Bingung Untuk Menikah

Dian – Senin, 10 Rabiul Akhir 1430 H / 6 April 2009 08:31 WIB

Assalamualaikum Wr Wb.

Bu, sy sedang bingung, sy sdh dilamar seorang pria yg sy kenal dari keluarga. Tapi semakin mendekati hari pernikahan komunikasi kami semakin tidak lancar, karena calon suami amat pendiam, tidak ada keterbukaan antara saya dan dia. Tetapi kelg saya sangat berharap sy segera menikah krn usia sy yg sdh hampir kepala 3. Sebagai anak sy berusaha membahagiakan ortu sy. Dari segi keluarga juga berbeda latar belakang dg kelg saya, jadi agak sulit untuk beradaptasi, kelg dia agak sedikit dibawah kelg sy dlm hal ekonomi. Yg sy khawatirkan apakah bisa pernikahan lancar tanpa ada komunikasi dan tidak saling membutuhkan? sejauh ini saya dan dia tidak pernah sama sekali merasa saling butuh, dia tipe yg cuek, terkadang sy berpikir bahwa dia berbeda dari seseorang yg sy harapkan untuk menjadi calon pendamping sy,smua urusan pnikahan diserahkan kepada ortunya,,,atau memang ini jalan yg harus saya tempuh untuk mencari ridho Allah? di satu sisi saya pernah menjalin hubungan dengan yg lain dan sy merasakan dg adanya komunikasi yg lancar mk insyaAllah smua akan lbh enak. Walo sy terus menyakinkan diri sy bahwa rencana Allah tidak akan pernah salah, tapi kenapa pikiran sy ragu y bu ? setiap sy berkeluh kesah dia tidak pernah bisa membuat sy tenang,,,apa tuntutan sy terlalu berlebihan bu??? Sy mohon saran ibu. Sy m bisa ngjalanin ini semua dg niat lurus karena Allah bu, bantu sy untuk tetap huznudzon sm Allah, karena terlalu sering saya mengecewakan ortu saya bu….

Terima kasih atas sarannya.

Wassalam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Sdri. Mitha yang shalihah.,
Saat ini Anda mengalami perasaan ragu terhadap calon suami, beberapa hal yang Anda sebutkan berkaitan dengan karakter calon suami, komunikasi yang kurang lancar dan masalah latar belakang keluarga. Perbedaan seperti ini bisa ditemui di banyak pasangan. Meskipun hal ini nampaknya wajar dialami siapapun, namun bisa dipahami telah membuat Anda bingung untuk melangkah selanjutnya.
Sdri. Mitha yang dirahmati Allah swt.,
Keluarga yang akan Anda bangun nanti memang harus dilandasi oleh basic yang kokoh yakni dalam konteks keimanan dan ibadah pada Allah swt. Insya Allah dengan landasan yang kokoh ini, segala perbedaan, baik karakter atau latarbelakang keluarga bukan menjadi penghalang untuk terwujudnya saling pemahaman. Saya belum jelas benar sejauhmana calon suami Anda, apakah dia laki-laki sholih sebagaimana dikriteriakan dalam agama? Laki-laki sholih, apakah dia tipe pendiam atau bukan, akan berusaha membangun kebahagiaan keluarga dan pasangannya. Bukan laki-laki sholih yang mementingkan dirinya sendiri, tidak mau memahami pasangannya namun minta dipahami oleh pasangannya. Namun di sisi lain sang istri nanti juga harus menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Cobalah lakukan komunikasi bersama dan evaluasi lagi bersama secara terbuka. Nyatakan apa keinginan Anda dalam komunikasi, didengar, tidak dicuekin, atau tanggapan yang tidak pendek-pendek, misalnya. Ketidaklancaran komunikasi memang bisa merembet pada ketidakharmonisan dalam pernikahan, jadi jangan menganggap remeh masalah ini. Perlu dipahami bahwa karakter memang tak dapat dirubah dalam hitungan hari atau bulan. Namun jangan pesimis bahwa keseluruhan kepribadiannya sudah tak bisa diperbaiki lagi. Pemahaman dalam agama insya Allah akan memberikan ”insight” yakni semacam kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri untuk berubah.
Sdri. Mitha yang dirahmati Allah swt.,
Adapun tentang perbedaan latar belakang ekonomi, hendaklah dipahami bahwa mungkin salah satunya gaya hidup masing-masing punya latarbelakang berbeda. Mungkin calon suami akan mengembangkan kesederhanaan dalam hidup nanti. Justru masing-masing bisa mengambil positif-negatifnya dari latarbelakang masing-masing, kemudian ini dijadikan sebagai pengalaman berharga untuk membentuk format keluarga Anda sendiri ke depan.
Sdri. Mita yang dirahmati Allah swt.,
Meskipun Anda mengenal calon suami dari keluarga, jangan sampai pernikahan ini dilandasi karena adanya unsur keterpaksaan atau hanya karena takut mengecewakan orangtua. Ini akan menjadi fondasi yang rapuh dan membahayakan pernikahan ke depan. Cobalah bicara baik-baik dengan keluarga Anda, mintalah pendapat dari keluarga besar dan teman-teman yang sholih, kumpulkan keberanian Anda untuk bermusyawarah dan mencaro solusi terbaik. Iringi dengan istikharah dan ibadah yang lebih rajin, ya Mita.. semoga ikhtiar Anda mendapat kemudahan dari Allah swt. amin.

Wallahu a’lam bisshawab,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu

Bu Urba

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus