hal itu kepada istri bapak dan mengangkat problem itu sebagai problem bersama? Atau bapak hanya pasif dan membiarkan istri mencari sulusi sendiri? Kalau dibicarakan bersama maka istripun akan ikut musyawarah dan mencari solusi agar ketahanan keluarga bapak tak tergoyahkan. Jadi keputusan yang diambil adalah buah kesepakatan bersama dan masing-masing saling ridlo.

Banyak kejadian kesalahpahaman pada suami-istri adalah berasal dari kurangnya keterbukaan, sehingga masing-masing saling menafsirkan perilaku pasangan menurut persepsi subyektif masing-masing. Nah di sinilah masalah berawal. Jika pola komunikasi searah, misalnya anda melarangnya keluar rumah tanpa anda beri istri anda peluang untuk mengeluarkan isi hatinya. Maka istri akan merasa dikekang. Mengapa Anda tak menanyainya dengan penuh pengertian, apa alasannya pergi, sehingga ganjalan di hatinya yang berkaitan dengan perasaan kurang dari sisi ekonomi, menjadi meledak karena ia melihat anda menjadi sosok otoriter yang pandai melarang sementara kebutuhannya tak semuanya terpenuhi. Ini menjadi problem bertumpuk-tumpuk baginya.

Memang tak mudah menjadi istri sholihah, sebagaimana pula, tak mudah pula menjadi suami sholih. Semua itu membutuhkan perjuangan. Itu sebabnya, dalam rumah tangga, seorang suami wajib mendidik istrinya. Tugas suami adalah mendidik istri dalam kebaikan dan jika belum berhasil maka berdoalah dengan serius dan sungguh-sungguh agar hidayah juga masuk ke dalam seluruh hati anggota keluarga anda.

Bapak Tjandra, perkataan thalaq sudah terjadi, apakah ketika Anda mengucapkannya dalam keadaan marah sekali, dalam keadaan mabuk dan dalam keadaan terpaksa? Jika tidak maka sudah menjadi talak 1 yang berarti masih bisa ruju’, oleh karena itu berhati-hatilah para suami agar tak mudah mengucapkan kata cerai. Karena kata cerai itu, bercandanya sama dengan seriusnya. Anda masih bisa merujuknya bila ia mau dan masih dalam masa iddah. Tetapi bila sudah keluar dari masa iddah, yaitu tiga kali masa suci dari haid, anda harus mengulang akad nikah.

Bpk Tjandra, usahakan bicara baik-baik pada istri, Anda masih mencintainya, ini modal bagus Anda merubah sikap lebih persuasif pada wanita. Minta maaf kepada istri dengan tulus, lembut, dapat melunakkan hati wanita karena ketulusan hati seorang suami pasti akan ditangkap istrinya. Sudahkah anda mengunjunginya dan mengubah sikap anda untuk mendengarkan uneg-uneg dihatinya? Insya Allah bila istri anda masih menginginkan kebaikan untuk hidup bersama anda, Allah akan menyatukan anda kembali .
Bpk Tjandra yang sholih, namun bila memang ia tak mau kembali kepada anda, semoga anda mendapat gantinya yang lebih baik. Bicarakan masalah Anda pada keluarga besar dan tokoh agama setempat untuk mencari solusi terbaik. Allah adalah sebaik-baik penolong, maka berdoalah selalu. Allah menolong hamba-Nya selama sang hamba serius untuk menolong agama-Nya. Terirng do’a dari saya ya pak.

Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Bu Urba

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus