Yahudi Dibalik Industri Porno Dunia (2)

Rizki Ridyasmara – Minggu, 17 April 2011 16:56 WIB

Talmud adalah kumpulan pandangan dan pemikiran para rabbi Zionis-Yahudi yang amat sangat rasis. Talmud inilah salah satu sumber ajaran Nazi-isme yang juga sangat rasialis. Talmud bahkan diyakini Zionis-Yahudi sebagai kitab suci yang jauh lebih suci ketimbang Taurat Musa. Oleh sebagian rabbi bahkan dikatakan jika Talmud merupakan perintah Tuhan yang sengaja disembunyikan Musa, atau tidak ditulis Musa, namun diketemukan oleh para Rabbi Yahudi. Talmud inilah yang menjadi dasar ideologi kaum Zionis Yahudi sejak dahulu hingga sekarang.

Agar kita memahami pandangan Zionis-Yahudi terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi, ada baiknya di sini dikutip sebagian kecil ayat-ayat Talmud. Inilah di antaranya:

“Hanya orang-orang yahudi yg manusia, sedangkan orang-orang non yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang,” (Kerithuth 6b hal 78)

“Orang-orang non yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang yahudi,” (Midrasch Talpioth 225)

“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non yahudi,” (Talmud 1V/8/4a)

“Terhadap orang non yahudi, tidak menjadikan orang yahudi berzina, bisa terkena hukuman bagi orang yahudi hanya bila berzina dengan yahudi lainnya, yaitu istri seorang yahudi. Istri non yahudi tidak termasuk,” (Talmud 1V/4/52b)

“Tidak ada istri bagi non yahudi, mereka sesungguhnya bukan istrinya,” (Talmud 1V/4/81 dan 82ab)

“Orang-orang yahudi harus selalu berusaha untuk menipu daya orang-orang non yahudi,” (Zohar 1, 168a)

Inilah cara pandang kaum Zionis-Yahudi terhadap bangsa-bangsa di luar mereka, yang disebut mereka sebagai Ghoyim atau Gentiles, sehingga mereka merasa memiliki kewenangan penuh terhadap bangsa-bangsa lain di luar mereka, termasuk menjadikan bangsa-bangsa lain sebagai budak dan pelayan bagi kepentingan mereka.

Yahudi dan Industri Porno

Tidak diketahui secara pasti kapan awal mula industri pelacuran dan pornografi terjadi. Juga tidak ada informasi atau literatur yang bisa dipegang keshahihanya tentang bagaimana kaum Sodom dan Gomorrah—misalkan—saling berhubungan dan menjalankan praktek penyimpangannya secara massif. Termasuk bagaimana orang-orang Pompeii yang sangat permisif mengumbar nafsu rendahnya berbisnis secara komprehensif.

Dunia hanya mengetahui kelakuan bejat kaum Sodom dan Gomorrah lewat berita-berita yang tertulis di kitab suci, dan tabiat jelek warga kota Pompeii lewat ‘warisannya yang aneh’ berupa mummi-mummi utuh yang muncul dari timbunan abu Gunung Vesuvius.

Hanya saja, ada beberapa kisah menarik terkait hal ini. Misal kisah pembangunan Piramida Giza yang dilakukan Raja Khufu, 2560 tahun sebelum masehi. Menurut catatan Herodotus, seorang sejarahwan Yunani Kuno, Raja Khufu dari dinasti keempat Pharaoh Mesir, mengumpukan dana untuk pembangunan Piramida Giza dengan mengkomersilkan puterinya sendiri sebagai pelacur. Mungkin inilah pertama kali kisah komersialisasi perempuan demi imbalan materi.

Bangsa-bangsa kuno seperti Yunani, Mesopotamia, Romawi, dan sebagainya juga memiliki kisahnya tersendiri mengenai hal ini. Namun untuk mengindustrialisasikannya, tidak ada yang mampu mengalahkan kaum Zionis-Yahudi seperti saat ini.

Dalam dunia modern sekarang, kita mengenal Hollywood sebagai pusat industri perfilman dunia. Sebab itu banyak sekali pusat-pusat produksi film di berbagai negara menirukan istilah ini seperti Bollywood (India), Nollywood (Nigeria), Cholywood (Peru), Lollywod (Pakistan), Wellywood (Selandia Baru), dan sebagainya. Nama Hollywood telah menjadi satu-satunya legenda dalam hal produksi film dunia. Semua orang kenal dengan Hollywood, semua orang tahu Hollywood.

Namun bagaimana kesan Anda jika mendengar San Fernando Valley?

Nama ini masih terdengar asing di telinga orang kebanyakan. Hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang mengetahuinya. San Fernando Valley, seperti namanya, merupakan wilayah seluas 670 kilometer persegi yang terletak di sebuah lembah di California Selatan, Los Angeles. Lokasinya bertetanggaan dengan Hollywood. Di sana ada kota Burbank, Glendale, San Fernando, Hidden Hills, dan Calabasas. Lebih dari setengah kota metropolitan Los Angeles ada di wilayah San Fernando Valley. Ada beberapa lembah di sekitarnya, namun ketika orang menyebut ‘The Valley’ maka bisa dipastikan yang dimaksud mereka sesungguhnya adalah San Fernando Valley.

Kisah tentang orang-orang Yahudi yang membuka lahan di sekitar daerah itu yang kemudian sekarang kita kenal dengan nama Hollywood, bisa dilihat di dalam Eramuslim Digest edisi 3: “Hollywood Undercover”. Bagaimana dengan San Fernando Valley?

Pembangunan San Fernando Valley tidak bisa dipisahkan dari Hollywood. Pada tahun 1850-an, ketika para penjelajah Spanyol yang kebanyakan berdarah Yahudi pertama kali membuka wilayah yang sekarang dikenal sebagai Hollywood, penduduk asli Amerika (Indian) telah hidup di sekitar lembah pegunungan Santa Monica. Namun warga asli ini terdesak keluar dan Yahudi Spanyol menguasai wilayah tersebut.

Di era 1870-an, para petani Yahudi-Spanyol mulai menggarap wilayah tersebut. Antara lain dengan tanaman pisang dan nanas. Di tahun 1886, H. H. Wilcox membeli daerah Rancho La Brea yang mana isterinya menyebut wilayah itu sebagai "Hollywood", sebuah nama yang diambil dari kitab suci yang berarti “Kayu Suci”. Bagi kalangan peneliti esoteris, istilah ‘Hollywood’ juga identik dengan dengan nama tongkat sihir atau Kayu Suci. Tahun 1911, Nestor Company membuka studio film pertama di di Hollywood. Dalam waktu yang tidak lama kemudian, Cecil B. DeMille dan D. W. Griffith mulai membuat film di wilayah tersebut.

Pertumbuhan Hollywood bagaimana pun juga diikuti wilayah tetangganya, San Fernando. [bersambung/rizki]

Laporan Khusus Terbaru

blog comments powered by Disqus