Cara Mendidik Anak Belajar

Sonny – Senin, 18 Muharram 1431 H / 4 Januari 2010 12:13 WIB

Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

Saya mau bertanya gimana cara mendidik anak dalam belajar? Agar istri saya, membaca hasil konsultasi ini, karena selama ini istri saya kalau mengajar anak kelas 3 SD, terlalu keras, kadang dengan cara membentak, mencubit serta memukul meja, mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalam.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu

Bpak Sny yang dimuliakan Allah,

Lagi-lagi saya sungguh merasa senang bahwa Anda sebagai laki-laki punya interest yang baik dengan bertanya tentang pendidikan anak; memang mendidik anak juga menjadi tugas laki-laki, bukan hanya tugas para Ibu. Lihatlah figur-figur Bapak teladan yang diabadikan khusus dalam Al Qur’an ( misalnya Nabi Ibrahim AS., Luqman Al-Hakim,dsb.).
Bpk Sny, berikut ini ada sebuah hadits yang menarik berkaitan dengan cara Rasulullah saw mendidik anak.

Dari abu Qatadah disebutkan, “Rasulullah shalat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud, diletakkannya Umamah. Dan bila berdiri, digendongnya.” Ada pula hadits dari An Nasai yang berasal dari Abu Barrah bahwa Rasulullah saw shalat bersama sahabatnya, lalu beliau sujud. Ketika itu datanglah Hasan yang tertarik melihat Rasulullah saw sedang sujud, lalu naiklah Hasan ke punggung Rsulullah saw yang mulia saat beliau sedang sujud. Rasul memanjangkan sujudnya agar tidak menyakiti Hasan. Usai shalat, ia meminta maaf kepada jamaah shalat dan mengatakan, “anakku tadi naik ke punggungku lalu aku khawatir bila aku bangun dan penyakitinya. Maka aku menunggu sampai ia turun.”

Tak ada peniadaan peran besar yang dilakukan seorang ibu dalam mendidik anaknya. Ibu mempunyai pengaruh penting pada kepribadian anak sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteduhan, dan kepercayaan diri yang kuat untuk menjalani ibunya. Tetapi jangan lupakan pula peran ayah. Ayah tidak hanya berperan bekerja dan memberikan kebutuhan materi tetapi tak terlibat dalam pendidikan anak. Bahkan dialog dalam AL Qur’an tentang pendidikan anak, semuanya diwakili para ayah. Lihat saja kisah Ali Imron, Nabi Zakaria, Luqman, Nabi Ibrahim. Mereka menunjukkan bahwa ayah adalah pemegang peran sentral dalam mendidik anak-anaknya.

Maka bapak SNY, sudahkah bapak mengevaluasi diri, apa yang menyebabkan istri anda temperamental dalam mendidik anak anda? Apakah anda sudah cukup untuk membantunya dari kelelahannya menjalankan kewajibannya sebagai istri dan mendidik anak anda? Apakah anda telah mencontohkan kepadanya bahwa kesabaran dan kelemahlembutan dalam mendidik anak lebih menentramkan, lebih sedikit energi dan lebih nyaman untuk anak anda disbanding apa yang dilakukannya?Apakah masa lalu pendidikan istri anda yang ia terima dari orang tuanya juga seperti itu? Atau barangkali, bapak juga memperlakukannya dengan perlakuan yang terkadang menyakitinya dan ia menumpahkan kekealan kepada putra bapak? Maka, bapak, kewajiban bapak adalah membimbing istri anda agar ia mampu menjalankan perannya sebagai istri sholihah yang tak hanya menyenangkan bapak tetapi juga tempat kembali yang menenangkan bagi anak-anak bapak. Tentu saja ini membutuhkan peran aktif bapak dalam membimbing anak bapak belajar dan tak hanya menyerahkannya kepada istri. Karena contoh perbuatan jauh lebih efektif disbanding kata-kata yang berisi perintah.

Perlu dipahami bahwa anakpun tumbuh-kembang secara bertahap. Beberapa materi yang penting sejak dini ditanamkan adalah pendidikan keimanan, pendidikan untuk membiasakan beribadah, pendidikan akhlaq, pendidikan emosi, dan sebagainya (Coba miliki dan kaji bersama istri buku inspiratif yang ditulis oleh Abdullah Nashih ’Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam).

Nah Selamat berusaha bapak…semoga Allah swt. Memberi kita kesabaran dalam mendidik anak, hati lapang dan kemudahan..! Amin.

Wallahu a’lam bisshawab,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu

Bu Urba

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus