Membangun Rumah Minimalis di Tanah Miring ( 2 )

Adex Triwarman – Jumat, 15 Juli 2011 17:47 WIB

Assalamu’alaykum ustad

mohon maaf sebelumnya ustad … saya sangat senang dengan desain rumah ditanah mereng yang ustad diseain

/konsultasi/arsitektur/rumah-sederhana.htm

yang saya maksud desainnya berdasarkan dengan

/konsultasi/arsitektur/pertanyaan-nya-belum-di-jawab.htm#

saya sangat berharap ustad berkenan mendesain ulang rumah saya berdasarkan yang saya maksud..

saya berharap ustad mengirimi saya email nomor rekening ustad supaya saya bisa memberikan kopi dan makanan tuk ustad… he heee… ni email saya [email protected].

besar harapan saya ustad mau membantu mendesain rumah saya…

salah dan janggal mohon dimaafkan..

wassalamu’alaykum wr.wb

salam hormat saya

Assalaamu’alaikum wrwb

Netters sekalian, cukup banyak pertanyaan yang masuk ke kami. Hingga tidak dapat semuanya dapat kami jawab. Banyak kendala di balik itu semua. Salah satunya adalah kami on line free, alias pemirsa mendapatkannya dengan gratis. Sementara saya sendiri yang harus membiayai up date ini. Kerena kami situs dakwah yang berusaha melayani masyarakat dengan baik. Padahal untuk memproduksi gambar diperlukan dana operasional.

Untuk itulah kemarin kami meeting di eramuslim untuk mencari jalan keluar. Agar kualitas dan rutinitas tetap terjaga. Dari pagi hingga sore kami korbankan waktu dan pikiran. Beberapa diantara kami bahkan ada yang puasa sunah. Bahkan sampai mengorbankan jadwal futsal rutin yang biasa kami lakukan. Demi untuk kelangsungan up date yang up to date.

Namun dibalik itu semua sungguh sebuah kondisi yang indah kami rasakan. Suasana ukhuwah dan saling tausiah mengalir sejuk bak air pegunungan. Sebuah nikmat persaudaraan dan nikmat hidayah yang tak terbayar. Semoga Allah menjaga agar kami istiqomah menjalani tapak dakwah ini.

Netters sekalian, email kali ini kembali membahas rumah Pak Adex. Karena ternyata atapnya kurang disukai oleh beliau. Hingga ingin dirubah dengan pola pelana dengan belahan tengah. Maksudnya ada tembok pembatas yang membelah atap pelana sesuai dengan attachment yang dilampirkan. Memang konsep atapnya berbeda jauh dengan disain awal yang saya buat. Silahkan di cek di :

/konsultasi/arsitektur/rumah-sederhana.htm

Untuk itu bagian muka juga menjadi berubah total. walaupun denahnya tetap. Karena yang berubah hanya konsep atapnya saja. Teras muka juga ikut berubah. Pada akhirnya saya pakai atap setengah kuda-kuda agar masuk disainnya dengan atap induk. Lalu ujungnya saya beri pet beton. Hingga menjadi kunci disain muka.

Gambar berikut di bawah ini adalah bird eye view. Dan dari gambar ini terlihat pola atap berjenjangnya. Dengan tetap mempertahankan bukaan hawa di sisi lahan yang miring, maka udara segar akan tetap mengalir masuk ke dalam rumah.

Dengan atap ini sebenarnya akan membuat pembangunan rumah secara tumbuh mudah dilakukan. Karena dapat dibagi per blok bagian atap. Hingga pemecahan ruangnya mudah. Jadi pola rumah tumbuh yang hemat dapat diterapkan.

Gambar terakhir adalah sisi belakang bangunan. Pada bagian ini saya fokus pada atap pet beton. Dengan deretan tiang batu alam penyangga atap teras, maka akan terasa sekali irama pilar alami yang kokoh.

Pet teras semakin terasa kuat ketika ada box hijau dari ruang tidur utama. Bentuknya yang kokoh menjadikan bagian atap secera keseluruhan menjadi terekspos dengan baik.

Terimakasih untuk Pak Adex atas pengertiannya. Semoga disain ini cocok bagi anda sekeluarga. Dan semoga kelak rumahnya menjadi baiti jannati. Rumah yang membawa ketentraman bagi segenap anggota keluarga.

Demikian saja pembahasan kita kali ini. Masjid Al Falah Jatiagung sudah mengumandangkan adzan. Suara merdu Salim sang marbot masjid sudah terdengar dari lantai 2 rumah. Saya ucapkan selamat berbuka puasa bagi ibu-ibu majlis taklim Al Falah yang kini tengah ifthor. Semoga puasa tengah bulannya menjadi berkah. Dan menjadi latihan kita bagi persiapan menjelang ramadhan nanti.

Akhirul kalam,

Wassalaamu’alaikum wrwb

Andan Nadriasta, ST – [email protected]

Konsultasi Arsitektur Terbaru

blog comments powered by Disqus