Akhirnya Dua Blogger Anti Islam Dilarang Berkunjung Inggris

Redaksi – Kamis, 18 Sya'ban 1434 H / 27 Juni 2013 07:49 WIB

edlDua blogger  AS yang Anti Islam telah dilarang memasuki Inggris pada sabtu, Kantor Imigrasi  mengatakan.

Pamela Geller dan Robert Spencer, yang mendirikan organisasi ‘Stop Islamisasi Amerika’, dan menjalankan situs Jihad Watch, telah dilarang memasuki negara itu dengan alasan kehadiran mereka  “tidak kondusif untuk kepentingan publik”.

EDL ,  sayap kanan Liga Pertahanan Inggris merencanakan pawai pada Sabtu  di Woolwich, London tenggara, di mana tentara Drummer Lee Rigby dibunuh bulan lalu. Geller dan Spencer direncanakan akan  hadir.

Seorang juru bicara imigrasi mengatakan: “Kami dapat mengkonfirmasi bahwa Pamela Geller dan Robert Spencer harus ikuti keputusan tanpa pengecualian … Kami mengutuk semua orang yang perilaku dan pandangan bertentangan dengan nilai-nilai kebersamaan dan tidak akan berdiri di pihak  ekstremisme dalam bentuk apapun.”

Matthew Collins, dari kelompok anti-ekstremisme , yang berkampanye untuk menentang Geller dan Spencer, ia “benar-benar senang” dengan keputusan tersebut.

“Keduanya adalah aktivis anti-Muslim paling ekstrem di dunia. Mereka sudah tidak ada  kontribusi dengan kehidupan di negara ini … Mereka hanya ingin datang ke sini dan membantu EDL membangkitkan masalah dan kerusuhan  lagi. Inggris tidak membutuhkan kebencian walau  hanya untuk beberapa hari. “

Keith Vaz,  yang telah menyuarakan keprihatinan mengenai rencana Geller dan Spencer datang ke Inggris, mengatakan: “Ini adalah keputusan yang tepat,  Inggris seharusnya tidak menjadi panggung  yang mempromosikan kebencian..”

Pada kedua blog mereka, Geller dan Spencer menyebut larangan ke Inggris untuk mereka sebagai  “pukulan telak terhadap kebebasan” dan mengatakan “bangsa yang memberi dunia Magna Carta sudah mati”.

Pemimpin EDL, Tommy Robinson, mengatakan keputusan imigrasi  itu “memalukan untuk  sebuah  tanah demokrasi dan kebebasan untuk  berbicara”. (Guardian/Dz)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus