How Can They Come to Germany? (2)

Al Furqan – Sabtu, 3 Zulhijjah 1430 H / 21 November 2009 10:35 WIB

Uday dari India. Saya langsung menanyakan apakah dia dari Bangalore atau Madras, maka ia menjawab tidak. Kedua kota yang saya sebutkan memang tempat institut ternama di India. Teman saya, Reeshav, yang dahulu melakukan internship di group penelitian Prof. Peinke, berasal dari institut teknologi di Madras. Ia juga mengenal beberapa nama profesor yang menjadi penulis paper yang menjadi referensi saya, yang juga adalah profesor di universitasnya.

Uday menceritakan bahwa ia berasal dari daerah yang tidak begitu dikenal di India. Sekolah menengah dan perguruan tingginya pun bukan termasuk kelompok sekolah top di India. Ia hanya katakan bahwa ia berminat dengan bidang yang ditekuninya saat ini dan sempat bekerja di India pada bidang ini, hingga kemudian bisa menjalin kontak dengan profesor di Forschungszentrum Juelich untuk mengambil PhD.

Bidang garapan Uday juga mirip dengan Ameena dan Gangga, bidang protein. Bedanya, Uday ini menekuni kristalografi. Ketika bertemu di stasiun kereta Dueren, kami sempat lama mengobrol mengenai situasi masing-masing negeri kami, yang mau tidak mau kemudian juga menyentuh masalah korupsi yang memang layaknya penyakit yang malah disenangi oleh sang pengidap. Padahal penyakit ini adalah penyakit mematikan yang membuat pengidapnya sakit di dunia dan ketika para pengidap ini kemudian tersadarkan bahwa ternyata mereka juga harus hidup lagi untuk mempertanggungjawabkan perilaku mereka pada hidup yang sebelumnya, maka tidak lain yang mereka dapatkan adalah rasa sakit pula, hanya saja rasa sakit ini tidak akan berakhir dengan kematian. Saya pertama kali mengenal Uday juga ketika dalam bis menuju institut.

Thomas, teman saya dari Kenya. Ia sedang mengambil PhD di Kenya dan mendapat kesempatan selama 6 bulan untuk melengkapi penelitiannya di Forschungszentrum Juelich. Ketika bertemu saya, ia sering mengutarakan rasa penasarannya untuk melihat tambang batu bara terbesar di dekat Juelich. Saya katakan padanya bahwa saya tidak tahu letak pastinya, karena saya hanya pernah melihat area pertambangan itu dari jalan tol. Saya hanya menyarankannya untuk melihat letak area pertambangan itu di googlemap.

Sebelum mengenal Thomas, saya sudah mengenali sosoknya ketika pernah melihatnya berjalan-jalan keliling kota Juelich sambil membawa peta. Waktu itu saya di dalam bis. Yang terlintas di benak saya ia adalah orang baru di forschungszentrum. Thomas ini memiliki kemauan luar biasa dalam mempelajari bahasa Jerman. Ia membeli kamus besar dan buku panduan berbahasa Jerman sehari-hari. Ia katakan bahwa ia menargetkan untuk mengetahui makna dari 2000 kata dalam bahasa Jerman, selama ia menetap di Juelich. Ketika saya tanyakan apakah dia menghafal kamus, maka ia menjawab tentu bukan begitu caranya.

Vishwajid dari India yang waktu itu juga duduk bersama kami di dalam bis hanya tertawa mendengar pertanyaan saya sambil bercanda bahwa Thomas mungkin sudah hafal kata-kata berawalan abjad A dalam kamus bahasa Jerman. Ketika kami di dalam bis, dan melihat kata-kata dalam bahasa Jerman selama perjalanan, Thomas sering mengatakan artinya pada saya, berikut pengucapannya dalam bahasa Jerman. Ia katakan bahwa melihat kata-kata ketika sedang jalan-jalan dan kemudian melihat artinya di kamus membuatnya lebih cepat mengenal kata-kata dalam bahasa Jerman dan lebih mudah diingat. Tetapi ia juga mengeluhkan kesulitan dalam hal pengucapan. Bagi Thomas dan mereka yang bahasa ibu mereka adalah bahasa Inggris, mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jerman memang perlu penyesuaian, karena pengucapan yang berbeda atas beberapa huruf dari kedua bahasa ini.

Ketika mengetahui saya tinggal di desa, Thomas langsung tertarik ingin melihat desa saya. Rasa ingin tahunya pun terjawab ketika kami bersama-sama ke desa saya. Ia katakan bahwa sungai yang ada di dekat desa saya termasuk besar baginya, sambil membandingkan dengan sungai Rhein di Koeln. Sempat ia berpikir mungkin saja sungai di desa saya ini juga anak sungai Rhein, saya pun hanya tersenyum menjawab tidak tahu. Kami sempat menikmati kue buatan Frau Weiergraeber. Hari sebelumnya saya sudah mengatakan kepada Frau Weiergraeber bahwa ada teman saya dari institut yang akan mengunjungi kamar saya dan desa kami ini.

Thomas juga sempat berbelanja di supermarket besar di Linnich, kota terdekat dari Flossdorf. Ia katakan bahwa daging di supermarket ini lebih segar ketimbang daging di supermarket yang pernah ia dapat dari supermarket di Juelich. Ketika kemudian bertemu lagi dengannya, ia sempat mangatakan bahwa kadang-kadang ia juga berbelanja ke supermarket di Linnich ini. Ya, Guest house Forschungszentrum Juelich yang ia tempati memang dekat dari halte kereta yang bisa mencapai Linnich. Saat ini pekerjaan Thomas di forschungszentrum adalah mengerjakan monocrystalline photovoltaic cell , salah satu pembangkit energi alternatif yang cocok untuk diterapkan di negara-negara afrika. Ketika saya tanyakan apakah ini kali pertama ia ke eropa, maka Thomas mengatakan bahwa sebelumnya ia sudah pernah ke Belanda untuk menghadiri suatu konferensi internasional.

Dari Thomas, saya juga sempat belajar membuat roti khas Kenya yang bagi saya sendiri mirip dengan roti prata di Tanjung Pinang. Frau Weiergraeber terheran-heran ketika suatu kali melihat saya di dapur, dengan tepung yang agak berserakan sedang mempraktekkan cara membuat roti yang diajarkan Thomas. Ketika roti buatan saya sedikit keras dan kaku, maka Frau Weiergraeber hanya berkomentar, " Dia melakukannya setiap hari bertahun-tahun, sedangkan kamu baru satu hari.“

Kisah Terbaru

blog comments powered by Disqus