Kisah Sedih di Bulan Ramadhan

Redaksi – Minggu, 21 Juli 2013 12:59 WIB

pasar“Ibu! Berapa ikat sayur bayam yang kita beli?, tanya Insani, pada ibunya. Ibu dan anaknya termangu memperhatikan sayur bayam yang teronggok. Ibu muda itu hanya dapat memandanginya. “Tak membeli dua ikat sayur bayam ya … Aku juga ingin membeli kolak”, tambah Insani. “Ibu uangnya tak cukup nak”, tambah ibunya.

Ibu muda yang disertai anaknya itu, mengelilingi pasar, di sekitar Jalan Raya Bogor.

Mereka hanya melihat barang-barang kebutuhan pokok. Tapi, ia tak mampu membelinya. Uang yang mereka miliki sangat sedikit. Awal ramadhan buat mereka, hanyalah kesedihan. Keluarga itu tak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka. Kadang mereka berbuka hanya dengan sebungkus mie. Ada lagi keluarga yang saur dan berbuka dengan singkong serta tempe. Selama ramadhan.

Di pasar para pembeli hanya hilir mudik. Mereka bingung akan membeli apa. Seperti orang yang tak tahu mau melakukan apa? Setiap tahun sudah ajek. Saat menjelang ramadhan atau ied fitri, harga kebutuhan pokok melonjak, yang tak terjangkau bagi kalangan lapisan bawah.

Nilai uang masyarakat terus digerogoti inflasi. Uang menjadi tak berarti. Karena harga barang-barang terus naik. Penghasilan rakyat tak bertambah. Dari waktu ke waktu penghasilan mereka, justru cenderung menurun. Kemampuan daya beli rakyat terus berkurang, mereka tak mampu lagi memenuhi kebutuhan pokok mereka. Di tambah setiap hari jumlah orang yang menganggur semakin banyak. Pabrik-pabrik tutup. Karena para pemilik modal memindahkan investasi mereka ke negara lain.

Memang nasib masyarakat lapisan bawah makin tragis. Mereka adalah kuli bangunan, sopir, buruh musiman, tukang ojek, tukang mie, buruh tani, para nelayan, dan para pedagang asongan, nasib mereka semakin terpuruk. Ini akibat berbagai kebijakan yang semakin tak memihak mereka. Minyak langka. Harga gas terus naik. Harga BBM terus dinaikkan. Disesuaikan dengan harga BBM dipasaran internasinal. Agar para pemilik modal asing bisa bermain di pasar lokal. Dengan mengorbankan masyarakat kecil. Tak peduli jeritan rakyat.

Beberapa tahun ini, setidaknya sudah sekian kali harga BBM dinaikkan.  Rakyat kecil langsung terpukul secara ekonomi, mereka tak mampu bangkit lagi.

Ketika rakyat sudah beralih dari minyak tanah ke gas, tapi sekarang harga gas terus naik. Mereka kehilangan kebutuhan pokok, yaitu bahan bakar, yang mereka gunakan kebutuhan sehari-hari. Paradok. Gas dan minyak di eksport keluar negeri. Di dalam negeri kesulitan pasokan bahan bakar.

Kini, tukang ojek tak lagi dapat bergembira, karena penghasilan mereka terus menurun. Tak mungkin lagi mereka dapat membawa pulang uang Rp50.000 rupiah. Bahkan, di antara mereka ada yang tidak berani pulang. Karena, mereka hanya mendapatkan uang Rp20.000 rupiah, sementara ia harus membiayai empat anaknya yang masih sekolah.Apalagi, buruh musiman, tukang mie, buruh tani, para nelayan, para pedagang asongan, usaha mereka semakin tergerus dengan kenaikan harga, sampai ada peristiwa tragis, di Padeglang, seorang pedagang mie yang bunuh diri, karena selalu rugi.

Anak-anak yang mengemis di jalan-jalan, di kereta, di pasar, jumlahnya makin banyak. Pengamen tak terhitung lagi. Mereka semuanya di bulan ramadhan ini tetap harus survive.Harus tetap hidup. Harus tetap mencari nafkah. Seberapa pun dapatnya. Mereka tak pernah menyerah dengan keadaan. Mereka harus menjalani kehidupan. Betapapun sangat berat. Anak-anak kecil yang masih belum waktunya mencari rezeki (nafkah) mereka di perempatan lampu merah, kadang-kadang sampai larut. Mereka tinggal di tempat-tempat yang kotor, yang tak layak. Mereka terus menjalani kehidupan ini dengan segala peristiwa dan penderitaan yang mereka alami..

Ramadhan tahun ini sejuk. Di awali dengan hujan, dan mendung. Tak terasa terik matahari. Seakan Allah tabarakallahu ta’ala menurunkan rahmat Nya bagi seluruh umat manusia. Tapi, belum mengubah nasib mereka, orang-orang yang miskin. Orang-orang ramai melaksanakan shalat di masjid-masjid, di malam hari, yang menandakan datangnya bulan ramadhan.

Tapi, bagaimana nasib mereka? Nasib rakyat yang miskin, yang papa, dan tak memiliki apa-apa?Al-qur’anul Karim di dalam surat al-Hasyr, ayat: 6, Allah memerintahkan agar kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang yang kaya (para aghniya’). Tapi didistribusikan dengan adil, ke seluruh penduduk. Ini hanya dapat dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil, yang zuhud terhadap dunia. Kekuasaan yang dimiliki bukan hanya untuk menumpuk kekayaan, tanpa mempedulikan jeritan dan penderitaan rakyatnya.

Khalifah Abu BakarAs-Shidiq, ketika berkuasa, setiap pagi mengunjungi rumah seorang janda tua renta, miskin, dan tidak lagi memiliki apa-apa. Apa yang dikerjakan Abu Bakar? Dia menyapu rumahnya, memerahkan susu, dan menyiapkan makanan buat wanita tua itu. Padahal, dia seorang khalifah, yang sangat mulia, orang pertama sesudah Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Di masa Abu Bakar, orang-orang yang kaya yang tidak membayar zakat diperangi. Orang fakir miskin nasibnya dilindungi.

Sekarang mereka yang menjadi ‘pemimpin’ hanya tipe orang-orang yang tamak, rakus dunia, dan hanya mengumpulkan kekayaan, yang tak terbatas. Sementara itu, kondisi rakyatnya terus menderita. Wallahu Alam. (Ms)

Tafakur Terbaru

blog comments powered by Disqus