Wahdah Islamiyah Canangkan Gerakan “Satu Rumah Satu Penghafal Al Quran”

Al Furqan – Senin, 11 Syawwal 1431 H / 20 September 2010 13:07 WIB

Melalui acara Tablik Akbar dan Silaturahmi Keluarga Besar Wahdah Islamiyah pasca Idul Fitri 1431 H, Ahad, 19 September, di Kompleks Kantor DPP WI Jl.Antang Raya N0.48 Makassar, Dewan pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah mencanangkan secara resmi program Nasional "Satu Rumah Satu Penghafal Al Quran".

Gerakan ini dicanangkan sebagai wujud konkrit untuk lebih mendekatkan diri dengan Al Quran, dan juga sebagai respon beberapa waktu lalu adanya rencana seorang pendeta bernama Terry Jones, pemimpin sekelompok jemaat gereja Evangelist di Florida AS telah mengumumkan niatnya membakar Al Qur’an. Dan pada akhirnya ada dua pendeta pendeta Bob Old dan Danny Allen melaksanakannya, Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat, Sabtu (11/9) silam.

Gerakan ini merupakan salah satu poin dari pernyataan Sikap DPP Wahdah Islamiyah menyikapi aksi tersebut. Sebagai wujud nyata pembelaan kita terhadap Al Quran, kami menyerukan untuk bersegera menghapal dan menjaganya di dalam dada-dada kita serta memberi dukungan sepenuhnya bagi anak dan generasi muda kita untuk menjadi generasi Qurani yang menjaga Al Quran dalam dada, lisan dan perbuatannya.

Dalam pernyataan sikap tersebut, juga mengingatkan pula kepada kaum muslimin agar semangat pembelaan terhadap kitabullah dan ghirah terhadapnya diwujudkan pula dengan semangat yang sama untuk kembali kepada Al Quran dan semakin meningkatkan iman terhadapnya dengan membaca, mentadabbur (mengkaji), dan tentunya mengamalkan dan mendakwahkannya.

Acara Silaturahmi ini diisi ceramah tablik akbar oleh Ketua Umum DPP WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA. Dalam Taujihatnya, Ustadz menekankan akan pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan sesame muslim. Islam sangat memperhatikan masalah ini, banyak syariat dalam agama yang mengajarkan kepada kita penting persaudaraan dan jamaah, mulai dari perintah Shalat Lima kali dalam sehari semalam secarah berjamaah, shalat Jumat secara berjamaah, dalam skala tahunan Shalat Dua hari raya, disyariatkan berjamaah dalam jumlah banyak, sampai dalam skala besar, syariat ibadah haji yang mengumpulkan manusia dari seluruh dunia.

Dari berbagai syariat ini, menurut Ustadz dapat diambil pelajaran bahwa setiap muslim diharapkan mempunyai kepedulian terhadap persatuan dan persaudaraan.

Tentang masalah persatuan ini, Ustadz yang saat ini menempuh program Doktoral Di Universitas Ibnu Khaldum Bogor pernah menanyakan langsung kepada Salah satu Ulama Senior Saudi Arabia, tentang ketika seseorang berada dalam negeri kaum muslimin, apakah boleh punya pilihan untuk melaksanakan puasa dan idul fitri menyelisihi sebagian besar kaum muslimin di Negara tersebut, Syaikh memberikan jawaban, hendaknya mengikuti yang mayoritas walaupun meyakini yang sebaliknya.

Ustadz menambahkan contoh lain, ketika Nabi SAW mengatakan kepada Istrinya Aisyah RA tentang rencana Nabi merombak bentuk kabah sesuai dengan bentuk yang dibuat Nabi Sulaiman awalnya. Nabi mengurungkan niatnya, karena kaum muslim saat itu baru-baru masuk Islam, dikhawairkan menimbulkan gejolak di masyarakat yang melukai hati kaum tersebut. Ini menandakan bahwa Sesuatu yang baik namun bukan hal pokok dapat ditinggalkan dengan pertimbangan menjaga ukhuwah dan persatuan.

Berkaitan dengan hubungan sesama muslim, Ustadz mengingatkan agar menghindari diri dari keadaan yang mengakibatkan orang lain bisa berprasangka buruk, olehnya itu seyogyanya perlu memberikan lebih dahulu penjelasan kepada seseorang terhadap sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah dan tidak mendiamkannya. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah SAW ketika suatu malam berjalan bersama Istrinya Aisyah, namun pada saat itu, ada Sahabat berada di dekat Nabi. Maka untuk mencegah Sahabat tersebut berprasangka buruk, maka Rasulullah langsung menghampirinya, dan mengatakan bahwa perempuan yang bersamanya, adalah Aisyah, Istri Rasulullah.

Di sisi lain, makna adanya pertemuan antara sesame muslim adalah dapat memberikan solusi terhadap persolan yang dihadapi, karena jika sesorang sering bertemu dapat mencairkan ermasalahan yang ada. Dengan bertemu orang dapat saling mengingatkan dan saling mengungkapkan unek-unek yang ada.

Secara Spesifik, Ustadz mengingatkan akan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua dan kerabat dekat dan jauh. Birrul Walidain yang merupakan istilah berbuat baik kepada kedua orangtua mengandung makna akan ditekannya pro aktif dari sisi anak.

Menghormati yang lebih tua, juga salah satu yang ditekankan. Bagi mereka yang berada pada posisi lebih muda umurnya hendaknya lebih dulu dan menyadari akan pentingya namanya penghormatan kepada yang lebih tua, walaupun di sisi lain orang yang lebih tua, jika lebih dahulu memberikan perhatian, itu merupakan kelebihan untuknya, dalam bersegera melakukan kebaikan.

Dengan demikian, menurut Ustadz akan lahir suatu peradaban yang tinggi dengan etika Islam yang timbul secara alami dan otomatis dalam interaksi dalam kehidupan.

Menyikapi adanya pembakaran al Quran oleh dua pendeta di Amerika beberapa hari lalu, Ketua Umum WI menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh lewat begitu saja, ini merupakan sesuatu peristiwa yang menyayat hati kaum muslimin.

Perlu ada sikap yang jelas dan nyata sebagai wujud keimanan dan mengagungkan syiar Allah, tentunya sikap yang diberikan sesuai dengan arahan al Quran dengan tidak emosional melakukan tindakan fisik yang anarkis dan tidak sesuai syariat.

Dalam tablik akbar ini, Ustadz menyampaikan lima pesan untuk menyikapi hal tersebut

Pertama, sudah saatnya untuk kembali menggelorakan dalam mengsakralkan Mushaf Al Quran, dihidupkan dalam hati-hati kaum muslimin dalam kelurga yang harus diagungkan dan ditinggikan. Bentuk penghormatan terhadap al Quran juga boleh dengan menciumnya secara langsung.

Kedua, mempelajari cara membacanya dengan kaidah tajwid yang benar

Ketiga, memperbanyak membaca Al Quran. Dan membiasakan selalu membawa al Quran jika bepergian sehingga bisa mempermudah untuk dekat dengan al Quran sewaktu-waktu.

Keempat, mentadabburi ayat-ayat Al Quran, dengan mempelajari tafsir dan minimal memahami terjemahannya.

Kelima, peristiwa ini dijadikan momentum untuk melahirkan sebanyaknya para penghafal Al Qura’an. Pada asalnya al Quran itu dihafal seperti pada zaman Rasulullah. Dan Wahdah Islamiyah sudah mencanangkan gerakan nasional untuk “Satu Rumah Satu penghafal Al Quran”.

Keenam, pengagungan terhadap Al Quran adalah dengan mengamalkan dan mendakwahkannya ke umat.

Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Ustadz Abd.Said Shamad, Lc di akhir acara menyampaikan arahan pentingnya menjaga ukhuwah sesama muslim dalam rangka memperkuat dan menyolidkan dakwah. Juga Ustadz mengingatkan bahwa berbagai kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan di bulan Ramadhan, hendaknya dapat terus dilanjutkan di Luar Ramadhan. Di Bulan Syawal ini menurutnya, ada syariat untuk berpuasa selama enam hari. Puasa ini sebaiknya untuk segera diselesaikan, tidak selalu ditunda.

Acara silaturahmi ini diawali oleh penampilan beberapa anak laki-laki dan perempuan dalam menghafal surah pilihan, yang merupakan alumni program 17 hari menghafal Al Quran Ramadhan yang lalu.

500 Warga Wahdah Telah Donor Darah

Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA usai isi Tabligh Akbar berpartisipasi langsung dalam aksi sosial Donor Darah yang digelar oleh Departemen Kesehatan DPP WI bekerjasama dengan PMI Unit Transfusi Darah Kota Makassar.Dalam aksi donor darah kali ini terkumpul sebanyak 54 Kantong Darah (41 Pria dan 13 Wanita)

Menurut Ketua Departemen kesehatan DPP WI, Abd.Hakim, S.Kep.Ners, setelah beberapa tahun ini secara rutin gelar aksi donor darah sudah ada sekitar kurang lebih 500 warga Wahdah berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini di daerah Makassar dan daerah lainnya. Aksi ini sebagai wujud kepedulian sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Pelaksanaan donor darah selalu digelar bersamaan dengan acara Tablik Akbar dan Pengajian rutin baik di lokasi kantor Pusat Wahdah di Antang Raya dan di Masjid Wihdatul Ummah, Markas Wahdah cabang Makassar Jl.Abd.Dg.siru serta di beberapa Masjid Cabang Wahdah di daerah.

Sebagai contoh di cabang Bone, Wahdah secara rutin setiap tiga bulan sekali gelar aksi donor darah ya ng diikuti oleh pengurus dan kader. Bahkan menurut Ketua Cabang Bone Ustadz Abdulrahim, pihak Unit Transfusi Darah Bone, menghubungi Wahdah Bone jika memerlukan stok darah.

Menurut Ustadz Zaitun, saat berbincang dengan petugas donor saat sementara donor, bahwa donor darah selain bernilai sosial juga sejalan dengan syariat bekam dalam Islam,yakni sama-sama mengeluarkan darah, yang juga berdampak positif bagi kondisi tubuh.

“Insya Allah pada hari raya kurban tahun ini, Donor Darah ini akan dijadikan Program Nasional secara serentak di seluruh cabang Wahdah Islamiyah,”ungkap Ustadz.

PERNYATAAN SIKAP

No. 442/IL/DPP-WI/X/1431
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ

أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

والصلاة والسلام على رسول الله الذي بعثه ربه رحمة للعالمين ليتلو على الناس آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد,

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

Shalawat dan salam kepada Rasulullah sebagai- Rahmatan lill’alamien membacakan kepada manusia ayat-ayatNya, mensucikan mereka dan mengajarkan al-Qur’an dan hikmah (as-Sunnah)

Sehubungan dengan rencana Pendeta Terry Jones pemimpin jammat gereja Evangelist di Florida AS kemudian disusul dengan aksi pembakaran al-Qur’an oleh dua orang pendeta (Bob Old dan Danny Allen) pada tanggal 11 September di Springsfield AS, maka DPP Wahdah Islamiyah memandang perlu mengeluarkan suatu pernyataan sikap sebagai wujud kecintaan terhadap kitabullah al-Qur’an al-Karim dan sebagai arahan bagi anggota WI dan kaum muslimin umumnya, khususnya di negara kita Indonesia sebagai berikut:

1. Mengutuk keras niat dan perbuatan biadab ini yang tidak mencerminkan etika dan norma kemanusian manapun, namun sekalilgus telah membuktikan firman Allah:

قدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ…

Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. (QS.Ali ‘Imran: 118)

2. Mendukung setiap usaha untuk menghentikan niat, rencana dan perbuatan busuk ini dengan cara yang tepat dan proporsional, termasuk yang telah dilakukan pemerintah Indonesia.

3. Mengingatkan kaum muslimin bahwa selalu ada pihak yang ingin menghalangi manusia untuk mendapatkan hidayah dan rahmat Allah melalui kitabNya yang agung ini, sebagaimana firmanNya:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَـٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka".(QS.Fushilat:26)

Namun sekaligus kami mengingatkan bahwa dengan caraNya Allah telah menegaskan penjagaanNya terhadap kitabNya yang mulia ini:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS.Al Hijr: 9)

4. Mengingatkan pula kepada kaum muslimin agar semangat pembelaan terhadap kitabullah dan ghirah terhadapnya diwujudkan pula dengan semangat yang sama untuk kembali kepada al-Qur’an dan semakin meningkatkan iman terhadapnya dengan membaca, mentadabbur (mengkaji), dan tentunya mengamalkan dan mendakwahkannya. Hendaknya kita memperhatikan firman Allah:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا . وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an itu sesuatu yang ditinggalkan" Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.(QS.Al Furqan: 30-31)

5. Diantara kemuliaan seorang hamba adalah jika Allah “memakainya” (استعمله – Tafsir Ibnu Katsir) untuk menjaga kitabNya yang mulia dengan menghapalkannya hingga al-Qur’an bersemayam di dadanya.

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (QS.Al Ankabut: 49)

Sebagai wujud nyata pembelaan kita terhadap al-Qur’an, kami menyerukan untuk bersegera menghapal dan menjaganya di dalam dada-dada kita serta memberi dukungan sepenuhnya bagi anak dan generasi muda kita untuk menjadi generasi Qur’ani yang menjaga al-Qur’an dalam dada, lisan dan perbuatannya.

Dan sebagai wujud kongkrit hal tersebut di atas maka dengan ini kami canangkan gerakan SATU RUMAH SATU HAFIZH (penghapal Al Quran).

إِنَّ هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

Demikian pernyataan sikap ini dibuat, semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Makassar, 10 Syawal 1431 H

19 September 2010 M

DEWAN PIMPINAN PUSAT

WAHDAH ISLAMIYAH

H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc.

Ketua Umum

Sekretaris Jenderal

Ir. H. Muh. Qasim Saguni

CP:Muh.Asyraf (085242907487)

Info Umat Terbaru

blog comments powered by Disqus