Mantan LDII: Sejak SMP, Shalat Jum’at Saya Sudah Terpisah Dari Yang Lain (1)

Al Furqan – Jumat, 27 Mei 2011 15:30 WIB

Belum lagi usai kasus NII, Indonesia kembali digegerkan lewat kasus perceraian Adam Amrullah Adam dengan Narendra Garini Anutama Natakusumah. Kasus ini bermula saat Adam memutuskan keluar dari LDII (Islam Jama’ah) karena sadar akan kesesatan Jama’ah yang eksis di tahun 70-an tersebut. Sang istri tidak menerima, Karena Adam sudah tergolong kafir.

Padahal jika melihat rekam sejak selama ini, jabatan Adam di LDII bukan main-main. Ia adalah seorang mantan petinggi kepemudaan di Lembaga Dakwah Islam Indonesia.

“Saya dulu Ketua Pemuda LDII Se Jakarta Timur dan pengurus Forum Mahasiswa Islam Jama’ah Sejabotabek.” Katanya kepada Eramuslim.com, Jum’at pagi, 27/05/2011.
“Dari kakek, nenek, sampai ibu dan ayah saya juga LDII. Keluarga besar kami LDII,” tambahnya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kiprah Adam di LDII hingga alasannya keluar dari LDII, berikut petikan wawancara wartawan Eramuslim.com, Muhammad Pizaro dengan Adam Amrullah, yang dilakukan Jum’at pagi, 27/05/2011, di sebuah tempat di bilangan Jakarta Selatan. Selamat Membaca..

Bisa Anda Ceritakan Awal Anda Terfikir Berhenti Dari LDII?

Kalau dimulai dari ragunya sebenarnya saya dari kecil sudah ragu, yaitu sejak SD. Dulu di TV ada berita tentang pahlawan bernama Sultan Hasanuddin. Disitu diceritakan Sultan Hasanuddin berperang dan meninggal karena tertembak. Saya lalu bertanya ke orangtua, “Pak, beliau ini pahlawan dan orang Islam apakah dia masuk surga?” Lalu ayah saya jawab dengan ringan, “tidak!”. Lalu saya tanya lagi, “Kenapa Tidak?” Ayah saya bilang, “Karena dia (Sultan Hasanuddin, red.) bukan jama’ah kita.

Kenapa saya tanya begitu? Karena memang di LDII, orang yang diluar jamaah tidak bisa masuk surga. Saya tidak bisa berfikir. Padahal seharusnya Sultan Hasanuddin sudah berperang sampai mati akan mendapat pahala besar. Cuma itulah di Islam Jama’ah jika bukan jama’ahnya maka orang itu kafir.

Semua Keluarga Anda LDII?

Dari kakek dan nenek, baik pihak ibu dan pihak bapak itu semuanya Islam Jama’ah. Sampai anak-anak-cucunya, hingga cicit itu Islam Jama’ah. Mereka menyebutnya awalun mukminin, karena menurut mereka orang sebelum mereka bukan orang beriman. Itu kan bathil sekali, Walisongo itu belum dianggap Islam oleh mereka dan masih dianggap jahiliyah sebelum datangnya Nurhasan (Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir, pendiri Islam Jama’ah di Indonesia, red.).

Memiliki Keluarga Yang Taat LDII, kok Anda Sendiri Memilih keluar?

Pertama saya ini orangnya suka memperhatikan. Dan saya melihat, mereka memang semangat mengaji, tapi untuk shalat, mereka shubuhnya telat. Dan itu banyak, tidak satu-dua orang. Saya mulai ragu kok begini, padahal katanya orang benar. Sedang teman-teman saya di luar Islam jamaah, kok sholatnya pada khusyuk sekali, sedangkan saya sendiri shalat sering terburu-buru. Lho, orang yang shalat khusyuk kaya begini kok dikafirkan oleh Islam Jama’ah.

Ternyata mereka punya dalil yang unik, yakni ‘siapa saja yang beramal di dalam jamaah, kalau dia benar Allah akan terima, kalau salah, Allah akan maafkan.’ Makanya orang di luar Islam Jama’ah itu hina.

Saya pas kuliah pun mulai berani berdakwah, karena niatnya menyelamatkan teman-teman saya untuk tidak masuk neraka. Saya bawa berbagai kitab kuning, At Tirmidzi dan lain sebagainya.

Tapi pas Kuliah Tidak Ada Yang Memberitahu Anda Bahwa LDII itu Sesat?

Oh.. ada. Saya tantang debat, kalah dia. Karena saya hafalan dalilnya banyak saat itu. Sampai ada satu orang yang masuk LDII, dan sekarang tidak mau keluar. Astaghfirullah (Tertawa sambil geleng-geleng kepala). Di tempat saya kerja juga aneh, karena saya tidak pernah shalat berjamaah bersama mereka.

Jadi Memang Anda Harus Bara’ Dengan Orang Non Islam Jama’ah, Termasuk Dari Perkara Shalat?

Iya memang tidak boleh.

Tidak Sah?

Memang tidak sah dan tidak akan diterima. Bahkan saat saya SMP jika Shalat Jum’at, saya selalu dijemput orangtua. Kita shalat sendiri di mesjid Islam Jama’ah.

Oh Ada Ya?

Oh banyak sekali di Jakarta.

Lalu Jika Ada Orang Yang di Luar Islam Jama’ah Ingin Shalat Disana?

Kalau ada tamu-tamu atau tetangga yang tidak tahu tentang Islam Jama’ah biasanya berani. Tapi kalau mereka tahu itu milik Islam Jama’ah mereka tidak akan berani. Jika dia bukan Islam Jama’ah biasanya habis itu dipel. Karena bagi Islam Jama’ah, mereka (non Islam Jama’ah, red.), dinilai tidak bisa bersuci sebagus mereka. Jadi mereka itu sebenarnya bagus, tapi lebay. Bahasa agamanya ghuluw. Orang-orang jadi tidak tenang karena sedikit-dikit najis. Sampai ada saudara saya yang menderita gila karena takut dirinya najis. Saudara saya beneran gila sampai sekarang ini. Jadi akidah ini (LDII, red.) sudah banyak memakan korban.

Tahun Berapa Anda Memutuskan Keluar?

Setelah menyaksikan kebenaran-kebenaran. Saat itu saya ikut ESQ tahun 2007, siapa tahu dapat channel dan saya ingin tahu. Melihat begitu banyak orang sayang kepada Allah dan RasulNya, saya kembali berfikir kenapa mereka dicap kafir. Tapi saya tidak mengerti kala itu, karena ilmu saya belum sampai. Jadi terkesan, dalam pandangan Islam Jama’ah, kok mau berislam susah sekali. Kita harus baiat, imamnya mengumpat lagi. Anda saja tidak tahu kan dimana imamnya?

Jadi Baiat Itu Bagian Dari Rukun Islam Jama’ah?

Itu pengali. Jika shaum, zakat, shalat anda beres, rukun iman pun beres, kalau tidak baiat sama saja dikali nol. Ngeri kan? Itu rumus yang saya bikin sendiri. Bahasa mereka kalau Islam tidak jamaah sama saja mencret. Tidak lama setelah itu saya lihat banyak guru-guru dari Islam Jama’ah yang keluar. Ini kan menarik, kok ulama yang mengerti bahwa keluar dari Islam Jama’ah menjadi murtad dan kafir, kenapa malah memutuskan keluar.

Lalu pada tahun 2008, saya banyak berdiskusi dengan teman-teman dari PKS. Saya lihat tampang mereka baik-baik, sholatnya tenang, mereka juga membaca Qur’an, masak orang seperti ini kafir sih? Akhirnya saya mulai berkenalan, tetapi saya masih belum berani shalat bareng mereka. Kalau ada kajian saya suka nguping sedikit.

Akhirnya saya mulai berani bertanya tentang Islam. tentang hadis bahwa Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah. Kebetulan saat itu ada ikhwan dari Ahlussunah dijelaskan, “Akhi memang saat ini kita terpecah menjadi banyak aliran, cuma jama’ah yang tauhidnya beres, itu berhak masuk surga.” Wah waktu itu saya gembiranya subhanallah. Jangan-jangan ini jawaban yang benar yang selama ini saya cari.

Memang saat di LDII, anda tidak boleh bertanya ke jama’ah atau Ustadz lain?

Tidak boleh. Apa-apa tidak boleh. Di Islam Jama’ah itu terlalu memposisikan Imamnya ketinggian. Jadi seakan-akan jika melanggar ucapan Imam itu seperti terkena karma dan kualat. Padahal banyak kader yang keluar setelah mendapat pencerahan bahwa LDII itu sesat.

Tapi faktanya oleh imam selalu diputar balikkan. Karena ketika tahu ada jama’ah yang keluar, Imamnya langsung ngomong kepada jama’ah, “Lihat tuh mereka jadi ahli neraka, karena tidak taat pada imamnya. Disuruh jangan baca buku (dari jama’ah lain), malah baca buku, akhirnya keluar.”

Saya selalu berusaha mencari perbandingan dengan NU, Muhammadiyyah, PERSIS, Ahlus Sunnah, dan semuanya, mereka ternyata sepakat bahwa ushul itu tauhid. Lha Islam Jama’ah kok beda sendiri? Lalu saya berfikir apa yang membedakan, apakah ada definisi lain tentang baiat? Akhirnya setelah saya ikut banyak pengajian (diluar Islam Jama’ah), saya sadar seluruh nabi mengajarkan tauhid, mengesakan Allah dan mengenyampingkan Tuhan-tuhan yang lain. Dan ternyata menuruti kata Imam, walau itu salah harus diikuti.Itu kan rusak tauhidnya, karena dia memposisikan imam lebih tinggi dari Allah.
Bahkan jika Allah dan Rasul bilang halal, imamnya bilang haram, maka bisa jadi haram.

Contohnya?

Contohnya apa? Banyak. Jika orangtua meninggal. Orangtuanya Islam Jama’ah, anaknya tidak, tapi anaknya beragama Islam, dapat waris gak? Secara umum dapat waris kan? Tapi dalam Islam Jama’ah, orang kafir tidak boleh dapat waris.

Lalu masalah menikah, ada orang NU boleh tidak nikah dengan Muhammadiyyah? Orang Islam Jama’ah bilang haram (jika Islam Jama’ah menikah dengan jama’ah lain, red.) Betapa syariat ini hancur jika manusia menggantikan posisi Allah tentang halal-haram. Makanya, setiap mengaji saya menangis, betapa saya bodoh sekali selama ini.

Apakah Anda Sempat bertanya ke Ustadz-ustadz di LDII tentang Keganjilan ini?
Jelas. Sebagian dari mereka ternyata sudah ada yang sudah tahu bahwa selain kita ini (non Islam Jama’ah, red.) masih beragama Islam. Tapi fakta ini ditutup-tutupi. Padahal ini penting. Ilmu punya, tapi tidak disampaikan, ini kan aneh? Dan saya sempat dilarang mengaji di luar Islam Jama’ah, lalu disidang oleh keluarga besar karena doktrinnya selain dari Islam Jama’ah itu kafir dan tidak bisa masuk surga.

Dan itu selalu didengung-dengungkan setiap anda mengaji?

Iya. Barangsiapa yang melaksanakan Qur’an, Hadis, dan baiat wajib masuk surga, barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh dan tidak berbaiat wajib masuk neraka. Akhirnya saya tidak kuat mengaji. Saya cuma menghadiri pengajian seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Padahal dulu di keluarga, saya yang paling aktif mengajak keluarga ke pengajian. (pz/bersambung)

Bincang-Bincang Terbaru

blog comments powered by Disqus