Berapa Tinggi Plafond Rumah Yang Ideal ?

Bangun Rumah 123 – Kamis, 23 Jumadil Awwal 1434 H / 4 April 2013 06:05 WIB

Assalaamu’alaikum wrwb

Pak Andan di eramuslim.com , terimakasih atas jawaban pertanyaannya.

/konsultasi/arsitektur/plafond-rumah-tinggi-sejuk.htm#.UVqrNDeZkwo

Setelah membaca jawaban tersebut maka timbul pertanyaan berikutnya. Berapakah tinggi plafond yang ideal bagi rumah tinggal ? Karena saya ingin rumah tetap sejuk dan dingin.

Demikian pertanyaannya. Terimakasih sekali atas penjelasannya.

Wassalaamu’alaikum wrwb

Ahmad

Wa’alaikum salam wrwb

Pak Ahmad yang saya hormati, beserta segenap netters setia eramuslim.com dimanapun anda berada. Yang harus kita pahami adalah rumah yang kita pakai adalah bangunan yang kita gunakan untuk tumbuh dan kembang bersama keluarga. Untuk itulah sering ada penekanan kata pada rumah. Yaitu ‘ rumah tinggal ‘

Dalam bahasa Inggris ada home ada house. Jika house lebih berkesan bangunan. Sementara home lebih mirip dengan arti ‘ rumah tinggal ‘ . Hingga ada istilah ‘ home sweet home ‘ . Mungkin terjemahan bebasnya dalam bahasa kita adalah ‘rumahku surgaku ‘

Berangkat dari pemahaman tersebut maka tinggi plafond yang ideal di rumah tinggal harus dipahami sebagai ketinggian yang nyaman bagi kita untuk beraktifitas bersama keluarga. Mulai dari makan, mandi, tidur , belajar, memasak dan lain sebagainya.

Rumah standard pemerintah kita zaman dulu ketinggian plafondnya adalah 2,8 meter. Itu yang dulu saya pelajari saat saya kulias arsitektur di Universitas Pancasila. Namun kini seiring dengan zaman ketinggian tersebut mulai bertambah. Menjadi minimal 3,2 meter.

Kondisi ini lebih karena perkembangan furniture yang mulai membesar. Dulu Pintu didisain 2 meter sudah paling tinggi. Sementara saat ini pintu bisa mencapai 2,1 meter hingga 2,3 meter. Bahkan ada yang mencapai 2,5 meter.

Jadi menurut saya ketinggian yang ideal adalah 3,5 meter. Sebaiknya tidak lebih dari angka tersebut. Karena banyak hal yang harus kita pertimbangkan jika ketinggian plafond lebih dari 3,5 meter.

Alasan pertama adalah kenyamanan. Jika plafond lebih dari 3,5 meter atau bahkan mencapai 4 meter efek phsykologi ruangnya justru menjadi tidak nyaman. Manusia di bawahnya terasa sangat kecil. Ketinggian 4 meter biasa di pakai di masjid. Hingga diperoleh rasa ketundukan di hadapan Allah melalui besarnya rumah Allah yang berupa masjid.

Di dalam rumah kita harus merasa nyaman. Bahkan di beberapa tempat plafond sebaiknya dibuat rendah hingga 2,5 meter. Seperti pada ruang makan. Kita bisa membuat drop ceiling atau plafond turun. Atau bisa juga plafond gantung yang akan membuat suasana romantis.

Coba perhatikan rumah makan yang bernuansa romantis.  Dengan konsep ‘candle light dinner’ , maka ia akan menurunkan plafondnya hingga 2,5 meter. Atau perhatikan gazebo taman yang rendah. Bahkan untuk masuk ke gazebo sering kali kita harus menundukkan kepala.

Alasan yang kedua kita tidak bisa menggunakan plafond lebih dari 3,5 meter adalah ketinggian bangunan secara keseluruhan. Jika kita membuat plafond lantai satu 3,5 meter maka cor dak beton lantai 2 minimal harus 3,8 meter. Untuk bangunan 2 lantai kita harus menyelipkan ‘ducting’ atau ruang dibawah cor dak beton untuk menyelipkan jalur listrik dan air serta rangka plafond lantai satu. Ketebalan ducting minimal 30 cm.

Jadi jika kita membuat plafond lebih dari 3,5 meter , maka rumah kita akan terlihat jangkung sekali. Selain itu tangga untuk ke atas juga menjadi semakin panjang. Semakin melelahkan perjalanan menuju lantai 2.

Demikian penjelasan saya Pak Ahmad. Sebelum saya akhiri ada sedikit catatan kecil. Standard ini biasa berlaku pada rumah – rumah sederhana atau rumah dengan ukuran 100 meter hingga 200 meter persegi. Untuk rumah istana yang sangat besar atau rumah super mewah biasanya tidak menggunakan standard ini. Namanya juga rumah super mewah. Ukuran standard yang dipakai bukan kenyamanan, tapi kemewahan.

Nah, semoga penjelasan saya bermanfaat buat netters sekalian. Sampai jumpa pada artikel berikutnya.

Wassalaamu’alaikum wrwb

Andan Nadriasta, ST – [email protected]

Konsultasi Arsitektur Terbaru

blog comments powered by Disqus