Insiden Freedom Flotilla di Mata AS, Semua Pihak Salah Kecuali Israel

Magdalena – Jumat, 4 Juni 2010 19:29 WIB

Seperti biasanya, AS selalu terlambat mengeluarkan pernyataan saat sekutunya, Israel melakukan pembantaian pada warga sipil. Bahkan ketika yang menjadi korban adalah para aktivis kemanusiaan dari berbagai kewarganegaraan termasuk dari AS sendiri.

Bagi AS berlaku premis "Pasal 1, Israel tidak pernah salah. Pasal 2, jika Israel salah, kembali ke pasal 1." Setidaknya hal itu tersirat dalam pernyataan tertulis yang diserahkan duta besar AS untuk PBB terkait serangan pasukan komando Israel ke kapal pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, Mavi Marmara, Senin (31/5) subuh kemarin.

Dalam pernyataan tertulisnya, jelas tersirat bahwa AS menyalahkan semua orang atas peristiwa berdarah itu, kecuali Israel. Meski faktanya, Israellah yang telah melakukan tindakan ilegal, menyerbu kapal dan membunuh penumpangnya yang masih berada di perairan internasional.

Dubes AS untuk PBB, Alejandro Wolff dalam pernyatannya tertulisnya pada PBB mengatakan, "Seperti yang saya katakan di hadapan Dewan Keamanan pada bulan Desember 2008, ketika kita dihadapkan pada situasi yang sama, tentang mekanisme pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza oleh negara-negara anggota (PBB) dan organisasi-organisasi yang ingin melakukannya. Bahwa mekanisme yang tidak provokatif dan tidak konfrontatif yang harus digunakan untuk membantu warga Gaza."

Selanjutnya, Wolff menulis, "Pengiriman bantuan langsung melalui laut adalah tindakan yang tidak tepat dan tidak bertanggung jawab, dan tentu saja tidak efektif dalam situasi ini … Kami (AS) akan tetap melibatkan Israe, setiap hari, untuk memperluas cakupan dan jenis barang-barang yang dibolehkan masuk ke Gaza untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan warga Gaza dan untuk keperluan pemulihan (di Gaza)."

Dalam pernyataannya, Wolff juga menuding Hamas menjadi penyebab terjadinya insiden serangan Israel ke konvoi kapal bantuan kemanusiaan internasional "Armada Pembebasan."

"Campur tangan Hamas terkait muatan kapal bantuan internasional dan kerja organisasi-organisasi non-pemerintah menambah rumit upaya bantuan ke Gaza. Hamas terus melakukan penyelundupan senjata dan komitmennya pada terorisme, yang mengganggu keamanan dan kesejahteraan rakyat Palestina dan orang-orang Israel," tuding Wolff.

Dubes AS untuk PBB itu juga menyatakan, apa yang dilakukan aktivis kemanusiaan sehingga memicu serangan Israel, menghambat upaya perundingan damai antara Israel-Palestina. Dalam pernyataannya, Wolff tidak menjelaskan apa yang ia maksud dengan pengiriman bantuan yang tidak provokatif dan tidak konfrontatif, karena rezim Zionis Israel menutup semua akses jalan darat untuk pengiriman bantuan ke Gaza sehingga para aktivis kemanusiaan memilih jalan laut.

Seperti sikap AS yang menolak mengecam blokade Israel di Gaza, pemerintah AS juga menolak mengutuk aksi serangan brutal tentara Zionis Israel ke kapal-kapal bantuan sipil di perairan internasional, seperti yang terjadi senin subuh kemarin. (ln/isc)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus