Curahan Hati Isteri Kedua

Meriza Nasywa – Kamis, 4 Safar 1428 H / 22 Februari 2007 05:19 WIB

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Ibu Anita yang dirahmati Allah.. saya adalah seorang isteri sekaligus ibu dari seorang putra yang berusia 2 tahun. Saya adalah isteri kedua. Alhamdulillah hubungan kami bertiga baik-baik saja, perasaan cemburu dan lain-lain adalah hal yang biasa dalam rumah tangga kami.

Suami saya juga telah berusaha keras untuk berlaku adil terhadap isteri-isterinya. Kami tinggal di kota yang berbeda. perlu ibu ketahui bahwa sebelumnya saya tidak perna kenal dengan suami saya. Saya dikenalkan oleh seorang ustadz.

Pada waktu itu saya diberitahukan bahwa ada seorang pria sholeh yang ingin menikah lagi danistrinya sudah mengizinkan karena dia memiliki alasan syar’i untuk menikah lagi. Di antara beliau dan isterinya tidak ada yang namanya pertengkaran. dia sudah lama mencari isteri tapi semuanya menolak. Sampailah mereka kepada saya, sambil seolah-olah mengatakan adakah perempuan muslimah yang bersedia menjadi solusi atas permasalahan mereka.

Ibu Anita yang di rahmati Allah, setelah istikharah yang panjang saya pun mendapatkan ketetapan hati untuk menerimanya. namun orang tua pada waktu itu marah besar, tapi akhirnya luluh juga hatinya setelah dijelaskan. Akhirnya kamipun menikah dengan sangat sederhana.

Tapi tiga bulan kemudian, kelurga besar isteri pertamanya mengetahui hal itu, mereka mendesakistri pertamanya sebut saja tehmia untuk menuntut cerai. Teh mia yang pada awalnya merestui akhirnya terpengaruh juga dan menuntut cerai dipengadilan.

Keluarganya menuduh saya sebagai perempuan pengganggu rumah tangga orang, padahal kenalpun tidak dan saya punya kehidupan dan aktifitas sendiri. suami saya tidak mau menceraikan teh mia.

Saat itu saya sedih melihat kegalauan diwajah suami saya, sayapun berkata pada suami saya bahwa saya rela jika harus diceraikan. Akhirnya dihadapan keluarganya saya pun diceraikan meskipun itu hal yangsangat berat bagi suami saya, Sedih rasanya hati ini… Saya tidak bisa berbuatapa-apa, hanya menangis dalam sholat malamku yang panjang…

Tapi saya ikhlas, toh niat awalku menikah adalah untuk mendapat ridho Allah, kalaupun harus berpisah itu adalah takdir Allah…

Ibu Anita yang dirahmati Allah… Sungguh Allah Maha Adil, ternyata saya hamil, dan suamikupun rujuk kembali kepadaku sepengetahuan teh mia, tapi tidak sepengetahuan keluarga besarnya, karena kelurga besarnya mengancam akan menuntut suami saya jika menikah lagi.

Ibu Anita yang dimuliakan Allah… Sampai sekarang keadaan kami seperti ini. Entah apa yang akan terjadi nanti hanya Allah yang tahu. Sekarang ini perasaan sayang saya terhadap suami semakin besar. Saya sering dihantui perasaan deg-degan jikasaat itu tiba, saya harus berpisah dari suami saya… Tapi saya selalu berusaha untuk manguatkan hati ini untuk senantiasa ikhlas dan rela terhadap apapun ketetapan Allah…

Ibu Anita yang dirahmati Allah… Saya memohon tanggapan ibu terhadap masalah saya. Sebelumnya saya Ucapkan terimakasih.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Assalammu’alaikum wr. wb.

Ibu Meriza yang sholeha,

Nampaknya sangat tidak mudah ya bu melakukan sesuatu yang belum diterima di masyarakat luas, meskipun dalam agama diperbolehkan. Dapat saya pahami kegundahan hati ibu mengalami berbagai tekanan atas kehidupan rumah tangga ibu. Namun ibu sudah mengambil keputusan untuk berperan sebagai isteri kedua dalam rumah tangga dan dalam rujuk yang terjadi kemudian berarti ibu pun memahami resiko yang akan terjadi ke depan.

Poligami memang sesuatu yang kontroversial dalam kehidupan masyarakat muslim di Indonesia. Namun bukan berarti yang melakukan hal tersebut berdosa karena hukumnya jelas diperbolehkan dalam agama. Yang membuatnya jadi buruk adalah ketika mereka yang menjalankannya tidak melakukan dengan baik hak dan kewajiban yang berlaku sebagai suami isteri atau ada pihak yang kemudian teraniaya.

Dalam kasus ibu nampaknya semua pihak, terutama suami dan isteri pertama, telah menyepakatinya. Hanya keluarga dalam adat istiadat kita sebenarnya bukan cuma suami dan isteri tapi ada juga keluarga besar yang ikut mewarnai kehidupan rumah tangga seseorang. Dan nampaknya dalam hal ini suami ibu kurang bijak ketika mengambil keputusan dengan kurang memperhitungkan respon keluarga besar. Bahkan tidak mempersiapkan mental isteri-isterinya terhadap tekanan dari luar ini. Sehingga isteri pertama pun tidak siap mental mendapatkan tekanan keluarga besarnya dan akhirnya harus mengorbankan ibu.

Situasi ibu memang sulit, di tengah hantaman terhadap kehidupan poligami maka ibu menerima sebagai isteri kedua. Namun semua sudah ibu putuskan dan sebagaimana ibu bilang bahwa semua diniatkan karena Allah, oleh karena itu yakinilah bahwa niat ikhlas itulah yang akan menolong kehidupan ibu ke depan. Allah maha tahu akan niat hati seseorang dan akan menolong hamba-hamba-Nya yang menjalankan syariatnya dengan benar, maka janganlah takut menjalanihal yang ibu yakini Allah meridhoinya.

Bersabar dan tawakallah, selama ibu yakin melakukan hal yang benar maka Allah pasti akan berikan jalan keluar dari kesulitan yang akan terjadi.Jika suami ibu, isteri pertama dan ibu sendiri merasa yakin akan apa yang dijalani maka seharusnya tidak gentar menghadapi tekanan pihak lain. Jika merasa benar mengapa tidak mempertahankan? Lebih bijak daripada harus ada yang dikorbankan.

Setiap langkah kita tentu harus dipertimbangkan sebaik mungkin. Berani melangkah mempertahankan prinsip artinya berani menghadapi resiko dan bukan bersembunyi darinya. Melangkah dengan menghindari resiko dan membiarkan adapihak yangterluka atau terzolimi merupakan tindakan aniaya yang menjadikan hal yang benar secara syariat menjadi tidak dapat diterima oleh lingkungan. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr Anita W.

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus