Obama Mengobarkan Perang Terhadap Negeri-Negeri Muslim

Saad Saefullah – Jumat, 8 Januari 2010 10:49 WIB


Perang Presiden AS, Barack Obama terhadap Afghanistan telah menyebar jauh: Pakistan, Yaman, Somalia, dan ke dalam sub-Sahara Afrika. Wilayah-wilayah perang yang kini sedang dilancarkan itu memiliki beberapa fitur yang sama: mereka adalah Muslim, miskin, dan sebagian besar wilayah rumah mereka menjadi liar dan tidak ramah, dengan sedikit infrastruktur modern.

Dan pasukan Barat berada pada posisi yang kurang menguntungkan terhadap suku pejuang, yang cenderung menjadi armada dengan bersenjata ringan dan dapat dibedakan dari warga sipil.

Banyak ahli percaya bahwa provokasi Barat ke negara-negara Muslim justru akan mengobarkan sentimen anti-Amerika. Pertanyaannya tentu saja tidak akan dijawab dengan kekuatan militer. Dalam perang semacam ini, ada dua arus mobilisasi yang kuat, yang menarik manusia ke dalam militansi.

Yang pertama adalah kebutuhan yang dirasakan untuk membela Islam melawan agresi orang-orang kafir; walaupun suku-suku itu terkenal akan perseteruannya; mereka akan bersatu melawan musuh bersama, terutama jika mereka dipanggil untuk melakukannya di bawah bendera Islam. Yang kedua adalah balas dendam. Serangan dari luar tidak dapat dibiarkan tanpa hukuman. Pembalasan adalah fakta pusat kehidupan suku-suku ini, karena jika Anda seorang anggota suku, klan atau keluarga Anda terbunuh, maka kematiannya harus dibalaskan.

Di Afghanistan, Pakistan, Yaman dan Somalia, tradisi kesukuan masih sangat kuat. Suku atau marga adalah fokus utama dari kesetiaan, bukan bangsa. Maka tidak heran, jika Karzai masih sedikit memenangkan pemilu Agustus 2009 silam.

Menteri Luar Negeri Yaman, Abu Bakr Al Qurbi menegaskan bahwa negaranya tidak ingin ada campur tangan asing. Memang Yaman memerlukan bantuan ekonomi dan peralatan militer, tapi bukan pasukan Amerika. Tapi serangan udara Amerika terlanjur menggoyang dan mendiskreditkan pemerintah Yaman dengan penggambaran sebagai kaki tangan Washington. Fenomena yang sama dapat diamati di wilayah suku Pakistan, dimana tentara Pakistan dipandang tengah memerangi rakyatnya sendiri atas nama Amerika.

Titik dasarnya adalah bahwa pendekatan militer perlu dibarengi dengan pendekatan pembangunan. Karena kemiskinan, pengangguran, pemerintah yang korup dan rasa umum keputusasaan menyebabkan orang-orang muda mengangkat senjata mereka melawan Amerika dan sekutu-sekutunya.

Jelas bahwa Obama yang telah memperluas perang melawan Al Qaida yang samar, telah membawa Amerika lebih dalam ke dalam rawa. Obama mungkin akan menerapkan terapi shock politik dalam konflik di Afghanistan, tapi sekali lagi bukan perang.

Hal yang sama berlaku untuk Yaman, sebuah negara pegunungan dan suku-suku yang kuat, sama seperti Pakistan. Obama sangat membutuhkan itu untuk mengubah citra Amerika di dunia Islam. (sa/gulfnews)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus