Kisah dari Jerman: Perkenalan di Kampus Oldenburg

Al Furqan – Selasa, 14 Safar 1430 H / 10 Februari 2009 16:05 WIB

Ketika pertama kali saya sampai di Jerman, maka yang pertama saya cari adalah bagaimana menelepon keluarga di Indonesia. Wartel? Di sini ada wartel, hanya saja saat itu saya belum tahu apa istilah wartel di Jerman, sedangkan yang banyak tersedia adalah telepon umum memakai kartu dan koin. Hati saya terlalu gelisah dan rasanya hanya menambah gelisah bila harus berinteraksi dengan alat-alat yang masih asing cara penggunaannya. Maka datanglah saya ke suatu kios, dan menanyakan pada seorang ibu tua yang menjaganya. Sambutan yang pertama diberikannya kepada saya adalah senyuman. Ia kurang mengerti apa yang saya inginkan, karena aneh saja orang ke kios bertanya bagaimana menelepon keluarganya. Kemudian ia memanggil 2 anak muda yang ikut menjaga kios tersebut, yang satu pria dan yang lain wanita. Mereka ternyata mahasiswa, dan memahami masalah saya, maka mereka pun memberitahu solusi atas masalah saya. Ketika itu ada orang mengantri untuk membayar di belakang saya, tetapi sang ibu tua dan kedua mahasiswa begitu sabarnya melayani saya yang menghujani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan sepele. Sampai akhirnya ketika mereka yakin saya mendapatkan poin dari saran mereka, maka baru mereka mempersilahkan pengantri di belakang saya untuk membayar. Saat itu saya tidak membeli apa-apa di kios tersebut, dan ketika berpamitan mereka melepas saya dengan senyum yang lepas.

Yang paling saya cari ketika mengunjungi supermarket kali pertama adalah ember atau gayung. Maklum kamar mandi dan toilet di Jerman tidak mendukung untuk bersuci dengan cara yang saya nyaman dengannya. Maka saya tanyakan pada kasir di mana saya bisa menemukan ember. Ia sedikit tertawa bahwa tidak ada ember di sini, tapi saya bisa mendapatkannya di pasar, di pusat kota. Pasar? Yang terbayang oleh saya pasar itu ya seperti Pasar Balubur di Bandung. Sampai di pusat kota, habis rasanya saya kelilingi pusat kota tersebut, tak juga saya temui pasar tersebut. Di kemudian hari baru saya sadar bahwa keseluruhan pusat kota itulah pasar. Akhirnya saya hanya membeli sebuah cup yoghurt di supermarket dan menggunakannya untuk membantu bersuci.

Orang yang ditugaskan oleh universitas untuk menjemput saya di stasiun kereta sesampainya saya di kota tempat studi adalah Isam, seorang muslim dari Palestina. Ketika tahu dia dari Palestina, maka saya katakan padanya, “We are brother”, dan ia pun tersenyum mengangguk. Ia katakan pada saya bahwa Oldenburg adalah kota sepeda. Kotanya flat (datar), sangat nyaman bersepeda. Di sini, mahasiswa, profesor, anak-anak, pemuda, kakek-nenek, semuanya bersepeda. Dan memang itulah adanya. Ia menyarankan saya untuk secepatnya membeli sepeda, dan ia tunjukkan toko yang tidak jauh dari universitas. Sesampai di asrama, Isam menunjukkan kamar saya dan memberitahu informasi seperlunya mengenai asrama. Walau dari luar, asrama ini cukup megah, 10 tingkat, tapi kamar saya hanya kamar yang sederhana dan bersih. Di kemudian hari saya mengetahui bahwa bagi mahasiswa yang akan meninggalkan asrama maka kewajibannya adalah membersihkan asrama ini sebagaimana kali pertama ia memasukinya, sehingga mahasiswa baru yang akan tinggal mendapati kamar sama seperti yang ia dapati. Kamar saya di lantai pertama, ukurannya 4 x 3 m, diisi tempat tidur, meja, lemari pakaian, lemari buku, dan rak buku di dinding yang bisa di lepas-pasang. Ya, sederhana, tetapi setelah dipikir, bukankah ini sudah cukup bagi saya?

Penghuni asrama yang pertama kali saya temui adalah Nadine dan Cologne. Mereka agak heran juga ketika saya tidak membalas uluran jabat tangan mereka, namun hanya mengatupkan dua tangan saya di dada, sambil tersenyum paksa. Saya kenalkan diri saya, dan kami hanya berbicara sebentar. Tiap lantai terdiri dari 8-11 kamar, dan berbaris di sisi kanan dan kiri koridor. Teman saya dari Nigeria, Stanley, mengatakan desain koridor di asrama kami ini seperti penjara di negerinya. Isam kemudian membawa saya ke kamar salah seorang penghuni di koridor kami, ia bilang bahwa orang ini adalah orang baik, dan akan siap membantu saya. Namanya, Bhatti, dari Pakistan, tetapi panggilannya adalah Sunny. Pemuda Pakistan ini persis seperti yang Isam bilang, sangat penolong. Mulai dari mencari ganti bola lampu di kamar saya, mendaftar akses internet asrama, mencarikan sepeda yang bisa saya pakai, hingga mengajarkan kepada saya filosofi memasak, dan menjadikan saya tester-nya. Bila saya ada di asrama, maka tidaklah ia memasak dan kemudian bersiap menyantap sebelum mangajak saya untuk makan bersamanya. Ketika kami makan bersama ia sering memaparkan hadis, kagum juga saya dengan pengetahuannya. Ia selalu bersemangat bila berbicara antara ajaran Islam dan kenyataan yang ditunjukkan oleh umat Islam. Saya masih ingat bagaimana ia menceritakan bahwa ia pernah ke Dubai, di mana begitu banyak gedung-gedung megah nan ajaib namun di belahan bumi Islam lainnya kelaparan di mana-mana. Dalam hal memasak, ia punya rahasia yang unik. Saya bingung ia tidak pernah menakar bumbu atau campuran masakan lainnya. Ketika saya tanyakan alasannya, ia menjawab bahwa ia baru belajar memasak semenjak di Jerman. Satu tahun ia coba-coba sendiri bagaimana memasak, dan katanya feeling-nya yang kemudian mengukur setiap takaran untuk masakannya. Tetapi masakannya betul-betul enak. Bahkan setelah terampil memasak, ia membuka jasa menyajikan masakan bagi keluarga Jerman yang ingin menikmati menu Asia. Dalam hal memasak, saya belajar darinya untuk menakar hanya dengan feeling, tetapi sayang rasa masakan saya tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan guru saya.

Saya merasa beruntung karena di asrama saya banyak juga yang muslim. Di koridor kami masih ada Kimet, seorang gadis Turki yang tidak memakai hijab. Ketika Bulan Ramadhan, saya dan Bhatti sedang menikmati ifthar bersama, dan dia datang menghampiri kami sambil bercanda menjawab kata-kata kami dalam bahasa arab yang merupakan istilah-istilah dalam Islam. Ya, Turki adalah negara 99% Muslim, walau angka desimal yang dihilangkan lebih menunjukkan dekatnya ia ke 100%, jadi tidak heran jika naluri mereka adalah menganggap bangsa manapun yang muslim layaknya saudara mereka. Kemudian ada Shoeb, dari Bangladesh, mahasiswa ekonomi dan informatika. Di Oldenburg, mahasiswa bisa mengambil bidang studi yang tidak hanya satu displin ilmu, tetapi gabungan dari satu atau beberapa bidang, dan Shoeb adalah salah satunya. Gelar yang diberikan pun hanya satu gelar akademis, kalau dalam Bahasa Indonesia mungkin adalah Sarjana Ekonomi dan Informatika. Bhatti sendiri belajar politik, hukum, dan ekonomi juga, tetapi saya tidak menanyakan apa gelar akademis yang akan ia terima, karena bagi saya hanya menambah keheranan saja. Shoeb ini teman yang ramah. Entahlah, tetapi sepanjang saya hidup di Jerman, bangsa dari Asia Selatan adalah orang-orang yang sangat ramah, terlebih bila kami sesama muslim, dan satu lagi, mereka jago masak. Mereka sering mengajak saya untuk makan bersama menikmati masakan mereka, tetapi tidak saya penuhi setiap waktu, karena saya sendiri malu tidak menyiapkan apa-apa untuk hidangan tersebut. Kemudian ada Abdul Wahid, dari Pakistan, yang dulu tinggal di asrama kami, tetapi semenjak melakukan tesis, ia lebih sering menetap di Köln1. Hanya kadang-kadang kami bertemu di Oldenburg. Ia juga orang yang ramah, dan ketika saya sedang bertandang ke kamar Shoeb, saya bisa melihat betapa khusyuknya ia melakukan shalat. Bahkan salah seorang Bruder2 yang sering menjadi imam dan khatib di masjid juga tinggal di asrama kami. Semenjak saya tinggal di Jülich3, saya lupa namanya, yang saya ingat nama depannya, Abdul. Ia berasal dari Arab dan saya kesulitan mengingat nama-nama saudara saya dari Arab yang diawali dengan Abdul, karena seringkali mereka punya nama yang sama.

Di Jerman, sistem pendidikan mereka tidak mengenal pemeringkatan perguruan tinggi. Ini berbeda dengan Inggris dan Amerika Serikat, di mana ada perguruan tinggi yang top, menengah, dan rendah. Jerman secara adil memperlakukan setiap perguruan tinggi. Kualitas perguruan tinggi di seantero Jerman, boleh dikata tidak berbeda jauh antara yang satu dengan yang lainnya. Profesor di sini tidak boleh selamanya mengajar hanya di satu universitas. Suatu saat ia harus pindah dan mengajar di universitas lain, tujuannya apalagi jika bukan agar belahan bumi Jerman lainnya ikut mendapatkan kemanfaatan dari sang profesor. Tetapi lambat laun sistem ini sepertinya sulit mereka pertahankan karena ada tekanan dari Uni Eropa untuk menerapkan standarisasi sistem pendidikan bagi para anggotanya, dan yang namanya standar bagi mereka adalah ikut sistem kebanyakan walau belum tentu cocok bagi bangsa yang semenjak lahir sudah berbeda-beda.

Universitas Oldenburg adalah kampus yang asri. Universitas ini mempunyai dua kampus, masing-masing terpisah 1 km. Kampusnya cukup luas, dan begitu rimbun dengan hutan universitasnya. Karena adanya hutan universitas ini, saya tidak tahu pasti seberapa luas universitas ini. Tetapi kalau dari area yang saya kenali, maka luasnya tidak lebih dari luas kampus ITB. Yang terbaik dari tiap universitas di Jerman adalah perpustakaannya. Bayangkan, selama kuliah di sini, saya tidak perlu membeli buku satu pun. Semua tersedia di universitas. Bahan kuliah juga disediakan yang bisa diakses dari jaringan internal kampus dan internet. Sistem multimedia pembelajaran ini tidaklah berpenampilan mewah dan penuh aksesoris web, tetapi sederhana, dan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa. Rasanya kalau saya disuruh menilai mana universitas yang terbaik, maka cukup mudah bagi saya. Jangan menilai dari gedung universitas tersebut, jangan menilai dari dosennya, jangan menilai dari mahasiswanya, tapi saya akan menilai dari perpustakaannya.

Gedung universitas rata-rata tingginya hanya tiga lantai. Selama di Jerman saya juga cukup aneh dengan sulitnya menemukan gedung-gedung tinggi menjulang, dan pencakar langit. Gedung-gedung pencakar langit di Jerman hanya ada di kota Frankfurt. Di kota lainnya tidak pernah saya temui gedung-gedung tinggi. Tetapi ada sedikit keteraturan, yaitu kalaulah ada gedung paling tinggi di suatu kota, rasanya yang paling tinggi itu adalah bangunan gereja.

Tempat kuliah saya adalah area tersendiri, kami menyebutnya Energielabor, laboratorium energi. Sayang saya tidak bisa menampilkan fotonya pada tulisan ini. Bila kita melihat dari luar, rasanya kita tidak akan menduga bahwa ini adalah tempat belajar, melainkan mirip sebuah kandang, hanya kandang ini bersih dan tidak ada kotoran. Benar, saya hanya menyampaikan kesan pertama yang terlintas di benak saya ketika melihat tempat studi energi terbarukan kami. Bangunannya dari kayu, dengan desain segi enam, mirip sarang lebah. Di bagian dalam sangat sederhana, ada beberapa ruang profesor dan tim mahasiswanya, dan ruang seminar yang biasa dipakai sebagai ruang kuliah. Kadang-kadang ruang seminar ini juga dipakai untuk kuliah tamu atau presentasi karya ilmiah. Di halaman belakang bangunan, terhamparlah berbagai teknologi yang dirancang manusia untuk memenuhi kebutuhan energinya. Ada barisan panel surya yang menempel pada atap bangunan dengan membentuk sudut terhadap matahari sebagaimana sudut atap. Ada solar collector, yang memanfaatkan panas matahari, biasanya digunakan untuk menyediakan air panas. Di Jerman setiap rumah harus memiliki sistem penyediaan air panas, dan pemanas ruangan. Ini sangat penting, bahkan mengkonsumsi 70% energi mereka. Mereka membutuhkannya untuk menghadapi musim dingin selama 3 bulan, Desember hingga Februari, walau biasanya semenjak Oktober dan November hawa dingin ini sudah datang memperkenalkan diri. Kemudian ada turbin angin berdaya rendah yang dilengkapi dengan anemometer untuk mendeteksi kecepatan dan arah angin, pyranometer yang dijadikan alat bantu untuk mengukur radiasi matahari, dan datalogger untuk mengambil data. Pada sudut area ada sebuah kandang (ini baru kandang) tempat laboratorium biogas, memanfaatkan gas metan yang dihasilkan dari kotoran sapi yang mengalami anaerobic digestion. Sebenarnya, staf pengajar saya, mengatakan bahwa mereka bisa juga menggunakan kotoran babi, hanya mereka tidak melakukannya karena mengetahui bahwa di antara peserta kuliah master ini ada yang muslim, dan ini sebagai bentuk penghormatan mereka. Semua peralatan yang ada dirancang dan ditampilkan dengan gaya sederhana, cukuplah bagi mahasiswa untuk sekilas bisa mereka-reka bagaimana keseluruhan sistem ini bekerja.

Di dalam kelas ada papan kapur tulis, sebuah komputer, sebuah LCD projector, sebuah lemari berisi sedikit perlangkapan laboratorium dan buku, meja panjang yang berbaris menyesuaikan dengan bentuk ruangan yang merupakan satu segi dari enam segi bangunan, peta radiasi matahari yang ditempel di dinding, papan pengumuman yang ditempeli artikel koran yang sedikit lusuh, westafel dengan lemari piring dan gelas, beberapa poster tentang aktivitas energi terbarukan di negara berkembang, dan jendela kaca lebar yang membuat kita bisa melihat langsung taman kecil di tengah-tengah Energielabor ini yang dilengkapi meja dan papan tulis, biasanya dipakai untuk belajar oleh mahasiswa atau peneliti di sini. Di kemudian hari saya baru mendapat jawaban mengapa Energielabor bentuknya seperti ini, tidak lazim. Ternyata bangunan ini dirancang agar ketika musim panas4, kondisi dalam ruangan tidak terlalu panas, dan ketika musim dingin ruangan sesedikit mungkin mengkonsumsi energi untuk memanaskan. Energielabor juga ternyata memenuhi kebutuhan energinya sendiri, bahkan berlebih, hingga menjualnya ke perusahaan energi setempat. Jadi inilah alasan di balik kandang segi enam beserta segala kelengkapannya yang menjadi pertanyaan saya.

Penampilan staf pengajar saya begitu sederhana, seperti penampilan kami para mahasiswanya. Salah satunya adalah Dr. Blum, begitu kami sering menyapanya. Beliau ini orang yang unik. Kadang ia bercanda, tetapi orang lain bingung dan menganggap tidak lucu, anehnya saya memahami humor yang ia maksudkan dan ikut tersenyum. Dia menceritakan bahwa ia adalah seorang chemist yang kemudian jatuh cinta pada physics, dan sekarang sedang menikmati electrical engineering. Ini tidak aneh di Jerman. Saya tidak tahu apa alasan dia berpindah-pindah jalur keilmuan, yang paling mudah saya tangkap adalah bahwa dia tidak puas dengan ilmu yang saat ini dia pelajari. Tadinya saya berpikir seorang yang saat ini ahli di suatu bidang, pastilah sebelumnya berasal dari bidang yang sama dengan keahliannya sekarang. Anggapan saya ini runtuh seketika pada saat saya mengobrol dengan supervisor tesis saya saat ini, Dr. Steinberger. Ia saat ini adalah seorang ahli fuel cell5, bidang yang menjadi fokus tesis saya. Tadinya saya berpikir bahwa pastilah dahulu ia mengerjakan Diplomarbeit6 mengenai fuel cell, dan mengambil PhD tentang fuel cell. Ternyata ia mengerjakan efisiensi energi bangunan Energielabor dari perangkat teknologi yang tersedia untuk Diplomarbeit-nya, dan topik PhD nya adalah menggunakan teknologi biomassa untuk menutup kekurangan energi yang disediakan oleh turbin angin. Jadi, bisa dibilang tidak ada hubungan sama sekali dengan fuel cell. Ketika saya tanyakan latar belakang ia bergelut di bidang yang sekarang menjadi keahliannya ini, maka ia menjawab bahwa dahulu ia pernah mengerjakan proyek untuk menjadikan biomassa sebagai penyedia gas input untuk fuel cell, sehingga ketika semakin sering mendapat proyek yang berkaitan dengan fuel cell, ia pun memilih terjun di bidang ini.

Sungguh, kegembiran saya yang paling utama adalah ketika menemukan masjid untuk Shalat Jumat. Masjid yang pertama kali saya ketahui adalah yang dikelola oleh saudara dari arab. Tidak ada papan nama masjid di depan. Masjid ini menyatu dengan bangunan kantor, yang bangunannya seperti ruko di Indonesia. Masjid ini terletak di lantai paling atas, Dachgeschoss7, mungkin kalau di Indonesia adalah ruang loteng yang masih bisa dimanfaatkan. Kata saudara dari Indonesia, tinggal di Dachgeschoss itu unik, ketika musim panas terasa lebih panas, dan ketika musim dingin terasa lebih dingin. Wajar saja karena atap ruangan adalah langsung atap bangunan, sehingga ada perbedaan perpindahan panas dibandingkan lantai-lantai di bawahnya, yang isolasinya lebih baik.

Maryam Moschee, begitulah nama masjid ini, artinya Masjid Maryam. Terakhir saya menetap di Oldenburg, masjid ini kemudian pindah ke bangunan di seberang jalan, dengan beralasan bahwa kalau dipakai Shalat Jumat, beberapa orang Jerman yang bekerja kurang merasa nyaman dengan hilir mudik orang-orang, karena pada lantai tempat masjid kami berada juga ada yang dipakai sebagai kantor. Di bangunan baru, masjid kami tetap di Dachgeschoss, hanya saja tidak ada kantor lain yang selantai dengan kami, jadi semua Dachgeschoss itu adalah masjid.

Tidak mungkin seorang muslim yang sehari-hari mendengar azan kemudian tiba-tiba hidup di negeri yang asing dengan azan tidak terharu bila kemudian mendengar seruan kepada ALLAH ini dilantunkan, terlebih yang melantunkan azan adalah saudara dari negeri lain. Khutbah disampaikan dalam Bahasa Arab, dan pada khutbah kedua yang lebih singkat disampaikan dalam Bahasa Jerman. Selepas shalat, para jamaah bercengkrama melepas rindu. Ya, kami yang shalat di Oldenburg tidak lah setiap hari bertemu. Masing-masing sibuk dengan rutinitas pekerjaan di Jerman, yang manajemen waktunya amat ketat. Bahkan yang shalat di Oldenburg, juga ada yang berasal dari kota-kota tetangga yang belum memiliki masjid. Ada rasa berbeda ketika berinteraksi dengan saudara-saudara dari bangsa lain. Entah kenapa saya mudah akrab dengan mereka. Ketika pertama kali berkenalan, mereka agak sulit menangkap nama saya, mungkin karena saya mengejanya tidak dengan cara orang arab mengeja. Terpaksa saya bantu dengan mengatakan "Suratul Kahf, surah achzehn im Koran8“, barulah mereka tersenyum sekaligus langsung memanggil saya dengan benar.

Yusuf, ia adalah saudara dari Maroko. Wajahnya tampan mencerminkan namanya. Bagi saya, rasanya ia lah sang pengurus masjid, karena yang paling sering terlihat di masjid adalah dirinya. Ternyata apartemennya juga tidak jauh dari masjid. Pelajaran berharga yang saya dapati dari bergaul dengan saudara dari arab adalah ketegasan, ketika benar dibilang benar, dan salah dibilang salah. Ini terjadi ketika Yusuf mengoreksi wudhu saya, padahal saat itu saya dan dia belum kenal begitu dekat. Tetapi memang mengatakan yang benar apa adanya ketimbang membiarkan kesalahan saudara kita tersumbat di hati adalah sikap yang lebih menenangkan hati, jadi saudara kita tahu bahwa kita berkata apa adanya, dan kita melakukan itu justru karena cintanya kita padanya. Pernah suatu kali kami sehabis Shalat Jumat, saya dan Anwar9, duduk bersebelahan. Lalu saudara dari arab yang duduk di sebelah Anwar, mengatakan pada Anwar, "Haram..haram..“ sambil menunjuk ke cincin di jari manis Anwar. Anwar tidak mengerti karena saudara itu menjelaskan dalam Bahasa Jerman yang kurang jelas, sehingga Anwar hanya mengangguk-ngangguk sambil pucat tanpa mengerti apa maksud saudara dari arab itu. Ketika kami di luar, kami sempat tertawa mengingat kembali peristiwa di masjid tadi. Saya katakan pada Anwar bahwa itu dikarenakan dia memakai cincin emas di jarinya, dan saudara dari arab itu mengingatkan bahwa itu haram. Anwar malah balik bertanya kepada saya bahwa benarkah cincin emas haram? Saya hanya menjawab bahwa berdasarkan yang saya pahami memakai perhiasan emas memang haram bagi laki-laki muslim namun halal bagi wanita muslim. Ia agak sulit menerima ini karena baginya cincin itu punya makna penting. “Kahfi, this is symbol of love”, begitulah ia beralasan. Suatu saat, pernah juga ketika kami di masjid, Yusuf mengulang kembali pada Anwar bahwa cincin emas itu haram. Apa daya Anwar pun melepasnya, tetapi ketika kami sudah di luar dan menunggu bis, ia kemudian memakainya kembali. Dasar Anwar..bersambung Insya Allah

(Ibnu Kahfi Bachtiar, Mahasiswa S2 Universitas Oldenburg (Jerman)

Catatan :

  1. Dibaca Koeln (huruf ö dibaca seperti hendak mengucapkan huruf e tetapi dengan vokal o, begitulah guru Bahasa Jerman saya memberikan tips)
  2. Bruder = brother = saudara
  3. Kota kecil di barat daya Jerman, ejaan ü mirip dengan tips sebelumnya, hanya diucapkan dengan vokal u
  4. Saya pernah merasakan suhu udara di Jerman mendekati 40 derajat celcius
  5. Teknologi konversi energi, layaknya batere, bila tertarik ada sumber pembelajaran bebas di www.fuelcells.org
  6. Seperti skripsi atau tugas akhir di Indonesia
  7. Dach = atap, Geschoss = lantai
  8. Surat Al Kahfi, surat 18 dalam Al Quran
  9. Saudara dan teman kuliah saya yang istimewa dari Bangladesh

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus