Mimpi Buruk Amerika di Afghanistan (1) Abdul Ghani Baradar, Si Nomor 2 Pejuang Taliban

Saad Saefullah – Selasa, 12 Sya'ban 1430 H / 4 Agustus 2009 08:02 WIB


Segera setelah 4000 tentara AS diberangkatkan ke Helmand pada 2 Juli sebulan yang lalu, Mullah Abdul Ghani Baradar memanggil semua komandan Taliban di seluruh wilayah untuk pertemuan darurat. Pertemuan itu digelar di Pakistan—tak jauh dari perbatasan Afghanistan tapi masih sangat aman dari jangkauan Amerika.

Baradar mengatakan bahwa ia menghendaki satu hal dari para komandannya: buatlah seolah Taliban kalah sampai ke tingkat minimum, sementara musuh terus memaksimumkan biaya perangnya. “Jangan pernah menembaki tentara musuh secara langsung berhadap-hadapan,” perintahnya. “Teruslah bergerilya.”

Di akhir pertemuan itu, Baradar mengingatkan anak buahnya, “Jangan pernah meninggalkan anak buah kalian. Teruslah pegang senjatamu erat. Amerika punya kekuatan militer yang lebih kuat, tapi kita mempunyai komitmen dan keyakinan yang lebih besar.”

Kita mungkin tak pernah mendengar Mullah Baradar. Yang paling sering kita dengar barangkali Mullah Mohammed Omar, yang alat penglihatannya tinggal satu lagi. Omar yang yang tinggal di sebuah desa kecil ini terus-menerus menjadi target utama, dengan ganjaran $10 juta untuk kepalanya. Tapi ia tak pernah terlihat selama tiga tahun belakangan ini, bahkan oleh anak buahnya sekalipun. Tak heran, jika kemudian Amerika mengalihkannya pada Baradar, yang sejak tahun 2001 memegang komando.

Baradar tampaknya tak seperti Omar. Menurut Mullah Shah Wali Akhund, seorang komandan dari pronvisni Helmand, Baradar memegang semua kendali militer, politik, agama dan finansial Taliban. “Ia adalah seorang komandan yang brilian.” Ucap Prof. Thomas Johnsin, seorang ahli yang telah lama mengamati Afghanistan. “Dia mampu, karismatik, dan menguasai wilayah dan dekat dengan rakyat. Bagi AS, ia adalah musuh yang mengerikan!”

Baradar selalu memperlihatkan kesetiaannya kepada Omar. Ia mengaku, ia senantiasa berhubungan dengan Omar tapi karena risiko keamanan, kontak itu tidak dilakukan secara terus-menerus. Berbeda terhadap Omar, anggota Taliban melihat Baradar sebagai seseorang yang konsisten, lebih terbuka, lebih berorientasi dan lebih bisa mendengar aspirasi dan perbedaan pendapat. “Baradar tak pernah memerintah tanpa pemahaman dan investigasi masalahnya terlebih dahulu.” Tutur seorang komandan dari provinsi Zabul. “Dia sangat sabar dan bersedia mendengarkan Anda sampai akhir. Dia tak pernah marah dan hilang temperamennya.”

Baradar jelas meninggalkan sebuah pertanyaan baru: apakah Amerika dan pemerintah Afghanistan bisa bernegosiasi dengan Baradar? Pengaruhnya kepada para pejuang Taliban bukan lagi sesuatu yang perlu diperdebatkan. Dia tidak cupat. Pada tahun 2004, ia sempat membuka percakapan dengan pemerintah Hamid Karzai—presiden Afghanistan. Baradar adalah seorang Pashtun, sama halnya dengan Karzai. Namun tidak seperti Karzai, Baradar akan pernah mengingkari bangsanya. Ia selalu percaya bahwa pejuang Taliban akan kembali memiki momentumnya sendiri.

Baradar mempunyai kemampuan membangun kembali Taliban yang sempat terpecah berkeping-keping karena ledakan efek peristiwa 9/11 yang ditudingkan kepada Afghanistan. Ia melindungi Mullah Omar seperti ia melindungi dirinya sendiri. Ketika para jurnalis investigasi bertahun-tahun mencari kebenaran hidup atau matinya Mullah Omar, ia dengan santai dan sabar mengatakan, “Ia sehat wal afiat.”

Pada zaman penjajahan Soviet dulu, mereka saling bahu berjuang. Omar yang kehilangan salah satu matanya dalam sebuah pertempuran dengan Soviet sangat terkenal karena keberaniannya. Sebaliknya Baradar menjadi tangan kanannya. Zaif, seorang pejuang Taliban yang sering bersama mereka berdua mengatakan, “Persahabatan mereka melebihi ikatan sebuah keluarga.” BERSAMBUNG
(sa/newsweek)

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus