Perang Iraq: Model Perang Berikutnya Setelah Era Perang Dingin?

Saad Saefullah – Rabu, 9 Sya'ban 1431 H / 21 Juli 2010 10:51 WIB

Perang Iraq adalah perang yang dilakukan Amerika Serikat—didukung Inggris, Australia dan Kanada. Menamakan diri dengan Iraqi Freedom Operation, perang ini bisa dibilang sangat efektif, karena berlangsung singkat, dimulai pada 19 Maret 2003 dan berakhir 14 April 2003 (kurang dari satu bulan). Baghdad, ibu kota Iraq, berhasil direbut 11 April 2003. Melihat jumlah korban yang tak terlampau banyak ketika itu, pengamat perang dengan serta-merta memasukan kategori ini sebagai “konflik.”

Akibatnya, pasukan Iraq tak mampu menahan gempuran pasukan asing yang melancarkan serangan dari arah selatan. Pasukan AS digadang-gadang melakukan serangan dengan cepat dengan menggunakan persenjataan canggih sesuai RMA (Revolution in Military Affairs). Pasukan Garda Republik milik Iraq yang selama ini sangat dibanggakan ternyata tak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghalau serangan pasukan AS dan sekutunya.

Berdasarkan teori yang disampaikan Clausewitz bahwa perang adalah lanjutan dari hubungan politik memperlihatkan bahwa perang yang dilancarkan oleh AS saat menyerang Iraq adalah bagian dari skenario politik. Hal ini memperlihatkan kebenaran teori Clausewitz bahwa perang diposisikan sebagai instrumen politik. Keberanian AS untuk melancarkan aksi ofensif memperlihatkan kesiapan pasukan AS untuk berperang karena didukung oleh sarana perang yang canggih.

Iraq jelas tak siap untuk berperang ketika itu. Pemerintah Iraq masih berharap PBB dapat mencegah rencana serangan AS. Namun, tampaknya harapan itu tidak terjadi, karena PBB—seperti biasanya—tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah rencana perang AS. Melihat perbandingan kekuatan militer, kalau pun terjadi perang, strategi Iraq bukanlah berperang secara frontal, tapi pilihan yang paling mungkin adalah melakukan serangan langsung atau pertahanan tidak langsung. Perang yang mungkin dilakukan oleh Iraq adalah melakukan gerilya atau terror. Atau dengan kata lain Iraq mengembangkan konflik, bukan perang.

Perang dengan pola seperti di Iraq ini tampaknya akan menjadi model perang pasca Cold War (Perang Dingin) di abad ke-21. Dalam hal ini, jelas sekali AS tampaknya akan menggunakan kekuatannya hanya pada negara-negara yang bukan major power. Dan sebagaimana yang diungkapkan oleh Clausewitz, hanya negara sebesar AS saja yang dapat menjadikan perang sebagai kelanjutan dari politik. Karena hanya AS yang sanggup membiayai seluruh kebutuhan kampanye perang yang sangat mahal—walaupun kemudian, terjadi penyedotan seluruh asset di negara mereka, misalnya saja pajak yang kemudian membumbung tinggi dan mencekik rakyat Amerika.

Perang Iraq hingga kini masih berlarut-larut dan telah berubah menjadi konflik. Pasukan gerilya bergerak untuk melakukan terror terhadap pasukan AS. Problem yang dihadapi AS di Iraq saat ini mirip dengan yang terjadi saat AS menyerang Vietnam tahun 1965, ketika AS kesulitan untuk mengakhiri perang.

AS tampaknya melupakan kaidah perang bahwa perang dilakukan untuk mencapai tujuan politik dan bukan hanya tujuan militer. Kemenangan perang bukan hanya kemenangan kampanye-kampanye militer, melainkan juga kemenangan mewujudkan kondisi damai sesuai dengan tujuan politik yang hendak dicapai.

Yang mana tujuan dari AS? Karena sementara Perang Iraq belum sepenuhnya usai, Perang Afghanistan sudah meletus pula dengan alasan: memburu teroris. Setelah Afghanistan, kemana lagi? (sa/shd)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus