Adab atau Sopan Santun Isteri terhadap Suami

Sari Handayani – Selasa, 25 Rajab 1429 H / 29 Juli 2008 05:11 WIB

Assalamu’alaikum wr wb

Saya sudah berumah tangga, mempunyaiadik perempuan yang juga sudah berumah tangga. Adik saya tersebut sangat keras perangainya, tidak pernah ada kata-kata lembut terhadap suaminya.

Ketika saya sedang bertamu kerumahnya mereka bertengkar (lebih tepatnya suaminya ditengkari, karena ia lebih banyak diam), kata-kata yang tidak pantas meluncur deras dari mulut adik saya tersebut (perbendaharaan kata dari kebun binatang plus kata-kata bego, tolol dll); tidak tanggung-tanggung adik saya tersebut juga menjelek-jelekkan mertua dan saudara-saudara suaminya tersebut.

Ketika saya coba peringatkan, malah ia berkata: Kakak tidak usah turut campur, atau barangkali kaka naksir suamiku ya?

Bagaimana sebenarnya adab sopan santun terhadap suami itu? Dan apa makna dari Hadits yang kira-kira bunyinya "Apabila Allah membolehkan manusia menyembah manusia, maka akan aku perintahkan para isteri untuk menyembah suaminya"

Terima kasih

Wassalam,

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.

Ibu SHS yang baik, nurani kita pasti terusik ya melihat kemungkaran di depan kita tanpa kita bisa berbuat banyak. Padahal ya Bu, aturan Islam itu luar biasa indahnya tentang adab pergaulan antara suami dan isteri. Berikut beberapa di antaranya:

Isteri harus mentaati suami dalam setiap hal yang tidak mengandung maksiat. Banyak nash yang menyebutkan betapa besar hak suami atas isterinya. Nabi saw bersabda:

”Siapa saja wanita yang meninggal, sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka dia masuk surga.” (HR Tirmidzi)

”Apabila wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka dia masuk surga Tuhannya.” (HR Ibnu Hibban)

Dalam hadits ini Rasulullah saw menyebutkan taat isteri kepada suami setelah dasar-dasar Islam. Rasulullah saw menyebutkan wanita dalam sabdanya: ”Yang hamil, yang melahirkan, yang menyusui, yang menyayangi anak mereka. Kalau bukan karena apa yang mereka lakukan kepada suami mereka, niscaya wanita-wanita yang shalat pasti masuk surga.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)

”Aku melihat neraka dan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Mereka bertanya, ”Mengapa wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, ”Mereka banyak mengutuk dan mengingkari kebaikan suami.” (HR Bukhari dan Muslim)

”Sekiranya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya, karena haknya yang sangat besar kepada isterinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Hadits tersebut bukan berarti seorang isteri harus bersujud, namun menunjukkan besarnya hak suami atas sang isteri.

Hadits lain diriwayatkan dari Muadz bin Jabbal, Rasulullah saw bersabda:

”Tidaklah seorang isteri menyakiti suaminya di dunia melainkan isterinya dari bidadari akan berkata kepadanya, ”janganlah kamu menyakitinya, semoga Allah memerangimu, ia ada di sisimu hanya mampir yang tidak lama lagi akan meninggalkanmu kepada kami.” (HR Tirmidzi)

”Tiga (hal) termasuk kemiskinan:… wanita yang apabila kamu masuk kepadanya, maka dia memakimu dan apabila kamu tidak ada maka dia mengkhianatimu.”

”Sebaik-baik isteri adalah yang jika kamu memandangnya maka kamu akan terhibur, jika kamu menyuruhnya maka ia akan menurut dengan patuh, jika kamu bersumpah agar ia melakukan sesuatu maka dipenuhi dengan baik dan jika kamu bepergian maka ia menjaga dirinya dan harta bendamu.” (HR Nasai)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

”Tiada seorang lelaki pun yang mengajak isterinya ke ranjang, tetapi si isteri enggan memenuhinya, melainkan yang di langit marah kepadanya hingga suaminya merelakannya.” (HR Muslim)

Hadits-hadits di atas adalah landasan dasar dalam kita berhubungan dengan suami. Mentaatinya dan mengamalkan hadits-hadits di atas berarti kita mentaati Allah & Rasulullah. Namun ketaatan pada suami bersyarat alias tidak mutlak. Syaratnya adalah sepanjang sang suami menyuruh pada hal-hal yang tidak ma’shiyat. Ketaatan juga tidak menghalangi isteri bersifat kritis bahkan memberi nasihat pada suami jika dia bersalah.

Beri pemahaman kepada adik Anda di saat suasana sedang kondusif. Sekalipun misalnya suami perlu diingatkan, maka tak layak menghina dan mengeluarkan kata-kata kasar. Dan berdiskusipun harus dalam kata-kata yang terbaik. Bersabarlah dengan tuduhannya pada Anda, mungkin Adik sedang mengalami masalah rumah tangga yang perlu uluran saudara-saudaranya yang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Bu Urba

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus