Timur Tengah, Pemuda, dan Indonesia

Redaksi – Senin, 23 Zulhijjah 1434 H / 28 Oktober 2013 09:29 WIB

negeri islamOleh Dadi Irawan*)

 

“Aku adalah Jin dari Timur Tengah”, adakah yang masih ingat dengan kalimat itu? Ya, kata-kata itu merupakan sebait kalimat yang terdapat dalam soundtrack sinema televisi serial mingguan Jin dan Jun. Di zamannya atau tepatnya sekitar awal tahun millenium, siapa yang tak mengenal serial televisi mingguan ini? Bagian sebagian orang, sinema ini mungkin hanya bagian dari hiburan semata. Akan tetapi, saat kita merenungkan sebait kalimat di atas mungkinkah ada makna tersirat di dalamnya? Ya, makhluk gaib, sejenis jin saja sudah tak betah tinggal di sana hingga dia lari ke Indonesia. Mungkinkah ini alasan om jin yang biasa disapa atas bermigrasinya ke Indonesia.

Timur Tengah, negeri yang makmur dengan cadangan minyak terbesar di dunia menjadi incaran bagi siapa saja yang memiliki hasrat manusiawi. Jazirah yang sebagian besar terdiri dari gurun pasir ini menjadi rebutan bagi siapa saja. Tak peduli teriknya sinar mentari di siang hari dan dinginnya udara di malam hari, seolah-olah hal itu tak menjadi hambatan bagi siapapun yang ingin menjadi penguasa atasnya. Penguasa pun silih berganti atasnya, menjadi indikasi bahwa negeri itu memanglah jazirah yang selalu diperebutkan, dan akan terus diperebutkan sampai kapanpun.

Timur Tengah, negeri yang  tak hanya terkenal dengan sumber daya alamnya berupa minyak bumi, tetapi negeri ini juga memiliki banyak keistimewaan yang tak dimilkii wilayah lain di dunia. Ya, sebut saja salah satu universitas tertua di muka bumi ini terdapat di jazirah itu. Belum lagi, Yerussalem atau Al Quds, yang menjadi ikon kota suci tiga agama, penghasil kurma terbesar di dunia pun tak luput dari wilayah ini. Bahkan sejarah pun mencatat, bahwa  jazirah ini pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan di dunia dengan perpustakaan terbesarnya, Bait Al Hikmah, yang berlokasi di Negeri 1001 Malam, Baghdad. Namun sayang, jazirah yang pada zaman keemasannya menjadi ikon perdamaian dunia baik masa Bani Abbasiyah maupun Bani Umayyah, kini hanyalah menjadi kenangan. Dahulu, negeri i ni merupakan  negeri yang padu, satu, aman, dan tenteram dalam keberagaman. Kini, negeri Baldatun Thayyibun Wa rabbun Ghafuur  itu menjadi negeri yang tercerai berai, lemah, dan sarat konflik. Iran, Irak, Libya, Palestina, Tunisia, Lebanon, bahkan yang masih terjadi saat ini Suriah dan Mesir.

Perang, pada dasarnya merupakan alternatif lain yang digunakan oleh sekelompok manusia untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Perang hanya dilakukan apabila usaha-usaha diplomasi damai lainnya tak tercapai. Istilah lain yang digunakan untuk menyatakan perang ini ialah mempertahankan diri ataupun mempertahankan kedaulatan negara, walaupun kegiatan yang dilakukan ini pada dasarnya hampir sama. Namun, yang lebih ironis perang saat ini tidak ditujukan u ntuk mempertahankan kedaulatan maupun wilayah, tapi mempertahankan kekuasaan itu sendiri. Mereka rela mengorbankan rakyat sipil yang tak berdosa untuk melanggengkan kekuasaan maupun memenuhi ambisi kelompok atau golongan.

Keamanan warga negara di Mesir dan Suriah tidak seperti telur yang  berada di ujung tanduk lagi, tetapi mutlak telah jatuh dan pecah tak berbentuk.  Jangankan menghirup udara bebas laiknya penghuni negeri ini, kegiatan mereka pun terbatas. Hanya kegelapan di malam hari yang menjadi teman mereka. Bunyi mesiu dan senapan dari aparat militer pun kini mejadi teman karibnya. Lapar dan dahaga mungkin sudah menjadi biasa. Bahkan senjata kimia pun menjadi malaikat maut yang senantiasa mengincar mereka  kapan pun ia mau. Harta, jiwa, dan keluarga tak peduli lagi bagi mereka. Mereka hanya menuntut keadilan, ya sekali lagi keadilan. Tak salah jika mereka selalu mengatakan ‘isy kariman au mut syahidan  yang artinya “hidup mulia atau mati syahid”. Ya, hanya itulah pilihan mereka. Walaupun mereka mati di mata manusia, sungguh mereka hidup di mata Sang Pencipta. Tak ada balasan apapun bagi mereka dari Tuhannya, kecuali surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan mereka berada dalam keberuntungan. Lalu, bagaimana dengan kita? Hanya diam saja?

Kondisi yang tak jauh berbeda dengan negeri ini, dimana para penguasanya hanya sibuk mementingkan diri sendiri.  Para pejabat, seolah-olah bergembira saat ia teliput oleh media karena suatu kasus. Korupsi, bukan hanya dari tingkat atas saja, melainkan hingga ke akar-akarnya. Bahkan sekelas manusia yang memperoleh gelar guru besar di perguruan tinggi pun tak luput dari yang satu ini. Narapidana yang sedang berada di Lapas senantiasa mengatur dan mengelola bisnis barang haram dengan omzet miliaran rupiah tanpa ada kendala. Pengacara yang tak tahu diri dengan berani menyuap para jaksa, dimanakah sumpah yang pernah kau ucap saat dinyatakan lulus sebagai ahli hukum? Tak malu kah kalian tas perbuatan kalian itu? Apakah kalian lupa di dunia ini hanya sementara? Di sana, di alam yang kekal, ada pengadilah Allah, Tuhan Yang Maha Adil, bahkan sekecil apapun perbuatan kalian akan diberi ganjaran dihadapanNya, entah itu baik atau buruk. Benarlah firman Tuhan, bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa. Ya, bertakwa. Imtisalul awamirillah, wajtinabun nawahii, menjalankan segala apa yang diperintahkanNya, dan menjauhi apa yang dilarangNya. Tak peduli berpangkat apa, bergelar apa, ataupun keturunan siapa, ya hanya itu.

Pantas saja ada yang mengatakan negeri ini sebagai negeri yang tergadai. Ya, hampir semuanya. Bagaimana tidak, pernyataan “…kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa…”  juga dalam alinea lain ”…dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…” , apakah itu yang dimaksud negara berdaulat. Yang nurut apa kata negara adidaya, tak mampu menentukan sikap yang tegas, bahkan bisanya hanya berkomentar saja. Tahukah kamu, kita telah mengkhianati amanat  para founding father negeri ini. Dimana harga diri kita yang katanya negeri yang “cinta perdamaian”?  Melihat saudaranya sendiri ditindas, demokrasinya ternodai, bahkan di injak-injak, hanya diam saja. Bagai macan tua yang giginya ompong dan tak mampu melakukan apa-apa, hanya bisa menonton saja.

Pemuda, ya pemuda. Pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan. Hanya pemuda yang berakhlak dan berimanlah yang dibutuhkan negeri ini. Ayo kita bangkitkan negeri yang telah lama tertidur lelap ini dengan semua mimpi indahnya yang tak pernah realisasi. Gantikan macan ompong yang hanya mampu menonton saja dengan macan-macan muda yang berdaya di Asia bahkan di dunia. Tunjukan kepada para founding father kita bahwa kita bisa. Kita bukanlah pengkhianat kemerdekaan.  Indonesia, negeri yang cinta perdamaian, tak akan pernah rela jika saudaranya dimana pun  ia berada mengalami penidasan. Bangun pemuda, tunjukan pada dunia bahwa kita ada.

 

*)Penulis adalah Mahasiswa Departemen Fisika semester V FMIPA IPB. Email : [email protected]

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus