Ingin Bercerai

Revi – Rabu, 7 Rabiul Akhir 1428 H / 25 April 2007 16:08 WIB

Assalamualaikum, Wr, Wb.

Ibu Anita yang budiman, saya telah menikah kurang lebih 7 tahun tapi sampai sekarang belum dikarunia anak dan selama 7 tahun ini kami tinggal bersama mertua. Ibu Anita yang baik, saya sekarang ini stress berat karena suami menginginkan saya kembali kepada orang tua.

Selama ini saya sangat mencintai dia dan takut sekali berpisah dengannya. Apalagi status janda yang nantinya harus saya sandang. Saya sangat malu karena di kota tempat saya tinggal, saya banyak dikenal orang apalagi teman-teman di kantor.

Ibu Anita, saya sangat bingung jika harus kembali ke rumah orang tua. Di sana ada juga kakak saya yang baru bercerai dengan suaminya, jadi saya sangat sedih kalau harus tinggal dengan orang tua.

Masalah saya ini tidak seorang pun yang tahu bahkan orang tua. Semuanya saya pendam sendiri. Setiap sholat, saya menangis sejadi-jadinya mengapa ini terjadi. Saya sudah bersabar selama tinggal dengan mertua, bahkan sering dicaci-maki karena saya adalah menantu yang paling miskin dan bukan dari keluarga berada.

Yang paling menyakitkan, suami sering mengusir saya dan mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak pernah mencintai saya. Dan saya hanya bisa mengurut dada dan tetap bertahan tinggal bersama mereka.

Ibu Anita, tolong beri saya nasehat dan jalan keluarnya. Saya sudah putus asa dan sering berfikir untuk mengakhiri saja hidup saya ini karena sudah tidak mampu lagi untuk berfikir yang jernih. Atas bantuan ibu saya ucapkan terima kasih.

Wassalam.

Assalaamu’alaikum ww wb,

Ibu Hany yang sedang putus asa, semoga Allah memberi kekuatan

Saya sangat memahami perasaan ibu saat ini yang tengah dihadapkan dengan kenyataan bahwa suami tercinta bermaksud mengembalikan ibu ke rumah orang tua. Padahal anda sudah menikah selama 7 tahun, meskipun belum dikaruniai buah hati.

Apalagi mertua juga tampaknya kurang menyukai kehadiran ibu yang telah tinggal serumah dengan ibu sejak menikah. Saya juga mengagumi kesabaran ibu menahan diri dengan sikap suami dan mertua yang kurang baik dan tidak jarang menyakiti perasaan ibu.

Dengan segala kekuatan, ibu bersabar dan terus bertahan dalam situasi yang cukup berat seperti ini. Di samping dikarenakan rasa cinta ibu yang besar kepada suami, ibu juga khawatir menyakiti kedua orang tua apabila berpisah dengan suami, ditambah lagi kakak ibu juga baru mengalami yang yang serupa.

Memang bu, berpisah dengan suami yang dicintai tentunya sangat berat, apalagi dengan alasan suami ingin berpisah karena ia tidak pernah mencintai kita, pasti rasanya sakit sekali, ya bu?

Namun apabila suami tercinta sudah tidak menginginkan kita mendampinginya, kita harus berusaha mencari tahu apakah yang menyebabkan suami berubah pikiran. Ajaklah suami bicara baik-baik, adakah sesuatu yang bisa membuatnya mempertimbangkan kembali keputusannya.

Ingatkan kembali komitmen bersama ketika menikah dahulu, untuk bisa saling introspeksi diri, dan bersama berusaha memperbaikinya. Tentunya ibu juga tidak lupa selalu memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah agar suami dibukakan mata hatinya

Kekhawatiran dan rasa malu dengan status janda nanti tampaknya membuat

keadaan ini begitu dilematis untuk ibu. Padahal status janda tidak perlu ditakutkan apalagi dianggap memalukan atau hina. Memang wanita manapun tidak menginginkan status tersebut. Namun apabila Allah menakdirkan demikian tentunya kita tidak dapat menolaknya, apakah itu karena perceraian atau kematian.

Bukankah isteri-isteri Rasulullah SAW juga menjandi janda sepeninggal beliau, bahkan janda-janda Rasulullah SAW tidak diperbolehkan dinikahi oleh siapapun untuk memelihara kesuciannya.

Sekarang yang paling penting adalah bagaimana cara bersikap dalam menjaga kehormatan kita di masyarakat. Insya Allah mereka juga akan menghargainya. Sekarang masyarakat sudah cerdas menilai seseorang bukan dari statusnya saja, namun dari sikap dan perilakunya.

Ibu yang dirahmati Allah, saya mengerti ibu memendam permasalahan ini seorang diri mungkin karena malu, hingga tidak ada seorang pun di mana ibu bisa mencurahkan perasaan. Masalah yang terpendam begitu dalam membuat ibu mulai terjebak dalam dilema yang menyebabkan ibu mulai putus asa bahkan berniat mengakhiri hidup.

Tapi bu, bukankah Allah tidak menyukai hambanya yang berputus asa dari rahmat-Nya? Sebaliknya Allah menyukai hambanya yang memohon dan meminta padaNya dengan sungguh-sungguh dan selalu berprasangka baik kepadaNya.

Dengan memasrahkan segala persoalan kita hanya kepada Allah dan mencoba ikhlas dengan semua ujian yang merupakan kehendakNya adalah penawar sakit hati paling mujarab. Karena sesungguhnya pada Allah tujuan hidup kita dan tempat di mana kita mendapatkan cinta yang abadi, bukan cinta mahluk-Nya yang tidak kekal dan mudah berubah-ubah serta dapat pindah ke lain hati.

Pada akhirnya sepahit apapun nanti keputusannya, pertimbangkan dengan matang akibat terburuk yang paling siap ibu hadapi dalam mengambil keputusan nanti. Ibu berhak untuk memilih jalan hidup ibu yang dirasakan mampu dan sanggup menjalaninya.

Ingat bu, Allah tidak akan merubah nasib kita, bila kita tidak berusaha merubahnya. Dan jangan takut akan perubahan karena tidak semua perubahan itu buruk bahkan bisa bermakna lebih baik lho. Serta selalu berpikir positif dengan menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran yang belum tentu menjadi kenyataan. Insya Allah ibu dapat melalui ujian ini dengan kesabaran dan menerima semua kehendakNya dengan keikhlasan.

Wallahua’lam bishsawab

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus