Buat Apa Bersikap Sombong ? (bag. 1)

bidadari_Azzam – Selasa, 11 Rabiul Awwal 1432 H / 15 Februari 2011 06:34 WIB

ilustrasi

Tulisan indah itu kubaca dengan haru, “Aku berpesan kepadamu untuk membaca kisah hidup orang-orang shaleh; para shahabat Nabi, tabi’in, ahli ibadah dan ahli zuhud dari kalangan ahlussunnah. Berhentilah sejenak pada kabar-kabar mereka. Dan bacalah perjalanan hidup mereka. Karena itu akan memompa semangatmu dan menorehkan kehausan untuk meneladani mereka. Atau setidaknya membuatmu malu terhadap dirimu sendiri. Malu kepada Rabbmu saat engkau membandingkan hidup mereka dengan hidupmu. Maka tadaburilah kisah-kisah mereka. Hiduplah bersama mereka; dalam kezuhudan, kewara’an, penghambaan, rasa khauf kepada Allah, ketawadhu’an, keindahan budi pekerti dan kesabaran mereka…” (DR. ‘Aidh al Qarni, Hakadza Haddatsana az Zaman, hal : 283-384)

Para pendahulu kita yang jumlah pakaiannya bisa dihitung dengan jari, sedangkan diri ini memiliki bertumpuk-tumpuk baju di lemari, jumlah lemarinya pun banyak, kalau mau menyumbangkan, dipilah-pilih dalam waktu yang lama. Para pendahulu kita makan dan minum dengan sederhana, beralaskan tikar dan lauk-pauk sekedarnya, dan dengan sederhana seperti itu pun, mereka tetap gemar bersedekah, namun diri ini harus menuruti mood, maunya makanan ini-itu, duduk di kursi empuk atau sofa, hidangan lengkap bahkan sering tersisa banyak akibat lapar mata. Para pendahulu kita rela memiliki jam tidur yang hanya sedikit, waktu-waktu hidupnya penuh ukiran menimba ilmu, memahami Al-Qur’an dan sunnah Rasul-NYA, sujud malam tak tertinggal, dhuha pun tak terlewatkan. Sungguh hal itu menguras air mata, malu, sungguh malu dengan para pendahulu kita, yang mereka yakini bahwa mereka memerlukan Sang Khaliq untuk berlindung dan meminta rahmatNYA, agamaNYA akan tetap kokoh dan tegak dengan utuh walaupun tiada kita hadir berkontribusi di dalamnya.

Mereka yang sangat menjaga ibadah wajib serta mengoptimalkan yang sunnah, namun tetap rendah hati dan menjaga jiwa agar terjauh dari keangkuhan. Rasulullah —Shallallahu ‘Alaihi Wassallam— yang merupakan “Al-Qur’an berjalan” serta dijamin Allah SWT untuk berada di jannahNYA, tidak pernah sedikit pun mencemooh atau mencela orang lain. Siapapun selalu beliau hargai meskipun kaum non-muslim. Para shahabat yang telah diberiNYA ilmu dunia akhirat pun, yang sudah punya “posisi jadi tetangga Rasulullah SAW” di surga, sedikit pun tak ada kita baca riwayat mereka berlaku sombong atau membanggakan diri.

Para pendahulu yang penuh keteladanan diri namun “kepopulerannya di zaman ini” sering terpinggirkan akibat tontonan anak muda semacam film-film remaja, group-band, penyanyi terkenal, dsb. Mereka sering berkata, “Cukuplah dengan ilmu, membuat (seseorang) takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan cukuplah dengan kebodohan, membuat (seseorang) lalai mengingat Allah SWT”.

Namun di arus modern tanpa batas ini, Ilmu bagi seseorang bisa menjadi penggusur keimanan, penyubur kesombongan, serta pemutus urat-urat malu. Ilmu dipakai untuk mencari kekayaan semu yang banyak, semegah-megahnya. Sungguh ironis. Contoh nyata saat ibundaku bercerita kejadian di Baitulloh enam tahun lalu, perjalanan haji beliau. Saat itu beliau sering diberi hadiah oleh teman-teman baru (yang berjumpa di sana) dari berbagai negara, dan suatu kali saat duduk makan, menikmati hidangan khas lokal, ada sepasang jama’ah yang sedang disapa oleh seorang nenek. Ternyata pasangan suami-istri itu ingin keluar mencari restoran, nenek di dekatnya berkata, “Sudah malam bu, ini juga makanan kan banyak, besok saja beramai-ramai nyari restonya…”

Dengan ketus, si istri yang ternyata seorang dokter dengan penampilan cantik dan anggun berkata agak ketus, “Bukan apa-apa nek, perut kami udah lapar nih.. Saya tau spesialnya perut maunya apa, makanan ini gak cocok dengan lidahku. Yok, cepetan mas..”, seraya menarik lengan suaminya, selanjutnya segera mencari taksi. Namun sungguh di luar dugaan, suaminya lupa nasehat para pembimbing untuk mendahulukan laki-laki jika menaiki transportasi lokal, alhasil saat si istri buru-buru naik taksi, taksi langsung berlari kencang, wuuusss.. meninggalkan suaminya yang terbengong-bengong lalu berteriak kebingungan.

Singkat cerita, memilukan, 3 hari setelah itu, usaha suami mencari istrinya ke beberapa rumah sakit disana berujung pada pertemuan terakhir. Hari itu, sudah senja, suami tersebut berjumpa sang istri saat akan menghembuskan nafas terakhir. Sang istri penuh darah di semua bagian tubuh, terutama alat vital, telinga, mulut, dll. Entahlah penyiksaan apa yang berlaku padanya, berbisik pada suaminya, “Papa.. ikhlaskan mama, mama hancur pa, diserang delapan orang, tak ada tenaga lagi, sakiiiit semuanya, tubuh mama tidak berguna lagi pa..”, kira-kira redaksinya begitu, semua jama’ah di sana (yang mengenal sang suami) begitu miris dan berduka cita sangat mendalam, sang istri menutup mata dan dimakamkan di sana. Tak ada yang berani berkomentar apa-apa, namun saat tiba di tanah air, para jama’ah hanya menyampaikan nasehat kepada keluarganya, “ingat yah, setinggi apa pun ilmu kamu, hati-hati dengan lidah, apalagi saat pergi haji, cepat sekali Allah SWT menurunkan balasan.. bersikaplah rendah hati, makanan yang disediakan, syukuri dengan ikhlas, jangan berkeluh kesah..”, dan kalimat lain yang membuatku juga merinding mengingat kebesaranNYA.

Allah SWT mengingatkan dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31] :18)

Seorang teman yang dulu terjaga budi pekertinya, lalu Allah SWT telah membekalinya ilmu yang makin banyak, ternyata ia tergoda untuk membuat laporan “yang merupakan laporan palsu” demi bonus yang didapat dari system kolusi dan korupsi, tak heran, semua koruptor adalah “orang-orang pintar”, otak-atik komputer dengan santai, tanda tangan ini-itu dengan mudah, tangan bergerak lincah dan langkah kaki juga lancar, naik turun mobil mewah, atas usaha-usaha yang tadinya (mungkin murni halal dalam bekerja), lalu (tertular) bercampur haram. Akhirnya terus-menerus tidak peduli lagi, sikat yang haram asalkan mewah dan nyaman, naudzubillahi minzaliik.

Padahal cobalah kita renungkan, ilmu yang dipunyai pun, adalah milik Allah SWT. Siapapun akan hilang “kejayaan” jika tiba saatnya nikmat berilmu ini diambilNYA kembali. Contoh nyata dokter S, favorit keluargaku, sejak zaman kakak sulung hingga generasi anakku lahir di tanah air, konsultasi kepada beliau, khusus masalah anak-anak. Lalu saat ini beliau sudah berada di kursi roda, separuh badannya tak bisa bergerak, beliau tak lagi dinas, “Saya sudah lupa.. hmmm, lupa..”, lirihnya kalau ditanya tentang sesuatu. “yah.. namanya juga sudah tua, jadi kita yang muda ini harus ingat, bahwa nanti ada masa pikun lho..”, celetuk anaknya.

Pengalaman seorang teman yang mengisahkan bahwa seniornya, seorang doktor yang sedang menjalani S3, tiba-tiba jatuh tersungkur di suatu acara, lalu mengalami koma berbulan-bulan hingga kini, dengan kesimpulan urat-urat syaraf di otaknya terserang bakteri, hal ini juga harus menambah keimanan kita bahwa Allah SWT bisa mencabut nikmat sehat dan berilmu kapan pun juga, padahal rencananya dua bulan lagi beliau lulus pendidikannya.

Dokter Agus, ustadz sekaligus guru biologiku di Bina Ilmi zaman SMU juga pernah menjelaskan tentang anatomi tubuh manusia, lalu saat beliau menunjukkan tengkorak kepala, dan berkata, “Buat apa kita sombong, cantik atau tampan, pintar atau banyak ilmu lantas bisa sombong ? Cobalah lihat ini! Rangka inilah yang tertinggal nantinya, lalu semakin lama akan hancur pula dimakan pengurai..,” ujarnya seraya menunjukkan tengkorak tersebut lekat-lekat pada murid-muridnya.

Dulunya kupikir bahwa “isi kepala kita” pasti abadi, ilmu yang diperoleh di setiap bangku sekolah, atau dalam praktek laboratorium, dsb, pasti menempel terus di otak. Namun ternyata para dosenku di masa kuliah menjelaskan lebih detail, bukanlah “ilmu” itu yang abadi menempel di otak, tapi Ilmu Allah SWT memang abadi. Ilmu pengetahuan yang kita serap (yang hanya secuil ini) merupakan titipan Allah SWT, tak ada yang abadi untuk semua titipanNYA. Kelak yang menemani hari di saat perhitungan akhir adalah Amalan diri, maka Ilmu tanpa amalan adalah sia-sia. Maka, apalah guna sombong, bukankah dalam pengamalan keilmuan sehari-hari kita butuh orang lain, benar toh ? Berhentilah berpikir bahwa kita menolong si anu, si itu, coba balikkan pernyataan bahwa si anu dan si itu telah menolong kita untuk menjadi orang yang beramal. Begitu pun seorang dokter yang bijak, ia pasti merasa bahwa dirinya memerlukan keterbukaan konsultasi dari si pasien sebagai pengamalan ilmu pengetahuan, pasien akan disembuhkan Allah SWT, sedangkan sang dokter akan memperoleh “reward-Nya” atas amalan yang dikerjakan. Seorang guru pun demikian, Ilmu-Nya sampai kepada murid-murid atas perantaraan Allah SWT, sang guru memperoleh kebaikan dariNya berlipat ganda atas buah kesabaran dalam mengajarkan sesuatu, ia memerlukan para murid untuk mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Ilmu yang kita punya laksana hanya setitik debu dibanding semesta ilmu-NYA.

Sosok para orang tua bukanlah “pihak yang sengsara” untuk mengurusi anak-anaknya, namun sang anak-anak adalah amanah Allah SWT, orang tua memerlukan anak-anaknya untuk terus belajar dan beramal dalam perjuangan hidup ini, dan kepada Allah SWT jualah kita berserah akan penilaian terbaik-Nya.

insya Allah bersambung…

(bidadari_Azzam, Salam ukhuwah, Krakow, 13 feb.2011)

Kisah Terbaru

blog comments powered by Disqus