Pakar Sejarah: Kesan Kartini Seorang Feminis Adalah Taktik Belanda

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi – Kamis, 17 Jumadil Awwal 1432 H / 21 April 2011 11:04 WIB

Tanggal 21 April selalu menjadi momentum para feminis untuk mengangkat nama Kartini. Di sebagian daerah, para pelajar dan mahasiswa pun menyemarakkan ekspresi Hari Kartini dengan caranya masing-masing seperti terlihat dalam pantauan Eramuslim.com di salah satu kampus di bilangan Tangerang yang mengangkat Kartini dalam perspektif Gender.

Namun terlepas dari hal itu, nama Kartini memang cukup menyita perhatian. Di satu sisi, Kartini memang sangat theosofis, namun pada sisi lain Kartini pun dekat dengan Islam, karena di akhir hidupnya, ia sempat berguru ke Kiai Soleh Darat di Semarang. Lalu bagaimana kita harus meletakkan proporsi Kartini? Tiar Anwar Bachtiar, Kandidat Doktor Sejarah UI, memiliki perspektif yang coba menelisik itu.

“Jadi Kartini harus diletakkan sebagai orang awam. Sebagai orang awam, dia akan ketemu apa saja, siapa saja dan dimana saja. Jadi itu posisi Kartini. Jadi jika sempat suatu data menyatakan Kartini ketemu orang-orang teosofi memang sangat wajar. Karena bupati saat itu memang dekat dengan tokoh-tokoh theosofi Belanda. Apalagi dia kan pelajar di Sekolah Belanda dan gurunya juga pasti kan ada yang terlibat Theosofi. Jadi jika ia terpengaruh theosofi itu mungkin. Tapi tidak hanya terpengaruh theosofi, dia juga terpengaruh liberalism dan feminis ekstrimis-nya Stella Zeehandelaar.” Ujarnya kepada Eramuslim.com, Rabu 20/04.2011, saat ditemui di kampus UI, Depok.

Kartini sendiri berkorespondensi dengan Stella, seorang feminis ekstrimis, sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Namun kapasitas itu menurut, Tiar Anwar Bachtiar, karena Kartini masih dalam masa pencarian.

Menyambung daripada itu, peneliti INSISTS ini juga menyatakan bahwa Kartini sempat berinteraksi dengan Islam adalah fakta sejarah. Dalam masa akhir-akhir hidupnya, Kartini berguru ke Semarang. Hal itu besar didasarkan karena Kartini terkenal sebagai gadis yang gemar mengaji.

“Tapi memang dalam akhir hidupnya itu dia sempat mengaji ke Kiai Soleh Darat di Semarang karena memang dia senang mengaji. Karena ayahnya Bupati Rembang termasuk santri yang agak senang mengaji. Sebagai istri keempat kan Kartini pasti tidak banyak acara. Jadi Kartini itu sebagai pencari statusnya. Maklum sebagai anak muda dia mencari pengetahuan berbagai macam dan jatidiri, termasuk di masa akhir hidupnya Kartini bertemu Islam. Makanya Pak Mansyur (Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara, red) mengatakan, Kartini terpengaruh Qur’an.” Sambung Tiar Anwar menambahkan.

Dalam keterangan lebih lanjut, Tiar Anwar Bachtiar juga melihat bahwa feminisme dalam pemikiran Kartini adalah taktik Belanda untuk membumikan ajaran feminisme dan liberalisme di Indonesia.

“Anehnya kan yang dimunculkan sekarang bukan Kartini pada masa akhir hidupnya. Kartini dikesankan feminis. Makanya mungkin Kartini juga gak engeh dia ditokohkan. Ini kan terjadi setelah Abendanon (Mr. J.H Abendanon, red.) menerbitkan surat-surat Kartini dengan Stella setelah Kartini meninggal. Jadi Kartini itu dikonstruk oleh Abendanon dan semuanya itu menjadi konsumsi publik dan cenderung liar.” Lanjutnya meyakinkan

Perihal alasan yang membuat Abendanon “membonceng” nama Kartini, Tiar Anwar Bachtiar menyatakan bahwa misi Abendanon tidak lain untuk mempopulerkan gagasan feminisme di Barat ke Indonesia.

“Padahal di Indonesia tidak ada masalah feminisme dari dulu. Perempuan dan laki-laki punya hak sama. Makanya dulu di Jawa kalau lelakinya mencangkul di sawah, perempuannya yang menanam benih. Makanya dari dulu tidak ada patriarki. Patriarki itu masalah Barat, bukan masalah kita, karena masyarakat Barat memang sangat patriarkis. Makanya ketika feminisme itu datang ke Indonesia, susah mendapat konteksnya. Jadi Kartini itu konstruk yang dibuat masyarakat Barat untuk memperkenalkan feminisme di Indonesia. Padahal kita kan tidak butuh itu.” tutupnya

J.H. Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Ia datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900 dan ditugaskan untuk membumikan ajaran-ajaran Barat di Nusantara, termasuk feminisme. (Pz)

Berita Nasional Terbaru

blog comments powered by Disqus