Bermula dari Lima Batang Bambu

Adityanugroho – Jumat, 20 Agustus 2010 05:58 WIB

Kang Jarot (40) tidak menyangka, lima batang bambu yang dia siapkan sekitar bulan Mei 2009 lalu sekarang sudah menjadi “sesuatu”. Lima bambu itu telah “disulap” menjadi sebuah bangunan mungil berukuran 3 x 4 meter yang didirikan di halaman depan rumahnya. Bentuknya seperti musala, dengan banyak jendela. Di dinding dekat pintu masuk tertulis Taman Bacaan Masyarakat “Pelangi Nusantara”. Sejak bangunan itu berdiri, warga Desa Wargasara, Pulau Tunda, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, sering datang dan kongkow-kongkow di sana. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak. Ada apa gerangan?

“Itu taman bacaan, Mas,” ungkap lelaki kelahiran 3 Oktober 1969 itu. “Bukunya belum banyak, sih. Tapi lumayanlah daripada tidak sama sekali.”

Kang Jarot bercerita, waktu bertemu relawan Dompet Dhuafa bulan Mei lalu itu, dia menceritakan maksud hatinya untuk membangun sebuah taman bacaan. Niatnya itu langsung ditanggapi dengan antusias oleh Dompet Dhuafa Republika. Dalam waktu singkat, taman bacaan yang menelan biaya enam jutaan rupiah itu langsung direalisasikan.

Tokoh pemuda Pulau Tunda ini sering miris melihat kondisi desanya. Anak-anak banyak yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Apalagi masalahnya kalau bukan biaya. Mantan kapten kapal nelayan itu mencoba membantu melakukan sesuatu, apa saja agar anak-anak Pulau Tunda tidak terlalu jauh tertinggal.

“Saya kasihan lihat anak-anak tidak punya kegiatan yang bermanfaat. Kerjaannya main terus. Orang-orang dewasanya juga begitu. Makanya, saya ingin sekali ada taman bacaan di kampung saya, biar mereka tidak pada bengong saja di rumah, dan tambah pinter tentunya,” tutur Kang Jarot penuh harap.

Menurut ayah dua orang putra ini, taman bacaan tersebut sekarang memiliki koleksi sekitar 200 judul buku sumbangan dari Dompet Dhuafa Republika. “Kemarin ada tambahan buku dari Pemerintah Daerah Banten sebanyak 280 buah. Alhamdulillah,” tambahnya.

Tapi sayangnya, koleksi buku yang sekarang tersedia sebagian besar buku bacaan untuk remaja dan dewasa. Tidak ada sama sekali buku bacaan untuk anak-anak, padahal pengunjung taman bacaan itu sebagian besar anak-anak SD dan prasekolah. “Saya sekarang sedang berupaya mencari jalan mendapatkan buku anak-anak. Anak-anak kan sukanya baca buku yang bergambar dan warna-warni,” harap Kang Jarot.

Namun, belakangan, taman bacaan itu bukan hanya sebagai taman bacaan semata. Saung itu juga sesekali digunakan mertua Kang Jarot untuk tempat pengajian. “Bahkan Bidan desa sering meminjamnya untuk penyuluhan kesehatan dan posyandu,” kata suami Suryani ini sambil tersenyum. “Ya, tidak apalah, yang penting bermanfaat.”

Kang Jarot mengaku kenal Dompet Dhuafa Republika sejak tahun 2006. Saat itu Pulau Tunda dilanda rawan pangan. Ramadhan 1430 H lalu, Dompet Dhuafa datang lagi ke pulau berpenduduk 1060 jiwa dengan 316 KK itu dengan berbagai macam program Ramadhan.

Taman bacaan sederhana yang digagas Jarot masih perlu perjuangan panjang. Ketika ditanya, apa yang dia rencanakan selanjutnya dengan taman bacaan itu, Kang Jarot kembali tersenyum. “Lebaran Haji ini, saya akan mengadakan acara namanya Idul Adha Ceria. Saya mau adain lomba baca Al-Quran dan lomba azan untuk anak-anak,” ungkapnya dengan senyum sumringah.[mel/dd]

www.dompetdhuafa.org

Dhuafa Terbaru

blog comments powered by Disqus